Sunday, 4 January 2015

Stabilitas Bahan Aktif dan Produk Obat

Stabilitas, baik bahan aktif obat maupun produk, menjadi salah satu faktor yang harus diperhatikan oleh peneliti formulasi. Ada dua macam stabilitas, yaitu stabilitas fisika dan kimia. Stabilitas fisika terkait dengan perubahan bentuk fisika, tanpa mempengaruhi komposisi kimia. Sedangkan stabilitas kimia berkaitan dengan pengubahan struktur molekuler melalui reaksi kimia.

Thursday, 1 January 2015

Di Balik Awan Kumulonimbus

Oleh J GALUH BIMANTARA dan M ZAID WAHYUDI
Awan kumulonimbus ditengarai sebagai salah satu faktor penyebab hilangnya kontak dengan pesawat AirAsia QZ 8501 rute Surabaya-Singapura, Minggu (28/12). Keberadaan awan itu selalu dihindari dalam penerbangan jenis pesawat apa pun karena tingginya risiko yang bisa ditimbulkannya. Meski demikian, tak mudah mendeteksi dan menghindari awan itu.
cumulonimbus.jpg
“Hilangnya pesawat AirAsia ini mirip kasus pesawat Adam Air di Selat Makassar, 2007 lalu,” kata Kepala Pusat Meteorologi Penerbangan dan Maritim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Syamsul Huda, Senin (29/12), di Jakarta.
Pesawat Adam Air bernomor penerbangan KI 574 tersebut terbang dengan rute Surabaya-Manado. Saat kejadian, awan kumulonimbus terbentuk di sekitar perairan dan daratan Mamuju, Sulawesi Barat.
Kumulonimbus adalah jenis awan yang tumbuh menjulang sangat tinggi. Dasar awan bisa pada ketinggian 500 meter (m), sedangkan puncaknya dapat mencapai 13.500 m. “Ciri yang sangat nyata adalah adanya petir di awan tersebut,” ujarnya.
Jenis awan itu terbentuk akibat adanya suplai uap air secara terus-menerus dan sangat banyak. Biasanya awan itu terbentuk antara siang hingga sore hari setelah radiasi sinar matahari yang sangat tinggi hingga memicu munculnya banyak uap air.
Namun, hari Minggu lalu itu, awan kumulonimbus terbentuk pagi hari, bahkan sebelum matahari terbit. Saat itu, suhu permukaan laut di lokasi hilangnya kontak dengan pesawat AirAsia mencapai 30,5 derajat Celsius, lebih tinggi 1,5 derajat Celsius dibandingkan suhu rata-rata 30 tahunan di laut tersebut.
Tingginya suhu permukaan air laut itu memicu naiknya banyak uap air hingga membentuk awan kumulonimbus yang massif. Dari citra satelit, awan itu terbentuk di selatan dan barat Kalimantan hingga ke tengah Laut Jawa dan Selat Karimata.
Kepala Bidang Meteorologi Penerbangan BMKG Heru Jatmika mengatakan, awan kumulonimbus juga terbentuk saat terjadi pertemuan angin pasat, angin yang bertiup dari daerah subtropis ke khatulistiwa dan berlangsung sepanjang tahun.
Lokasi hilang kontak pesawat AirAsia merupakan zona pertemuan angin pasat tenggara dari belahan bumi selatan dengan angin pasat timur laut dari belahan bumi utara. Di zona pertemuan yang disebut intertropical convergent zone itu, massa udara terdorong naik dengan membawa uap air hingga terbentuk awan. Proses yang berlangsung lama membuat uap air yang terbawa sangat besar hingga membentuk awan kumulonimbus.
“Mekanisme angin pasat itulah yang memungkinkan terbentuknya awan kumulonimbus di pagi hari,” katanya.
kumulonimbus.jpg
Perbandingan awan Kumulonimbus disingkat Cb, dengan awan lainnya di tiga tingkatan ruang awan. (Wikimedia Commons/Jfornech)
Risiko
Pilot pesawat Airbus A330 PT Garuda Indonesia yang juga mantan Presiden Asosiasi Pilot Garuda Stephanus G Setitit mengatakan, awan adalah tantangan utama penerbangan. Meski keberadaan awan bisa diinformasikan petugas ATC sebelum pesawat lepas landas ataupun terdeteksi radar pesawat selama terbang, awan bersifat dinamis yang bisa berubah.
Keberadaan dan kondisi awan juga bisa diamati oleh pilot. Namun, terkadang di balik awan tipis yang teramati pilot terdapat awan tebal yang sulit ditebak.
Menurut Stephanus, kumulonimbus umumnya selalu dihindari dalam penerbangan. Walau ia terlihat putih bak kapas, awan itu sejatinya berisi air, salju, hingga bongkahan es. Awan juga mengandung ion listrik yang bisa menimbulkan petir.
Di dalam awan juga terdapat pergerakan udara ke atas atau pun ke bawah. Dinamika itu terjadi karena proses pembentukan awan terjadi terus-menerus sehingga ada gerakan ke atas (updraft). Pada saat bersamaan juga terjadi gerakan udara turun (downdraft) saat bulir air turun menjadi hujan.
Gerakan udara naik dan turun itu akan membuat pesawat mengalami turbulensi. Penumpang di dalam pesawat akan merasakan turbulensi itu sebagai guncangan. Makin tebal awan, guncangan yang dirasakan penumpang semakin besar.
