Thursday, 19 January 2017

Media Asosial

Rezim digital itu memang ambigu. Satu sisi pertanda revolusi teknologi informasi yang menghubungkan umat manusia di Bumi, tanpa batas waktu dan teritori. Di sisi lain, senyampang revolusi teknologi itu, publik bukan semakin tercerahkan di titik puncak peradaban, melainkan justru melahirkan generasi yang semakin tak memiliki karakter berkeadaban.
Demokrasi digital dengan media sosialnya justru melahirkan anomali. Agresivitas dan kekasaran di dunia maya, ujar psikolog internet Graham Jones, antara lain karena anonimitas, yang bersuara keras tanpa ada risiko langsung. Kalau dunia nyata, ketika Anda ngomong seenaknya dan membuat jengkel lawan bicara, mungkin langsung disambut bogem mentah oleh lawan bicara Anda. Di dunia maya tidak ada mekanisme umpan balik adaptasi aksi-reaksi perilaku seperti itu.
Lebih lanjut, psikolog John Suller (Martin, 2013) menyebut enam hal yang mengubah perilaku pengguna internet, yaitu dissociative anonimity (Anda tidak tahu saya), invisibility (Anda tidak bisa lihat saya), asynchronicity (urusan nanti saja), solipsistic introjection (semua ada di kepala, tak ada orang lain), dissociative imagination (bukan dunia nyata, cuma permainan), minimizing authority (tak ada otoritas lebih, semua setara).
Media sosial pun semakin disesaki dengan komunikasi negatif, meniadakan kepedulian sesama. Interaksi sosial tidak terbangun positif. Ah, media sosial pun menjelma menjadi media asosial….
M SUBHAN SD, Media Asosial, Kompas, Kamis, 19 Januari 2017

Foto Korban Kekerasan Tidak untuk Disebarluaskan

Oleh LARASWATI ARIADNE ANWAR
Selain berita palsu, foto-foto korban kekerasan merupakan konten yang juga sering disebarluaskan di media sosial serta grup Whatsapp dan Blackberry Messenger. Semakin mengenaskan, saat korban kekerasan itu adalah anak-anak dan perempuan, semakin banyak pula orang yang menyukai dan menyebarkan fotonya.
Umumnya foto korban kekerasan disertai keterangan berbunyi “orangtua harus hati-hati agar anaknya tidak menjadi korban seperti anak di foto ini” atau “kasihan sekali, anak ini menjadi korban kekerasan”.
“Niatnya adalah meminta orang-orang di media sosial agar menjaga anak-anak ataupun diri mereka, tetapi yang terjadi malah si pengunggah konten menjadi penyebar kekerasan visual,” kata psikolog anak dari Universitas Indonesia, Rose Mini, di Jakarta, Minggu (15/1).
