Sunday, 8 May 2016

Tiongkok Memukau Para Pakar

Jika Anda membaca media Barat, konsentrasi mereka adalah berita gejolak bursa saham dan kurs. Media Barat luput akan transformasi yang terjadi pada perekonomian. Berada di Tiongkok membuat Anda lebih memahami perubahan yang mencengangkan.
Dua pekerja mengelas   kerangka baja yang akan dijadikan papan iklan di  Jiaxing, Provinsi Zhejiang, Tiongkok, 24 Maret lalu.
Dua pekerja mengelas kerangka baja yang akan dijadikan papan iklan di Jiaxing, Provinsi Zhejiang, Tiongkok, 24 Maret lalu. (Reuter/Stringer)
Demikian dikatakan Geoffrey Garrett, profesor manajemen dan salah satu dekan di Wharton School of the University of Pennsylvania, AS (Xinhua, 23 April). Garret berada di Beijing, Shanghai, Hangzhou, dan kota-kota lain di Tiongkok tahun lalu untuk membantu dan mengamati proses transformasi ekonomi.
Dia benar. Jangan melihat Tiongkok hanya dari kacamata media Barat. Pertumbuhan ekonomi sedang menurun dan ada gejolak bursa saham, tetapi itu hanya bagian kecil dari potret perekonomian. Tiongkok kini saksama melakukan transformasi yang visioner untuk menata perekonomian masa depan. Tiongkok tak main-main memikirkan masa depan perut 1,4 miliar warganya.
Negara ini belajar dari kegagalan Jepang, kisah sukses Korea Selatan, serta dari Eropa dan AS. Tiongkok tidak menutup telinga pada pandangan asing dan siap belajar serta mau mengakui kesalahan demi perbaikan. Contoh, ketika AS terkena resesi pada tahun 2008, Tiongkok belingsatan karena ekspor menurun, padahal motor ekonomi adalah ekspor. Untuk itu, Tiongkok membeli surat berharga AS guna menopang anggaran Pemerintah AS. Tujuannya agar ekonomi AS tercegah resesi lebih dalam, yang pasti membahayakan ekspor. Di dalam negeri, kebijakan fiskal dan moneter digenjot. Semua ini tak kunjung menolong perekonomian.
Resesi AS bahkan diikuti Eropa pada 2009 karena kebangkrutan keuangan pemerintah di zona euro. Jepang tak bisa diandalkan dengan stagnasi ekonomi sejak 1980-an. Ekonomi Barat yang bertahun-tahun hidup dari akumulasi utang tak bisa diharapkan lagi, ditambah masalah penduduk menua. Ekonomi negara-negara besar tujuan ekspor Tiongkok bertumbangan.
Di dalam negeri, kucuran kredit, hasil stimulus ekonomi pemerintah dan kebijakan moneter, berujung dengan tumpukan kredit macet. Ini bahkan dikhawatirkan meledak, seperti AS dan Eropa. Tiongkok sadar telah melakukan kekeliruan serupa AS dan Eropa, mengucurkan uang semata dan berakhir sia-sia.
"Hal ini memaksa Tiongkok memikirkan lagi strategi perekonomian agar lebih berkesinambungan," kata Michael Spence, seperti dituliskan di jurnal Stanford Graduate School of Business, 8 Mei 2014. Spence adalah mantan salah satu dekan di Stanford University (AS) dan berbagi Hadiah Nobel Ekonomi 2001 dengan Joseph E Stiglitz.
content
Tiongkok di sisi lain semakin diserbu produk-produk AS, Eropa, dan Jepang. Kelesuan di Barat dan Jepang telah membuat korporasi mereka menjadikan Tiongkok sebagai sasaran pemasaran. Ada sepuluh besar produk bermerek asal Barat yang merambah ke Tiongkok berdasarkan urutan paling disukai, yakni Chanel diikuti Starbucks, Cartier, IKEA, Nike, Adidas, Louis Vuitton, Uniqlo, Dior, dan Burberry.