Turbulensi yang besar bisa merusak struktur pesawat. “Bahkan, jika guncangannya sangat besar, pesawat bisa patah,” kata konsultan penerbangan Gerry Soejatman.
Selain bulir air, awan kumulonimbus berisi salju, kristal es hingga bongkahan es. Partikel es itu umumnya terbentuk pada lapisan awan yang lebih tinggi. Di samping itu, kecepatan angin juga makin besar di lapisan awan yang lebih tinggi.
Ahli propulsi pesawat Program Studi Aeronautika dan Astronautika ITB Firman Hartono mengatakan, turbulensi bisa menyebabkan kompresor pada mesin pesawat mengalami gangguan aliran udara. Pada kondisi normal, udara yang masuk mesin seharusnya bergerak lurus. Namun, akibat turbulensi, gerakan udara menjadi tidak teratur sehingga proses pembakaran di mesin tidak sempurna.
“Akibatnya, kinerja mesin berkurang,” katanya.
Pembakaran yang tidak sempurna di mesin juga bisa disebabkan oleh bulir air maupun lelehan salju di awan yang masuk ke mesin pesawat. Jika jumlah air yang masuk terlalu banyak, mesin pesawat bisa mati.
Gerry menambahkan, butir dan bongkahan es yang tidak sempat mencair bisa memecahkan kaca kokpit, menimbulkan keretakan di badan pesawat, serta merusak berbagai komponen pesawat.
Jika butir dan bongkahan e situ masuk ke mesin pesawat, lanjut Firman, benda itu bisa mematahkan bilah baling-baling yang membahayakan kinerja mesin pesawat.
Selain itu, awan kumulonimbus juga mengandung banyak partikel bermuatan listrik yang bisa memunculkan petir. Partikel bermuatan dan sambaran petir itu bisa mengacaukan sistem kelistrikan pesawat sehingga mengacaukan sistem komunikasi dan navigasi pesawat.
Dihindari
Meski awan kumulonimbus harus dihindari, namun proses menghindari itu tidaklah mudah. Menurut Syamsul, awan kumulonimbus yang nyaman untuk dihindari pilot adalah jenis isolated cumulonimbus, yakni awan kumulonimbus individual yang tidak rapat.
Sementara, awan kumulonimbus yang berbahaya adalah jenis embedded cumulonimbus, yaitu kumpulan awan kumulonimbus yang rapat. Jenis awan ini sulit dihindari pilot karena meski bisa menghindari satu awan kumulonimbus, pilot akan menghadapi awan kumulonimbus berikutnya.
“Jenis awan itu yang dihadapi pesawat AirAsia yang hilang kontak antara Belitung dan Pontianak, Minggu kemarin,” katanya.
Stephanus menambahkan, proses menghindari awan juga bukan perkara mudah. Setiap pesawat rute tertentu telah memiliki jalur terbang masing-masing yang ditentukan pemerintah dan lembaga berwenang.
Pilot hanya leluasa bergerak 8 kilometer (5 mil) ke kiri dan 8 km ke kanan serta 300 meter (1.000 kaki) ke atas dan 300 m ke bawah dari jalur yang telah ditentukan. Di luar jalur itu, merupakan jalur penerbangan pesawat lain.
“Melenceng sedikit dari jalur, pilot akan diingatkan petugas pemandu lalu lintas udara (air traffic control),” katanya.
Penyimpangan ke kanan dan kiri dari jalur pesawat juga memiliki konsekuensi pada bertambahnya bahan bakar pesawat. Terlebih lagi, bergeser 8 kilometer juga tidak akan mencukupi jika ukuran awan kumulonimbus yang dihadapi berdiameter puluhan kilometer.
Jika pesawat memilih turun ke bawah, maka pesawat bisa kehilangan daya angkat yang membuatnya sulit untuk naik kembali ke ketinggian yang semestinya. Sementara, jika pesawat memilih naik untuk menghindari awan, maka pesawat akan berhadapan dengan angin berkecepatan tinggi.
“Ketinggian pesawat saat terbang sudah disesuaikan dengan kemampuan masing-masing mesin pesawatnya,” kata Firman. Oleh karena itu, jika pesawat berukuran kecil terbang terlalu tinggi justru bisa membuat turunnya kinerja mesin karena tekanan udaranya semakin turun.
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG, Edvin Aldrian, mengatakan, jika tak ada pilihan yang memaksa pesawat masuk ke awan kumulonimbus, saat pesawat ada di tepi awan bisa terempas ke bawah. Jika pesawat lolos menembus hingga bagian tengah awan, pesawat akan terdorong ke atas.
Terempasnya pesawat ke bawah lebih berbahaya karena posisi yang terlalu rendah, apalagi ketinggian awan hanya 3 km, bisa membuat kesulitan pesawat naik lagi. jika pesawat terdorong ke atas, potensi selamat lebih besar, kecuali ia bertabrakan dengan pesawat yang sedang melintas di atasnya.
Kompas, Selasa, 30 Desember 2014
*Dengan beberapa tambahan dari Kompas, Senin 29 Desember 2014