Ia menilai, penyebab utama penyebaran foto korban kekerasan terletak pada sifat manusia yang selalu ingin menjadi yang pertama. Orang ingin menjadi yang pertama dalam mengetahui, menyebarkan informasi, serta berkomentar. Hal ini mengakibatkan netizen tidak bijak saat memilih dan memilah informasi untuk disebarkan. Dengan kata lain, tindakan mengunggah foto korban kekerasan lebih bermotif sensasionalitas ketimbang kehendak saling mengingatkan.
“Bayangkan jika keluarga, kerabat, dan teman korban melihat unggahan itu. Hal ini menambah trauma yang sudah mereka alami,” kata Rose. Sering kali, menurut dia, penyebar foto korban tidak memahami dampak negatif unggahan karena ia tidak merasakannya sendiri.
Rose menyarankan, apabila berniat mengimbau masyarakat agar berhati-hati dalam melindungi anak, netizen cukup melakukannya dengan mengunggah pesan. Netizen tak perlu menyertakan foto karena melanggar privasi korban dan keluarga.
Penyebaran foto juga menambah penyebaran kekerasan visual. Masyarakat bisa kehilangan kepekaan ketika dihadapkan pada situasi tidak manusiawi yang sesungguhnya.
Foto anak
Selain korban kekerasan, Rose juga mengamati, banyak orang menyebarluaskan foto anak karena lucu dan menggemaskan. Tindakan ini dinilai berbahaya karena dapat menjadi pintu masuk bagi predator yang mengancam keselamatan anak.
“Alasan yang sering dipakai pengunggah ialah hanya ingin dibagi kepada mereka yang dikenalnya, yang jumlahnya mencapai puluhan atau ratusan orang. Masalahnya, sikap setiap orang yang melihat unggahan itu tidak diketahui,” ujar Rose.
Pidana
Pada kesempatan terpisah, Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pribudiarta Nur Sitepu memaparkan, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak menegaskan pada Pasal 19 bahwa tak seorang pun boleh menyebarluaskan foto ataupun identitas korban kekerasan, identitas keluarga korban, identitas pelaku kekerasan yang masih berusia anak, serta identitas keluarga pelaku.
“Pada Pasal 97 dicantumkan, pelanggar aturan tersebut akan dipidana 5 tahun penjara. Oleh sebab itu, wartawan media arus utama ataupun netizen di media sosial hendaknya bijak dalam bertindak,” ucapnya.
Kompas, Kamis, 19 Januari 2017

