Tuesday, 4 February 2014

13 Apostles (Bagian 4)

Filipus
Filipus termasuk murid-murid pertama berdasarkan versi Yohanes. Dia dipanggil di Betania, menjelang Yesus berangkat ke Galilea (Yoh 1:43)
Filipus berasal dari Betsaida, sekota Andreas dan Petrus (Yoh 1:44). Setelah pemanggilannya, Filipus memperkenalkan Yesus kepada Natanael (Bartolomeus). (Yoh 1:45-51)
Dalam kisah Yesus memberi makan 5000 orang disebutkan Yesus bertanya kepada Filipus kemana bisa mencari makan untuk banyak orang dengan maksud untuk mengujinya. Filipus menjawab bahwa roti seharga dua ratus dinar pun tidak akan bisa digunakan untuk memberikan makan sedemikian banyak orang, meskipun setiap orang hanya mendapat sepotong kecil. (Yoh 6:5-7)
Menjelang hari raya Paskah, terdapat beberapa orang Yunani yang mendatangi Filipus untuk meminta dipertemukan dengan Yesus. Filipus membicarakan hal ini kepada Andreas. Keduanya kemudian menyampaikannya  kepada Yesus. (Yoh 12:20-22)
Saat perjamuan malam terakhir, Filipus menanyakan mengenai Bapa kepada Yesus. Pertanyaan itu sekaligus memberikan kesempatan Yesus untuk bisa menjelaskan mengenai keterkaitan antara Bapa dan Yesus. (Yoh 14:8-14)
Setelah peristiwa Pentakosta, tidak ada informasi lebih lanjut mengenai rasul Filipus dalam Alkitab. Catatan Lukas dalam Kisah Para Rasul mengenai figur bernama Filipus adalah salah seorang dari tujuh diaken, yang dikenal sebagai Filipus pemberita Injil (Kis 6:5; 8:5-40; 21:8-9).
Berdasarkan tradisi, pasca Pentakosta, Filipus mewartakan Injil di Galilea. Pewartaan ini disertai dengan kejadian mujizat, di antaranya Filipus membangkitkan seorang anak yang mati di pangkuan ibunya. Dari Galilea, Filipus pergi ke Yunani, melayani komunitas Yahudi di negara tersebut. Kabar pelayanan ini dilaporkan oleh sekelompok Yahudi ke Yerusalem sehingga Imam Agung pun datang menyusul ke Yunani untuk melawan Filipus. Saat kelompok Farisi ini akan menyerang Filipus, tiba-tiba mereka menjadi buta. Filipus mendoakan para penyerangnya itu sehingga semuanya dapat melihat kembali, banyak di antaranya menjadi percaya. Filipus menunjuk Narkissos menjadi uskup Yunani.
Di Yunani, Filipus pergi ke Parthia, kemudian ke Azota (apakah yang dimaksud adalah Azotus atau Asdod?). Di kota ini dia menyembuhkan mata anak perempuan Nikodemus, warga lokal yang membawa Filipus ke rumahnya dan kemudian bersama seisi rumahnya dibaptis. Dari sini Filipus pergi ke Hierapolis Siria (sekarang Manbij). Di kota ini Filipus menumpang di rumah seorang bernama Iros. Orang-orang Farisi yang mengetahui hal ini membakar rumah tersebut tetapi tidak menyebabkan Filipus terbunuh. Beberapa di antara mereka akhirnya menjadi percaya setelah melihat mujizat yang dilakukan Filipus, seperti menyembuhkan tangan yang lumpuh sebelah dari seorang petinggi kota bernama Aristarkus dan membangkitkan seorang anak muda yang mati. Setelah mengangkat Iros menjadi uskup Hierapolis Siria, Filipus bersama Bartolomeus dan adik Filipus, Mariamna, mengabarkan Injil ke Lidia dan Misia di Asia Kecil.
Akhirnya, mereka sampai di Hierapolis Frigia (sekarang Pamukkale, Turki), kota yang saat itu sangat memuja ular. Banyak orang menjadi percaya karena pelayanan mereka, termasuk istri prokonsul yang disembuhkan dari sakitnya. Prokonsul Antipatas marah karena istrinya menjadi pengikut Kristus. Dia menangkap Filipus dan rekan sekerjanya, kemudian menjatuhkan hukuman mati kepada mereka. Filipus dan Bartolomeus digantung terbalik di sebuah pohon dengan paku dan kait besi yang ditancapkan pada tumit dan lutut mereka. Saat itu timbul gempa bumi hingga tanah terbuka. Dalam kondisi tergantung, Filipus berdoa untuk keselamatan orang-orang yang telah menyiksanya. Kejadian ini menyebabkan banyak orang menjadi percaya pada Kristus dan berusaha membebaskan keduanya. Bartolomeus masih dalam kondisi hidup saat diturunkan dari gantungannya, tetapi Filipus mati menjadi martir. Peristiwa ini terjadi di sekitar tahun 80. Mariamna memakamkan saudaranya di Hierapolis dan pada makam tersebut kemudian didirikan sebuah gereja.
Pada 26 Juli 2011, tim arkeolog yang dipimpin Prof Francesco D’Andria menemukan sebuah bangunan gereja yang diyakini pernah menjadi makam Filipus di situs penggalian kuno Hierapolis, provinsi Denizli, Turki. Makam tersebut tidak berada dalam Martirium Filipus sebagaimana dipercaya sebelumnya, melainkan berada sekitar 40 meter di luarnya. Gereja ini diperkirakan dibangun antara abad keempat dan kelima, hampir bersamaan dengan pembangunan martirium. Penemuan gereja ini memberikan titik terang mengenai bangunan yang tergambar dalam stempel roti perunggu dari abad keenam yang tersimpan di Museum Seni Virginia di Richmond. Bangunan berkubah di sisi kanan figur Filipus adalah martirium, sedangkan bangunan gereja basilikal Bizantium di sisi kiri adalah gereja yang baru ditemukan tersebut.
Kemungkinan karena gempa bumi yang sering terjadi di Hierapolis, relik Filipus dipindahkan ke Konstantinopel. Pada tahun 560 sebagian besar relik dipindahkan ke Roma dan disemayamkan di Gereja Rasuli Suci, Roma, bersama relik Yakobus Muda. Relik lain, yaitu fragmen tulang tengkorak, dipindahkan dari Konstantinopel ke Pafos, Siprus, pada tahun 1204, dan kemudian disemayamkan di Biara Salib Suci, Omodos, pada tahun 1788.
Reruntuhan Martirium Filipus di kota kuno Hierapolis, Denizli, Turki
Reruntuhan gereja yang dipercaya merupakan makam Filipus di kota tua Hierapolis, Denizli, Turki
Stempel roti perunggu dari abad keenam yang menunjukkan gambar Filipus dengan dua bangunan, yaitu Martirium (kanan) dan gereja basilikal Bizantium (kiri).