Tuesday, 30 December 2014

Globalisasi Tsunami

Oleh AHMAD ARIF
Jumat, 2 Desember 1611. Dua jam setelah gempa mengguncang Sanriku, pantai timur Jepang, laut tiba-tiba menyerbu daratan. Gempa itu tak menyebabkan kerusakan berarti, tetapi ombak tinggi telah mencipta kehancuran dahsyat dan menewaskan ribuan warga di pesisir Sendai.
20140403_090254_tsunami-jepang.jpg
Bencana ini dikisahkan dalam “Sumpuki”, catatan resmi pemerintah, Januari 1612. Kisahnya dimulai dari tiadanya upeti yang biasanya rutin dikirim Daimyo Sendai, Date Masamune (1566-1636), kepada Shogun Tokugawa Ieyasu (1542-1616). Dari kawasan utara Honshu, Masamune biasanya mengirim hatsu tara, ikan kod terbaik di awal musim.
Namun, Januari 1612 tak ada upeti yang dipersembahkan. Masamune hanya mengirim utusan yang mengabarkan bencana yang melanda Sendai di akhir tahun itu. Sebanyak 5.000 orang tewas di wilayah kekuasaan Masamune. Sementara di Nambu-clan, wilayah Morioka dan Tsugaru, dilaporkan 3.000 orang tewas dan hilang.
Sang utusan menyebut bencana itu sebagai tsunami (yon i tsunami to yu’u). Tsu dimaknai sbagai ‘pelabuhan’ dan nami bermakna ‘gelombang’.
Mengglobal
Meski di Jepang istilah tsunami sudah dipakai pada 1600-an, pengenalan istilah tsunami secara global baru terjadi sekitar 250 tahun kemudian. Lagi-lagi, tsunami Sanriku menjadi tonggak sejarahnya. Dua penulis Barat, yang melaporkan bencana di Sanriku, Jepang, 15 Juni 1896, mengutip istilah lokal tsunami untuk menggambarkan naiknya gelombang laut ke daratan yang terjadi tak lama setelah gempa.
Penulis pertama adalah Eliza Ruhamah Scidmore yang melaporkan peristiwa itu bagi National Geographic Magazine edisi September 1896, “Pada sore, 15 Juni 1896, pantai timur laut Hondo, pulau utama di Jepang, dilanda gelombang raksasa yang dipicu gempa (tsunami)…” Scidmore menulis, tsunami menewaskan 26.975 orang dan menyebabkan korban luka 5.390 orang.
Tragedi ini juga dilaporkan pewarta Lafcadio Hearn untuk the Atlantic Monthly edisi Desember tahun yang sama. “Gelombang laut yang mengerikan naik tiba-tiba dan ini oleh orang-orang Jepang disebut sebagai tsunami...,” tulis Hearn.
Bahasa Inggris tak punya kata yang sepadan dengan tsunami. Sebelum menyerap kata ini, bahasa Inggris menggunakan tidal wave (gelombang pasang) untuk menyebut tsunami. Namun, istilah tidal wave kurang tepat karena tidal atau tide dipengaruhi gaya gravitasi bulan dan matahari, padahal tsunami dipicu gempa bumi, longsoran bawah laut, dan letusan gunung api.
Istilah lain dalam bahasa Inggris yang kerap dipakai, terutama di kalangan ilmuwan, adalah seismic sea wave atau gelombang tinggi karena gempa. Istilah ini pun tak sepenuhnya tepat karena tsunami tidak hanya dipicu gempa bumi.
Setelah Scidmore dan Hearn, istilah tsunami mulai populer di dunia Barat dan perlahan menggantikan berbagai istilah sebelumnya, seperti tidal wave dan earthquake wave. Majalah Nature, misalnya, sejak awal 1900-an beberapa kali menyebut tsunami dalam sejumlah artikel mereka.
Istilah tsunami kemudian mencapai popularitasnya di dunai Barat setelah Hawaii diterjang tsunami pada 1 April 1946. Peristiwa ini dikenal sebagai April Fool’s Day tsunami. Setelah kejadian ini, Pacific Tsunami Warning Center didirikan di Hawaii pada 1949.
Hingga awal 1960-an, istilah “tsunami” belum digunakan di Indonesia. Misalnya, koran Merdeka, pada 5 Mei 1960, di halaman 1 melaporkan terjadinya tsunami kiriman dari Cile ke Irian Barat (Papua) dengan istilah “gelombang pasang” akibat gempa.
Dari penelusuran database di Kompas, istilah tsunami pertama kali dipakai di koran ini di edisi Senin, 30 Okober 1967, dalam artikel ringkas “Kilasan Kawat Dunia” yang menceritakan tentang Pacific Tsunami Warning Center di Hawaii.
Sekalipun istilah tsunami relatif baru dikenal di Indonesia, masyarakat Nusantara memiliki variasi istilah untuk menyebut fenomena alam ini. Misalnya kata smong yang merupakan kesaksian warga Simeulue terhadap tsunami 1907. Selain itu ada galoro di Singkil, ie beuna di Banda Aceh, dan ae mesi nuka tana lala di Ende. Ini membuktikan tsunami telah lama ada dalam khazanah pengetahuan masyarakat Nusantara.
Kompas, Rabu, 24 Desember 2014