Saturday, 14 January 2017

Pesawat Bekas dan Pengabdian TNI AU

Oleh IWAN SANTOSA
TNI Angkatan Udara memiliki sejarah panjang pengabdian dari era Perang Kemerdekaan (1945-1949), masa keemasan pada tahun 1960-an hingga modernisasi selepas Perang Dingin berakhir tahun 1989-1990. Semasa Perang Kemerdekaan, Angkatan Udara Republik Indonesia dengan sisa-sisa pesawat penguasa militer Jepang.
r soeryadharma.jpg
Upacara pelantikan KSAU Marsekal Soeryadharma di Istana Negara tahun 1959
Bapak AURI, R Soeryadharma, adalah waarnemer, navigator, yang berpengalaman sebagai awal pesawat Angkatan Udara Kerajaan Belanda di Hindia Belanda semasa pecah Perang Pasifik. NJ Nortier dalam buku Japan Aanval Te Nederlands Indie, deel Twee mencatat Soeryadharma berperang melawan satuan pesawat tempur AL Jepang dengan gagah berani dan terluka dalam salah satu pertempuran di udara Kalimantan Timur yang mengakibatkan pesawat bomber Glen Martin-nya mendarat darurat.
Pengorbanan AURI semasa Perang Kemerdekaan antara lain serangan udara ke Ambarawa dan Salatiga pada pagi hari buta, tanggal 29 Juli 1947 oleh kadet penerbang TNI AU, yakni Kadet Mulyono, Kadet Suharnoko Harbani dan Kadet Sutarjo Sigit. Mereka menggunakan dua pesawat Cureng dan satu Guntei peninggalan Jepang, berhasil mengebom wilayah pendudukan Belanda di Kota Semarang, Salatiga, dan Ambarawa.
Belanda membalas pada sore hari dengan menembak jatuh pesawat Dakota C-47 dengan registrasi VT-CLA yang dipiloti Alexander Constantine Noel warga Australia dengan kopilot Roy Hazlehurst warga Selandia Baru, mekanik Bhida Ram asal India, dan navigator Adi Sumarmo. Pesawat itu membawa Komodor Adi Sucipto, Komodor Abdurahman Saleh, dan sejumlah penumpang sipil berikut obat-obatan sumbangan Palang Merah Malaya. Peristiwa itu diperingati sebagai Hari Bakti TNI AU. Perjuangan Indonesia kala itu memang mendapat dukungan bangsa-bangsa lain secara fisik dan material.
VT-CLA-Repro1-696x446.jpg
Puing pesawat Dakota C-47 VT-CLA yang ditembak jatuh pesawat Belanda 29 Juli 1947 (angkasa.co.id)
AURI.jpg
Dari kiri ke kanan: Alexander Noel Constantine, Adi Sucipto, Adi Sumarmo, dan Abdurachman Saleh
Sejarawan Universitas Paramadina, Hendri F Isnaeni, menambahkan, dalam keterbatasan, AURI juga menggelar operasi para pertama dengan menerjunkan putra Dayak, Tjilik Riwut, memimpin penerjunan pasukan para ke hutan Kalimantan Tengah 17 Oktober 1947. “Itu menjadi cikal bakal Pasukan Gerak Tjepat atau PGT yang sekarang menjadi Pasukan Khas TNI-AU, kata Hendri.
Selanjutnya, AURI menata kekuatan selepas Pengakuan Kedaulatan 27 Desember 1949 dengan menerima pesawat-pesawat tempur dan bomber hibah dari AU Kerajaan Belanda.
tjilik riwut.jpg
Tjilik Riwut, putra Dayak yang menjadi salah satu pahlawan nasional
Pada tahun 1950-an terjadi pemberontakan di sejumlah daerah, seperti Republik Maluku Selatan (RMS), PRRI-Permesta di Sumatera dan Sulawesi hingga DI-TII. Kekuatan udara menjadi faktor penentu dalam menghadapi PRRI-Permesta yang diam-diam mendapat dukungan Amerika Serikat. Hendri mengingatkan tentang penerbang bomber B-26 AUREV Permesta Allen Pope yang menenggelamkan korvet ALRI RI Hang Tuah di Teluk Balikpapan.