Gereja Rasuli Suci, Roma
Sarkofagus berisi relik Filipus dalam Gereja Rasuli Suci, Roma
Biara Salib Suci, Omodos, Siprus
Relikui berisi relik fragmen tengkorak Filipus di Biara Salib Suci, Omodos, Siprus
Referensi
Appleby S (2013) Commemoration of the Apostle Philip, and beginning of the Nativity Fast. Diambil dari: http://georgianorthodoxchurch.wordpress.com/2013/11/27/commemoration-of-the-apostle-philip-and-beginning-of-the-nativity-fast
Associates for Biblical Research (2011) Martyrium of Apostle Philip Found. Diambil dari: http://www.biblearchaelogy.org/post/2011/08/04/Martyrium-of-Apostle-Philip-Found.aspx
Biblical Archaeology Society Staff (2012) Tomb of Apostle Philip Found: Discovery Made at Hierapolis, One of the Major Christian Sites in Turkey. Diambil dari: http://www.biblicalarchaelogy.org/daily/biblical-sites-places/tomb-of-apostle-philip-found/
Sanidopoulos J (2009) The Fate of the Relics of the Apostle Philip. Diambil dari: http://www.johnsanidopoulos.com/2009/11/fate-of-relics-of-apostle-philip.html
Sanidopoulos J (2011) The Tomb of the Apostle Philip Discovered In Hierapolis. Diambil dari: http://www.johnsanidopoulos.com/2011/07/tomb-of-apostle-philip-discovered-in.html
Bartolomeus atau Natanael
Nama Bartolomeus, secara harfiah berarti ‘anak Tolmai’. Sehingga nama tersebut diduga merupakan penjelasan mengenai keluarganya. Hieronimus memiliki opini bahwa Bartolomeus memiliki darah bangsawan. Menurut Hieronimus, kemungkinan arti namanya adalah ‘keturunan Talmai’. Dalam 2 Sam 3:3 disebutkan bahwa Talmai adalah raja Gesur, yang memiliki anak perempuan bernama Maakha, salah satu istri Daud dan ibu Absalom. Kemungkinan kedua, Hieronimus mengaitkannya dengan Ptolemaeus, penguasa Mesir, sehingga arti namanya bisa jadi ‘keturunan Ptolemaeus’. Kedua dugaan tersebut belum tentu benar, tetapi cukup menarik jika kelompok 12 rasul dapat menyatukan orang berdarah biru dengan kelompok nelayan ‘rendahan’ dari Galilea.
Identitas Bartolomeus sama dengan Natanael diungkapkan pertama kali oleh seorang penulis Nestorian abad kesembilan, Elias al-Ğawharī dari Damaskus. Matius, Markus, dan Lukas selalu menuliskan Bartolomeus bersama dengan Filipus. Yohanes menyebutkan bahwa Filipus yang membawa Natanael kepada Yesus (Yoh 1:45). Dari kedua informasi tersebut dipercaya bahwa Bartolomeus dan Natanael adalah orang yang sama.
Tradisi menyebutkan deskripsi fisik Bartolomeus sebagai seorang dengan rambut hitam ikal, kulit putih, mata lebar, hidung lurus, rambutnya menutupi kedua telinga, jenggot panjang yang sebagian berwarna kelabu, dan tinggi badan sedang. Dia mengenakan jubah putih dengan segaris warna nila, dan mantel putih dengan empat permata nila pada ujung-ujungnya. Selama 26 tahun pakaian itu digunakannya tanpa menjadi usang. Sepatunya juga dikenakan hingga 26 tahun. Dia berdoa seratus kali saat siang, dan seratus kali saat malam. Suaranya bagaikan terompet, para malaikat menanti-nantikannya. Dia selalu riang dan menguasai banyak bahasa.
Bartolomeus diperkenalkan kepada Yesus oleh Filipus di Betania, menjelang Yesus berangkat ke Galilea (Yoh 1:45-51). Dia berasal dari Kana yang di Galilea (Yoh 21:2). Saat pertama kali Filipus memberinya informasi mengenai Yesus, Natanael menunjukkan ketidakpercayaannya dengan pertanyaan bagaimana mungkin ada sesuatu yang baik dari Nazaret, tetapi tidak menolak saat Filipus mengajaknya menemui Yesus. Saat pertama kali bertemu, Yesus berkomentar bahwa Natanael adalah orang Israel sejati, bersikap apa adanya. Natanael bertanya dari mana Yesus bisa mengenalnya. Yesus pun menjawab bahwa Dia telah melihatnya di bawah pohon ara sebelum Filipus memanggilnya. Mendengar hal itu, Natanael mengucapkan pengakuannya bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Raja orang Israel. Lalu Yesus menjawabnya, “Hanya dengan mendengar perkataanKu bahwa Aku telah melihatmu di bawah pohon ara dan kamu pun percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar daripada itu.  Engkau akan melihat langit terbuka dan  malaikat-malaikat Tuhan turun naik kepada Anak Manusia.” (Yoh 1:45-51) à apa maksudnya?
Selebihnya tidak ditemukan informasi khusus mengenai Natanael dalam Alkitab selain keikutsertaannya dalam Perjamuan Malam Terakhir dan Pentakosta.
Dalam kisah ‘Pelayanan Bartolomeus di Oasis’ disebutkan bahwa Bartolomeus mengajar di Oxyrhynchus (Al Bahnasa), 160 km selatan Kairo. Berdasarkan ‘Pelayanan Andreas dan Bartolomeus’, dia bekerja di antara orang-orang Partia. Tradisi yang lain menyebutkan Bartolomeus melayani di Frigia, Asia Kecil.
Berdasarkan kitab apokrif Injil Bartolomeus, sahabat Filipus ini mengabarkan Injil di India dengan membawa salinan Injil Matius. Eusebius menyatakan dalam Sejarah Gereja bahwa pada tahun 180, Pantenus dikirim oleh Demetrius, uskup Aleksandria, sebagai misionaris hingga ke India. Di sana dia mendapatkan informasi bahwa Bartolomeus sebelumnya telah mengajar dan memberikan salinan Injil Matius dalam bahasa Ibrani. Salinan ini di kemudian hari dibawa Pantenus ke Aleksandria.
Berdasarkan kitab apokrif Kisah Filipus, Bartolomeus mengabarkan Injil bersama Filipus dan saudarinya hingga ke Hierapolis. Di sini mereka menyembuhkan istri prokonsul setempat. Pertobatan wanita ini menyebabkan kemarahan prokonsul tersebut, yang berujung penyiksaan untuk ketiganya. Dua sahabat dekat ini dihukum mati dengan penyaliban. Gempa bumi terjadi dan bumi merekah menelan para penyiksa kedua rasul. Orang-orang yang melihat ini pun segera berusaha membebaskan Filipus dan Bartolomeus. Bartolomeus yang dilepaskan pertama dapat bertahan hidup, sedangkan Filipus meninggal dunia setelah diturunkan dari pohon tempatnya digantung.
Pasca kematian Filipus, Bartolomeus dan Mariamna pergi mengabarkan Injil ke timur hingga mencapai Armenia. Berdasarkan tradisi Armenia, sebelumnya Yudas Tadeus sudah lebih dulu melayani di daerah tersebut, antara tahun 43-66. Bartolomeus bergabung dengannya sekitar tahun 60.
