Monday, 19 December 2016

Gelas untuk Wadah Farmasi

Berdasarkan USP39 <660> Containers⎼Glass
Ada dua jenis gelas yang digunakan untuk wadah primer sediaan farmasi, yakni borosilikat dan soda-kapur (soda-lime).
Gelas borosilikat mengandung borat oksida, aluminium oksida, dan oksida alkali dan/atau alkali tanah. Jenis gelas ini memiliki ketahanan tinggi terhadap hidrolitik dan kejut suhu tinggi. Dari penggolongan gelas untuk farmasi, gelas borosilikat merupakan Gelas Tipe I, yang paling sesuai untuk sediaan parenteral dan nonparenteral.

Benih Perlawanan dari Akar Rumput

Oleh AGNES THEODORA dan ANTONY LEE
“Di tengah malam kompeni mengepung Kapahaha
Bunyi tembakan bertubi-tubi, gempar penduduk Kapahaha
Pertempuran berlangsung hingga fajar menyingsing.”
Kapata (nyanyian rakyat) berbahasa Morella yang sudah dialihbahasakan, 1646
Kesunyian menyambut kami di Gunung Kapahaha, Desa Morella, Pulau Ambon, akhir November lalu. Di lereng pegunungan terjal, batu karang Leasusu berdiri kokoh di bawah sinar matahari yang menyusup di sela pepohonan. Tiga setengah abad lalu, letusan senapan dan teriakan perang bergaung di gunung batu itu. Pasukan Serikat Dagang Hindia Timur atau VOC berupaya keras menghancurkan pertahanan terakhir perlawanan rakyat Hitu.
pukul sapu.jpg
Atraksi Pukul Sapu Lidi digelar di Desa Morela, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, atau sekitar 25 kilometer sebelah utara Ambon, Rabu (13/7). Kegiatan tahunan yang berlangsung setiap 7 Syawal itu dilakukan untuk mengenang perjuangan pahlawan Kapitan Telukabessy dalam perang melawan penjajah. (Kompas/Fransiskus Pati Herin)
Suatu malam pada bulan Juli 1646, rakyat Desa Hitu, Wawani, dan Hoamual yang bermukim di Gunung Kapahaha tengah tertidur lelap. Begitu pula pemimpin mereka, yaitu Kapitan Ahmad Leakawa alias Telukabessy dan Rijali. Sementara itu, di bawah temaram sinar bulan, Laksamana Verhijden dan pasukan VOC mendaki gunung yang terjal dan sempit dengan susah payah.
Di masa kini pun, Benteng Kapahaha, begitu bekas kampung pejuang itu dinamai, masih sulit didatangi. Jalan setapak yang terjal di sisi jurang membuat orang sulit untuk menuju area yang kini tidak lagi dihuni penduduk itu.
Sudah empat kali dalam tiga tahun, Verhijden gagal menyerbu Kapahaha karena tak pernah berhasil menemukan benteng alam perlawanan rakyat Hitu itu. Benteng Kapahaha, yang artinya ‘tempat yang tinggi dan curam’, ada di pegunungan dan tersembunyi di balik hutan tropis. Malam itu, Verhijden dan pasukannya berhasil mendaki cukup jauh setelah mengelabui seorang penduduk.
Peluh menetes di dahi Verhijden. Di depan mereka, tampak tebing tinggi dengan kemiringan nyaris mencapai 90 derajat. Tebing itu ternyata merupakan gerbang Benteng Kapahaha. Dengan tekad menaklukkan rakyat Hitu, satu per satu prajurit Belanda itu mengerek diri dengan berpegangan pada batang rotan yang tumbuh di sekitar tebing.
Malam itu, pertempuran pecah. Penduduk melarikan diri ke segala penjuru arah. Beberapa pendekar ditawan. Namun, Telukabessy dan Rijali berhasil meloloskan diri.
Setelah mengasingkan diri ke Pulau Haruku, Telukabessy mendengar kabar bahwa Belanda mau memusnahkan rakyat Kapahaha jika ia tak segera menyerah. Telukabessy pun kembali dan menyerahkan diri di depan Gubernur Jenderal Belanda di Ambon. Di sana, ia ditembak mati.
“Semenjak Telukabessy wafat, rakyat kehilangan figur pemimpin. Perlawanan sempat dilanjutkan oleh turunannya, tetapi pemberontakan tidak pernah sama lagi,” tutur Raja Hitu Salhana Pelu, di Desa Hitu, Ambon, akhir November lalu.
benteng kapahaha.png
Gunung Kapahaha yang menjadi benteng pertahanan terakhir melawan VOC. Setelah VOC berhasil membunuh pemimpin rakyat Hitu yang bernama Kakiali dan jatuhnya benteng Wawane pada tahun 1643, para pejuang memindahkan pertahanannya ke Kapahaha.  (Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya)
Paling gigih
Maryam Lestaluhu dalam Sejarah Perlawanan Masyarakat Islam terhadap Imperialisme di Maluku mencatat, perlawanan rakyat Hitu di bawah kepemimpinan Telukabessy adalah salah satu perjuangan rakyat Maluku paling gigih yang berhasil merepotkan penjajah. Perlawanan itu muncul karena ketidakpuasan akibat kebijakan monopoli perdagangan rempah-rempah oleh VOC yang leluasa diterapkan dengan seizin penguasa lokal.
Dalam literatur lama lain yang ditulis sejarawan Belanda J Keuning, sebagaimana dialihbahasakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia bekerja sama dengan Koninklijk Instituut Voor Taal, Land-en Volkenkunde, raja-raja Hitu dan Morella pada saat itu terkesan ada di belakang kolonial dan mendukung kebijakan monopoli perdagangan mereka. Namun, secara diam-diam, para elite lokal ini menyokong rakyat pemberontak yang bersembunyi di gunung dengan memberikan makanan dan keperluan lain.
