Kumpulan ‘guntingan’ artikel koran dan tulisan pribadi mengenai keberagaman, geologi, biologi, astronomi, arkeologi, kesehatan, dan politik. PERHATIAN: Artikel dalam blog tidak bisa digunakan sebagai referensi tulisan resmi, seperti skripsi, thesis, disertasi, dan jurnal. Mohon telusuri pustaka yang digunakan.
Friday, 8 March 2019
NMBA sebagai Cemaran Tambahan Nitrosamin dalam Penyekat Reseptor Angiotensin II (ARB)
Seks, Manusia Modern, dan Kesejahteraan
Wednesday, 2 January 2019
Akulturasi Makanan di Indonesia
Selat Solo
Akulturasi Budaya: Belanda, EropaMakna: Dahulu makanan daging dengan perpaduan sayuran, seperti wortel, buncis, tomat, dan selada, sering disajikan untuk kaum kolonial. Mereka menyebutnya slachtje yang berarti salad. Penyebutan di Indonesia bergeser menjadi selat.
Nasi Goreng
Akulturasi Budaya: ChinaMakna: Sudah ditemukan di Nusantara sejak tahun 4000 Sebelum Masehi. Kebiasaan masyarakat Tionghoa yang tidak suka dengan makanan dingin sehingga mereka memasak kembali nasi dingin dengan menambah bumbu.
Bakso
Akulturasi Budaya: ChinaMakna: Di Tiongkok makanan yang dibuat dari daging giling sapi, ikan, atau babi dengan tepung tapioka ini dikenal dengan sebutan rou wan dalam dialek Hokkian.
Sekoteng
Akulturasi Budaya: ChinaMakna: Sebutan "sekoteng" berasal dari bahasa Hokkian, su ko thung atau si guo tang (sup empat buah-buahan).
Soto
Akulturasi Budaya: China dan IndiaMakna: Sebutan soto berasal dari bahasa Hokkian, caudo atau sauto berarti rerumputan jeroan atau jeroan berempah.
Lumpia
Akulturasi Budaya: ChinaMakna: Sebutan lumpia berasal dari bahasa Hokkian lun pia atau kue bulat. Ini merupakan panganan tradisional khas Tionghoa.
Semur
Akulturasi Budaya: BelandaMakna: Mengadopsi teknik memasak daging atau ayam dari Belanda dengan api kecil.
Kompas, Rabu, 2 Januari 2019
Saturday, 29 December 2018
Batas Sementara NDMA dan NDEA dalam Angiotensin II Receptor Blockers (ARB)
Friday, 28 December 2018
Indonesia Diguncang 11.577 Gempa Sepanjang 2018
Saturday, 27 October 2018
Pedoman Perawatan Nepenthes untuk Pemula
Pemilihan jenis
Yang pertama kali perlu diperhatikan dalam memilih jenis adalah ketinggian lokasi tumbuh habitat asal. Parameter yang paling terkait adalah suhu dan fluktuasi siang-malamnya. Tanpa fasilitas khusus, di area dataran rendah Surabaya dan Sidoarjo yang panas, nepenthes dari dataran tinggi kemungkinan kecil bisa bertahan hidup. Pedoman yang sangat bagus bisa dilihat di Nepenthes: the Interactive Guide.Setelah ketinggian yang sesuai, berikutnya yang perlu diperhatikan adalah kondisi lingkungan habitat asal. Kondisi tumbuh dapat optimal jika dapat menyesuaikan kondisi habitat, misalnya dari segi kelembapan media dan udara. Namun, habitat asli tidak selalu merupakan kondisi ideal. “Itu hanya merupakan kondisi yang terbukti mereka bisa survive. Bukan berarti kondisi terbaik yang bisa diberikan ke nepenthes,” kata Wewin Tjiasmanto, pecinta nepenthes senior dari Surabaya.