Pada tahun 68, Bartolomeus menjadi martir di Albanopolis (sekarang Derbend), Rusia. Sementara Mariamna, yang kembali kehilangan rekan sekerjanya, melanjutkan tugas pengabaran Injil hingga kematiannya di Likaonia. Berdasarkan Martirologi Roma, Astiagus memerintahkan penyiksaan dan hukuman mati untuk  Bartolomeus karena telah menyebabkan saudaranya, Polimius, yang juga adalah Raja Armenia menjadi percaya kepada Yesus. Bartolomeus disiksa dengan cara dikuliti hidup-hidup dan kemudian dipenggal. Tradisi yang lain menyebutkan bahwa Bartolomeus dikuliti dan disalibkan dengan posisi kepala di bawah.
Biara Santo Bartolomeus didirikan di lokasi kematian Bartolomeus pada abad keempat. Lokasi biara tersebut dekat kota Başkale (Albayrak), provinsi Van, bagian tenggara Turki. Makamnya berada dalam katedral di area biara, menjadikan tempat ziarah penting di Armenia sebelum genosida. Bersama dengan Tadeus, Bartolomeus menjadi santo pelindung Gereja Armenia.
Setelah peristiwa tragis Genosida Armenia di awal abad ke-20, biara tersebut di bawah kendali militer Turki dan seluruh situs menjadi basis militer hingga saat ini. Di awal tahun 1960an, kubah gereja masih terlihat, tetapi kondisi fisik bangunan rusak berat. Pada tahun-tahun itu biara dirusak oleh tentara Turki dengan bahan peledak. Katedral utama saat ini berupa reruntuhan. Area tersebut menjadi tempat terlarang untuk didekati.
Dalam ‘Codex Fuldensis’, Viktor, uskup Kapua abad keenam, menyebutkan lokasi makam Bartolomeus di Doliche (Dülük, Gaziantep?), Frigia [In Frigia nella citta di Doliche].
Theodorus Studita (759-826) menyebutkan bahwa pada tahun 507-508 relik Bartolomeus dipindahkan ke Dara, Mesopotamia, di tenggara Turki, oleh Kaisar Anastasius (430-518). Sebelumnya, ada yang menyebutkan relik tersebut dipindahkan dari Albanopolis ke Nephergerd-Mijafarkin (Nipur?). Relik tersebut disimpan dalam Gereja Santo Bartolomeus, salah satu dari dua gereja besar di Dara saat itu. Pada tahun 573-574, Khosrau I (501-579) dari Kekaisaran Sasaniyah, Persia, merebut kota yang juga dikenal sebagai Anastasiopolis ini. Sebagian pengungsi mengamankan relik dalam peti dan membawanya hingga ke pesisir Laut Hitam. Namun tentara Persia berhasil mengejar mereka, kemudian merampas dan membuang peti berisi relik ke laut. Georgius dari Tours (538-594) menceritakan bahwa peti tersebut tetap terapung dan terbawa arus hingga terdampar di pantai Portinenti, Lipari. Lipari merupakan pulau kecil di utara pesisir Sisilia. Uskup Agatho menemukan dan kemudian menyimpan relik tersebut dalam katedral di Lipari. [Beberapa dokumen menyebutkan Uskup Agatho dari Lipari diturunkan dan digantikan oleh Paulinus, Uskup dari Taurum, pada tahun 592, atas perintah Paus Gregorius I. Namun, tradisi di Lipari percaya bahwa relik terdampar dan ditemukan pada 13 Februari 264 oleh Agatho I, yang menjadi uskup di pulau itu antara tahun 251-313. Berdasarkan penelusuran literatur, tradisi ini diragukan kebenarannya.]
Pada abad ke-9, Sisilia dikuasai oleh Arab. Laut Tirenia mulai dimasuki oleh bajak laut Saracen. Melihat adanya ancaman serangan terhadap Pulau Lipari, jemaat berniat untuk mengamankan relik ke daratan Italia. Namun pada April 838, pasukan Saracen terlebih dulu menyerang Lipari dan membunuh hampir semua penduduknya. Katedral diacak-acak, kotak relik dibuka dan diambil, setelah isinya dibuang begitu saja. Setelah para penjarah pergi, tiga-empat biarawan tua yang selamat dari pembantaian mengumpulkan kembali tulang Bartolomeus.
Dalam ‘Tawarikh Salerno’, yang memaparkan sejarah Salerno (daerah di selatan Benevento) antara tahun 774-974, disebutkan bahwa Pangeran Sicardo, penguasa Benevento antara tahun 832-839, memerintahkan pemindahan relik Bartolomeus dari Lipari ke Benevento. Relik tersebut tiba dan mulai disimpan di Benevento, Italia, pada 25 Oktober 839. [Pustakawan Anastasius (810-878) menyebutkan tahun 809?] Pada masa ini mulai bermunculan tempat-tempat yang menyatakan menyimpan sebagian relik Bartolomeus.
Dalam biografinya, Yosef Himnografer (816-886) menceritakan bahwa dia menerima relik dari satu bagian tubuh Bartolomeus. Yosef membawa relik tersebut ke biaranya, dekat Konstantinopel. Kemudian dia mendirikan gereja dengan nama Bartolomeus, untuk menyimpan relik tersebut.
Relik Bartolomeus dipindahkan dari Benevento ke Roma oleh Kaisar Jerman, Otto III (980-1002) pada tahun 983. Kaisar Otto III lebih lanjut mendirikan sebuah basilika di samping kuil kuno Aesculapius, di sebuah pulau kecil di tengah Sungai Tiber, Roma. Relik Bartolomeus selanjutnya disemayamkan dalam basilika yang kemudian dikenal dengan nama Basilika Santo Bartolomeus tersebut.
Tidak semua relik dipindahkan dari Lipari pada tahun 839. Biarawan katedral di Lipari masih menyimpan relik berupa fragmen tengkorak dan sebuah lengan.  Pada tahun 1035, Pisa menyerang Saracen di Lipari. Relik kemudian dibawa ke Pisa dan disemayamkan di gereja besar [Chiesa Maggiore]. Tetapi, biarawan Lipari masih menyimpan tulang ibu jari Bartolomeus.
Pada tahun 1544 Lipari kembali dibumi-hanguskan dan hampir seluruh penduduknya dijadikan budak. Kali ini pelakunya adalah gabungan armada Ottoman yang dipimpin Khairuddin Barbarossa (1466-1546) dan armada Perancis yang dipimpin Antoine Escalin des Aimars (1498-1578). Pasukan sekutu Franko-Ottoman itu menyerang pesisir barat Italia, termasuk Lipari. Katedral lagi-lagi mengalami penjarahan. Relik diambil dan dibawa ke Konstantinopel. Seorang pedagang Spanyol membeli dan membawanya ke Naples. Uskup Lipari yang baru ditahbiskan, Martin de Acuña (menjabat sebagai uskup 1585-1593), yang saat itu sedang berada di Napoli, menebusnya dengan 500 keping emas, sesuai jumlah yang dikeluarkan pedagang itu saat membelinya di Konstantinopel. Relik tersebut kembali ke Lipari dan disimpan dalam katedral pada tahun 1585, dalam sebuah relikui berbentuk lengan perak.