Pemberontakan dari rakyat terhadap penjajah juga muncul di daerah lain di Maluku. Diceritakan dalam Gerakan Pandan Kasutri di Ambon Tahun 1829 oleh SH Maelissa dan F Sahusilawane dari Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Maluku, di Hoamual, Pulau Seram, pada 1615, rakyat Hoamual dan VOC bersitegang. Rakyat menolak VOC membangun benteng di Hoamual untuk dijadikan pusat pertahanan. Saat itu, Hoamual merupakan salah satu pulau produsen cengkeh utama di Maluku.
Saat itu rakyat melihat pendirian benteng di kawasan mereka hanya strategi VOC untuk melanggengkan cengkeraman kekuasaannya di Hoamual. Ketegangan itu, ditambah dengan berbagai kebijakan lain yang memberatkan rakyat, seperti penurunan harga pembelian cengkeh, mendorong rakyat untuk angkat senjata menentang VOC.
Kritik elite
Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Pattimura John Pattikayhatu mengatakan, sepanjang abad ke-16 sampai abad ke-19, perlawanan rakyat tidak hanya ditujukan terhadap kolonial, tetapi juga elite lokal yang makin pragmatis. Rakyat merasa tidak mendapat dukungan dari pemimpinnya, yang seharusnya bisa menyalurkan suara dan kegelisahan mereka.
Kepulauan Rempah-rempah oleh Adnan Amal mencatat rangkaian perlawanan di Ternate dan Tidore yang tidak hanya ditujukan terhadap kekuasaan Belanda, tetapi juga kesultanan yang tunduk di bawah penjajah dan abai terhadap rakyat. Adnan mencatat, pada 1783, rakyat Tidore memakzulkan Patra Alam dari singgasananya. Kejadian serupa terjadi pada 1797 ketika rakyat Tidore menurunkan Sultan Kamaluddin dari takhtanya. Sebelumnya, di Ternate, gejolak politik serupa muncul ketika sejumlah bobato (pegawai kerajaan) membangkang terhadap Sultan Mandarsjah pada 1683.
John menuturkan, elite dan penguasa lokal pada saat itu sebenarnya juga ikut angkat senjata melawan penjajah. Namun, sifat perlawanannya sedikit berbeda dari masyarakat akar rumput. Beberapa sultan dan raja akhirnya memberontak karena merasa kekuasaan mereka dibatasi oleh penjajah. “Raja merasa tidak lagi bebas, tidak berkuasa, keuntungan mereka menurun. Motif perlawanan mereka lebih banyak karena itu,” kata John.
Perlawanan yang muncul dari ketidakpuasan rakyat pada abad ke-16 sampai awal abad ke-19 membuat pemerintah kolonial khawatir. Dalam beberapa kasus, pemberontakan tersebut bahkan menyadarkan penjajah atas praktik semena-mena yang mereka lakukan. Hal itu terlihat dari laporan yang ditulis Gubernur Jenderal Belanda di Jawa, JC Baud, Criticism of van den Bosch and the Culture System in the Netherlands and Indies. Laporan pada 1832 itu menggambarkan kepanikan kolonial terhadap pemberontakan dari rakyat yang mulai muncul di sekitar Jawa, seperti Priangan, Cirebon, dan Bantam (kini Banten).
Dalam laporannya, Baud menyertakan sejumlah surat yang ia tulis pada 1831-1832. Isi surat itu tentang sistem tanam paksa gula di masyarakat Jawa yang tidak efektif dan represif, bisa memantik api perlawanan dari para buruh. Dalam salah satu suratnya, Baud minta Pemerintah Belanda mempertimbangkan kebijakan kolonialismenya yang semena-mena.
Dalam surat pada 17 Mei 1832, Baud menulis, “Pada akhirnya, situasi di Cirebon tetap tenang. Namun, saya mempelajari, tanam paksa tidak cocok untuk bangsa ini. Cara-cara kompeni yang lama tidak relevan lagi. Rakyat Jawa sudah semakin cerdas dan tercerahkan, mereka kini tidak mau tinggal diam ketika ditindas.”
Kekuatan rakyat
Perjalanan bangsa ini menunjukkan, gerakan rakyat tidak pernah meredup. Pengajar Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Pattimura Josep Ufi, mengatakan, dalam sistem demokrasi, kekuatan akar rumput memainkan peran penting untuk melawan ketidakadilan.
Tidak jarang, gerakan-gerakan itu jadi penentu titik balik suatu rezim. Pada awal abad ke-20, kalangan terdidik menyebarkan pemikiran akan rasa persatuan dan nasionalisme yang pada akhirnya mengusir penjajah dari bumi Indonesia. Di Indonesia modern, gerakan mahasiswa pada 1998-1999 menandai jatuhnya pemerintahan Orde Baru.
“Rakyat akan selalu berperan sebagai pengingat, yang menyadarkan elite ketika mulai keluar dari jalur. Gerakan kekinian tidak selalu harus bersifat revolutif. Gerakan anak muda dan kalangan terdidik yang saat ini masif melalui dunia maya dan gerakan sosial di berbagai bidang merupakan simbol dari kekuatan rakyat itu,” tutur Josep.