Saat ekspor melesu, produk impor merebak. Tiongkok terentak telah memasuki pola middle income trap, satu hal yang umum terjadi dalam proses pembangunan. Ada 247 juta jiwa lebih warga kelas menengah Tiongkok yang turut menjebak perekonomian dengan menyukai produk luar. Produk domestik dengan kualitas lebih rendah tersedia, tetapi kurang diminati. Ini disebut sebagai international demonstration effect (efek pamer internasional).
Menghambat impor tidak mungkin karena Tiongkok sudah menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) serta telah menjadi negara eksportir terbesar di dunia.
Tiongkok bergegas. Pemerintah ingin kelas menengah di negaranya menjadi motor penggerak ekonomi lewat konsumsi pada produk-produk domestik. Terlebih lagi pada tahun 2020 akan ada 607 juta jiwa warga kelas menengah, menurut Homi Kharas, ekonom AS dari The Brookings Institution.
Menurut Spence, untuk itu kini Tiongkok tak lagi mengutamakan manufaktur berbasis upah murah, bahkan memindahkannya ke seberang. Tambahan pula Tiongkok menderita polusi akibat manufaktur kategori ini. Di sisi lain, ada tuntutan perbaikan upah untuk mencegah ketimpangan antara wilayah pantai dan pedalaman Tiongkok.
Tiongkok mendorong produksi berbasis teknologi dan padat modal. Ini program yang sudah dimulai 10 tahun terakhir. Akan tetapi, perubahan pertumbuhan perekonomian dunia, jebakan kelas menengah, membuat pemerintah semakin serius.
Garrett mengatakan, pemerintah benar-benar mendorong inovasi teknologi. Salah satunya dia contohkan lewat Xiaomi, perusahaan telekomunikasi, yang berhasil melejit dalam enam tahun terakhir.
Sektor jasa diperdalam. Ada jasa dokter berbasis online, yaitu pasien bertemu dokter lewat dunia maya dan obat dikirimkan via kurir. Yu Gang, salah satu alumnus Wharton, pada tahun 2008 telah mendirikan toko swalayan online, Yihaodian. Pada Juli 2015, Yihaodian telah mengambil alih posisi Walmart sebagai pasar swalayan terbesar di Tiongkok.
Tiongkok relatif membiarkan produk dunia masuk, tetapi di dalam negeri berbenah, termasuk mendorong pendidikan untuk memicu kemajuan teknologi dan jiwa wirausaha warga.
Berhasilkah? Alicia Yu, pendiri dan pemimpin umum Luxe.co, mengatakan, produk Barat bermerek didominasi kelas menengah dengan usia relatif tua. Akan tetapi, produk bermerek buatan Tiongkok lebih disukai generasi lebih muda. Inovasi mulai membuahkan hasil.
Begitulah perkembangan ekonomi Tiongkok yang sedang mengubah paradigma pembangunan dengan prospek yang tinggi.
Menurut riset Credit Suisse, Tiongkok sudah melampaui AS soal jumlah warga kelas menengah berusia dewasa (tabel). Paradigma baru pembangunan akan membuat Tiongkok semakin melejit sekaligus membuat dunia memiliki pasar besar di Tiongkok. "Paradigma ekonomi Tiongkok sangat bagus juga bagi manufaktur dunia," kata Spence.
Orang kaya dunia Bill Gates, yang berkunjung ke Tiongkok awal 2016, juga terkesima. "Saya kira, Tiongkok cukup matang merencanakan perekonomian. Saya sangat terkesan," katanya seperti dikutip Bloomberg, 13 Februari 2016.
(REUTERS/AFP/AP/MON)
Kompas, Minggu, 8 Mei 2016

