Monday, 6 January 2014

13 Apostles (Bagian 3)

Yakobus anak Zebedeus
Yakobus merupakan saudara Yohanes, anak Zebedeus dan Salome (Mat 27:56; Mrk 15:40). Kedua bersaudara itu disebut Boanerges atau anak-anak guruh (Mrk 3:17). Uittenbogaard (2011) menilai julukan ini diberikan oleh Yesus sebagaimana Dia memberi nama Petrus pada Simon, saudara Andreas. Namun, Uittenbogaard berpendapat penamaan ini bukan pujian. Istilah anak-anak guruh berarti asal bicara, tanpa ada tindakan nyata. Contohnya saat ke suatu desa Samaria, Yesus ditolak oleh penduduk setempat karena perjalananNya menuju Yerusalem. Kedua bersaudara ini asal bicara menawarkan diri kepada Yesus apa perlu mereka menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan penduduk desa tersebut. Tawaran itu berbuah teguran Yesus bagi mereka (Luk 9:51-55).
Pemanggilan keduanya dilakukan setelah pemanggilan Simon dan Andreas. Saat itu Yohanes dan Yakobus sedang bekerja membereskan jala di dalam perahu bersama ayahnya, Zebedeus, dan para pekerjanya, di tepi danau Galilea atau Genesaret (Mat 4:21-22; Mrk 1:18-20). Lukas mencatat bahwa kedua bersaudara ini merupakan teman Simon (Luk 5:10).
Simon Petrus, Yakobus dan Yohanes sering tercatat mendapatkan kesempatan khusus bersama Yesus dibandingkan dengan murid-muridNya yang lain, misalnya menyaksikan Yesus membangkitkan anak Yairus (Mrk 5:37) dan dipermuliakan di atas sebuah gunung (Mat 17:1-13; Mrk 9:2-13; Luk 9:28-36), dan mereka menemani Yesus lebih jauh masuk ke Taman Getsemani (Mat 26:37-46).
Kedua anak Zedebeus ini disebutkan Markus mendatangi Yesus dan meminta untuk dijadikan murid yang terutama, tetapi permintaan itu tidak dikabulkan Yesus. Sepuluh murid yang lain sempat marah kepada Yakobus dan Yohanes karena permintaan itu (Mrk 10:35-45). Matius  mencatat bukan hanya Yakobus dan Yohanes sendiri yang datang kepada Yesus untuk mengajukan permintaan tersebut, melainkan bersama ibu mereka (Mat 20:20).
Markus mencatat Simon Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes bertanya kepada Yesus mengenai akhir jaman. Saat itu mereka sedang berada di atas Bukit Zaitun, berhadapan dengan Bait Allah (Mrk 13:3). Pasca kebangkitan Yesus, Yakobus tercatat hadir saat Yesus beberapa kali menampakkan diri, di antaranya adalah saat bersama Simon Petrus, Tomas, Natanael, Yohanes, dan dua murid yang tidak disebutkan namanya, di danau Tiberias (Yoh 21:2). Yakobus juga hadir saat kenaikan Yesus dan Pentakosta.
Yakobus merupakan rasul pertama yang mati sebagai martir dan bersama Yudas Iskariot menjadi murid yang proses kematiannya tercatat dalam Alkitab. Atas perintah Herodes Agripa I, Yakobus dibunuh dengan pedang sekitar tahun 44 (Kis 12:2). Pada lokasi pembunuhan tersebut saat ini berdiri Gereja Santo Yakobus Armenia.
Berdasarkan tradisi, sebelum kematiannya di tanah Yudea, Yakobus sempat pergi ke Iberia (Spanyol) selama tujuh tahun untuk mengabarkan Injil. Namun ada keraguan mengenai kebenaran informasi kepergian Yakobus ke Spanyol ini. Tradisi gereja mula-mula mempercayai bahwa saat terjadi penganiayaan besar di Yerusalem hingga sebelum kematian Yakobus pada tahun 44, para rasul tidak meninggalkan Yerusalem (Kis 8:1b). Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Paulus menyatakan keinginannya menuju Spanyol (Rm 15:24). Sebelumnya Paulus menuliskan bahwa dia mencari tempat-tempat yang belum pernah mendengar Injil, karena tidak ingin membangun di dasar yang sudah diletakkan oleh orang lain (Rm 15:20). Dari surat Paulus ini dapat disimpulkan bahwa saat itu, sekitar tahun 58, belum ada seorang pun yang mengabarkan Injil di Spanyol.