Kompas, Minggu, 18 November 2016

Sunday, 18 December 2016

Tangan-tangan Komunitas Nyah Nyoh

Oleh THOMAS PUDJO WIDIJANTO
Berbuat baik itu bukan hal yang gampang. Namun, menjadi sangat gampang ketika melihat Komunitas Jogja Nyah Nyoh dalam kiprah sosialnya.
komunitas-jogja-nyah-nyoh_1_20160401_175854.jpg
Komunitas Jogja Nyah Nyoh melakukan kegiatan sosial menambal jalan berlubang
Indah sekali gerakan komunitas ini. Secara rutin komunitas yang didukung anak-anak muda ini menambal jalan yang berlubang. Sepele, hanya menambal jalan berlubang. Namun, manfaatnya begitu besar dalam menjaga keselamatan manusia.
“Kami sering menyaksikan kejadian orang meninggal, jatuh naik motor, karena terperosok di jalan berlubang,” kata Arditya Eka Sunu (31), Ketua Komunitas Jogya Nyah Nyoh, beberapa waktu lalu.
Setiap Rabu malam, kelompok ini sudah memiliki sasaran lubang jalan mana yang harus ditambal. “Kami sudah punya catatan dan setiap Rabu kami kerjakan,” ujar Arditya.
Gerakan yang semula hanya berlangsung di lingkungan mereka tinggal atau berkumpul itu kini merambah ke semua jalan berlubang yang terjangkau. Mereka beramai-ramai dengan semangat ketulusan menolong sesama pengguna jalan.
Begitu mereka melihat jalan berlubang lantas diberi tanda terang atau warna fosfor. Tanda inilah penunjuk sementara bagi pengendara sebelum kelompok ini menambal jalan itu dengan semen.
“Sudah tak terhitung berapa lubang yang sudah ditambal. Sengaja kami tidak menghitung karena kegiatan ini tidak ingin menumpuk angka-angka yang bisa berhenti pada target. Namun, kerja terus-menerus, karya nyata yang lebih mengembangkan toleransi,” kata Arditya.
arditya-eka-sunu-30-korlap-komunitas-jog-XPL7b.png
Arditya Eka Sunu, Ketua Komunitas Jogja Nyah Nyoh
Kalangan anak muda
Penambalan jalan itu dimulai sejak pertengahan tahun 2015, dikomando dari markas mereka di Warung Bubur Kacang Ijo di Jalan Seturan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Anggotanya sekitar 30 orang, berusia 20-56 tahun, sebagian besar kalangan anak muda. Ditetapkan sebagai komunitas yang peduli terhadap kenyamanan di jalan, Februari 2016, kelompok ini lantas diberi nama Komunitas Jogja Nyah Nyoh.
Nama ini berasal dari kata nyah nyoh, dalam bahasa Jawa, yang berarti memberi kepada orang lain tanpa perhitungan apakah kita berlebih atau tidak. Nyah nyoh adalah idiom Jawa yang filosofinya bukan sekadar memberi, melainkan memberi tanpa berhitung imbal balik. Meskipun si pemberi hanya memiliki pas-pasan, sikap memberi tetap terus dilakukan.
“Karena itu, untuk mendukung sikap nyah nyoh itu, komunitas ini memberi iuran sukarela untuk operasional tambal jalan,” kata Arditya lagi.
Barangkali memang sulit dilogikakan. Paling tidak dalam alur pikiran sekarang, yang lebih cenderung memandang logika ekonomi. Oleh karena itu, apa yang dilakukan Komunitas Jogja Nyah Nyoh yang melakukan gerakan penambalan jalan dengan gotong royong dengan biaya dari uang mereka menjadi peristiwa nan langka.
Komunitas Jogja Nyah Nyoh barangkali hanya ada di Yogyakarta. Memberi seperti tanpa alasan, kecuali satu kata: ikhlas. “Nyah nyoh adalah konsep dan sekaligus harapan. Artinya, senantiasa menyeimbangkan antara konsep dan harapan,” ujar Tumenggung Arditya, sebutan bagi Ketua Komunitas Jogja Nyah Nyoh.