Katedral Frankfurt, Jerman dan Biara Karakalou di Gunung Athos, Yunani, masing-masing mengklaim memiliki fragmen tengkorak Bartolomeus. Berbeda dengan tengkorak yang tersimpan di Pisa relatif utuh, di dua tempat ini relik diinfokan berupa bagian ubun-ubun (?).
Pada abad ke-11, istri Raja Knut atau Kanute, Ratu Emma (985-1052), mempersembahkan relik lengan Bartolomeus yang dibelinya dari uskup dari Benevento ke Katedral Canterbury, Inggris. Versi lain menyebutkan bahwa relik lengan tersebut diberikan oleh Edward sang Pengaku (1003-1066), yang tidak lain adalah anak Ratu Emma dari suami pertamanya, Ethelred II. Tetapi relik Bartolomeus sekarang tidak ada di sana.
Reruntuhan Biara Santo Bartolomeus, Başkale, Turki
Reruntuhan di Dara (Mesopotamia), Turki
Katedral Santo Bartolomeus, Lipari, Sisilia, Italia
Relikui berisi ibu jari Bartolomeus dalam Katedral Santo Bartolomeus, Lipari
Basilika Santo Bartolomeus, Benevento, Italia
Campo Santo, Pisa, Italia
Relik yang diklaim sebagai tengkorak Bartolomeus di Kapel Relik Suci (dal Pozzo), Campo Santo, Pisa, Italia
Basilika Santo Bartolomeus di Pulau, Roma
Relikui Santo Bartolomeus dalam Basilika Santo Bartolomeus di Pulau, Roma
Katedral Catenbury, Inggris
Katedral Santo Bartolomeus Frankfurt, Jerman
Relikui berisi fragmen tengkorak Bartolomeus di Katedral Santo Bartolomeus Frankfurt, Jerman
Biara Karakalou, Gunung Athos, Yunani
Referensi
Archivio Storico Eoliano.  http://www.archiviostoricoeoliano.it/
Basilica di San Bartolomeo Apostolo in Benevento. Diambil dari: http://www.basilicasanbartolomeo.com/
BiblePath.com: The Apostle Bartholomew. Diambil dari: http://www.biblepath.com/bartholomew.html
Bird D (2012) Feast of St Bartholomew, Apostle and Patron Saint of Armenia. Diambil dari: http://fatherdavidbirdosb.blogspot.com/2012/08/feast-of-st-bartholomew-apostle-and.html
Bonte B, Småberg T (2013) Devising Order: Socio-religious Models, Rituals, and the Performativity of Practice. Leiden: Koninklijke Brill  
Doliche/Dülük: Kültürler Kavşağı. Diambil dari: http://www.doliche.org/indextr.htm
Finding Saints in Rome: St. Bartholomew. Diambil dari: http://www.findingsaintsinrome.com/2013/08/st-bartholomew.html
Hophan O (1962) The Apostles. Westminster: Newman Press
Institute of Traditional Medicines: St. Bartholomew, Apostle of Healing. Diambil dari: http://www.itmonline.org/bodytheology/stbart.htm
La storicità di Agatone e la data del 13 febbraio 264. Diambil dari: http://www.archiviostoricoeoliano.it/wiki/la-storicit%C3%A0-di-agatone-e-la-data-del-13-febbraio-264
McBirnie WS (2013) The Search for the Twelve Apostles. Carol Stream: Tyndale House
O’Brien H (2005) Queen Emma and the Vikings: The Woman Who Shaped the Events of 1066. London: Bloomsbury
Return of the Relics of the Apostle Bartholomew from Anastasiopolis to Lipari. Diambil dari: http://oca.org/saints/lives/2013/08/25/102392-return-of-the-relics-of-the-apostle-bartholomew-from-anastasiopo
Sayin N (2003) The Mesopotamian Ruins of Dara Near the Syrian Border. Diambil dari: http://turkishtravelblog.com/ruins-of-dara-southeast-turkey/
Tronci P (1682) Memorie Istoriche della Citta di Pisa Raccolte da Monsig. Paolo Tronci. Livorno: G. Vincenzo Bonfigli
Walsh C (2007) The Cult of St Katherine of Alexandria in Early Medieval Europe. Aldershot: Ashgate
Jones CD (2010) The Apostles of Jesus Christ. Xlibris Corporation
Artikel terkait
13 Apostles (Bagian 1)
13 Apostles (Bagian 2)
13 Apostles (Bagian 3)
13 Apostles (Bagian 5)

Monday, 6 January 2014

13 Apostles (Bagian 3)

Yakobus anak Zebedeus
Yakobus merupakan saudara Yohanes, anak Zebedeus dan Salome (Mat 27:56; Mrk 15:40). Kedua bersaudara itu disebut Boanerges atau anak-anak guruh (Mrk 3:17). Uittenbogaard (2011) menilai julukan ini diberikan oleh Yesus sebagaimana Dia memberi nama Petrus pada Simon, saudara Andreas. Namun, Uittenbogaard berpendapat penamaan ini bukan pujian. Istilah anak-anak guruh berarti asal bicara, tanpa ada tindakan nyata. Contohnya saat ke suatu desa Samaria, Yesus ditolak oleh penduduk setempat karena perjalananNya menuju Yerusalem. Kedua bersaudara ini asal bicara menawarkan diri kepada Yesus apa perlu mereka menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan penduduk desa tersebut. Tawaran itu berbuah teguran Yesus bagi mereka (Luk 9:51-55).
Pemanggilan keduanya dilakukan setelah pemanggilan Simon dan Andreas. Saat itu Yohanes dan Yakobus sedang bekerja membereskan jala di dalam perahu bersama ayahnya, Zebedeus, dan para pekerjanya, di tepi danau Galilea atau Genesaret (Mat 4:21-22; Mrk 1:18-20). Lukas mencatat bahwa kedua bersaudara ini merupakan teman Simon (Luk 5:10).
Simon Petrus, Yakobus dan Yohanes sering tercatat mendapatkan kesempatan khusus bersama Yesus dibandingkan dengan murid-muridNya yang lain, misalnya menyaksikan Yesus membangkitkan anak Yairus (Mrk 5:37) dan dipermuliakan di atas sebuah gunung (Mat 17:1-13; Mrk 9:2-13; Luk 9:28-36), dan mereka menemani Yesus lebih jauh masuk ke Taman Getsemani (Mat 26:37-46).
Kedua anak Zedebeus ini disebutkan Markus mendatangi Yesus dan meminta untuk dijadikan murid yang terutama, tetapi permintaan itu tidak dikabulkan Yesus. Sepuluh murid yang lain sempat marah kepada Yakobus dan Yohanes karena permintaan itu (Mrk 10:35-45). Matius  mencatat bukan hanya Yakobus dan Yohanes sendiri yang datang kepada Yesus untuk mengajukan permintaan tersebut, melainkan bersama ibu mereka (Mat 20:20).