“Disebutkan penerbang P-51 Mustang AURI, Ignatius Dewanto, menembak jatuh pesawat Allen Pope di Ambon. Namun, juga ada klaim bahwa pesawat Pope ditembak dari darat. Meski demikian secara keseluruhan, peran AURI menumpas PRRI-Permesta sangat penting mengingat lawannya memiliki kekuatan udara yang didukung diam-diam oleh Amerika Serikat,” kata Hendri.
ignatius dewanto.jpg
Ignatius Dewanto
Kejayaan
Masa kejayaan AURI hadir di tahun 1960-an dengan pesawat-pesawat modern pada masa itu, baik dari Blok Barat maupun Timur. Saat militer Indonesia mengumpulkan persenjataan menghadapi Belanda dalam perebutan Irian Barat, mendapatkan dukungan Presiden John F Kennedy berupa armada pesawat angkut C-130 Hercules.
Hendri menambahkan, Indonesia juga membeli pesawat intai maritim Gannet dari Inggris dan dari Uni Soviet armada jet tempur Mig 15 hingga Mig 21 hingga bomber modern TU-16 dengan peluru kendalinya yang dapat menghancurkan kapal induk Belanda Hr.Ms. Karel Doorman yang disiagakan di sekitar Hollandia–kini Jayapura– dan Biak. “Indonesia memiliki kekuatan dirgantara paling disegani di belahan dunia selatan ketika itu,” kata Hendri.
Semasa 1963-1965, berulang-ulang penerbang AURI menjalankan misi berani mati. Sejarawan  Universitas Nasional Hendi Jo mengatakan, sebuah pesawat C-130 Hercules jatuh berikut para peterjun yang dibawa di Selat Malaka yang hingga kini tidak ditemukan.
Pelaku sejarah, Letnan Dua Lulu Lugiyati–satu dari dua penerbang perempuan pertama Indonesia–mengaku berkali-kali ikut dalam misi penyusupan ke ruang udara Malaysia untuk menyebar propaganda. Dalam kesempatan lain, seorang penerbang Mig 21 AURI, Rudy Taran berhadap-hadapan dengan sepasang jet tempur Hawker Hunter RAAF di perairan Selat Malaka.
Sesudah pemerintahan Soekarno berganti dengan pemerintahan Soeharto, kekuatan udara AURI merosot drastis. Pada tahun 1970-an sisa-sisa kekuatan mulai dibangun dengan pesawat bantuan Australia, F-86 Sabre buatan AS pada 1973. Selanjutnya hadir pesawat OV-10 Bronco buatan Amerika Serikat.
Namun, dalam Operasi Seroja di Timor Timur 1976, Indonesia mendapat tekanan internasional dan ada embargo persenjataan, termasuk perlengkapan pesawat tempur. Secara diam-diam kemudian dilangsungkan operasi intelijen bersandi Operasi Alpha pada akhir 1979 untuk mendatangkan jet tempur A4-Skyhawk eks Angkatan Udara Israel.
Hendri menerangkan, tak lama setelah menjabat Menhankam/Pangab, Jenderal M Jusuf menerima laporan mengenai tawaran membeli pesawat tempur jenis A-4E dan A-4F Skyhawk milik AU Israel dengan harga yang cukup murah. Israel mau melepas 32 pesawat itu karena akan menggantinya dengan pesawat tempur yang lebih canggih jenis F-16 Fighting Falcon.
Pemerintahan Soeharto mulai membangun kekuatan TNI AU dengan membeli jet tempur F-16A dan F-16B Fighting Falcon serta pesawat jet tempur Hawk 100 dan Hawk 200.
Kekuatan udara dicoba dibangkitkan pada masa Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono dengan pengadaan pesawat baru dan bekas seperti jet tempur Sukhoi SU-27 dan SU-30 yang menggantikan A4-Skyhawk di Skuadron 11 Lanud Hasanudin, Makassar.
Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono mendatangkan pesawat latih KT-1 Wong Bee dan T50 Golden Eagle dari Korea Selatan, jet tempur F-16C dan D hibah bekas Amerika Serikat hingga pesawat tempur anti gerilya Super Tucano buatan Brasil pengganti OV-10 Bronco.
Meski demikian, dalam kurun 15 tahun terakhir, sejumlah insiden pesawat jatuh dan kecelakaan menimpa.
Kompas, Minggu, 15 Januari 2017