Awalnya, kelompok ini hanya sekadar prihatin terhadap kondisi jalan rusak yang sering menimbulkan kecelakaan. Melapor kepada otoritas yang berkompeten juga tak selalu mendapat respons.
“Oleh karena itu, kami nekat untuk merepotkan diri dengan gerakan menambal jalan dengan semen. Apalagi, kenyataan dinas pekerjaan umum tidak secara periodik seminggu sekali melakukan penelitian jalan,” katanya.
Tak hanya dinas pekerjaan umum, Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X juga menyambut dengan penuh antusias kegiatan Komunitas Jogja Nyah Nyoh. Salah satu bentuknya, meminjamkan mobil untuk penunjang operasional kegiatan.
Sebagai anak muda yang idealis, Arditya sama sekali tidak setujum bahkan akan menghentikan kegiatannya jika kiprah Komunitas Jogja Nyah Nyoh ini hanya dianggap gotong royong yang dimitoskan sebagai warisan leluhur. “Di dalam nilai gotong royong ada yang lebih dalam, yaitu semangat dan ikhlas. Kalau itu tidak ada, gotong royong hanya mitos,” katanya.
Oleh karena itu, Arditya menyambut baik jika apa yang dilakukan Komunitas Jogja Nyah Nyoh ini ditiru komunitas di kota-kota lain. Dari komunitas kecil, akan mengembang menjadi kekuatan besar dalam mengatasi lubang jalan meskipun bersifat darurat. Paling tidak, (kendala) arus mudik saat Lebaran sedikit banyak akan teratasi oleh kegiatan tambal lubang jalan ini. “Persoalan jalan di Indonesia ini harusnya sudah selesai,” ujarnya.
Widiasto Wasanaputra, aktivis dan Ketua Sekretariat Bersama Keistimewaan DIY, mengatakan, foto-foto kegiatan Komunitas Jogja Nyah Nyoh ini menjadi bagian dari Pameran Sawiji Greget Sengguh Ora Mingkuh (kekuatan bersama) yang terselenggara beberapa bulan lalu. Pameran yang diikuti 17 komunitas itu memajang karya-karya inovasi, kreasi, dan terobosan yang memiliki tujuan memayu hayuning bawana (kesejahteraan masyarakat bersama).
Selain foto kegiatan Komunitas Jogja Nyah Nyoh juga dipajang kiprah masyarakat Yogyakarta, seperti pembuatan sepeda listrik, teknologi air hujan diubah menjadi air minum, dan pembuatan warna-warna batik dari bahan alam.
“Prinsipnya komunitas kreatif seperti Nyah Nyoh ini harus didukung. Harapannya agar muncul kreativitas-kreativitas baru yang memiliki tujuan kesejahteraan bersama dan solidaritas bersama,” kata Widiasto.
Selain itu, menurut dia, upaya keswadayaan masyarakat membuat berbagai gerakan kreatif sarat nilai-nilai sosial, budaya, dan ekonomi sejatinya merupakan penangkal alami berbagai hal destruktif di masyarakat.
Kasus kenakalan remaja yang belakangan ini muncul yang menjurus pada kriminalitas atau penyalahgunaan narkoba, misalnya, otomatis tidak akan menemukan konteksnya ketika masyarakat memiliki visi hidup yang memberikan kemanfaatan bagi pihak lain. “Oleh sebab itu, menjadi penting bagi negara untuk mendorong dan memfasilitasi penguatan gerakan-gerakan masyarakat,” ujar Widiasto.
Masih tetap relevan dan makin penting pendidikan keluarga, pendidikan sekolah, dan pendidikan lingkungan harus menjadi kesatuan yang terintegrasi. Prinsip Tripilar Pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang intinya keteladanan segala lini harus terus dikobarkan.
Tangan-tangan Komunitas Jogja Nyah Nyoh itu telah menggapai makna keteladanan.
Kompas, Sabtu, 17 Desember 2016