Kembali pada tradisi yang berkembang di Spanyol, setelah kematiannya, para pengikut membawa jenazahnya ke Spanyol. Mereka mendarat di Padrón, pesisir Galicia, barat laut Spanyol, dan memakamkan Yakobus di daerah yang kemudian disebut Santiago de Compostela, masih tetap di daerah Galicia. Lokasi pasti pemakamannya tidak diketahui selama bertahun-tahun hingga pada tahun 813, saat biarawan Pelayo dan Todemiro dari Iria menemukannya. Di makam Yakobus tersebut didirikan sebuah basilika. Relik Yakobus di dalam basilika tersebut tersimpan bersama relik dua orang pengikutnya, Athanasius dan Theodorus.
Tradisi yang lain menyebutkan bahwa relik Yakobus disimpan dalam Basilika Santo Saturninus, Toulouse, Perancis.
Gereja Santo Yakobus Armenia, Yerusalem
Katedral Santiago de Compostela, Spanyol
Relikui berisi relik yang dipercaya milik Yakobus anak Zebedeus, yang tersimpan dalam Katedral Santiago de Compostela, Spanyol
Gereja Santo Saturninus, Toulouse, Perancis
Referensi
BibleWalks.com: Armenian Church, St. James. Diambil dari:  http://www.biblewalks.com/Sites/StJames.html
EWTN Global Catholic Network: St. James the Greater. Diambil dari: http://www.ewtn.com/library/MARY/08279B.HTM
Tolentino MA (2013) Santiago de Compostela: A must visit at least once in your lifetime. Diambil dari: http://catholicpilgrim.org/2013/11/10/santiago-de-compostela-a-must-visit-at-least-once-in-your-lifetime/
Uittenbogaard A (2011) Meaning and Etymology of the Name Boanerges. Diambil dari: http://www.abarim-publications.com/Meaning/Boanerges.html
UNESCO: Route of Santiago de Compostela. Diambil dari: http://whc.unesco.org/en/list/669/
Yohanes anak Zebedeus
Yohanes merupakan saudara Yakobus, anak Zebedeus dan Salome. Kedua disebut Boanerges atau anak guruh. Pemanggilan keduanya dilakukan setelah pemanggilan Simon dan Andreas. Saat itu Yohanes dan Yakobus sedang bekerja membereskan jala di dalam perahu bersama ayahnya, Zebedeus, dan para pekerjanya, di tepi danau Galilea atau Genesaret (Mat 4:21-22; Mrk 1:18-20). Lukas mencatat bahwa kedua bersaudara ini merupakan teman Simon (Luk 5:10).
Simon Petrus, Yakobus dan Yohanes sering tercatat mendapatkan kesempatan khusus bersama Yesus dibandingkan dengan murid-muridNya yang lain, misalnya menyaksikan Yesus membangkitkan anak Yairus (Mrk 5:37) dan dipermuliakan di atas sebuah gunung (Mat 17:1-13; Mrk 9:2-13; Luk 9:28-36), dan mereka menemani Yesus lebih jauh masuk ke Taman Getsemani (Mat 26:37-46).
Kedua anak Zedebeus ini disebutkan Markus mendatangi Yesus dan meminta untuk dijadikan murid yang terutama, tetapi permintaan itu tidak dikabulkan Yesus. Sepuluh murid yang lain sempat marah kepada Yakobus dan Yohanes karena permintaan itu (Mrk 10:35-45). Matius  mencatat bukan hanya Yakobus dan Yohanes sendiri yang datang kepada Yesus untuk mengajukan permintaan tersebut, melainkan bersama ibu mereka (Mat 20:20).
Markus mencatat Simon Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes bertanya kepada Yesus mengenai akhir jaman. Saat itu mereka sedang berada di atas Bukit Zaitun, berhadapan dengan Bait Allah (Mrk 13:3).
Yesus menyuruh dua muridnya, yaitu Simon Petrus dan Yohanes, untuk mencari tempat dan mempersiapkan perjamuan Paskah (Luk 22:7-13; Mrk 14:12-16).