Manuver Nekat Parpol

Oleh ABDILLAH TOHA
Kasihan partai politik kita. Di luar Partai Nasdem dan Hanura, partai politik kita tampak kebingungan menjelang pemilihan gubernur DKI Jakarta mendatang. Harga dirinya cedera menghadapi seorang Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang tidak bersedia mengekor syahwat partai.
Partai politik kita kehilangan kepercayaan diri dan mulai melakukan bermacam-macam manuver politik. Setelah DPR mencoba mengutak-atik dan berupaya membuat lebih berat persyaratan pemilihan calon kepala daerah jalur perseorangan, sekarang PDI Perjuangan menyuarakan kemungkinan memboyong Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini ke Jakarta (Kompas, 2/5).
Tidak peduli yang diboyong keberatan, yang penting Ahok harus dikalahkan. Tidak peduli bagaimana nasib Surabaya nanti di bawah wakil wali kotanya yang kontroversial, yang penting menang di DKI. Tidak peduli apakah 82 persen warga Surabaya yang memilih Risma rela wali kotanya ”diculik” ke Ibu Kota, yang penting calon PDI Perjuangan unggul.
Bila melihat nama-nama calon lawan Ahok yang muncul belakangan ini, Risma memang barangkali bisa menjadi lawan yang paling tangguh untuk menghadapi Ahok meski Ahok sampai sekarang posisi di polling-nya masih paling tinggi.Namun, tetap saja tidak ada jaminan 100 persen Risma akan bisa mengalahkan Ahok. Risma yang sukses di Surabaya juga akan menghadapi situasi Jakarta yang sangat berbeda dengan lingkungannya di Surabaya yang ia sudah sangat kenal. Ia akan mulai belajar dari awal lagi.
Bila benar PDI Perjuangan akan ”memaksa” Risma maju di DKI, egoisme PDI Perjuangan itu di satu sisi bisa merupakan strategi yang bagus untuk mengalahkan Ahok, tetapi bisa juga menjadi bumerang. Menang, dan lebih-lebih lagi bila kalah, PDI Perjuangan, Risma, dan negeri ini akan merugi. Bila kalah, resume politik Risma dan PDI Perjuangan akan tercoreng. Bila menang, warga Surabaya pencinta wali kotanya akan melihat PDI Perjuangan dan Risma sebagai politisi oportunis yang mengabaikan aspirasi warganya. Surabaya akan kehilangan seorang pemimpin yang sudah terbukti bagus, dan negeri ini akan memubazirkan salah satu dari dua pejabat terbaik bangsa ini.
Di Surabaya, Risma tidak dipandang sebagai politisi, tetapi lebih sebagai ibunya warga Surabaya. Saat pertama kali duet dengan Bambang DH, Risma sudah beberapa kali berhadapan dengan partainya sendiri dan DPRD. Risma berhasil lolos dan menang melawan orang-orang partai, bukan karena dia jago berpolitik, tetapi karena warga Surabaya termasuk akademisinya dan media massa lokal mendukung dan berada di belakangnya.
Oleh karena itu, jangan salahkan sebagian orang yang berprasangka bahwa tekad PDI Perjuangan memajukan Risma sebenarnya untuk menggantikan wali kota Surabaya dengan wakilnya yang sekarang, seorang ”petugas partai” yang lebih menurut dan lebih mudah dikendalikan.
Risma juga seorang yang tidak suka dengan acara-acara seremonial ataupun menerima tamu-tamu pengusaha. Seperti Joko Widodo, dia memilih bekerja di lapangan daripada harus hadir di acara-acara jenis itu. Nah kalau nanti terpilih jadi gubernur DKI, Risma akan kewalahan harus selalu hadir di acara-acara seremonial yang tentu saja lebih banyak daripada di Jawa Timur. Jadi, mengapa harus memboyong Risma ke Jakarta? Ada suasana patah harapan bercampur nekat (desperate) di kalangan lawan-lawan Ahok sehingga menggunakan segala cara untuk mengalahkannya. Tentunya yang sangat tidak terpuji adalah mereka yang menggunakan cara-cara SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) untuk melawan Ahok. Namun, sebagian manuver-manuver brutal parpol juga tak kalahburuknya.
Setelah Ahok memutuskan maju sebagai calon jalur perseorangan, PDI Perjuangan sebagai parpol terbesar di DKI bukannya merangkul dan mendukungnya, tetapi justru merasa ditinggalkan dan bertekad untuk mengalahkannya. Parpol bukannya mawas diri dan introspeksi atas makin banyaknya calon kepala daerah yang maju secara jalur perseorangan, tetapi justru tersinggung dan memusuhi mereka.
Mengapa harus Risma?
Apakah di negeri yang berpenduduk 250 juta ini sudah tidak ada lagi seorang Risma lain, atau Ridwan Kamil lain, atau bahkan Ahok lain, yang bisa direkrut untuk melawan Ahok? Atau, mengapa tidak menawarkan kemungkinan kepada umpamanya Bupati Bojonegoro Suyoto atau Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah dan beberapa kepala daerah lain yang jujur dan berprestasi dengan masa jabatan tersisa setahun atau kurang?
Atau mengapa tidak berani memajukan pemuda-pemuda dan calon-calon segar, cerdas, dan berkarakter, seperti Budiman Sudjatmiko, Boy Sadikin, Yudi Latif, Sukardi Rinakit, Tantowi Yahya, atau yang lainnya, atau bahkan mendukung calon muda Sandiaga Uno yang memang sudah ancang-ancang?
Mengapa harus menarik Risma ke Jakarta yang masa jabatan periode keduanya belum sampai tiga bulan dijalani dengan mencederai rakyat Surabaya? Bila orang-orang baru itu belum terlalu dikenal, bukankah masih ada waktu sembilan bulan lebih untuk mempromosikan mereka menjelang hari pencoblosan pertengahan Februari tahun depan?
Orang yang tidak setuju dengan pandangan ini akan berdalih bahwa kalau dulu Jokowi yang Wali Kota Solo bisa diajukan menjadi gubernur DKI dan bahkan belum dua tahun sebagai gubernur sudah digotong lagi menjadi calon presiden RI, mengapa sekarang harus keberatan memboyong Risma ke Jakarta? Apa bedanya? Dari sudut pandang kenegarawanan dan kepentingan umum, ada alasan kuat mengapa kedua hal itu berbeda.
Ketika Jokowi maju sebagai gubernur maupun presiden, taruhannya (the stake) bagi warga Jakarta dan bangsa saat itu dinilai sangat besar. Gubernur petahana, selama lima tahun, dianggap kurang berprestasi dan gemar memasang poster dirinya besar-besar di jalan-jalan protokol. Jika ia berkuasa lagi untuk lima tahun kedua, para pemilih mencemaskan pengelolaan Ibu Kota akan semakin bermasalah. Untuk itu, mereka merasa perlu lawan yang tangguh yang dapat mengalahkannya.Begitu pula dengan Pilpres 2014. Masyarakat pemilih tak ingin negeri ini diperintah oleh capres yang akan mengembalikan Indonesia ke era Orde Baru-nya Soeharto.
Sebaliknya, dengan Ahok sebagai calon petahana, kita akan senang bila mendapat pengganti yang lebih baik, tetapi juga tidak akan terlalu gusar bila seorang petahana yang telah terbukti berprestasi seperti dia terpilih kembali.
ABDILLAH TOHA
Pemerhati Politik
Kompas, Senin, 9 Mei 2016