Suara Beda dari Palestina

Oleh MOHAMMAD HILMI FAIQ
Cerita tentang Palestina selalu identik dengan perang dan penindasan oleh Israel. Yang muncul kemudian adalah cerita pedih dan pilu tentang perjuangan anak manusia merebut kemerdekaan. Di balik itu, ternyata tersimpan cerita cantik tentang toleransi umat beragama. Muslim sebagai warga mayoritas sangat melindungi golongan kristiani sebagai minoritas. Inilah kesaksian kelompok paduan suara Bethlehem Bible College, Palestina. Mereka menyampaikan suara yang berbeda tentang Palestina.
voa-fathiyah wardah.jpg
Penampilan paduan suara Bethlehem Bible College dari Bethlehem, Palestina di depan jemaat misa di Gereja Bethel Indonesia Glow Fellowship Centre di Jakarta (11/12). (VOA/Fathiyah Wardah)
Rob, aina adzhabu mir ruhika, aina ahrobu min wajhika
A’ajibatun hadihil ma’rifah, irtafaat lâ istathi’uha
Itulah cuplikan lagu “Let You Know” yang dinyanyikan paduan suara Bethlehem Bible College dalam bahasa arab. Lagu yang menceritakan tentang ketundukan dan sikap kerendahan manusia di hadapan Tuhan ini terdengar syahdu sekaligus unik. Syahdu karena suara para penyanyi yang memang merdu. Unik lantaran jarang sekali, khususnya di Indonesia, ada lagu berbahasa Arab dilantunkan di tengah-tengah umat kristiani dalam konser menjelang Natal.
Di tempat ibadah Nafiri Allah, Central Park, Jakarta, Bethlehem Bible College mengisi acara bertajuk “Palestine Christmas Concert” di hadapan seribuan orang. Sebanyak dua belas penyanyi dipandu konduktor, Akram, membuka penampilan dengan lagu “Jesus Comes Tonight” yang mereka alih bahasakan secara bebas ke bahasa Arab dan ditulis menggunakan transliterasi Inggris menjadi “Jaiya el laily”.
Jemaah yang memadati ruangan segera merekam gambar mereka. Tidak sedikit yang merangsek maju untuk mendapatkan gambar yang lebih bagus sebagaimana saat mereka menonton konser musik pada umumnya. “Saya baru kali ini mendengar lagu gereja berbahasa arab,” kata seorang jemaah.
Sayang mereka hanya menyanyikan tiga lagu karena panitia hanya memberikan waktu 15 menit.
Suasana lebih menarik terlihat di Manado saat mereka menyanyi selama satu jam di atrium Manado Town Square (Mantos), Sulawesi Utara. Bukan hanya umat kristiani, umat Muslim juga berdatangan menonton. “Malnya empat lantai. Penuh semua orang menonton,” kata Hence Bulu, selaku Sekretaris Jenderal Badan Musyawarah Antargereja Nasional sekaligus Humas Sekolah Tinggi Teologi (STT) Global Glow Indonesia.
Paduan suara Bethlehem Bible College tampil tiga kali dalam sehari di Jakarta sebelum ke Manado dan Bali. mereka datang atas kerja sama dengan STT Global Glow Indonesia.
Pemandangan di Manado itu menunjukkan bahwa lagu dapat mempersatukan umat karena saat itu mereka tidak lagi melihat perbedaan agama. Daya tarik konser tersebut terletak pada lagu-lagu berbahasa Arab yang dinyanyikan oleh orang Palestina, yang bagi orang Indonesia tergolong pemandangan yang berbeda dan baru.
Selain itu, mereka menggunakan bahasa Arab. ini sekaligus menegaskan bahwa bahasa, sebagaimana lagu, memiliki makna universal. Bahasa Arab bukan milik agama tertentu. Itu juga berarti bahwa segala yang berbahasa Arab belum tentu mewakili agama tertentu. Bahasa Arab menjadi bahasa sehari-hari warga Palestina, termasuk kelompok Kristen evangelis yang memprakarsai Bethlehem Bible College.
Penampilan paduan suara Bethlehem Bible College mengonfirmasi bahwa Palestina tidaklah tunggal. Dia mempunyai wajah lain, kaum minoritas yang hidup aman di tengah mayoritas.
Toleransi
Bethlehem Bible College merupakan perguruan tinggi Kristen evangelis, yang berdiri sejak 1979 di Bethlehem ketika militer Israel berkuasa. Dr Bishara E Awad selaku Founding President Emeritus Bethlehem Bible College mengatakan, mereka merupakan kelompok kecil yang hidup di tengah-tengah mayoritas kaum Muslim. Akan tetapi, selama ini mereka hidup dalam harmoni karena saling berempati dan peduli.
Dia menambahkan, paduan suara Bethlehem Bible College memupuk rasa peduli dan toleransi bukan hanya di Palestina. Mereka setidaknya enam kali ke Jordania untuk membantu orang-orang yang kesusahan dan kesakitan karena perang. Semangat menolong perlu dipupuk tanpa melihat kelompok dan golongan. Sepanjang ada yang kesusahan, sudah seharusnya ditolong. Menolong tak kurang dari cara manusia untuk memahami sesama.
Semangat itu dia gambarkan dengan cerita orang Samaria yang berbaik hati menolong orang Yahudi yang terluka. Padahal, dia sadar bahwa selama ini orang Yahudi memusuhi orang Samaria.
Kehadiran paduan suara Bethlehem Bible College di Indonesia seolah menjadi testimoni pentingnya mengedepankan toleransi. Ini setidaknya dikuatkan oleh pernyataan Wakil Rektor STT Global Glow Indonesia sekaligus Ketua Panitia Konser di Nafiri Allah, Daniel Saragih. “Hari-hari ini ada gesekan-gesekan yang timbul kembali masalah hubungan agama (di Indonesia). Kami melihat ini waktu yang sangat tepat mengundang mereka sehingga kita bisa belajar dari Palestina bahwa Natal didukung oleh kalangan Muslim.”
Jika kabar tentang Palestina lebih banyak tentang perang dan derita, mereka kini menyuarakan perdamaian dan persatuan. Paduan suara Bethlehem Bible College telah membawa suara yang berbeda tentang Palestina.
Kompas, Minggu, 18 Desember 2016

