Monday, 8 July 2019

Busuk Rimpang dan Dormansi Pada Sarracenia

Kematian Sarracenia secara mendadak banyak dikeluhkan. Tanaman yang dalam kondisi segar dan subur, begitu masuk musim hujan tiba-tiba lemas. Saat media dibongkar, rimpang tampak menghitam. “Kejadian yang sama terus terulang di musim yang sama sampai semua sarra-ku punah,” keluh Abdul Ghofur.
Banyak penyebab busuk akar atau busuk rimpang pada Sarracenia. Ricardo Satya memberikan contoh, busuk akar dapat terjadi karena air jarang diganti dan media yang sudah menjadi lumpur. “Media harus sering diperiksa dan diganti,” katanya.

Sunday, 7 July 2019

"Homo erectus" Bumiayu Lebih Tua

DENPASAR, KOMPAS – Fosil tulang Homo erectus dan kapak perimbas yang ditemukan di Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, diperkirakan berusia 1,8 juta tahun. Fosil ini lebih tua dari Homo erectus di Sangiran yang berusia 1,5 juta tahun. Penemuan ini berpotensi mengoreksi teori kedatangan pertama Homo erectus di Jawa berdasarkan teori Out of Africa.
Beberapa bulan lalu, Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta menerima laporan dari  pemilik Museum Bumiayu-Tonjong, H Rafly Rizal, dan pelestari fosil, Karsono, bahwa mereka menemukan beberapa fosil tulang. Temuan itu disampaikan ke Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran dan arkeolog senior Balar Yogyakarta Prof Harry Widianto.

Thursday, 4 July 2019

Air Untuk Pemeliharaan Tanaman Karnivora

Air apa yang cocok untuk menyiram tanaman karnivora (tavor)? Pertanyaan ini seringkali diajukan petanam tavor pemula. Secara umum, tavor memerlukan air dengan kandungan garam mineral terlarut rendah. Banyaknya mineral terlarut dalam air biasa dinyatakan sebagai TDS (total dissolved solids) dalam satuan ppm (part per million). Sebenarnya, TDS tidak hanya terbatas pada mineral, tetapi juga bahan-bahan organik yang terlarut dalam air. Namun, TDS dinilai memudahkan dalam pengukuran dan memberikan batas aman kandungan mineral terlarut.

Monday, 17 June 2019

Kondisi Cuaca di Indonesia Beragam

Kondisi cuaca di Indonesia beragam. Pergerakan massa udara basah Madden-Julian Oscillation meningkatkan curah hujan di sebagian daerah, tetapi area lain memasuki kemarau.
Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua memiliki zona iklim ekuatorial dan dua puncak musim hujan, April dan Desember. Peningkatan hujan pada area ini dipengaruhi pergerakan massa udara basah Madden-Julian Oscillation di sepanjang khatulistiwa secara periodik dari barat ke timur.
Fenomena berbeda terjadi di Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara Timur, yang beriklim monsunal dengan satu puncak musim hujan. Iklim monsunal dipengaruhi pergantian angin monsun dari Asia dan Australia.
Dikutip dari: Kondisi Cuaca Beragam, Kompas, Sabtu, 15 Juni 2019, halaman 10

Sunday, 12 May 2019

Osmolaritas, Osmolalitas, dan Tonisitas

Kita seringkali dibingungkan dengan osmolaritas dan osmolalitas. Pemakaian istilahnya pun sering tertukar. Osmolaritas adalah jumlah solut dalam tiap satu liter pelarut, sedangkan osmolalitas merupakan jumlah solut dalam tiap satu kilogram pelarut. Untuk larutan encer, perbedaan keduanya tidak bermakna. 
Karena berdasarkan volume, pengukuran osmolaritas menjadi tergantung pada suhu. Volume pelarut meningkat seiring suhu. Sebaliknya, karena berdasarkan bobot yang selalu tetap pada suhu berapa pun, osmolalitas tidak tergantung pada suhu. Atas dasar alasan ini, osmolalitas lebih dipilih dan banyak digunakan, terutama terkait dengan sistem biologi.
Osmolalitas memiliki satuan Osm/kg H2O. Karena larutan fisiologi bersifat encer dan berupa larutan dalam air, satuan osmolalitas yang sering digunakan adalah mili-osmol per kilogram air (mOsm/kg H2O).

Pedoman Perawatan Drosera untuk Pemula

Oleh MUHAMMAD HASAN
Drosera atau embun matahari (sundew) merupakan tanaman karnivora yang mampu menjebak serangga mangsanya menggunakan cairan kental di ujung tentakel yang banyak tersebar di daunnya. Dalam marga Drosera terdapat sekitar 250 spesies, dengan distribusi habitat sangat luas di semua benua, kecuali Antartika, dan beragam ketinggian (Fleischmann, 2018).
Karena keberagaman ini, seorang hobiis harus mempelajari dulu sifat jenis drosera yang ingin dipeliharanya, berdasarkan habitat, iklim, dan ketinggian tempat tumbuh asalnya.

Thursday, 9 May 2019

Produk Obat Telinga Perlu Fasilitas Produksi Steril?


Kebutuhan sterilitas produk tetes telinga tergantung pada peruntukannya. Berdasarkan USP 41 <4> Mucosal Drug Products – Product Quality Tests, produk tetes telinga tidak selalu harus steril. Sterilitas hanya diperlukan jika produk tersebut ditujukan untuk pengobatan area telinga dalam atau jika gendang telinga mengalami kerusakan.
Informasi serupa juga dapat ditemukan dalam Ear Preparation BP. Produk tetes telinga harus steril jika digunakan untuk telinga yang terluka, terutama jika gendang telinga berlubang, dan untuk perawatan menjelang operasi.
Secara spesifik, kebutuhan sterilitas produk tetes telinga dapat ditemukan dalam monografi farmakope. Misalnya, monografi USP 41 tidak mempersyaratkan steril untuk larutan asam asetat atau larutan kombinasi antipirin dan benzokain. Sedangkan, larutan tetes telinga kloramfenikol harus steril sesuai definisi dan persyaratan dalam monografinya.