Markus mencatat Simon Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes bertanya kepada Yesus mengenai akhir jaman. Saat itu mereka sedang berada di atas Bukit Zaitun, berhadapan dengan Bait Allah (Mrk 13:3). Pasca kebangkitan Yesus, Yakobus tercatat hadir saat Yesus beberapa kali menampakkan diri, di antaranya adalah saat bersama Simon Petrus, Tomas, Natanael, Yohanes, dan dua murid yang tidak disebutkan namanya, di danau Tiberias (Yoh 21:2). Yakobus juga hadir saat kenaikan Yesus dan Pentakosta.
Yakobus merupakan rasul pertama yang mati sebagai martir dan bersama Yudas Iskariot menjadi murid yang proses kematiannya tercatat dalam Alkitab. Atas perintah Herodes Agripa I, Yakobus dibunuh dengan pedang sekitar tahun 44 (Kis 12:2). Pada lokasi pembunuhan tersebut saat ini berdiri Gereja Santo Yakobus Armenia.
Berdasarkan tradisi, sebelum kematiannya di tanah Yudea, Yakobus sempat pergi ke Iberia (Spanyol) selama tujuh tahun untuk mengabarkan Injil. Namun ada keraguan mengenai kebenaran informasi kepergian Yakobus ke Spanyol ini. Tradisi gereja mula-mula mempercayai bahwa saat terjadi penganiayaan besar di Yerusalem hingga sebelum kematian Yakobus pada tahun 44, para rasul tidak meninggalkan Yerusalem (Kis 8:1b). Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Paulus menyatakan keinginannya menuju Spanyol (Rm 15:24). Sebelumnya Paulus menuliskan bahwa dia mencari tempat-tempat yang belum pernah mendengar Injil, karena tidak ingin membangun di dasar yang sudah diletakkan oleh orang lain (Rm 15:20). Dari surat Paulus ini dapat disimpulkan bahwa saat itu, sekitar tahun 58, belum ada seorang pun yang mengabarkan Injil di Spanyol.
Kembali pada tradisi yang berkembang di Spanyol, setelah kematiannya, para pengikut membawa jenazahnya ke Spanyol. Mereka mendarat di Padrón, pesisir Galicia, barat laut Spanyol, dan memakamkan Yakobus di daerah yang kemudian disebut Santiago de Compostela, masih tetap di daerah Galicia. Lokasi pasti pemakamannya tidak diketahui selama bertahun-tahun hingga pada tahun 813, saat biarawan Pelayo dan Todemiro dari Iria menemukannya. Di makam Yakobus tersebut didirikan sebuah basilika. Relik Yakobus di dalam basilika tersebut tersimpan bersama relik dua orang pengikutnya, Athanasius dan Theodorus.
Tradisi yang lain menyebutkan bahwa relik Yakobus disimpan dalam Basilika Santo Saturninus, Toulouse, Perancis.
Gereja Santo Yakobus Armenia, Yerusalem
Katedral Santiago de Compostela, Spanyol
Relikui berisi relik yang dipercaya milik Yakobus anak Zebedeus, yang tersimpan dalam Katedral Santiago de Compostela, Spanyol
Gereja Santo Saturninus, Toulouse, Perancis
Referensi
BibleWalks.com: Armenian Church, St. James. Diambil dari:  http://www.biblewalks.com/Sites/StJames.html
EWTN Global Catholic Network: St. James the Greater. Diambil dari: http://www.ewtn.com/library/MARY/08279B.HTM
Tolentino MA (2013) Santiago de Compostela: A must visit at least once in your lifetime. Diambil dari: http://catholicpilgrim.org/2013/11/10/santiago-de-compostela-a-must-visit-at-least-once-in-your-lifetime/
Uittenbogaard A (2011) Meaning and Etymology of the Name Boanerges. Diambil dari: http://www.abarim-publications.com/Meaning/Boanerges.html
UNESCO: Route of Santiago de Compostela. Diambil dari: http://whc.unesco.org/en/list/669/
Yohanes anak Zebedeus
Yohanes merupakan saudara Yakobus, anak Zebedeus dan Salome. Kedua disebut Boanerges atau anak guruh. Pemanggilan keduanya dilakukan setelah pemanggilan Simon dan Andreas. Saat itu Yohanes dan Yakobus sedang bekerja membereskan jala di dalam perahu bersama ayahnya, Zebedeus, dan para pekerjanya, di tepi danau Galilea atau Genesaret (Mat 4:21-22; Mrk 1:18-20). Lukas mencatat bahwa kedua bersaudara ini merupakan teman Simon (Luk 5:10).
Simon Petrus, Yakobus dan Yohanes sering tercatat mendapatkan kesempatan khusus bersama Yesus dibandingkan dengan murid-muridNya yang lain, misalnya menyaksikan Yesus membangkitkan anak Yairus (Mrk 5:37) dan dipermuliakan di atas sebuah gunung (Mat 17:1-13; Mrk 9:2-13; Luk 9:28-36), dan mereka menemani Yesus lebih jauh masuk ke Taman Getsemani (Mat 26:37-46).
Kedua anak Zedebeus ini disebutkan Markus mendatangi Yesus dan meminta untuk dijadikan murid yang terutama, tetapi permintaan itu tidak dikabulkan Yesus. Sepuluh murid yang lain sempat marah kepada Yakobus dan Yohanes karena permintaan itu (Mrk 10:35-45). Matius  mencatat bukan hanya Yakobus dan Yohanes sendiri yang datang kepada Yesus untuk mengajukan permintaan tersebut, melainkan bersama ibu mereka (Mat 20:20).
Markus mencatat Simon Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes bertanya kepada Yesus mengenai akhir jaman. Saat itu mereka sedang berada di atas Bukit Zaitun, berhadapan dengan Bait Allah (Mrk 13:3).
Yesus menyuruh dua muridnya, yaitu Simon Petrus dan Yohanes, untuk mencari tempat dan mempersiapkan perjamuan Paskah (Luk 22:7-13; Mrk 14:12-16).