Thursday, 11 December 2014

Tomcat Lagi...

Pagi ini di salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia diberitakan bahwa 'wabah' tomcat merebak lagi dan kali ini menyerang di Surabaya. Sayang sekali, pembawa berita menyebutkan bahwa korban digigit oleh serangga berwarna merah hitam tersebut. Tentu saja hal ini tidak benar dan malah menyebabkan makin banyak timbul korban.
2254296p.jpg
Kumbang yang bernama Latin Paederus littoralis ini, meskipun merupakan pemakan serangga lain tetapi tidak pernah menggigit atau pun menyengat manusia. Letakkan saja serangga ini di telapak tangan. Tidak ada yang akan dilakukan oleh serangga ini selain berjalan mondar-mandir.
Senyawa yang dapat menyebabkan iritasi kulit adalah pederin. Senyawa ini berada dalam hemolimfa (darah) kumbang. Dengan demikian, senyawa iritan tersebut baru bisa kontak dengan kulit manusia jika keluar dari tubuh kumbang, misalnya akibat tergencet atau terpukul (Mammino JJ, 2011). Jika melihat serangga ini bertengger di tubuh kita, sebaiknya menahan diri untuk tidak menepuknya.
Namun jika godaan membunuh itu tidak dapat tertahankan atau kita tidak sengaja menggencetnya, tindakan yang paling tepat adalah segera mencuci bagian kulit yang terkena cairan serangga dengan sabun dan air, untuk membilas sebagian besar pederin. Efek pederin pada kulit tidak serta merta terjadi. Efek kemerahan baru terlihat antara 12 hingga 36 jam setelah paparan.
Jika iritasi mulai muncul penanganan dimulai dari kompres dengan air dingin. Untuk membantu meringankan gejala bisa diberikan calamine lotion atau krim yang mengandung kortikosteroid. Krim yang mengandung antibiotika dapat digunakan hanya jika ada indikasi infeksi sekunder.
Pemberian krim yang mengandung antiviral, seperti acyclovir, tidak diperlukan. Pemakaian obat ini sering kali terjadi karena salah kaprah menganggap masalah iritasi yang terjadi disebabkan herpes.
Pada malam hari, kumbang tertarik pada cahaya dan dapat berupaya masuk ke dalam rumah yang terang dan hangat, terutama setelah hujan deras dan dalam cuaca yang dingin. Penggunaan kasa nyamuk pada pintu dan jendela dapat membantu mencegah kumbang menerobos masuk. Lebih baik lagi jika menghindari duduk di bawah lampu karena biasanya serangga, bukan hanya kumbang, senang berkumpul di sekitar lampu.
Kalaupun ada kumbang yang masuk, sebaiknya diusir baik-baik tanpa kekerasan. Jika ada yang tergencet, cairan yang keluar harus segera dibersihkan supaya jangan sampai tersentuh anggota keluarga.
Referensi
Mammino JJ (2011) Paederus dermatitis: an outbreak on a medical mission boat in the Amazon. J. Clin. Aesthet. Dermatol. 4(11): 44-46