Sunday, 8 January 2017

Palapa dan Gajah Mada

Oleh JOHNNY TG
Tepat pukul 19.31 Kamis (8/7) waktu timur Amerika atau pukul 06.31 WIB Jumat (9/7), satelit domestik Palapa meluncur meninggalkan Cape Canaveral, AS. Roket NASA “Delta 2941” yang terbagi atas tiga tingkatan dan didorong oleh sembilan roket tambahan menjadi kendaraannya. Acara ini disiarkan langsung oleh TVRI yang telah mengudara sejak pukul 05.55 WIB. Siaran ini direlai oleh Palembang dan stasiun Medan. Wartawan Kompas dan 10 wartawan Indonesia lainnya sudah berada di AS untuk ikut mengabadikan peristiwa tersebut. Satelit ini nantinya akan mempersatukan seluruh Nusantara dengan jaringan telepon, telegram, telex dan televisi. Proyek senilai Rp 561 milyar ini telah mempertimbangkan teknologi yang dalam jangka waktu 20 sampai 30 tahun ke depan belum akan ketinggalan. Indonesia pun menjadi negara keempat setelah Rusia, Kanada, dan Amerika Serikat yang telah memiliki satelit sendiri.
soeharto palapa.jpg
Presiden Soeharto menyaksikan peluncuran satelit Palapa yang disiarkan TVRI langsung dari Cape Canaveral, AS, Jumat (9/7/1976). (Kompas/Dudy Sudibyo)
Kontak pertama satelit Palapa dengan Stasiun Pengendali Utama Cibinong terjadi pada pukul 07.10 WIB atau sekitar 40 menit setelah diluncurkan. Sebagai pengendali satelit, Stasiun Cibinong harus mempertahankan posisi satelit pada kedudukan yang telah ditentukan, yaitu 83 derajat Bujur Timur, kira-kira di atas Sri Lanka, di ketinggian 36.000 kilometer. Akan ada 40 stasiun yang tersebar dari barat ke timur Indonesia yang akan memanfaatkan Palapa. Hanya dua stasiun bumi, Jakarta atau Surabaya, yang bisa memancarkan siaran televisi dan diterima di stasiun-stasiun lainnya melalui alat monitor TV. baru kemudian dipancarkan ke televisi di rumah-rumah melalui pemancar TVRI setempat.
“Semua berjalan dengan sempurna,” kata System Engineer GM Welschadle, seorang ahli dari Hughes Aircraft (pembuat satelit Palapa) yang menangani pengendalian peluncuran Palapa dan ditempatkan di Stasium Pengendali Utama Cibinong, Jumat (9/7). Ia didampingi Menteri Perhubungan saat itu, Emil Salim, dan Kepala Stasiun Cibinong Ir Saleh Gunawan.
Sebagai konsekuensi dari penggunaan Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD), Perum Telekomunikasi mendidik 379 operator telepon lokal dan internasional di Bandung selama empat bulan. Hingga 15 Agustus dilakukan uji coba antarstasiun bumi. Presiden Soeharto akan meresmikan pemakaian SKSD pada 16 Agustus bersamaan dengan pidato kenegaraan. Saat itu, masyarakat dapat memanfaatkan hubungan telepon, telegram, telex, dan televisi di Indonesia. Pada Maret 1977, sistem otomatis telepon berfungsi penuh sehingga seseorang di Sabang dengan hanya memutar nomor telepon, bisa langsung kontak dengan orang yang dikehendaki di Merauke atau tempat-tempat lainnya di seluruh Indonesia (Kompas, Selasa, 13 Juli 1976, halaman 1).
Disebut satelit Palapa, karena satelit komunikasi ini menyatukan Nusantara. Seperti makna simbolis sumpah Palapa Gajah Mada pada tahun 1336, yakni mempersatukan Nusantara.
Riset foto dan naskah: Johnny TG, Chris Pudjiastuti dan Eristo S/Pusat Informasi “Kompas”
Sumber: 1. Kompas, Kamis, 8 Juli 1976, halaman 1, 2. Kompas, Jumat, 9 Juli 1976, halaman 4, 3. Kompas, Sabtu, 10 Juli 1976, halaman 1, 4. Kompas, Rabu, 14 Juli 1976, halaman 1, 5. Kompas, Jumat, 16 Juli 1976, halaman 2.
Kompas, Minggu, 8 Januari 2017