Yohanes berada di dekat salib Yesus bersama dengan Maria ibu Yesus, Maria istri Klopas, dan Maria Magdalena. Saat itu Yesus menyerahkan ibuNya kepada Yohanes. (Yoh 19:25-27)
Bersama dengan Simon Petrus berlari ke makam setelah mendengar berita makam tersebut telah kosong dari Maria Magdalena. Yohanes mampu berlari lebih cepat daripada Simon Petrus sehingga sampai terlebih dulu. Setibanya di makam, Yohanes hanya melihat ke dalam makam, tetapi tidak masuk. Petrus yang datang kemudian memasuki makam tersebut dan menemukan kain kafan yang tergeletak di tanah dan kain peluh di tempat yang lain dalam kondisi tergulung. Yohanes menyusul masuk ke makam. Keduanya belum mengerti masalah kebangkitan dan akhirnya pulang ke rumah. (Yoh 20:1-10)
Pada kisah penampakan Yesus yang ketiga, Yohanes bersama dengan Simon Petrus, Tomas, Natanael, Yakobus, dan dua murid lainnya, berusaha menangkap ikan danau Tiberias. Semula mereka tidak dapat menangkap apa pun hingga seseorang di pinggir pantai memberikan arahan supaya melempar jala ke sebelah kanan perahu. Hasilnya, mereka mendapatkan tangkapan yang sangat luar biasa sehingga harus bersusah payah menarik jala hingga ke darat. Yohanes menuliskan bahwa dirinya orang pertama yang mengenali Yesus saat itu. (Yoh 21:1-14)
Yohanes hadir saat peristiwa kenaikan Yesus dan Pentakosta. Setelah kejadian tersebut, Yohanes tercatat beberapa kali melayani bersama Simon Petrus. Yohanes menemani Simon Petrus pergi ke Bait Allah dan menyembuhkan seorang pengemis lumpuh di Gerbang Indah (Kis 3:1-10). Kejadian itu menarik minat orang banyak sehingga memberikan kesempatan keduanya, dengan Simon Petrus sebagai juru bicara, untuk menyampaikan testimoni mengenai Yesus. Pengajaran dan pemberitaan tentang Yesus ini menyebabkan keduanya ditangkap oleh kepala pengawal Bait Allah. Esok harinya, keduanya disidang di hadapan para pengemuka dan sesepuh Yahudi. Di hadapan sidang itu keduanya menimbulkan keheranan luar biasa akibat keberanian dan kemampuan orasi meskipun keduanya dikategorikan orang tidak berpendidikan formal. Karena tidak ada jalan untuk menjatuhkan hukuman, Simon Petrus dan Yohanes pun dilepaskan.
Terakhir kali Yohanes muncul dalam catatan Lukas adalah saat menemani Simon Petrus memberikan baptisan Roh Kudus kepada penduduk Samaria yang sebelumnya dilayani Filipus Pemberita Injil (Kis 8:14-25).
Paulus menyebut Yohanes sebagai salah satu dari tiga pilar jemaat Tuhan (Gal 2:9).
Tidak ada catatan lebih lanjut dalam Kitab Suci mengenai pelayanan Yohanes setelah itu, kecuali informasi lokasi penulisan Buku Wahyu. Ada pendapat Yohanes memulai misi pengabaran Injil di kalangan Yahudi di Partia, sebelum akhirnya ke Efesus dan mendirikan jemaat di sana. Pendapat ini didasarkan versi Latin judul surat pertama Yohanes dinyatakan sebagai surat Yohanes ke komunitas Kristen keturunan Yahudi di Partia. Pernyataan versi Latin yang dimulai setidaknya sejak masa Augustinus (354-430) ini banyak diragukan orang, terutama karena jika memang ditujukan untuk komunitas di Partia maka bahasa yang akan digunakan dalam surat tersebut bukan bahasa Grika, melainkan bahasa Aram.
Yohanes dikabarkan ada di Yerusalem untuk menghadiri sidang jemaat pada tahun 51 dan 62. Ada kemungkinan Yohanes mulai menetap di Asia Kecil setelah kematian Simon Petrus dan Paulus di Roma pada tahun 64. Berdasarkan tradisi, Yohanes membawa serta Maria ibu Yesus ke Efesus. Hal ini sesuai dengan amanat Yesus kepadanya untuk menjaga Maria (Yoh 19:26-27). Sebuah rumah batu kuno di Gunung Koressos (Gunung Bulbul), 9 km dari Efesus, dipercaya merupakan rumah yang ditinggali Maria saat itu. Maria lebih memilih tinggal di tempat yang sepi daripada di lingkungan yang padat penduduk. Rumah batu itu disucikan oleh kalangan Kristen dan Muslim.