Wednesday, 26 November 2014

Inovasi Hijau: Pasukan Khusus Penghancur Sampah Organik

Oleh: ANGGER PUTRANTO
Ribuan lalat memenuhi ruangan berbentuk rumah berukuran 7 meter x 7 meter setinggi 3 meter. Di depannya tertulis rearing house. Sebagian lalat hinggap di jaring-jaring sebagai dinding, sebagian lagi menghinggapi dedaunan pisang di ruangan itu. Itulah pasukan khusus lalat hitam pengurai sampah organik.
Sejumlah spons basah diletakkan di sudut lantai ruangan. Jaringan pipa air dan ujung penyemprotnya terpasang di atas. Semua itu untuk menjaga ruangan tetap lembab sehingga lalat nyaman tinggal.
Tepat di samping kanan rearing house atau rumah pembesaran itu berdiri bangunan berbentuk rumah ditutupi jaring-jaring lebih gelap yang biasa disebut reactor house. Tak hanya lalat di ruangan itu. Namun, ribuan bahkan jutaan larva (belatung/maggot) sangat mudah dijumpai di tumpukan sampah.
Reactor house adalah tempat larva menikmati santapan sampah kegemarannya. Kendati berada di sekitar ruang banyak sampah dan larva, tak perlu menutup hidung. Sampah itu hampir tak berbau.
Lalat dan larva di kedua ruangan itu bukan datang sendiri karena ada tumpukan sampah. Binatang yang sering dipandang menjijikkan itu sengaja didatangkan dan dikembangbiakkan Guru Besar Riset Ekonomi Pertanian Agus Pakpahan (58) dan Perusahaan Gula PT Gunung Madu Plantations. Lalat dan larva itu mendapat tugas khusus mengurai sampah di area perkebunan dan rumah tinggal milik perusahaan gula tertua di Lampung itu.
Hermetia illucens
Saat ini, sampah menjadi ancaman masyarakat. Tak hanya berdampak buruk bagi kesehatan lingkungan, sampah juga membutuhkan lahan luas.
Pekan lalu, Kompas melihat proses pengembangbiakan Hermes illucens dan bagaimana lalat-lalat hitam itu mengurai sampah rumah tangga dan sampah sisa pengolahan tebu. Serangga asli kawasan Amerika Utara itu diklaim sanggup mengurangi 80 persen sampah rumah tangga dan 10 persen limbah pengolahan tebu. Sampah sisa penguraian bisa dijadikan pupuk organik.
Hermetia illucens merupakan jenis serangga keluarga lalat yang jauh beda dengan lalat sampah (Musca domestica) pada umumnya dengan sifat yang tak dimiliki lalat lain. Masa dewasanya kurang dari delapan hari, yang ditujukan mencari pasangan dan bertelur. Tahap nonmakan lalat dewasa bersayap tanpa bagian mulut itulah alasan utama mengapa lalat-lalat itu tak dikaitkan dengan penularan penyakit kepada manusia.
Bahkan, larva atau maggot Hermetia illucens dapat membunuh dan menekan populasi bakteri jahat, misalnya Salmonella dan E. coli, serta mampu mengolah limbah organik sangat cepat.
Maggot juga mengandung protein dan lemak tinggi sehingga baik digunakan sebagai pakan unggas atau ikan. Sisa kotoran maggot juga bisa dijadikan pupuk organik, padat atau cair.
Secara fisik, lalat hitam ini bertubuh lebih panjang dan ramping dibandingkan lalat umumnya. Tubuhnya mengilap, geraknya lambat. Jika dikembangbiakkan khusus dan jumlahnya mendominasi, lalat lain, seperti lalat hijau dan lalat sampah, akan menyingkir.
Agus menjelaskan, Hermetia illucens relatif mudah dikembangbiakkan. Tidak perlu perlakuan khusus. Dalam siklus hidupnya, lalat ini bisa bermigrasi secara mandiri saat bermetamorfosis dari fase maggot ke prepupa.
Siklus hidupnya relatif singkat, sekitar 40 hari. Fase metamorphosis terdiri dari fase telur selama 3 hari, maggot 18 hari, prepupa 14 hari, pupa 3 hari, dan lalat dewasa 3 hari. Lalat itu mati setelah kawin.
Hermetia illucens betina bisa menghasilkan 300-1.000 telur. Lalat jenis ini menyembunyikan telur di tempat aman, seperti di sela-sela kardus atau tumbuhan segar dan hidup.
Banyaknya telur membuat khawatir terjadi ledakan populasi. “Overpopulasi sangat sulit karena predatornya sangat banyak. Kandungan protein Hermetia illucens membuat burung, kadal, cecak, laba-laba, dan tupai gemar menyantap,” kata Agus, yang sudah meneliti biokonversi sampah sejak 2010.
Pasukan pengurai
Kemampuan Hermetia illucens mengurai sampah tak perlu diragukan lagi. setiap ekornya rata-rata menghasilkan 500 maggot dalam satu siklus hidupnya. Apabila ada 20 ekor, nantinya aka nada 10.000 maggot.
Dalam satu hari, 10.000 maggot mampu mengurai 1 kilogram sampah rumah tangga (sisa makanan) dalam 24 jam dan menyisakan 200 gram sampah terurai yang biasa disebut bekas maggot (kasgot). Kasgot dapat langsung dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
Sementara itu maggot yang baru saja menyelesaikan tugas mengurai sampah, dalam tiga hari akan bermetamorfosis menjadi prepupa (fase puasa). Prepupa memiliki kandungan protein hingga 45 persen, lemak 35 persen. Dengan kandungan protein tinggi, prepupa dapat dimanfaatkan sebagai pakan unggas dan ikan.
Guna menjaga populasi dan siklus Hermetia illucens, Agus tak sepenuhnya menjadikan prepupa sebagai pakan. Ia menyisakan 3 persen prepupa agar melanjutkan siklus hidupnya menjadi pupa dan lalat dewasa.
Tak hanya mengurai sampah dan sumber protein bagi ternak, biokonversi sampah menggunakan lalat hitam itu juga mampu menyuburkan tanah. Perusahaan gula PT Gunung Madu Plantations membuktikannya.
Di perusahaan gula itu, pasukan lalat hitam mengurai sisa endapan hasil pengolahan tebu (blotong) hingga 10 persen. Apabila maggot mengurai 10 kilogram blotong, maka dihasilkan 9 kg pupuk organik dari blotong.
Dalam satu tahun, PT Gunung Madi Plantations mendapat 80.000 ton blotong dari sisa produksi gula. Mereka juga akan dapat 72.000 ton pupun organik.
“Pupuk hasil penguraian maggot Hermetia illucens ternyata berdampak positif bagi perkebunan kami. Lapisan olah yang semula memiliki ketebalan 10  cm kini bertambah jadi 14 cm. kadar nitrogen dalam tanah juga meningkat 37.6 persen dari semula 0,9 kini menjadi 1,2,” kata Manager Umum, Bisnis, dan Keuangan PT Gunung Madu Plantations Gunamarwan.
Agus dan Gunamarwan berharap biokonversi sampah itu bisa menular, baik di permukiman warga maupun perusahaan perkebunan. Tahun 2011, sampah masyarakat Indonesia 80.000 ton per hari (Kompas, 15/11/2013). Jumlah itu meningkat tahun 2014, mencapai 200.000 ton per hari.
Tahun 2025, dengan prediksi jumlah penduduk 270 juta jiwa, diperkirakan aka nada 270.000 ton sampah per harinya. Asumsinya, per orang menghasilkan 0,5 kg-1,5 kg sampah per hari (Kompas, 7/3).
Di tengah berbagai upaya memerangi sampah, pasukan khusus lalat hitam sudah dan siap diterjunkan.
Kompas, Minggu, 22 November 2014