Manx, Komet Tanpa Ekor Ditemukan

Saat mendekati Matahari, ekor komet biasanya semakin panjang yang menandakan makin banyaknya lapisan debu an es yang menguap akibat paparan panas Matahari. Akan tetapi, untuk pertama kali, astronom menemukan komet yang tidak menunjukkan karakter tersebut.
Komet baru disebut  C/2014 S3 atau komet
Komet baru disebut C/2014 S3 atau komet "Manx", yang ditemukan tahun 2014 oleh Panoramic Survey Telescope and Rapid Response System atau Pan-STARRS, dicitrakan seniman, 29 April 2016. (REUTERS/M. KORNMESSER/ESO)
Karakter yang unik itu membuat komet tersebut dinamai Manx, sama seperti nama kucing tanpa ekor atau dengan ekor yang pendek dari Pulau Isle of Man, Inggris. Nama asli komet itu adalah C/2014 S3, yang ditemukan menggunakan Teleskop Pan-STARRS di Hawaii, Amerika Serikat, pada tahun 2014.
Berdasarkan perhitungan terhadap periode orbitnya, Manx butuh 860 tahun untuk sekali mengelilingi Matahari. Dengan periode sepanjang itu, dipastikan benda tersebut merupakan komet yang berasal dari Awan Oort, daerah di tepian tata surya yang berjarak lebih dari 100.000 kali jarak Bumi-Matahari dan berisi triliunan benda-benda kecil diselubungi es.
Nyatanya, karakter komet itu berbeda dengan komet pada umumnya. Saat ditemukan, C/2014 S3 berjarak dua kali lebih jauh dari jarak Matahari-Bumi. Namun, makin mendekati Matahari, Manx tak juga kian aktif sehingga ekor kometnya tak muncul. Kurang aktifnya komet itu disebabkan tipisnya lapisan es yang menyelubunginya.
Penelitian lebih lanjut terhadap debu komet yang pendek dilakukan menggunakan Teleskop Very Large milik Observatorium Eropa Selatan di Cile dan Teleskop Kanada-Perancis-Hawaii. Hasilnya, komet itu mirip dengan batuan yang ada di Sabuk Asteorid, daerah antara Mars dan Yupiter, khususnya asteroid tipe S yang memiliki kandungan silika.
"Ini adalah komet batuan pertama," kata salah satu peneliti Olivier Hainut dari Observatorium Eropa Selatan di Garching, Jerman, kepada space.com, Jumat (29/4).
Temuan komet dengan lapisan es tipis tersebut menunjukkan, meski obyek berasal dari awan Oort, sejatinya berasal dari bagian dalam tata surya. Kemungkinan, C/2014 S3 adalah obyek planetesimal, bahan yang sama yang membentuk Bumi.
Diagram  menunjukkan alur sejarah pergerakan komet Manx di dalam dan luar sistem tata surya dalam periode lebih dari 4 miliar tahun.
Diagram menunjukkan alur sejarah pergerakan komet Manx di dalam dan luar sistem tata surya dalam periode lebih dari 4 miliar tahun. (REUTERS/L. CALÇADA/ESO)
Obyek planetesimal itu berbenturan dan membentuk gumpalan besar sehingga kemudian menjadi Bumi. Adapun obyek planetesimal yang kemudian menjadi C/2014 S3 terlempar ke tepian tata surya akibat gaya dari planet-planet lain pada saat Bumi baru terbentuk.
Jarak yang lebih dekat dengan Matahari membuat Bumi dan sejumlah obyek di bagian dalam tata surya, wilayah antara Matahari dan Sabuk Asteroid memiliki lapisan es yang tipis dibandingkan obyek-obyek di bagian luar tata surya, daerah setelah Sabuk Asteroid hingga tepian tata surya.
"Komet ini adalah asteroid yang tidak terpanggang panas Matahari selama beberapa miliar tahun dan justru membeku di pinggiran tata surya," tambah pemimpin penelitian, Karen Meech, dari Universitas Hawaii, AS, yang memublikasikan penelitiannya pada jurnal Science Advances, Jumat (29/4).
Kini, sejumlah pemodelan dibangun untuk memperkirakan rasio atau jumlah Manx dibandingkan komet sebenarnya di Awan Oort. Namun, pembuatan model itu terkendala belum banyaknya keberadaan Manx yang terdeteksi. Dari pemodelan tersebut, para astronom berharap dapat lebih memahami proses pembentukan tata surya pada 4,6 miliar tahun lalu. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang akan menjawabnya.
(SPACE/SCIENCEDAILY/MZW)
Kompas, Minggu, 8 Mei 2016

