Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts

Saturday, 30 December 2023

Kristen Palestina yang Terlupakan

 Oleh SUMANTO AL QURTUBY

Setiap kali konflik Israel-Palestina meletus—sejak 1948—dunia selalu tertuju pada umat Islam dan Yahudi.

Mayoritas masyarakat menganggap perang Israel-Palestina sebagai kekerasan agama antara Yahudi dan Muslim, bukan konflik perebutan tanah dan teritori. Kelompok pro-Israel biasanya membela Yahudi serta menganggap Yahudi sebagai korban keganasan Hamas dan faksi militan Islam Palestina lainnya, sementara yang pro-Palestina membela umat Islam yang mereka pandang menjadi korban aneksasi serta kebrutalan Israel dan Yahudi.

Tumbuhnya kelompok anti-Semitisme di negara-negara Barat, khususnya Amerika dan sejumlah negara Eropa yang marak belakangan ini, bukti bahwa kelompok pro-Palestina tak semata-mata anti-Israel, tetapi  juga anti-Yahudi.

Begitu pula sebaliknya, kelompok pro-Israel di Barat menjadi penyumbang signifikan dalam maraknya aksi Islamofobia meski fenomena ini sebetulnya sudah berlangsung lama dan bukan dipicu oleh konflik Israel-Hamas saat ini.

Sementara itu, umat Kristen nyaris terlupakan di tengah pusaran konflik Israel-Palestina. Padahal, Palestina sudah menjadi rumah umat Kristen jauh sebelum Islam lahir di abad ketujuh Masehi.

Friday, 16 April 2021

Puasa Lintas Tradisi

Oleh AHMAD NAJIB BURHANI 

Puasa merupakan praktik menahan atau membatasi diri, seperti dari makanan dan minuman, yang dilakukan oleh berbagai tradisi dalam masyarakat dunia sejak dulu kala. Puasa bisa bermotif agama, budaya, kesehatan, politik, atau lainnya.

Di Jawa, seperti ditulis Clifford Geertz (1964), puasa merupakan ritual yang banyak dilakukan masyarakat dari seluruh tingkatan kelas dengan tujuan ”untuk kekuatan dan intensitas spiritual”. Melalui ritual puasa, seseorang akan bisa meningkatkan kesaktian, kekuatan spiritual, atau kemampuan supranaturalnya.

Monday, 12 October 2020

Alkitab Kristen

Oleh SAMSUDIN BERLIAN

Bagi Muslim, Alkitab adalah nama lain Alquran. Arti harfiahnya cukup jelas: Sang Buku. Itulah sebutan yang cocok untuk Buku Sejati. Bukunya buku. Rajanya buku. Itulah kitab suci umat yang diturunkan Tuhan sendiri.

Pemaknaan Yahudi dan Kristen terhadap kitab suci tidak sama dengan itu. Konsep awalnya pun sudah beda. Yahudi dan Kristen tidak mengenal ajaran turunnya kitab suci. Tulisan-tulisan itu suci karena disucikan, bukan karena diturunkan Tuhan dari surga. Penulisnya dan penyuntingnya adalah manusia dengan segala keterbatasan pengetahuannya, dan bahkan kekeliruannya. Perbedaan konsep awal ini, belum lagi perbedaan definisi istilah-istilah lain, masih sering menjadi pusar ketidakpahaman dan kebingungan dalam percakapan antar-agama.

Saturday, 28 March 2020

Virus Korona dan Kegagapan Teologis

Fathorrahman Ghufron
Wakil Katib Syuriyah PWNU Yogyakarta; Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga
Pada 16 Maret 2020, Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa tentang tata kelola penyelenggaraan ibadah di tengah situasi pandemi Covid-19
Wilayah dengan sebaran virus korona sangat mengkhawatirkan boleh tidak melaksanakan shalat Jumat dan kegiatan ibadah lain secara berjemaah. Adapun orang yang sudah positif korona wajib hukumnya mengisolasi diri dan haram baginya untuk beribadah secara berjemaah atau jumatan di masjid atau mushala.