Saturday, 17 December 2016

Rakyat di Antara Tarikan Kepentingan Elite

Oleh AGNES THEODORA dan ANTONY LEE
Relasi antara elite sejumlah kerajaan di Nusantara dengan pemerintah kolonial dalam tataran tertentu menguntungkan kedua belah pihak. Namun, hal itu mengabaikan kesejahteraan rakyat. Setelah lebih dari tujuh dekade Indonesia merdeka, pola hubungan seperti itu masih bisa ditemui dalam bentuk lain.
1721264tidoree-2780x390.jpg
Tidore di Maluku Utara (Barry Kusuma)
Di lereng Gunung Gamalama, Kota Ternate, Maluku Utara, akhir November lalu, pohon cengkeh afo kering meranggas. Batangnya menjulang tinggi dengan dahan yang menjulur tegak, seolah hendak memeluk langit yang siang itu mendung dan muram. Di perkebunan rakyat di Kampung Air Tege Tege itu, cengkeh afo “dikepung” pagar semen dan besi. Pagar itu mengelilingi batang afo yang diameternya cukup lebar sehingga perlu dua orang dewasa merentangkan tangan untuk bisa memeluknya.
“Su tara ada dia pung cengkeh (sudah tidak ada lagi cengkehnya). Dari tahun 2000 tidak berbuah,” kata Anwar (51), petani cengkeh yang keluarganya turun temurun merawat pohon afo itu.
Afo dalam bahasa lokal berarti “tua”. Sesuai namanya, pohon afo disebut-sebut sebagai cengkeh tertua di dunia. Pohon cengkeh afo yang kami datangi akhir November lalu adalah generasi kedua yang berusia sekitar 100 tahun. Afo generasi pertama terletak sekitar dua kilometer menuju puncak gunung, sudah mati tahun 1989 pada usia sekitar 300 tahun.
Pada abad ke-17, dalam kurun waktu tahun 1652-1656, nenek moyang cengkeh afo itu lolos dari hongi tochten. Hongi tochten adalah ekspedisi pemberantasan pohon cengkeh di sekitar Maluku, kecuali di Ambon dan Seram. Kebijakan hasil persekongkolan elite Kesultanan Ternate dengan Serikat Dagang Hindia Timur (VOC) itu muncul untuk mengendalikan harga cengkeh. Pasalnya, pada pertengahan abad ke-17, kelebihan pasokan membuat harga cengkeh di pasar Eropa anjlok.
Kebijakan hongi tochten menciptakan ketegangan dalam struktur sosial dan politik masyarakat Maluku. Rakyat setempat kehilangan sumber pendapatan pokok sebagai petani cengkeh. Pasalnya, dalam perjanjian yang dibuat VOC dengan Sultan Ternate Mandar Sjah itu, kompensasi tahunan hanya diberikan kepada para sultan dan bobato (petinggi kerajaan).
Adnan Amal dalam Kepulauan Rempah-Rempah, mencatat ganti rugi tahunan dari VOC untuk kebijakan hongi tochten saat itu ialah 2.000 ringgit untuk Sultan, 500 ringgit untuk Kaicil (kiai kecil) Kalamata, 1.500 ringgit dibagi rata untuk para pembesar kesultanan, serta 500 ringgit dibagi rata untuk Sangaji (kepala wilayah lokal) Makian. Di luar itu, setiap tahun, Kesultanan Ternate mendapat 12.000 ringgit.
Sementara elite menikmati uang ringgit, kain India, dan keramik Tiongkok pemberian VOC, dalam Dunia Maluku, Leonard D Andaya dalam buku Indonesia Timur pada Zaman Modern Awal menulis, semua laki-laki dari desa lokal wajib menjadi buruh untuk menggali pohon cengkeh dari tanah, memisahkan akarnya, dan membakar semua pohon. Didampingi pemimpin ekspedisi dari VOC yang memperlakukan mereka semena-mena, para buruh mencari pohon cengkeh ke pegunungan, tebing terjal, serta pedalaman yang kala itu penuh wabah malaria.
Ekspedisi berat itu berujung pada banyaknya laporan palsu yang disampaikan pegawai VOC kepada Gubernur di Maluku. Laporan pemberantasan rempah-rempah pada 7 Juni 1731 oleh Gubernur Belanda Christiaen Pielat, dalam Memorie van Overgaye yang disimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia, sebagaimana dikutip Leonard Andaya, menunjukkan ada laporan yang angkanya dilebih-lebihkan untuk menyenangkan pihak berwenang. Padahal, kenyataannya banyak pohon cengkeh yang tidak diberantas karena tumbuh di medan yang sulit.
cachedimage.jpg
Pemberontakan pecah pada 1651 ketika Majira pemimpin di Hoamoal, Seram, menolak perintah VOC untuk memusnahkan sebagian hasil panen cengkeh. VOC lalu menggelar Hongi Tochten, armada kora-kora bersenjata pemberantas cengkeh (Geheugen van Nederland)
1042595ternate-3780x390.jpg
Kota Ternate di Maluku Utara (Barry Kusuma)
1040037ternate-2780x390.jpg
Benteng di Ternate, Maluku Utara (Barry Kusuma)
4822135p.jpg
Pohon cengkeh afo generasi kedua tampak kering meranggas di lereng Gunung Gamalama, Kota Ternate, Maluku Utara. Dengan seizin Sultan Ternate, nenek moyang pohon cengkeh afo ini lolos dari ekspedisi pembantaian pohon cengkeh yang dilakukan VOC waktu itu.
Persekongkolan