Waspadai Turbulensi "Tanpa Permisi"

JAKARTA, KOMPAS — Turbulensi udara cerah diyakini terjadi pada penerbangan pesawat Hong Kong Airlines CRX 6704/HX 6704 rute Denpasar-Hongkong di selatan Kalimantan, Sabtu (7/5). Kondisi sama menimpa awak dan penumpang Etihad Airways EY-474 rute Abu Dhabi-Jakarta di sekitar Sumatera bagian selatan, Rabu (4/5).
Turbulensi karena awan mudah dihindari pilot karena awan terdeteksi radar di kokpit pesawat. Namun, turbulensi udara cerah atau clear air turbulence (CAT) sulit dideteksi karena udara bersih dari awan. "Itu membuat pilot tak segera memperingatkan pramugari dan penumpang agar duduk dan mengenakan sabuk pengaman karena tidak melihat gejala turbulensi," kata Kepala Bidang Meteorologi Penerbangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Mustari Heru Jatmika, Sabtu (7/5), di Jakarta.
Pada kondisi CAT, pilot tidak melihat kondisi pemicu turbulensi pada jalur penerbangan. Namun, pesawat tiba-tiba berguncang hebat. Turbulensi udara cerah datang "tanpa permisi".
Turbulensi merupakan guncangan terhadap pesawat karena kondisi atmosfer. CAT fenomena aliran udara bervariasi pada jarak pendek yang mengakibatkan perbedaan/ketidakteraturan suhu dan tekanan. Umumnya, itu terjadi pada lapisan atas atmosfer, 30.000-50.000 kaki (9,1-15,2 km). Fenomena atmosfer itu berskala kecil dengan cakupan puluhan-ratusan meter dan dalam hitungan beberapa detik atau menit saja. Namun, bisa berulang pada lokasi sama atau pada daerah di sekitarnya.
Sejauh ini, CAT sulit dideteksi peralatan pengamatan konvensional, pemodelan cuaca, ataupun satelit. "Belum ada teknologi yang bisa meramal CAT. Jika ada, akurasinya masih diragukan," kata pengamat penerbangan dan mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Chappy Hakim.
Menurut Heru, faktor pemicu CAT pada satu pesawat belum tentu sama dengan CAT pada pesawat lain. Setidaknya ada tiga pemicu CAT, yakni arus udara berkecepatan tinggi, gelombang gunung, dan turbulensi di sekitar sel awan kumulonimbus (di sekitar, bukan di dalam sel awan).
Pemicu berbeda
Pemicu CAT pada Etihad Airways di Sumatera bagian selatan dan Hong Kong Airlines di selatan Kalimantan terdeteksi berbeda. Analisis BMKG, CAT pada Etihad Airways akibat gelombang gunung, sedangkan pada Hong Kong Airlines disebabkan turbulensi di sekitar titik-titik lokasi awan kumulonimbus.
Pesawat Etihad diduga turbulens di area antara Bengkulu dan Tanjung Pinang. Pada ketinggian 37.000 kaki (11,27 km), pesawat mengalami gerak ke atas dan ke bawah sehingga penumpang tanpa sabuk pengaman atau berdiri terlempar. Barang-barang di bagasi kabin berhamburan. Sebanyak 31 penumpang dan awak pesawat terluka.
Itu menunjukkan guncangan turbulensi parah, yang menurut Badan Penerbangan Federal AS (FAA) berarti pesawat mendapatkan perubahan ketinggian dan arah yang besar sehingga tidak bisa dikontrol beberapa saat.
Analisis citra satelit Himawari 8 pukul 13.00-14.00, pesawat Etihad tak memasuki awan kumulonimbus, yang berarti terkonfirmasi mengalami CAT. Heru yakin, itu disebabkan gelombang gunung setelah massa udara mengalir dari barat ke timur melewati Pegunungan Bukit Barisan.
Sementara turbulensi pada Hong Kong Airlines terjadi di lapisan ketinggian 41.000 kaki (12,49 km). Turbulensi diperkirakan juga parah, tetapi karena skala kecil, satelit SigWx WAFC London dan Washington tak mendeteksi.
Sabuk pengaman
Menurut Chappy, pesawat berada pada dimensi ruang ketika terbang, yang bisa bergerak horizontal dan vertikal. "Tidak seperti mobil pada dimensi bidang, hanya maju-mundur dan kiri-kanan," ujarnya.
Penerbangan selalu menghadapi risiko guncangan karena turbulensi, baik terpelanting ke bawah maupun ke atas. Pilot bisa mencegah sejumlah risiko mengandalkan radar dan satelit guna mendeteksi awan-awan yang kemungkinan mengganggu. Namun, kehadiran CAT menunjukkan, kewaspadaan terhadap turbulensi harus setiap saat.
Pengamat penerbangan Gerry Soejatman menambahkan, turbulensi parah menghasilkan teknologi sabuk pengaman. Tahun 1980-an, satu turbulensi parah menyebabkan kematian penumpang meski pesawat utuh.
Sejak itu, orang belajar mengatasi turbulensi. Sejauh ini, keberhasilan menghadapi turbulensi masih bergantung pilot. Jadi, menambah pengetahuan dan kelihaian pilot mutlak penting.
Di luar itu, tambahan sabuk pengaman bagi pilot sehingga pilot tetap bisa mengendalikan pesawat saat turbulensi, termasuk menghadapi CAT.(JOG/ARN)
Kompas, Senin, 9 Mei 2016