Saturday, 7 January 2017

Pasang Surut Indonesia-Australia

Oleh IWAN SANTOSA
Sejarah panjang hubungan militer Indonesia-Australia diawali dalam Perang Dunia II di Pasifik. Tahap awalnya, Perang Pasifik, Desember 1941, saat Australia menempatkan satuan udara RAAF dan pasukan darat di Maluku. Mereka bertempur dengan berani melawan pendaratan Jepang. Kini, makam serdadu Australia yang gugur di kawasan Kudamati, Ambon, menjadi saksi relasi panjang kedua bangsa.
044676.JPG
Duta besar Australia saat itu, Dick Woolcott saat mengunjungi makam tentara Australia di Ambon, Oktober 1977.
Di Jawa, dalam catatan PC Boer dalam The Loss of Java, terdapat ribuan dari satuan gabungan militer Australia di bawah Brigjen Blackburn yang dikenal dengan “Blackforce”. Para serdadu itu bertempur di sebelah barat Leuwiliang hingga Bogor dan Bandung. Sebagian prajurit yang lolos dari pertempuran di Semenanjung Malaya kemudian juga ikut bergabung di satuan tersebut.
Angkatan Udara Australia (RAAF), yang tergabung dalam Java Air Command, bertanggung jawab atas wilayah barat Jawa dari Yogyakarta hingga selatan Sumatera. Dengan semboyan “Per Ardua Astra”, RAAF bertugas bersama RAF Inggris dan Militaire Luchtvaart atau Angkatan Udara Hindia-Belanda.
Terdapat pula satuan laut yang menjadi bagian Strike Force ABDA Command di bawah Laksamana Karel Doorman. HMAS Vampire yang lolos dari Pertempuran Malaya dan membuat kapal kebanggaan Inggris HMS Prince of Wales dab HMS Repulse tenggelam, Desember 1941, juga turut dalam pertempuran mempertahankan Jawa. Namun, kapal penjelajah kebanggaan Australia, HMAS Perth, tenggelam di Teluk Banten, pada 1 Maret 1942 bersama USS Houston. HMAS Perth tenggelam saat babak akhir Pertempuran Laut Jawa yang dikenal sebagai salah satu pertempuran laut terlama di Perang Pasifik.
Pahlawan Perang Dunia II asal Australia, Sir Edward Dunlop, juga pernah berkiprah sebagai Kepala Rumah Sakit Militer Sekutu di Bandung, Januari-Maret 1942. Dalam memoir-nya, The War Diaries of Weary Dunlop-Java and the Burma Thailand Railway, Dunlop menceritakan perjuangannya di Jawa ketika berada di Bandung memimpin rumah sakit yang lokasinya kini menjadi SMAK Dago, Bandung. Dunlop juga pernah menjadi tawanan perang Jepang di Kompleks Batalyon X KNIL, yang kini Hotel Borobudur Jakarta. Bahkan, Edward Dunlop juga pernah ditawan di Cililitan, yang lokasinya kini menjadi Kompleks Kodim di Cililitan, serta tempat lainnya di Jakarta Utara yang menjadi Pelabuhan Tanjung Priok.
Sejarawan Bonnie Triyana mencatat, Kolonial Hindia-Belanda tercatat pernah mengungsikan puluhan ribu serdadu, pelaut, dan tahanan politik Indonesia ke Australia. Selanjutnya di Australia dibentuk dinas intelijen Hindia Belanda NEFIS dan beberapa Batalyon KNIL. Salah satu tokoh yang muncul di antaranya Julius Tahija yang kemudian bergabung dengan pemerintahan RI yang baru merdeka.
Semasa pendudukan Jepang, Australia juga menggelar operasi militer di Pulau Timor, selain serangan terhadap Pelabuhan Keppel Singapura oleh pasukan Komando yang diselundupkan dari Kepulauan Riau, di sekitar Pulau Batam dan Bintan. Operasi yang disebut Operasi Jaywick pada September 1943 itu dilanjutkan Operasi Rimau pada Oktober 1944. Pasukan Australia yang berlayar dari Australia kemudian memasuki  perairan Jawa dan Selat Karimat serta menyiapkan serangan di pulau-pulau dekat kawasan Batam-Rempang-Galang. Keberhasilan operasi Jaywick membuat penguasa fasis Jepang kalang kabut untuk menghalau dengan operasi pembersihan di Singapura. Namun, tanpa hasil.