Berdasarkan catatan Irenaeus, Eusebius, dan Hieronimus, Yohanes dibuang ke Pulau Patmos oleh Kaisar Domitianus (51-96) pada tahun 95. Di sebuah gua di pulau ini Yohanes menulis Buku Wahyu (Why 1:9). Berdasarkan tradisi, penulisan buku ini dibantu oleh Prokhorus, salah seorang dari tujuh diaken (Kis 6:5). Pada tahun 96, kaisar yang baru, Kaisar Nerva (30-98) menghapus hukuman pembuangan Yohanes. Yohanes pun kembali ke Efesus. Atas desakan jemaat di Efesus, Yohanes pun kemudian menulis Injilnya. Yohanes meninggal di Efesus pada tahun 100.
Selain kedua buku tersebut, Yohanes juga menulis tiga surat yang dimasukkan dalam jajaran dokumen Perjanjian Baru.
Yohanes dimakamkan di lereng Bukit Ayasuluk, Selçuk, sekitar 3,5 km dari Efesus. Tempat ini dipercaya merupakan lokasi Yohanes menulis Injil. Sebelumnya, Yohanes berpesan kepada para muridnya supaya kelak dia dimakamkan di tempat favoritnya tersebut. Yohanes menjadi rasul yang terakhir meninggal dan satu-satunya yang tidak menjadi martir.
Pada abad keempat, sebuah kapel dibangun di atas makam Yohanes. Kaisar Justinianus (527-565) membangun Basilika Santo Yohanes, menggantikan kapel tersebut pada tahun 550-565. Seiring turunnya perhatian terhadap Efesus dan adanya serangan tentara Arab, basilika ini pun runtuh. Seljuk Aydinoglu membangunnya kembali sebagai masjid pada tahun 1330. Bangunan tersebut kembali runtuh akibat serangan pasukan Timur Leng (1336-1405) pada tahun 1402. Gempa besar pada abad yang sama membuat bangunan semakin rata dengan tanah. Beberapa bagian, seperti pondasi batu dan dinding marken, telah direkonstruksi sebagian. Jika bangunan ini telah sepenuhnya direkonstruksi maka akan menjadi gereja terbesar ketujuh di dunia.
Rumah Perawan Maria, Efesus, Turki
Gua Wahyu, Patmos, Yunani
Reruntuhan Basilika Santo Yohanes, Selçuk, Turki. Di latar belakang tampak benteng Ayasuluk yang berada pada puncak bukit
Bagian makam Yohanes dalam situs Basilika Santo Yohanes, Selçuk, Turki
Pemandangan alam dari Bukit Ayasuluk, Selçuk, Turki
Referensi
BiblePlaces.com: Patmos. Diambil dari: http://www.bibleplaces.com/patmos.htm
Clarke A (1831) Commentary on the Bible. Diambil dari: http://www.sacred-texts.com/bib/cmt/clarke/jo1000.htm
Ephesus! History, Information and Pictures of Ephesus Ancient City: Basilica of St. John. Diambil dari: http://www.ephesus.us/ephesus/stjohn.htm
Erickson L (2011) On Ayasuluk Hill with St. John. Diambil dari: http://www.spiritualtravels.info/2011/02/21/on-ayasuluk-hill-with-st-john/
Hayes H (2009) Basilica of St. John, Ephesus. Diambil dari: http://www.sacred-destinations.com/turkey/ephesus-basilica-of-st-john
Long M (2010) Basilica of St. John, Selçuk, Turkey. Diambil dari: http://landlopers.com/2010/07/04/basilica-st-john-seluk-turkey/
Patty (2012) St. John’s Basilica. Diambil dari: http://www.sfpnn.com/st-johns-basilica/
UNESCO: The Historic Centre (Chorá) with the Monastery of Saint-John the Theologian and the Cave of the Apocalypse on the Island of Pátmos. Diambil dari: http://whc.unesco.org/en/list/942
Artikel terkait
13 Apostles (Bagian 1)
13 Apostles (Bagian 2)
13 Apostles (Bagian 4)
13 Apostles (Bagian 5)