Akademi Militer: Hubungan Huang Pu-Nusantara

Di Pulau Chang Zhou di kawasan delta Sungai Mutiara, kota Guangzhou, Provinsi Guangdong, berdiri Akademi Militer Huang Pu yang melahirkan para tokoh militer dan pemimpin Tiongkok modern yang tidak hanya menyimpan sejarah Tiongkok, tetapi juga hubungan dengan kepulauan Nusantara.
11441452721792_1.jpg
Pada halaman depan dekat pintu masuk Kesatrian Huang Pu, terdapat batu bertuliskan aksara Han Zi (kanji) berisi nama para alumnus Angkatan I hingga Angkatan VII.
Sejak berdiri tahun 1924, Akademi Militer Huang Pu (Huang Pu Jun Xiao - 黄埔军校) atau Akademi Militer Whampoa menjadi simbol sejarah kepulauan Nusantara alias Insulinde atau Indonesia pra-kemerdekaan dan perang kemerdekaan Republik Indonesia. Sejarawan Didi Kwartanada dari Yayasan Nation Building (Nabil) menjelaskan adanya pemuda-pemuda peranakan Tionghoa dari Pulau Jawa yang masuk Akademi Militer (Akmil) Whampoa.
Pendiri akademi itu adalah Bapak Tiongkok Modern, Sun Yat Sen, yang juga mendapat masukan dari tokoh komunis Henk Sneevliet asal Belanda yang sebelumnya di Hindia-Belanda (Indonesia masa penjajahan) banyak mendampingi kaum buruh dan memperjuangkan keadilan sosial versi komunis, hingga akhirnya diusir Pemerintah Hindia-Belanda.
Sejarawan Bonnie Triyana mengisahkan, Henk Sneevliet yang dikenal di Tiongkok sebagai Maring juga menjadi salah satu tokoh penting pendirian Partai Komunis Tiongkok yang kini menjadi salah satu kekuatan politik dunia.
Pendirian Akademi Militer Huang Pu menjadi sarana perjuangan Tiongkok modern dan juga bangsa-bangsa lain yang bersimpati pada gagasan anti imperialisme dan penjajahan. Pada masa Perang Sino-Japan, semakin banyak pemuda Tiongkok dan mancanegara uang datang membantu Pemerintah Tiongkok di bidang militer serta bantuan kemanusiaan, termasuk dari kepulauan Nusantara yang masih menjadi kawula jajahan Belanda.