Relasi elite lokal dengan penjajah pada abad ke-16 dan ke-18 menjadi contoh persekongkolan elite lokal dan kolonial yang menyengsarakan rakyat. Dalam buku Perang, Dagang dan Persahabatan, Surat-Surat Sultan Banten, Titik Pudjiastuti memuat sejumlah surat antara Kesultanan Banten dan penjajah. Surat-surat itu menggambarkan relasi politik dan niaga antara elite lokal dan bangsa Eropa yang bertujuan saling menguntungkan, tetapi merugikan rakyat.
Sebagai contoh, surat dari Sultan Abunashar Muhammad Ishaq Zainalmutaqin untuk Gubernur Jenderal Daendles dan Raad van Indie pada 1808. Surat yang saat ini disimpan di bagian Naskah Timur, Universiteits-Bibliotheek Leiden, Belanda tersebut, berisi laporan tentang penanaman lada di Lampung serta pembagian keuntungan dari perkebunan lada dan harga jualnya. Dalam surat itu, Sultan menjamin kualitas lada yang menjadi jatah VOC. Sultan menjanjikan akan menghukum rakyat jika ada hasil panen yang rusak dan keliru dari kesepakatan.
“Jikalau ada (lada) yang rusak atau yang kurang dari bilangan yang ada dalam tulis buku besar adanya, paduka ananda Sri Sultan suruh periksa… Dan jikalau jatuh yang itu salah kepada mandor-mandor atawa tukang-tukang kebun, mesti itu jua yang kena hukuman,” tulis Sultan dalam surat sepanjang tiga lembar kertas itu.
Menurut Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Pattimura John Pattikayhatu, raja dan elite kerajaan pada masa itu lebih memikirkan kepentingan diri sendiri atau keluarga terlebih dulu. Mereka membuat perjanjian yang menguntungkan penjajah, lalu membuat aturan untuk mengisi pundi uangnya sendiri, tetapi mengorbankan rakyat.
Realitas sosial yang ditemukan di Nusantara saat itu turut menginspirasi Asisten Residen Lebak, Banten, Eduard Douwes Dekker, menulis Max Havelaar (1860), yang menggambarkan situasi Banten pada pertengahan abad ke-19. Dikisahkan, saat itu masyarakat hidup miskin, sementara pemerintah kolonial dan Bupati Lebak Adipati Karta memungut pajak dan pungutan sampingan yang berat dari rakyat.
Bupati Lebak juga memaksa rakyat Lebak bekerja untuknya tanpa upah. Hasil padi rakyat diambil oleh bupati dan sebagian untuk Pemerintah Hindia Belanda. Novel Max Havelaar dengan nama pena Multatuli itu turut memainkan peran dalam menggeser kebijakan kolonialisme Belanda yang semena-mena menuju ke arah politik etis.
Kepentingan bisnis
Pengajar Ilmu Sosial dan Politik Universitas Pattimura Josep Ufi mengatakan, meski kini Indonesia sudah merdeka, jejak dari yang dahulu terjadi pada era kolonial masih bisa ditemui. Namun, relasi patron-klien yang terjadi telah bergeser, tidak lagi elit penguasa dengan kolonialis, tetapi elite dengan pemodal asing ataupun lokal. Dalam konteks Indonesia modern, seringkali pola patron-klien itu berujung pada korupsi.
“Ini bentuk eksploitasi dengan aktor yang berbeda, tetapi rohnya sama. Masyarakat masih jadi obyek pembangunan, bukan subyek pembangunan yang perlu disejahterakan,” kata Josep.
Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan, pembangunan di bidang strategis saat ini lebih banyak berorientasi pada proyek dan investasi yang bersifat kroni. Realitas tersebut merupakan titik temu antara politik berbiaya tinggi dan ekonomi berbiaya tinggi.
“Elite politik pengambil kebijakan butuh modal besar. Di sisi lain, pemodal juga butuh lisensi dan kepastian bahwa usahanya dilanggengkan oleh pemerintah. Praktik-praktik seperti itu sampai sekarang masih menjadi akar masalah ketidakoptimalan kita mengelola potensi sumber daya yang ada,” kata Enny.
Hasilnya, ketimpangan ekonomi di Indonesia tinggi. Dalam Inequality in Asia and the Pacific, data World Bank menunjukkan, Indonesia termasuk negara dengan kesenjangan sosial yang tinggi di Asia Tenggara. Rasio gini Indonesia pada 2015 ada di angka 0,40. Semakin mendekati angka 1, semakin lebar kesenjangan kesejahteraan masyarakat.
Angka kemiskinan memang telah menurun, tetapi belum signifikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Maret 2016, kemiskinan sedikit menurun jadi 28,01 juta jiwa, dibandingkan 28,51 juta jiwa pada September 2015. “Konstitusi sudah mengatur, domain pemerintah dalam mengelola sumber daya strategis, tetapi pemerintah sendiri yang melepas. Pemerintah harus bangun dari kesalahan, berhenti bermain mata dan mulai memegang kendali,” kata Enny.
Merdeka seratus persen, kata Tan Malaka, artinya elite pimpinan tetap tegap, percaya atas diri sendiri, dan jujur terhadap rakyat jelata⎼yang hidup dan tenggelam dengan alam yang didudukinya. Jadi, kita ini sudah merdeka berapa persen?
Kompas, Sabtu, 17 Desember 2016