Peter Thompson dan Robert Macklin dalam Kill the Tiger secara rinci juga menggambarkan betapa strategisnya posisi Australia-Kepulauan Nusantara dan Singapura di kawasan Asia Tenggara. Waktu itu, penyusupan di perairan Nusantara dengan perahu nelayan tradisional menjadi kunci keberhasilan operasi komando Australia.
Menjelang akhir Perang Pasifik, Mei-Agustus, tentara Australia dari Divisi 9 dan Divisi 7 Australia Imperial Force mendarat di Tarakan, Kalimantan Utara, dan Balikpapan, Kalimantan Timur. Tujuannya, merebut wilayah strategis dari tangan Jepang. Dalam Tarakan Pearl Harbor Indonesia 1942-1945, terbitan Gramedia Asri, diceritakan pertempuran berdarah untuk merebut Pulau Minyak Tarakan dari tangan Jepang.
Dukung Kemerdekaan
Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, simpati rakyat kecil di Australia juga muncul untuk mendukung kemerdekaan Indonesia.Bonnie menceritakan, para aktivis buruh, mahasiswa, serta pelaut India, Pakistan, dan Tionghoa bersama-sama mendukung Indonesia. Demikian pula aktivis Indonesia yang masih di Australia.
120834.JPG
Serdadu Australia (Australia Imperial Forces) bercengkerama dengan masyarakat Makassar tahun 1945. Rakyat menjalin hubungan baik dengan Australia karena dukungan mereka terhadap kemerdekaan Indonesia.
Rupert Lockwood dalam The Black Armada kemudian menggambarkan gerakan “Black Armada” atau boikot terhadap pengapalan sipil dan militer Belanda di Australia yang akan menguasai kembali Indonesia.
Pendiri Museum Peranakan Tionghoa Tangerang, Udaya Halim, juga bercerita. Aktivis dan diaspora Indonesia tengah menyiapkan plakat Black Armada di Museum Maritim, Sydney, Australia, sebagai bentuk peringatan atas dukungan masyarakat Australia dan komunitas Asia terhadap kemerdekaan Indonesia di masa Revolusi Fisik 1945-1949.
Menurut Bonnie Triyana, Australia juga aktif dalam Komisi Tiga Negara bersama AS dan Belgia menjadi penengah RI dan Kerajaan Belanda dalam revolusi fisik. “Bahkan, serdadu NICA memakai topi infanteri Australia agar tak dimusuhi rakyat Indonesia. Ketika itu, masyarakat Indonesia tahu ada dukungan publik Australia atas kemerdekaan Indonesia,” kata Bonnie.
Pada masa itu, 1945-1946, Australia membantu British Military Administration di Asia Tenggara untuk mengambil alih pendudukan Jepang, Inggris mendapat tanggung jawab pengawasan atas Jawa dan Sumatera. Adapun Australia mendapat tugas pengawasan terhadap wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, dan Kepulauan Sunda Kecil. Markas besarnya waktu itu ada di Makassar.
Dalam perkembangannnya, hubungan RI-Australia memburuk saat Konfrontasi Papua, Konfrontasi Ganyang Malaysia dan Operasi Seroja, Timor-Timur 1976 dan jajak pendapat 1999-2000. Namun, setelah reformasi 1998 dan Darurat Militer Aceh 2003, ketika embargo senjata terhadap Indonesia dicabut, kerja sama militer Ausindo, Jakarta dan Canberra, termasuk yang pertama dipulihkan.
Selanjutnya, Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD dan pasukan elite SAS-Regiment Australia kembali berlatih bersama dengan sandi “Dawn Kookabura” di Australia, dan “Dawn Komodo” di Indonesia. Sepanjang 2013-2016, Indonesia kemudian mendapat hibah pesawat angkut C-130 Hercules tipe H dari RAAF. berbagai latihan bersama dan pertukaran siswa juga dilakukan.
Kalau kini terjadi lagi insiden di antara TNI dan Australian Defence Force tentu wajar saja. Bonnie Triyana kembali mengingatkan, “Pasang surut hubungan pasti terjadi. Yang jelas, hubungan people to people RI-Australia seperti 1945-1949 terus berjalan, terutama di kalangan rakyat kecil”
Kompas, Minggu, 8 Januari 2017