Khan Wujudkan Mimpi Mustahil Kaum Imigran

LONDON, SABTU — Kemenangan Sadiq Khan (45), keturunan imigran Muslim yang terpilih menjadi Wali Kota London, menjadi simbol bahwa tak ada yang tak mungkin di Inggris.
"Saya tidak pernah bermimpi bahwa orang seperti saya bisa terpilih menjadi Wali Kota London. Saya ingin berterima kasih kepada setiap warga London yang telah mewujudkan sesuatu yang tak mungkin jadi mungkin," kata Khan dengan suara bergetar dalam pidato di balai kota, Sabtu (7/5) dini hari. Khan akan menggantikan Boris Johnson, wali kota yang karismatik.
content
Kemenangan Khan yang berasal dari Partai Buruh atas rivalnya, Zac Goldsmith (41), dari Konservatif, merupakan hasil perjuangan luar biasa. Bukan hanya karena kedua sosok ini sangat kontras latar belakangnya, melainkan juga karena kampanye kedua kubu demikian panas.
Kedua kandidat sama-sama anggota parlemen. Bedanya, Goldsmith berasal dari keluarga Yahudi yang kaya raya. Ayahnya adalah pengusaha besar yang bergerak di bidang perhotelan dan keuangan. Kakak Goldsmith adalah Jemima Goldsmith (mantan istri Imran Khan), yang merupakan sahabat mendiang Putri Diana. Goldsmith mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah elite di Inggris, seperti Eton dan Cambridge.
Jelata
Adapun Khan berasal dari keluarga jelata. Ayahnya imigran Pakistan yang bekerja sebagai sopir bus, ibunya adalah tukang kelim, dan kakaknya sebagai montir. Khan merupakan anak kelima dari delapan bersaudara yang tinggal di perumahan rakyat di Tooting yang disubsidi pemerintah.
Khan ingin menjadi dokter gigi, tetapi sang guru melihat "bakat terpendam" Khan sebagai orator dan mengarahkannya untuk belajar hukum. Ia meraih gelar sarjana hukum dari North London University, dan mengambil spesialisasi masalah HAM.
Latar belakang Khan yang sederhana dan pergulatannya yang keras untuk meraih sukses menginspirasi banyak lapisan masyarakat di Inggris. Inilah kunci sukses Khan. Dia tahu apa kebutuhan rakyat karena berasal dari lingkungan yang sama.
Ganas
Namun, semakin mendekati hari pemungutan suara, Kamis (5/5), kampanye Khan versus Goldsmith berubah menjadi kasar dan kotor. Apalagi, ketika di berbagai jajak pendapat, Khan selalu unggul dari pesaingnya.
Mulailah kubu Goldsmith memainkan faktor "ras dan agama". Paling mudah adalah dengan membangkitkan Islamofobia. Langkah ini disambut Partai Buruh dengan pernyataan-pernyataan anti Yahudi. Akibatnya, mantan Wali Kota London Ken Livingstone diskors karena komentarnya yang anti Yahudi.
Sementara kubu Konservatif terang-terangan mengaitkan Khan dengan kelompok teroris. Bahkan, dalam artikel yang ditulis sendiri oleh Goldsmith di edisi Minggu Daily Mail, judul yang dipilih sangat tendensius: "Apakah Kita akan Menyerahkan Kota Terhebat di Dunia Ini pada Partai Buruh yang Menganggap Teroris sebagai Teman?"
Artikel ini membuat berang bukan saja kubu Buruh, tetapi juga sebagian kubu Konservatif yang menilai Goldsmith dan tim kampanyenya kebablasan. Sejumlah pengamat menilai, langkah yang diambil Goldsmith justru "mengubur" diri sendiri.
"Pemilihan umum ini tentunya bukan tanpa kontroversi dan saya sangat bangga bahwa hari ini London memilih harapan daripada ketakutan, persatuan daripada perpecahan," kata Khan, yang memiliki istri ahli hukum, Sayeeda, dan dua remaja putri.
Tantangan
Hasil akhir penghitungan menunjukkan Khan unggul 57 persen berbanding 43 persen. Kampanye "hitam" rupanya tak laku dijual kepada warga London yang lebih peduli pada masalah perumahan, transportasi, dan lapangan kerja. Khan bertekad bekerja keras untuk memenuhi janjinya pada warga London yang telah memberinya "kepercayaan dan harapan".
Perumahan dan transportasi yang terjangkau rakyat, pengurangan polusi udara, dan gaji pekerja yang lebih baik merupakan janji Khan. "Saya ingin setiap warga London memiliki kesempatan seperti yang London berikan kepada saya dan keluarga. Kesempatan yang bukan sekadar untuk bisa bertahan hidup, tetapi juga sukses," kata Khan.
(AFP/REUTERS/MYR)
Kompas, Minggu, 8 Mei 2016