Saturday, 12 May 2018

Sicarii - Assassin

Oleh TRIAS KUNCAHYONO
Terorisme adalah wajah gelap perilaku manusia, sejak pertama sejarah mencatat tindakan mereka. Dalam History of the Jewish War (Jewish Antiquities)–buku tujuh jilid karya sejarawan kuno Yahudi, Joseph Ben Matthias atau Flavius Josephus (37/37-100)–diceritakan bagaimana faksi pemberontak, sicarii (nama ini diambil dari senjata yang mereka gunakan, yakni pisa pendek atau belati), menyerang orang-orang Romawi dan juga kelompok mapan orang-orang Yahudi. Mereka menjadi kelompok yang dikenal sebagai kaum Zealot–dari bahasa Yunani, zelos, yang berarti semangat atau semangat yang kuat (Gus Martin: 2011).

Sunday, 18 December 2016

Suara Beda dari Palestina

Oleh MOHAMMAD HILMI FAIQ
Cerita tentang Palestina selalu identik dengan perang dan penindasan oleh Israel. Yang muncul kemudian adalah cerita pedih dan pilu tentang perjuangan anak manusia merebut kemerdekaan. Di balik itu, ternyata tersimpan cerita cantik tentang toleransi umat beragama. Muslim sebagai warga mayoritas sangat melindungi golongan kristiani sebagai minoritas. Inilah kesaksian kelompok paduan suara Bethlehem Bible College, Palestina. Mereka menyampaikan suara yang berbeda tentang Palestina.
voa-fathiyah wardah.jpg
Penampilan paduan suara Bethlehem Bible College dari Bethlehem, Palestina di depan jemaat misa di Gereja Bethel Indonesia Glow Fellowship Centre di Jakarta (11/12). (VOA/Fathiyah Wardah)
Rob, aina adzhabu mir ruhika, aina ahrobu min wajhika
A’ajibatun hadihil ma’rifah, irtafaat lâ istathi’uha
Itulah cuplikan lagu “Let You Know” yang dinyanyikan paduan suara Bethlehem Bible College dalam bahasa arab. Lagu yang menceritakan tentang ketundukan dan sikap kerendahan manusia di hadapan Tuhan ini terdengar syahdu sekaligus unik. Syahdu karena suara para penyanyi yang memang merdu. Unik lantaran jarang sekali, khususnya di Indonesia, ada lagu berbahasa Arab dilantunkan di tengah-tengah umat kristiani dalam konser menjelang Natal.
Di tempat ibadah Nafiri Allah, Central Park, Jakarta, Bethlehem Bible College mengisi acara bertajuk “Palestine Christmas Concert” di hadapan seribuan orang. Sebanyak dua belas penyanyi dipandu konduktor, Akram, membuka penampilan dengan lagu “Jesus Comes Tonight” yang mereka alih bahasakan secara bebas ke bahasa Arab dan ditulis menggunakan transliterasi Inggris menjadi “Jaiya el laily”.
Jemaah yang memadati ruangan segera merekam gambar mereka. Tidak sedikit yang merangsek maju untuk mendapatkan gambar yang lebih bagus sebagaimana saat mereka menonton konser musik pada umumnya. “Saya baru kali ini mendengar lagu gereja berbahasa arab,” kata seorang jemaah.
Sayang mereka hanya menyanyikan tiga lagu karena panitia hanya memberikan waktu 15 menit.
Suasana lebih menarik terlihat di Manado saat mereka menyanyi selama satu jam di atrium Manado Town Square (Mantos), Sulawesi Utara. Bukan hanya umat kristiani, umat Muslim juga berdatangan menonton. “Malnya empat lantai. Penuh semua orang menonton,” kata Hence Bulu, selaku Sekretaris Jenderal Badan Musyawarah Antargereja Nasional sekaligus Humas Sekolah Tinggi Teologi (STT) Global Glow Indonesia.