2016, Tahun Terpanas di Bumi

JAKARTA, KOMPAS ━ Tahun 2016 dinobatkan sebagai terpanas dengan rekor baru dalam kenaikan suhu global yang mencapai 0.86 derajat celsius dibandingkan rata-rata periode referensi tahun 1961-1990. Kenaikan suhu bumi secara progresif itu turut memicu penyimpangan pola cuaca yang kian kerap.
matthew 2016.jpg
Kejadian cuaca berat terjadi selama 2016, termasuk Topan Matthew. Frekuensi dan magnitudo gejala alam ini semakin tinggi. (Reuters/Logan Abassi)
Kenaikan suhu global itu dilaporkan World Meteorological Organization (WMO), seperti disebut peneliti cuaca dan iklim ekstrem BMKG, Siswanto, Jumat (6/1). “Kenaikan suhu ini melampaui rekor lama tahun 2015 yang tercatat setinggi 0,77 celsius,” katanya.
Kenaikan temperatur global terpantau progresif dalam periode panjang dengan fluktuasi kenaikan mengikuti variabel iklim, terutama pengaruh El Nino dan La Nina. “Kejadian Super El Nino yang menguat sejak paruh ketiga 2015 hingga pertengahan 2016 telah melesatkan suhu global lebih panas 0,2 derajat celsius dari rekor 2015,” ujarnya.
Sebelumnya, Kepala BMKG Andi Eka Sakya mengatakan, kenaikan suhu global memicu perubahan iklim. Dampak ikutannya frekuensi penyimpangan pola cuaca kian tinggi dan meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.
Kenaikan suhu atmosfer, kata Siswanto, juga diikuti menghangatnya temperatur laut global secara progresif. Pada November 2016, kenaikan suhu perairan laut mencapai 0,76 derajat celsius dibanding 30 tahun sebelumnya. Pada 2015, kenaikan suhu perairan global 0,73 derajat celsius dan pada 2010 kenaikannya 0,57 derajat celsius, juga dibandingkan 30 tahun sebelumnya.
Kepala Laboratorium Data Laut dan Pesisir, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kelautan dan Perikanan Widodo Setiyo Pranowo mengatakan, kenaikan suhu di permukaan laut saat ini kemungkinan menyebar vertikal ke lapisan lebih dalam. Itu menyebabkan kenaikan suhu laut melambat sejak 2009, tetapi progresif.
Jika kondisi ini berlanjut, ia khawatir akan terjadi fenomena pembalikan arus utama samudra di dunia. Dampaknya besar, termasuk pada kematian terumbu karang dan kehidupan ikan.
Lemuru menghilang
Dari dinamika cuaca di tahun 2016 ini saja, kata Widodo, telah terjadi dampak signifikan di sektor perikanan. “Ikan spesies lemuru (Sardinella lemuru) menghilang dari habitatnya di Selat Bali. ini seperti yang terjadi tahun 2010,” katanya.
Di sisi lain, banyak hujan sepanjang 2016 juga menyebabkan perairan pesisir menurun salinitasnya sehingga berpengaruh pada fisiologis ikan budidaya tambak. “Produksi telur beberapa jenis ikan dan anakannya berkurang daya tahan tubuhnya akibat perubahan lingkungan sehingga ikan yang bisa tumbuh besar sedikit,” ujarnya.
Terkait kenaikan suhu di Jakarta, Siswanto menemukan kenaikan suhu rata-rata 1,6 derajat celsius dalam 135 tahun. Penelitian yang dipublikasikan di International Journal of Climatology tahun 2016 itu menggunakan pengukuran data suhu Jakarta periode 1866-2012.
“Kenaikan suhu Jakarta ini melampaui laju naiknya temperatur global yang hanya 0,85 derajat celsius,” katanya. Adapun pengukuran tahun 2015, kenaikan suhu Jakarta bahkan sudah mencapai 1,8 derajat celsius.
Suhu maksimum siang hari di Jakarta tertinggi tahun 2016 tercatat 37,6 derajat celsius pada 1 Juli 2016. (AIK)
Kompas, Sabtu, 7 Januari 2017

Muatan Elektrostatik Serbuk Farmasetik

Elektrostatik atau listrik statik sudah tidak asing lagi bagi kita. Fenomena ini sudah dikenalkan sejak masih sekolah dasar, dengan contoh mistar mika yang digosok sehingga mampu menarik sobekan-sobekan kertas kecil. Di lingkungan sehari-hari, masalah elektrostatik bisa dialami saat kita berjalan di lantai beralas karpet dan kemudian memegang kenop pintu dari logam. Saat itu bisa terjadi loncatan kecil listrik yang bisa membuat kaget.