Jenderal dan politisi

Yang Jian Yu, guru dari Guang Xi International Youth Exchange, mendampingi Kompas melihat batu peringatan berisi nama-nama alumni Akmil Huang Pu. Tokoh-tokoh yang dikenal di Indonesia seperti Lin Biao dan Zhou En Lai adalah alumni Akmil Huang Pu. Zhou En Lai berhubungan erat dengan Soekarno dalam Konferensi Asia-Afrika, serta sama-sama memperjuangkan gagasan Asia-Afrika yang merdeka, mandiri, bermartabat, dan berkepribadian. Sesuai gagasan Trisakti yang diperjuangkan Bung Karno.
Sebelum perang kemerdekaan Republik Indonesia, sejumlah alumnus Huang Pu datang ke Pulau Jawa. Beberapa orang di antara mereka terlibat dalam perang membela “Panji Merah Putih”. Dalam buku Tionghoa Dalam Sejarah Kemiliteran terbitan Penerbit Buku Kompas (PBK), terungkap adanya sosok Kho Sien Hoo asal Fujian yang menjadi salah satu pemimpin dalam Pertempuran Palagan Ambarawa. Pramoedya Ananta Toer mencatat dalam biofrafi Ghanda Winata Bangkit serta Pantang Menyerah: Kisah Nyata Inspiratif Seorang Prajurit, Pendidik, dan Pebisnis Tionghoa diungkapkan Surjo Budihandoko alias Kho Sien Hoo menjadi Komandan Tertinggi Laskar Rakyat Magelang dan Kedu. Kho memimpin BKR merampas senjata Nakamura Butai serta melawan Inggris-Gurkha dan NICA di Palagan Ambarawa.
Ghanda Winata, mantan perwira TNI AL berdarah Tionghoa yang pernah menjadi instruktur mantan Dan Korps Marinir Mayor Jenderal (Purn) Djoko Pramono, mengisahkan, mertuanya datang ke Jawa bersama dua alumnus Akmil Whampoa.
“Temannya yang lain adalah Lim Tjiang Kee dan Lim Sun Kho,” kata Gandha yang namanya telah direhabilitasi setelah turut menjadi kambing hitam Orde Baru pasca peristiwa 1965.
Sejarawan Universitas Makau, Akiko Sugiyama, yang fasih berbahasa Indonesia mengaku belum mendengar adanya kajian mendalam tentang para pemuda dari Jawa yang tahun 1930-an masuk Akmil Huang Pu, dan di sisi lain alumni Huang Pu yang aktif terlibat dalam upaya membantu kemerdekaan Indonesia dan negara-negara lain di Asia Tenggara.
Didi Kwartanada mengingatkan, bagian sejarah yang terlupakan antara Huang Pu dan Nusantara itu merupakan salah satu simpul perekat Indonesia-Tiongkok seperti diperjuangkan Bung Karno sewaktu Indonesia berdiri dengan poros Jakarta-Peking. Sejarah itu adalah salah satu faktor perekat dua bangsa besar. Bangsa yang besar juga tidak melupakan jasa para pejuangnya… (IWAN SANTOSA, dari Guangzhou, Tiongkok)
Kompas, Minggu, 23 November 2014