Paduan suara Bethlehem Bible College tampil tiga kali dalam sehari di Jakarta sebelum ke Manado dan Bali. mereka datang atas kerja sama dengan STT Global Glow Indonesia.
Pemandangan di Manado itu menunjukkan bahwa lagu dapat mempersatukan umat karena saat itu mereka tidak lagi melihat perbedaan agama. Daya tarik konser tersebut terletak pada lagu-lagu berbahasa Arab yang dinyanyikan oleh orang Palestina, yang bagi orang Indonesia tergolong pemandangan yang berbeda dan baru.
Selain itu, mereka menggunakan bahasa Arab. ini sekaligus menegaskan bahwa bahasa, sebagaimana lagu, memiliki makna universal. Bahasa Arab bukan milik agama tertentu. Itu juga berarti bahwa segala yang berbahasa Arab belum tentu mewakili agama tertentu. Bahasa Arab menjadi bahasa sehari-hari warga Palestina, termasuk kelompok Kristen evangelis yang memprakarsai Bethlehem Bible College.
Penampilan paduan suara Bethlehem Bible College mengonfirmasi bahwa Palestina tidaklah tunggal. Dia mempunyai wajah lain, kaum minoritas yang hidup aman di tengah mayoritas.
Toleransi
Bethlehem Bible College merupakan perguruan tinggi Kristen evangelis, yang berdiri sejak 1979 di Bethlehem ketika militer Israel berkuasa. Dr Bishara E Awad selaku Founding President Emeritus Bethlehem Bible College mengatakan, mereka merupakan kelompok kecil yang hidup di tengah-tengah mayoritas kaum Muslim. Akan tetapi, selama ini mereka hidup dalam harmoni karena saling berempati dan peduli.
Dia menambahkan, paduan suara Bethlehem Bible College memupuk rasa peduli dan toleransi bukan hanya di Palestina. Mereka setidaknya enam kali ke Jordania untuk membantu orang-orang yang kesusahan dan kesakitan karena perang. Semangat menolong perlu dipupuk tanpa melihat kelompok dan golongan. Sepanjang ada yang kesusahan, sudah seharusnya ditolong. Menolong tak kurang dari cara manusia untuk memahami sesama.
Semangat itu dia gambarkan dengan cerita orang Samaria yang berbaik hati menolong orang Yahudi yang terluka. Padahal, dia sadar bahwa selama ini orang Yahudi memusuhi orang Samaria.
Kehadiran paduan suara Bethlehem Bible College di Indonesia seolah menjadi testimoni pentingnya mengedepankan toleransi. Ini setidaknya dikuatkan oleh pernyataan Wakil Rektor STT Global Glow Indonesia sekaligus Ketua Panitia Konser di Nafiri Allah, Daniel Saragih. “Hari-hari ini ada gesekan-gesekan yang timbul kembali masalah hubungan agama (di Indonesia). Kami melihat ini waktu yang sangat tepat mengundang mereka sehingga kita bisa belajar dari Palestina bahwa Natal didukung oleh kalangan Muslim.”
Jika kabar tentang Palestina lebih banyak tentang perang dan derita, mereka kini menyuarakan perdamaian dan persatuan. Paduan suara Bethlehem Bible College telah membawa suara yang berbeda tentang Palestina.
Kompas, Minggu, 18 Desember 2016