Yohanes berada di dekat salib Yesus bersama dengan Maria ibu Yesus, Maria istri Klopas, dan Maria Magdalena. Saat itu Yesus menyerahkan ibuNya kepada Yohanes. (Yoh 19:25-27)
Bersama dengan Simon Petrus berlari ke makam setelah mendengar berita makam tersebut telah kosong dari Maria Magdalena. Yohanes mampu berlari lebih cepat daripada Simon Petrus sehingga sampai terlebih dulu. Setibanya di makam, Yohanes hanya melihat ke dalam makam, tetapi tidak masuk. Petrus yang datang kemudian memasuki makam tersebut dan menemukan kain kafan yang tergeletak di tanah dan kain peluh di tempat yang lain dalam kondisi tergulung. Yohanes menyusul masuk ke makam. Keduanya belum mengerti masalah kebangkitan dan akhirnya pulang ke rumah. (Yoh 20:1-10)
Pada kisah penampakan Yesus yang ketiga, Yohanes bersama dengan Simon Petrus, Tomas, Natanael, Yakobus, dan dua murid lainnya, berusaha menangkap ikan danau Tiberias. Semula mereka tidak dapat menangkap apa pun hingga seseorang di pinggir pantai memberikan arahan supaya melempar jala ke sebelah kanan perahu. Hasilnya, mereka mendapatkan tangkapan yang sangat luar biasa sehingga harus bersusah payah menarik jala hingga ke darat. Yohanes menuliskan bahwa dirinya orang pertama yang mengenali Yesus saat itu. (Yoh 21:1-14)
Yohanes hadir saat peristiwa kenaikan Yesus dan Pentakosta. Setelah kejadian tersebut, Yohanes tercatat beberapa kali melayani bersama Simon Petrus. Yohanes menemani Simon Petrus pergi ke Bait Allah dan menyembuhkan seorang pengemis lumpuh di Gerbang Indah (Kis 3:1-10). Kejadian itu menarik minat orang banyak sehingga memberikan kesempatan keduanya, dengan Simon Petrus sebagai juru bicara, untuk menyampaikan testimoni mengenai Yesus. Pengajaran dan pemberitaan tentang Yesus ini menyebabkan keduanya ditangkap oleh kepala pengawal Bait Allah. Esok harinya, keduanya disidang di hadapan para pengemuka dan sesepuh Yahudi. Di hadapan sidang itu keduanya menimbulkan keheranan luar biasa akibat keberanian dan kemampuan orasi meskipun keduanya dikategorikan orang tidak berpendidikan formal. Karena tidak ada jalan untuk menjatuhkan hukuman, Simon Petrus dan Yohanes pun dilepaskan.
Terakhir kali Yohanes muncul dalam catatan Lukas adalah saat menemani Simon Petrus memberikan baptisan Roh Kudus kepada penduduk Samaria yang sebelumnya dilayani Filipus Pemberita Injil (Kis 8:14-25).
Paulus menyebut Yohanes sebagai salah satu dari tiga pilar jemaat Tuhan (Gal 2:9).
Tidak ada catatan lebih lanjut dalam Kitab Suci mengenai pelayanan Yohanes setelah itu, kecuali informasi lokasi penulisan Buku Wahyu. Ada pendapat Yohanes memulai misi pengabaran Injil di kalangan Yahudi di Partia, sebelum akhirnya ke Efesus dan mendirikan jemaat di sana. Pendapat ini didasarkan versi Latin judul surat pertama Yohanes dinyatakan sebagai surat Yohanes ke komunitas Kristen keturunan Yahudi di Partia. Pernyataan versi Latin yang dimulai setidaknya sejak masa Augustinus (354-430) ini banyak diragukan orang, terutama karena jika memang ditujukan untuk komunitas di Partia maka bahasa yang akan digunakan dalam surat tersebut bukan bahasa Grika, melainkan bahasa Aram.
Yohanes dikabarkan ada di Yerusalem untuk menghadiri sidang jemaat pada tahun 51 dan 62. Ada kemungkinan Yohanes mulai menetap di Asia Kecil setelah kematian Simon Petrus dan Paulus di Roma pada tahun 64. Berdasarkan tradisi, Yohanes membawa serta Maria ibu Yesus ke Efesus. Hal ini sesuai dengan amanat Yesus kepadanya untuk menjaga Maria (Yoh 19:26-27). Sebuah rumah batu kuno di Gunung Koressos (Gunung Bulbul), 9 km dari Efesus, dipercaya merupakan rumah yang ditinggali Maria saat itu. Maria lebih memilih tinggal di tempat yang sepi daripada di lingkungan yang padat penduduk. Rumah batu itu disucikan oleh kalangan Kristen dan Muslim.
Berdasarkan catatan Irenaeus, Eusebius, dan Hieronimus, Yohanes dibuang ke Pulau Patmos oleh Kaisar Domitianus (51-96) pada tahun 95. Di sebuah gua di pulau ini Yohanes menulis Buku Wahyu (Why 1:9). Berdasarkan tradisi, penulisan buku ini dibantu oleh Prokhorus, salah seorang dari tujuh diaken (Kis 6:5). Pada tahun 96, kaisar yang baru, Kaisar Nerva (30-98) menghapus hukuman pembuangan Yohanes. Yohanes pun kembali ke Efesus. Atas desakan jemaat di Efesus, Yohanes pun kemudian menulis Injilnya. Yohanes meninggal di Efesus pada tahun 100.
Selain kedua buku tersebut, Yohanes juga menulis tiga surat yang dimasukkan dalam jajaran dokumen Perjanjian Baru.
Yohanes dimakamkan di lereng Bukit Ayasuluk, Selçuk, sekitar 3,5 km dari Efesus. Tempat ini dipercaya merupakan lokasi Yohanes menulis Injil. Sebelumnya, Yohanes berpesan kepada para muridnya supaya kelak dia dimakamkan di tempat favoritnya tersebut. Yohanes menjadi rasul yang terakhir meninggal dan satu-satunya yang tidak menjadi martir.
Pada abad keempat, sebuah kapel dibangun di atas makam Yohanes. Kaisar Justinianus (527-565) membangun Basilika Santo Yohanes, menggantikan kapel tersebut pada tahun 550-565. Seiring turunnya perhatian terhadap Efesus dan adanya serangan tentara Arab, basilika ini pun runtuh. Seljuk Aydinoglu membangunnya kembali sebagai masjid pada tahun 1330. Bangunan tersebut kembali runtuh akibat serangan pasukan Timur Leng (1336-1405) pada tahun 1402. Gempa besar pada abad yang sama membuat bangunan semakin rata dengan tanah. Beberapa bagian, seperti pondasi batu dan dinding marken, telah direkonstruksi sebagian. Jika bangunan ini telah sepenuhnya direkonstruksi maka akan menjadi gereja terbesar ketujuh di dunia.
Rumah Perawan Maria, Efesus, Turki
Gua Wahyu, Patmos, Yunani
Reruntuhan Basilika Santo Yohanes, Selçuk, Turki. Di latar belakang tampak benteng Ayasuluk yang berada pada puncak bukit
Bagian makam Yohanes dalam situs Basilika Santo Yohanes, Selçuk, Turki
Pemandangan alam dari Bukit Ayasuluk, Selçuk, Turki
Referensi
BiblePlaces.com: Patmos. Diambil dari: http://www.bibleplaces.com/patmos.htm
Clarke A (1831) Commentary on the Bible. Diambil dari: http://www.sacred-texts.com/bib/cmt/clarke/jo1000.htm
Ephesus! History, Information and Pictures of Ephesus Ancient City: Basilica of St. John. Diambil dari: http://www.ephesus.us/ephesus/stjohn.htm
Erickson L (2011) On Ayasuluk Hill with St. John. Diambil dari: http://www.spiritualtravels.info/2011/02/21/on-ayasuluk-hill-with-st-john/
Hayes H (2009) Basilica of St. John, Ephesus. Diambil dari: http://www.sacred-destinations.com/turkey/ephesus-basilica-of-st-john
Long M (2010) Basilica of St. John, Selçuk, Turkey. Diambil dari: http://landlopers.com/2010/07/04/basilica-st-john-seluk-turkey/
Patty (2012) St. John’s Basilica. Diambil dari: http://www.sfpnn.com/st-johns-basilica/
UNESCO: The Historic Centre (Chorá) with the Monastery of Saint-John the Theologian and the Cave of the Apocalypse on the Island of Pátmos. Diambil dari: http://whc.unesco.org/en/list/942
Artikel terkait
13 Apostles (Bagian 1)
13 Apostles (Bagian 2)
13 Apostles (Bagian 4)
13 Apostles (Bagian 5)

Friday, 3 January 2014

13 Apostles (Bagian 2)

Andreas
Andreas adalah saudara Simon Petrus. Keduanya berasal dari Betsaida (Yoh 1:44)
Sebelum menjadi murid Yesus, Andreas merupakan salah satu dari dua murid Yohanes Pembaptis. Andreas disebutkan menjadi salah seorang murid pertama Yesus, bersama dengan seseorang yang tidak disebutkan namanya oleh Yohanes, sehari setelah pembaptisan Yesus di Betania (Yoh 1:35, 40). Karena itu, dalam tradisi Ortodoks, Andreas disebut Protokletos atau Yang Pertama Dipanggil. Andreas yang memperkenalkan Yesus kepada Simon Petrus (Yoh 1:41-42).  