Imigran Muslim Pimpin Kota London

Sadiq Khan (45), imigran Muslim keturunan Pakistan, Sabtu (7/5), diambil sumpahnya sebagai Wali Kota London, ibu kota Inggris.
Khan dari Partai Buruh itu mengalahkan pesaingnya, Zac Goldsmith (41), dari Partai Konservatif yang menguasai posisi itu selama delapan tahun terakhir. Kemenangan Khan yang mengejutkan itu langsung menarik perhatian. Bagaimana tidak, Khan bukan hanya seorang pendatang, ia juga seorang Muslim. Banyak yang bertanya-tanya, bagaimana mungkin mayoritas warga kota London menjatuhkan pilihan pada seseorang yang agamanya berbeda dengan agama sebagian besar penduduk London?
sadiq-khan-swearing-in-2.jpg
Sadiq Khan saat pengambilan sumpah jabatan di Katedral Southwark, London, 7 Mei 2016. (AFP/Getty Images)
Namun, itulah yang terjadi. Warga London ternyata sudah cukup matang, mereka sama sekali sudah tidak mempersoalkan lagi tentang ras (etnis) dan agama dari calon wali kota. Dan, yang dianggap luar biasa adalah, pada saat banyak warga di negara-negara Barat dihinggapi Islamofobia menyusul teror bom di Paris (Perancis) dan Brussels (Belgia), warga London sama sekali tidak terpengaruh. Yang menjadi perhatian utama mereka adalah kapasitas pribadi dan program kerja dari para calon wali kota. Pujian juga layak dilayangkan kepada warga Rotterdam (Belanda), yang pada tahun 2009 memilih Ahmed Aboutaleb, imigran Muslim kelahiran Maroko.
Di luar itu, latar belakang kehidupan Khan yang berasal dari rakyat biasa, yang sama dengan latar belakang kehidupan sebagian besar warga London, juga menjadi nilai tambah tersendiri. Khan adalah anak kelima dari delapan anak sopir bus asal Pakistan, dan ibunya adalah tukang jahit. Posisi itu menjadi semakin kuat karena Goldsmith yang berasal dari keluarga Yahudi yang kaya raya dianggap tidak mewakili warga London kebanyakan. Apalagi, Goldsmith sempat menggunakan faktor ras dan agama dalam kampanye, yang dilawan Partai Buruh dengan pernyataan anti Yahudi.
Khan sendiri tidak menyangka dirinya akan menang. Tidak heran jika pada upacara penandatanganan sebagai Wali Kota London yang baru terpilih, Khan mengatakan, ”Saya tidak pernah bermimpi suatu saat akan berdiri di sini sebagai Wali Kota London. Saya bisa berdiri di sini hanya karena peluang dan bantuan yang diberikan kota ini terhadap saya dan keluarga saya.” Ia berjanji akan menggunakan ambisinya untuk menjamin agar warga London juga mendapatkan peluang seperti dirinya.
Warga London sudah membuktikan bahwa mereka sudah matang. Kini, waktunya bagi Khan untuk melaksanakan janji-janji yang dikemukakan dalam kampanyenya.
Khan harus membuktikan kepada warga London bahwa ia bukan sekadar orator yang ulung, yang pandai mengumbar janji, melainkan juga mampu membuat janji-janji itu menjadi kenyataan.
Kompas, Senin, 9 Mei 2016