Tambang Banyak Merugikan

Penambangan Timah Rusak Lingkungan Pesisir
PALEMBANG, KOMPAS – Kegiatan tambang dinilai masih lebih banyak merugikan masyarakat di sekitarnya daripada meningkatkan kesejahteraan. Kerugian ini baik dari kerusakan lingkungan yang berakibat pada hilangnya mata pencaharian masyarakat maupun banyaknya tunggakan penerimaan negara.
1223205780x390.jpg
Aktivitas tambang timah yang dibuka dalam areal hutan lindung pantai Air Putih, Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung. (Kompas/Kris Razianto Mada)
Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Bangka Belitung, Ratno Budi mengatakan, masifnya kapal isap untuk menambang timah di kawasan pesisir Pulau Bangka mengakibatkan kerugian pada sekitar 45.000 nelayan. “Pendapatan mereka dari nelayan turun drastis karena lingkungan pesisir rusak,” katanya seusai monitoring dan evaluasi pertambangan mineral di Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (21/11).
Karena tak mempunyai pilihan lain, saat ini ribuan nelayan beralih profesi sebagai pekerja ataupun pengelola tambang timah. Hal ini justru memicu kerusakan lingkungan Bangka kian parah sehingga pemulihan lingkungan diperkirakan memakan waktu hingga raturan tahun. Dikhawatirkan, saat timah sudah habis, warga Bangka Belitung akan kehilangan mata pencaharian sementara sumber daya alam sudah rusak.
Dalam kesempatan itu, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Zulkarnain mengatakan, menurut kajian Kementerian Lingkungan Hidup terhadap kegiatan tambang di sembilan kabupaten dan kota, baru satu daerah yang bernilai positif. Artinya, sebagian besar pertambangan baru menguntungkan pengusaha dan pekerjanya, tetapi justru merugikan masyarakat.
Kajian ini dilakukan di Bangka Barat, Bangka Timur, Bogor, Kanowe Utara, Morowali, Tanah Bumbu, Tanah Laut, Kutai Kartanegara, dan Kutai Timur. Hanya kegiatan tambang di Bogor yang memberi nilai tambah atau menguntungkan bagi masyarakat. Reklamasi pun, kata Zulkarnain, masih sangat minim dilakukan pada bekas tambang.
Direktur Eksekutif Walhi Sumsel Hadi Jatmiko mengatakan, nilai kerugian akibat tambang di Sumsel pada 2010-2013 diperkirakan lebih dari Rp 248 miliar, di Jambi Rp 50,5 miliar, dan di Bangka Belitung Rp 6,6 miliar. “Ini baru dihitung dari tunggakan pemasukan negara dari nilai lahan yang belum masuk. Belum dihitung dari sisi kerusakan lingkungan,” katanya.
Aktivis Wahana Bumi Hijau, Adios Syafri, mengatakan, dari sisi kesejahteraan pun, kegiatan tambang di Kabupaten Musi Banyuasin tak berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakatnya. Musi Banyuasin merupakan salah satu kabupaten yang paling banyak mengeluarkan izin usaha pertambangan (IUP) yang pada 2013 mencapai 69 IUP. Namun, tingkat kemiskinan di kabupaten ini masih sangat tinggi, mencapai 18,02 persen dari total jumlah penduduk atau sekitar 34.277 jiwa.
Ditutup
Di Maluku, Pemerintah Kabupaten Buru akhirnya menutup penambangan liar di Gunung Botak. Aktivitas tersebut telah menimbulkan korban jiwa dan kerusakan lingkungan. Semua pihak, termasuk TNI dan Polri, berkomitmen mendukung penutupan tersebut.
896a26b898234db0b924b756bafc8b40.jpg
Kondisi sebagian besar wilayah Gunung Botak di Kabupaten Buru, Provinsi Maluku, hancur akibat penambangan emas liar, Minggu (8/11/2015). Seorang petambang sedang memberikan kode kepada petambang yang lain. Lebih dari 1.000 orang tewas akibat kecelakaan kerja dan dibunuh sesama petambang. Selain itu, banyak warga terpapar merkuri yang digunakan untuk mengolah hasil tambang.(Kompas/Fransiskus Pati Herin)
Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Sekretariat Daerah Kabupaten Buru Istanto ketika dihubungi Kompas dari Ambon, Jumat, mengatakan, penutupan tersebut resmi dilakukan oleh Gubernur Maluku Said Assagaff. Assagaff bersama rombongan tiba di lokasi tambang pada Kamis lalu.
Penambangan mineral emas di Gunung Botak merupakan penambangan rakyat yang mulai massif pada 2011. Areal yang ditambang seluas lebih kurang 250 hektar. Jumlah petambang tidak terdata, tetapi diperkirakan pernah mencapai lebih kurang 10.000 orang.  Hampir 90 persen petambang dari luar daerah itu.
Istanto mengatakan, areal tambang kini sudah mulai dikosongkan setelah ratusan aparat gabungan TNI dan Polri melakukan penyisiran. Tenda petambang, lubang galian, dan tempat pengolahan emas setengah jadi sudah dipasangi garis polisi. Semua peralatan tambang tradisional itu akan disita.
Berdasarkan catatan Kompas, pada awal bulan ini, empat petambang di Gunung Botak tewas. Kuat dugaan, mereka tewas akibat perebutan areal tambang.
Selain menimbulkan korban jiwa, aktivitas itu juga berdampak pada pencemaran lingkungan. Sungai Wai Apu yang berada di sekitar lokasi serta Teluk Kayeli yang menjadi muara sungai tersebut tercemar merkuri. Merkuri digunakan petambang untuk memisahkan emas dengan batuan mineral lainnya.
Sementara itu, di Kalimantan Barat, warga Dusun Belatung, Desa Tanjung Lokang, Kecamatan Putussibau Selatan, Kabupaten Kapuas Hulu, yang semula menambang emas secara liar, terancam krisis pangan karena nyaris tak berpenghasilan. Warga bahkan meminta Dinas Pendidikan Kapuas Hulu mengizinkan anak mereka tidak sekolah selama dua bulan untuk ikut berladang guna memenuhi kebutuhan pangan.
Camat Kecamatan Putussibau Selatan Serli, Jumat, mengatakan, di Dusun Belatung ada 23 keluarga atau 95 jiwa. Dalam rapat yang dipimpin Bupati M Nasir, kemarin, pemkab memutuskan memberikan bantuan bahan pangan kepada warga Dusun Belatung. Pemkab segera menyalurkan bantuan tersebut kepada masyarakat. (IRE/FRN/ESA)
Kompas, Sabtu, 22 November 2014