Dalam kisah Yesus memberi makan 5000 orang, Andreas menemukan anak kecil dengan bekal lima roti dan dua ikan. (Yoh 6:8)
Ketika komunitas orang Yunani ingin bertemu Yesus melalui Filipus, Filipus berdiskusi dulu dengan Andreas sebelum akhirnya mereka berdua menginformasikan keinginan komunitas itu kepada Yesus. (Yoh 12:20-22)
Markus mencatat Andreas bersama Simon Petrus, Yakobus, dan Yohanes bertanya kepada Yesus mengenai akhir jaman. Saat itu mereka sedang berada di atas Bukit Zaitun, berhadapan dengan Bait Allah (Mrk 13:3).
Setelah peristiwa kenaikan Yesus dan Pentakosta tidak ada informasi lebih lanjut mengenai pelayanan Andreas dalam Alkitab.
Eusebius dalam sejarah gerejanya mengutip perkataan Origenus bahwa Andreas menyebarkan Injil di Asia Kecil dan Skithia, daerah sekitar Eropa Timur dan Asia Tengah, sepanjang Laut Hitam, jauh ke utara menyusuri Sungai Dnieper hingga mencapai Kiev dan ke timur di Sungai Volga. Di Kiev, Andreas mendirikan salib di tempat yang saat ini berdiri Gereja Santo Andreas di Kiev. Nestorius, seorang biarawan Kiev yang hidup sekitar 1056-1114, menulis dalam tawarikhnya bahwa Andreas berkelana mencapai Novgorod, Rusia. Oleh karena itu, Andreas menjadi santo pelindung Ukraina, Romania, dan Rusia.
Berdasarkan tradisi, Andreas mendirikan jemaat di Bizantium (Konstantinopel) pada tahun 38, kemudian mengangkat Stakhis sebagai uskup. Keuskupan ini kemudian berkembang menjadi Patriarkat Konstantinopel, dengan Andreas sebagai santo pelindungnya. Keberadaan Andreas di Bizantium ini juga disebutkan dalam kitab apokrif Kisah Andreas, yang ditulis pada abad kedua. Hipolitus dari Roma menyebutkan Andreas mengabarkan Injil di Trakia, sekarang daerah perbatasan Bulgaria, Yunani, dan Turki. Basil dari Seleukia juga menyatakan hal yang sama dengan Hipolitus, dengan menambahkan misi di Skithia dan Akhaya.
Tradisi gereja di Georgia menyebutkan bahwa Andreas merupakan penyebar Injil pertama di daerah Georgia dan menjadi pendiri gereja di sana. Tradisi ini kemungkinan bersumber dari Bizantium, terutama pernyataan Niketas dari Paplagonia bahwa Andreas mengabarkan Injil pada orang-orang Iberia, Sarmatia, Tauria (?), dan Skithia, dan di setiap tempat dan kota di Laut Hitam, di utara maupun selatannya.
Tradisi di Siprus menyebutkan bahwa kapal yang membawa Andreas dari tanah Palestina ke Yunani sempat terdampar di Pulau Siprus. Dengan tongkatnya, Andreas memecah batu sehingga mengeluarkan air. Dengan air itu, dia menyembuhkan mata kapten kapal yang buta sebelah. Lokasi kapal terdampar tersebut di tanjung Karpaz, ujung timur laut Pulau Siprus. Di tempat itu didirikan Biara Rasul Andreas, yang merupakan situs penting Gereja Ortodoks Siprus. Pada tahun 2000-2003, UNDP melakukan pemugaran biara tersebut.
Andreas menjadi martir akibat penyaliban di kota Patras, Akhaya. Teks kuno seperti Kisah Andreas yang ditulis Gregorius dari Tours menggambarkan bahwa Andreas diikat, bukan dipaku di salib Latin (salib berbentuk t…). Tetapi dari tradisi yang berkembang menyebutkan bahwa bahwa salib Andreas berbentuk X, yang pada akhirnya lebih dikenal sebagai Salib Santo Andreas. Salib yang tidak lazim pada jaman itu dipilih oleh Andreas karena dia merasa tidak layak menggunakan salib yang memiliki bentuk sama dengan salib Yesus.
Penyaliban Andreas diperintahkan oleh Aigeatis, gubernur Patras, yang marah karena pelayanan Andreas. Di hadapan pengadilan, Andreas dipaksa mengingkari imannya, tetapi justru Andreas tetap mempertahankannya. Andreas pun diikat dengan tali pada salib selama tiga hari. Dalam kondisi tergantung tersebut, di antara rasa sakitnya, Andreas terus berkotbah mengenai kasih Yesus. Banyak orang yang mendengarnya menjadi percaya dan kemudian meminta sang gubernur membebaskan Andreas. Gubernur yang melihat kelompok massa tersebut tidak berniat menolak tuntutan itu dan memerintahkan supaya tali pengikat Andreas dilepas. Sayang sekali, saat tali terakhir diputus, tubuh Andreas lunglai jatuh ke tanah dan orang banyak itu menemukannya meninggal. Andreas meninggal pada 30 November 69 dan dimakamkan di Patras.
Sebuah gereja kecil didirikan pada 1836-1843 pada titik lokasi Andreas mati menjadi martir. Di sisi kanan gereja terdapat sebuah sumur yang disebut Piges Dimitras (Mata Air Dimitra), yang merupakan sumber air minum Andreas saat mengajar di daerah itu.