Wednesday, 27 April 2016

Sesar di Utara Bali hingga Jawa Aktif

Data Baru untuk Revisi Peta Gempa Nasional
JAKARTA, KOMPAS — Penelitian terbaru membuktikan, sesar yang memanjang di bagian utara laut Pulau Bali hingga daratan Jawa bagian utara aktif. Temuan itu membawa konsekuensi ada potensi gempa baru di kawasan yang selama ini dinilai aman, termasuk Kota Surabaya.
content
"Kami akan membawa temuan baru ini dalam revisi peta gempa nasional," kata Irwan Meilano, ahli gempa dari Institut Teknologi Bandung (ITB), dihubungi dari Jakarta, Rabu (27/4).
Fokus riset ini awalnya untuk mengamati zona gempa di busur belakang (back arch) kawasan utara Flores hingga utara Bali dan Jawa bagian timur. Jalur kegempaan itu telah diketahui yang menyebabkan gempa diikuti tsunami Flores pada 1992.
"Untuk gempa di utara Bali datanya minim meski bukti kegempaannya cukup banyak. Riset kami mengonfirmasi keaktifan zona gempa ini," kata Irwan. Riset yang dilakukan dengan memantau pergerakan global positioning system (GPS) menerus sejak 2008 menemukan, sesar di utara Pulau Bali amat aktif.
"Temuan baru lain, patahan di utara Bali itu dideteksi menerus ke arah barat hingga di daratan Jawa bagian utara atau dikenal sebagai Sesar Kendeng," ujar Irwan, anggota tim peneliti. Riset itu juga melibatkan peneliti Badan Informasi Geospasial (BIG), S Susilo, yang juga mahasiswa doktoral di ITB serta para peneliti dari Australian National University. Hasil riset baru-baru ini dipublikasikan di jurnal internasional American Geophysical Union (AGU).
Dugaan ada sesar di kawasan Kendeng Utara itu sudah dikenal di kalangan peneliti. "Namun, bukti sesar itu aktif baru dari riset kami. Kecepatan gerakannya mencapai 5 milimeter per tahun. Adanya mud volcanoes (gunung api lumpur) di sekitar Porong kemungkinan juga terkait keaktifan sesar ini. Gempa yang melanda Bojonegoro beberapa waktu lalu diduga masih terkait," ucap Irwan.
Konsekuensi mitigasi
Temuan tentang keaktifan Sesar Kendeng ini, menurut Irwan, akan diusulkan dalam perubahan peta gempa nasional. "Temuan ini membawa konsekuensi peta rawan bencana gempa di Jawa perlu diubah, terutama bagi Surabaya dan kota-kota lain di jalur ini yang selama ini dikira aman ternyata punya potensi gempa. Apalagi, kawasan ini ada cukup banyak industri," ujarnya.
Kepala Bidang Mitigasi Gempa dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono mengapresiasi temuan baru tersebut. Itu akan menambah khazanah sumber gempa sehingga membantu perbaikan dalam mitigasi.
Zona sesar di utara Bali, menurut riset Daryono, terbukti beberapa kali menimbulkan gempa besar diikuti tsunami. Menurut data Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), setidaknya delapan gempa besar pernah terjadi di Bali sejak abad ke-19, dua di antaranya pada 22 November 1815 dan 21 Januari 1917.
Dalam katalog gempa bumi Arthur Wichman (1919) disebutkan secara rinci bahwa gempa pada 1815 terjadi sekitar pukul 23.00. Gempa mengguncang kawasan pantai utara Bali dan menghancurkan banyak bangunan. Gempa yang sama juga memicu tsunami besar yang menewaskan setidaknya 1.200 warga Kerajaan Buleleng.
Namun, riset itu membutuhkan kajian lanjutan, terutama dugaan kemenerusan sesar itu dari busur belakang Sesar Flores dan utara Bali hingga Kendeng. "Jika Sesar Kendeng disebutkan terkait Sesar Flores, perlu studi seismisitas, termasuk plot hiposenter dan analisis mekanisme sumbernya," katanya.
Daryono cenderung meyakini, Sesar Kendeng merupakan sistem terpisah dan pembentukannya didominasi adanya penekanan busur gunung api di zona Jawa Tengah hingga Jawa Timur pada masa lalu. Namun, temuan bahwa Sesar Kendeng itu aktif perlu mendapat perhatian terkait strategi mitigasi bangunan-bangunan di zona ini. (AIK)
Kompas, Kamis, 28 April 2016