Tuesday, 13 December 2016

Dari Syailendra hingga Majapahit

Oleh IWAN SANTOSA
Sebuah kapal kayu bercadik terpajang di Museum Samudera Raksa di kompleks Candi Borobudur. Kapal bernama Samudera Raksa itu disebut sebagai replika Kapal Borobudur yang digunakan leluhur bangsa Indonesia zaman Dinasti Syailendra pada abad ke-8 Masehi berlayar hingga ke Afrika Barat.
1539257reliefff780x390.jpg
Relief Borobudur yang menggambarkan kapal bercadik ganda. (Kompas/Fikria Hidayat)
beale kapal.jpg
Philip Beale dan kapal Samudera Raksa
Philip Beale, perwira Royal Navy (AL Inggris), pada tahun 1980-an memelopori gagasan pembuatan “Kapal Borobudur” yang akhirnya berlayar dari Bali pada 30 Agustus 2003 dan tiba di Accra, Ghana, Teluk Guinea di Afrika Barat, pada 23 Februari 2004 atau enam bulan pelayaran. Pelaut Jawa pada milenium pertama Masehi sudah biasa menjelajah ke Afrika. Selang sepuluh abad kemudian, rute pelayaran Ghana-Jawa kembali hidup tahun 1800-an semasa Hindia-Belanda. Sejarawan Universitas Leiden Ineke van Kessel menelusuri jejak orang-orang keturunan Afrika di Salatiga dan Purworejo yang menjadi prajurit KNIL.
Kapal Samudera Raksa dibuat di galangan kapal tradisional di Pulau Kangean 100 kilometer utara Pulau Bali dan di timur Pulau Madura yang menjaga tradisi maritim dari leluhur. Menurut ahli kelautan Universitas Hassanudin Ridwan Alimuddin, pelaut Bali, Madura─termasuk Kangean─Mandar, Bugis, Buton, dan Makassar merupakan pewaris tradisi bahari Nusantara.
Kapal Samudera Raksa membuktikan kemampuan maritim Nusantara jauh sebelum bangsa Eropa dipelopori Pangeran Henri “Sang Navigator” asal Portugal memelopori penjelajahan Eropa ke Asia. Era pelayaran zaman Wangsa Syailendra adalah masa awal kebangkitan Islam di Jazirah Arab dan bangsa-bangsa Eropa belum lagi menjelajah lautan.
Kejayaan pelaut Jawa, seperti direkam arkeolog Universitas Indonesia Hasan Djafar, mencapai puncak pada era Majapahit (1293-1527). Semasa era Kapal Borobudur hingga Majapahit, para leluhur sudah terbiasa hidup dengan aktivitas terkait sungai dan perairan. “Sepanjang alur Ciliwung sudah menjadi hunian manusia hingga kawasan hulu di Bogor. Berbagai artefak ditemukan di alur Ciliwung, seperti di daerah Condet dan Kalibata,” kata Hasan Djafar saat Kompas menggelar Ekspedisi Ciliwung tahun 2009.
Hasan Djafar dalam buku Masa Akhir Majapahit menulis, pedagang dan pelaut Jawa dikenal kaya raya. Pedagang dan pelaut Jawa berlayar ke Banda, Ternate, Ambon, Banjarmasin, Malaka, dan Kepulauan Filipina.
Kota pelabuhan
Para pelaut dan saudagar Jawa biasa berhubungan dengan pedagang dan pelaut India, Arab, dan Tiongkok. Pedagang Jawa kaya raya karena menguasai perdagangan rempah dari Maluku dan beras dari Jawa. Mereka bertemu mitra dagang dari Arab, India, Persia, Turki, dan Tiongkok di Bandar Malaka. Para pedagang Jawa mengimpor produk keramik dan logam dari India dan Tiongkok. Perdagangan yang pesat ini, menurut Hasan Djafar, memicu pertumbuhan kota-kota pelabuhan di pantai utara Jawa berkembang pesat. Hubungan ini terjalin sejak abad ke-7 Masehi hingga keruntuhan Majapahit.
0808083kapal-majapahit780x390.jpg
Kapal The Spirit of Majapahit, yang merupakan replika kapal Majapahit, saat berlayar.
Kemakmuran Majapahit yang berbasis perdagangan dan hubungan maritim semakin redup karena konflik internal Majapahit sebagai pusat kekuasaan Nusantara dan perkembangan geopolitik Asia Tenggara yang antara lain ditandai dengan berkembang pesatnya perdagangan pedagang Timur Tengah dan penyebaran agama Islam. Dua hal terakhir ini yang memunculkan berbagai kesultanan di pesisir.
Pada pedagang Timur-Tengah juga memiliki pos-pos dagang hingga pesisir Tiongkok. Penjelajah Ibnu Battutah (1304-1368) dan Marco Polo (1254-1324) mencatat era keemasan perdagangan Timur-Tengah dengan Nusantara dan Tiongkok. Para pedagang Timur-Tengah dan mitranya di Eropa, yakni Genoa dan Venesia, mengendalikan harga rempah di pasar terakhir, yakni Eropa Barat.
Perdagangan dan persaingan menguasai rempah di Eropa dan Timur-Tengah turut berdampak pada kejayaan imperium Majapahit. Akhirnya, menurut Hasan Djafar, Kerajaan Majapahit semakin terisolasi di pedalaman hingga Adipati Unus dari Kesultanan Demak mengalahkan Majapahit pada tahun 1519. Sementara itu, pada periode yang hampir bersamaan, bangsa Eropa, Portugis, justru mulai menguasai Malaka pada 1511.
Kekuasaan Majapahit sebagai penguasa Nusantara pun terjepit di antara pertarungan geopolitik kerajaan-kerajaan Eropa dan Timur-Tengah yang didominasi Kesultanan Turki Usmani. Berbagai bandar dan galangan kapal hilang, lenyap pula armada pelaut dan pedagang Jawa. akhirnya, kekuasaan Majapahit yang pernah menguasai lautan Nusantara dan mengendalikan perdagangan rempah, komoditas yang menjadi rebutan dunia, pun berakhir…
Kompas, Minggu, 11 Desember 2016