Hieronimus mencatat bahwa relik Andreas sempat dipindahkan dari Patras ke Konstantinopel atas perintah kaisar Romawi Konstantius II sekitar tahun 357 dan disimpan dalam Gereja Para Rasul Suci. Pada tahun 1208, karena adanya penjarahan di Konstantinopel, sebagian besar relik Andreas dibawa ke Amalfi, Italia, oleh Kardinal Petrus dari Kapua dan disemayamkan dalam ruang bawah tanah sebuah katedral di kota itu. Relik tengkorak masih ada di Konstantinopel hingga dipindahkan ke Roma pada tahun 1462 dan disimpan di Basilika Santo Petrus. Relik ini dikembalikan ke Patras oleh Paus Paulus VI pada September 1964. Saat ini, gereja di Patras telah menyimpan relik berupa tulang jemari, tengkorak (bagian atas), dan bagian salib Andreas.
Salib Andreas sempat diambil dari Yunani oleh pasukan salib dan disimpan dalam Gereja Santo Viktorius, Marseilles. Pada 19 Januari 1980, salib tersebut dikembalikan ke Patras oleh uskup agung Marseilles, Roger Etchegaray. Selama Juli 2013, relik salib Andreas berada di Moskow, Kiev, dan Minsk untuk peringatan 1025 tahun masuknya kekristenan ke Rusia.
Sementara itu, berdasarkan legenda, pada tahun 345, Regulus membawa relik Andreas dari Konstantinopel hingga ke Fife, Skotlandia. Tradisi lain menyebutkan relik dibawa dari Roma oleh Agustinus pada tahun 597 ke Skotlandia, sebagai bagian dari misinya ke daerah Britania. Pada 732, relik dipindahkan dari Hexham ke Kirrymont (sekarang St Andrews), Fife. Relik yang terdiri dari gigi, tempurung lutut, tulang lengan, dan jari, disemayamkan dalam sebuah katedral. Keberadaan relik di katedral tersebut menjadikannya salah satu tempat ziarah yang populer di Eropa saat itu. Tetapi, pada 14 Juni 1559, Katedral Santo Andreas, termasuk relik di dalamnya, dihancurkan oleh gerakan reformasi protestan yang dipimpin John Knox.  
Pada 1879, relik Andreas berupa tulang belikat diberikan oleh Uskup Agung Amalfi untuk Katedral Metropolitan Santa Maria di Edinburgh. Pada April 1969, relik yang lain berupa fragmen tengkorak diberikan oleh Paus Paulus VI untuk disemayamkan dalam katedral tersebut.
Relik Andreas juga disimpan di Gereja Santo Andreas dan Santo Albertus, Warsawa, Polandia. Relik ditempatkan di gereja kecil ini sejak 2003. Dua biara di Gunung Athos, Yunani, diketahui menyimpan relik Andreas, yaitu Biara Vatopedi yang menyimpan lengan kanan dan Biara Xistrou yang menyimpan fragmen tulang tengkorak. Selain itu, masih ada beberapa lokasi yang menyimpan relik-relik kecil Andreas.
Biara Rasul Andreas, Karpaz, Siprus
Gereja Santo Andreas, Kiev, Ukraina
Gereja Santo Andreas, gereja lama, Patras, Yunani
Piges Dimitras (sumur) di Gereja Santo Andreas, gereja lama, Patras, Yunani
Katedral Santo Andreas, Amalfi, Italia
Basilika Santo Andreas, Patras, Yunani
Relikui berisi relik fragmen tengkorak dan salib Andreas di Basilika Santo Andreas, Patras, Yunani
Relikui berisi relik Andreas di Basilika Santo Andreas, Patras, Yunani
Reruntuhan Katedral Santo Andreas, Fife, Skotlandia
Katedral Metropolitan Santa Maria, Edinburgh, Skotlandia
Relik Andreas dalam Katedral Metropolitan Santa Maria, Edinburgh, Skotlandia
Gereja Santo Andreas dan Santo Albertus, Warsawa, Polandia
Biara Vatopedi, Gunung Athos, Yunani
Relik lengan kanan Andreas di Biara Vatopedi, Gunung Athos, Yunani
Biara Xistrou, Karyes, Gunung Athos, Yunani
Relik fragmen tengkorak Andreas di Biara Xistrou, Gunung Athos, Yunani
Jemaat mencium salib Andreas di Katedral Kazan St Petersburg, Rusia, 11 Juli 2013
Referensi
BiblePath.com: The Apostle Andrew. Diambil dari: http://www.biblepath.com/andrew.html
Catholic Herald Archive (1964) Catholics up RELIC RETURNED 100 per cent TO 'GREECE THE skull of St. Andrew, the 'martyred Patron Saint of. Diambil dari: http://archive.catholicherald.co.uk/article/2nd-october-1964/9/catholics-up-relic-returned-100-per-cent-to-greece
Discover Greece: The History of the Cross of the Apostle Andrew. Diambil dari: http://www.discovergreece.ru/History-of-the-Cross-of-the-Apostle-Andrew
Fox News (2013) Thousands queue in Russia to see religious relic. Diambil dari: http://www.foxnews.com/world/2013/07/13/thousands-queue-in-russia-to-see-religious-relic/
Frangos G (2010) Holy Relics kept at Athonite Monasteries. Diambil dari: http://holymountain-agionoros.blogspot.com/2010/11/0038-holy-relics-kept-at-athonite.html
Historic Scotland: Investigating St. Andrews Cathedral. Diambil dari: http://www.historic-scotland.gov.uk/inv-st-andrews-cathedral.pdf
Interfax (2013) More than 1 million believers venerate St. Andrew's Cross in Russia, Ukraine, Belarus. Diambil dari: http://www.interfax-religion.com/?act=dujour&div=208
Orthodox Word (2010) St. Andrew the First-called Apostle. Diambil dari: http://orthodoxword.wordpress.com/2010/11/29/st-andrew-the-first-called-apostle/
PatrasInfo.com: Saint Andrew’s Church Patras. Diambil dari: http://www.patrasinfo.com/en/saint-andrews-church-patras
Sacred Destinations: Amalfi Cathedral. Diambil dari: http://www.sacred-destinations.com/italy/amalfi-cathedral
Saints Peter and Paul Serbian Orthodox Church: St Andrew Cathedral Patras – Greece. Diambil dari: http://www.atlantaserbs.com/learnmore/monasteries_and_towns/StAndrew-Greece.htm
Sanidopoulos J (2010) The Skete of Saint Andrew in Karyes, Mount Athos. Diambil dari: http://www.johnsanidopoulos.com/2010/11/skete-of-saint-andrew-in-karyes-mount.html
St Mary’s RC Cathedral: National Shrine of Saint Andrew. Diambil dari: http://www.stmaryscathedral.co.uk/standrew.html
Turnbull MTRB (2010) A History of St Andrew. Diambil dari: http://www.scotland.org/features/the-history-of-saint-andrew-of-scotland
Turnbull MTRB (2009) Saint Andrew. Diambil dari: http://www.bbc.co.uk/religion/religions/christianity/saints/andrew.shtml
UNDP Projects Database: Repair and Renovation of Ancillary Buildings and Landscaping around Apostolos Andreas Monastery. Diambil dari: http://mirror.undp.org/cyprus/projects/project_details.asp?ProjectID=70
Artikel terkait
13 Apostles (Bagian 1)
13 Apostles (Bagian 3)
13 Apostles (Bagian 4)
13 Apostles (Bagian 5)