Saturday, 10 September 2016

Yazidi

Oleh TRIAS KUNCAHYONO
Komunitas Yazidi adalah sebuah komunitas kuno yang tinggal di wilayah Irak bagian Utara, Turki tenggara, Suriah, dan Iran. Sebagian besar dari mereka berbicara dalam bahasa Kurdi. Jumlah mereka hingga tahun 2014, menurut para ahli Timur Tengah, sekitar 700.000 orang, tetapi ada pula yang menyebut angka 500.000 orang.
peacock1.png
Merak sebagai simbol kepercayaan Yazidi
Cerita lain mengisahkan, orang-orang selama berabad-abad tinggal di wilayah pegunungan di Irak barat daya, sekitar Sinjar, suatu wilayah yang tidak jauh dengan perbatasan Suriah. Selain di Sinjar, mereka juga tinggal di Mosul – sebelah timur Sinjar – dan Provinsi Dohuk yang dikuasai Kursi. Provinsi Dohuk adalah provinsi di Irak yang paling utara berbatasan dengan Turki.
J Brooks Spector dalam Daily Maverick menulis bahwa keyakinan mereka campuran dari Yudaisme, Islam, Zoroaster, Kristen, dan bahkan kepercayaan animis. Karena kepercayaan “unorthodox” inilah mereka sering disalah mengerti dan dipandang sebagai agama yang menyembah setan.
Avi Asher-Schapiro dalam National Geographic News (11 Agustus 2014) menulis, kepercayaan mereka telah berabad-abad menjadi sasaran kebencian. Mereka dianggap sebagai penyembah setan. Karena itu, berulang kali mereka menghadapi bahaya genosida. Yazidisme adalah kepercayaan kuno yang kaya dengan tradisi lisan. Mereka mengombinasikan berbagai sistem kepercayaan yang dalam istilah keagamaan disebut sinkretisme.
Akan tetapi, hingga kini, asal muasal kepercayaan mereka masih menjadi bahan perdebatan. Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa Yazidisme dibentuk ketika seorang pemimpin Sufi, Adi ibn Musafir, bermukim di Kurdistan pada abad ke-12 dan mendirikan sebuah komunitas yang mencampur elemen-elemen Islam dengan kepercayaan pra-Islam.
Demes_Yezidis_roof_web smaller.jpg
Biara Laish, yang sekaligus makam Syeikh Adi ibn Musafir di Irak utara (Transatlantic Academy)
Mereka mulai dituduh menyembah setan pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17. Pada paruh kedua abad ke-19. Orang-orang Yazidi menjadi target, baik para pemimpin Ottoman maupun Kurdi. Menurut Matthew Barber, seorang ilmuwan sejarah Yazidi di Universitas Chicago, orang-orang Yazidi sering mengatakan menjadi korban 72 kali genosida atau usaha pembasmian. “Ingatan akan penganiayaan menjadi komponen identitas mereka,” kata Matthew Barber.
Akan tetapi, karena banyak di antara mereka yang berbicara dalam bahasa Kurdi, sering kali mereka bernasib sama dengan orang-orang Kurdi di Irak pada zaman Saddam Hussein. Pada akhir tahun 1970-an, ketika Saddam Hussein melancarkan kampanye Arabisasi brutal terhadap orang-orang Kurdi, ia membumihanguskan desa-desa orang Yazidi. Lalu, mereka dipaksa tinggal di pusat-pusat kota, terputus dari cara hidup mereka di pedesaan. Saddam Hussein membangun kota Sinjar dan memaksa orang-orang Yazidi tinggal di kota itu.
Orang-orang Yazidi percaya akan satu dewa, figur sentral dalam kepercayaan mereka, yakni Tawusî Melek, malaikat yang menentang Tuhan (ada yang menyebutnya sebagai Lucifer atau ada pula yang menyebut sebagai setan). Namun, bagi orang-orang Yazidi, Tawusî Melek adalah kekuatan untuk kebaikan dalam kepercayaan Yazidi. Tawusî Melek berperan sebagai mediator antara manusia dan Ilahi.
Dikutip sebagian, dari Kompas, Minggu, 11 September 2016

Sunday, 10 July 2016

Layakkah Kita Menghakimi?

Pagi itu, Sang Guru sedang mengajar dalam sinagoga di Yerusalem. Kondisi di luar yang tenang seketika berubah menjadi ramai ketika sekelompok pria datang dan berkerumun di depan sinagoga. Di tengah kerumunan itu, seorang wanita menangis terisak memohon ampun dan berusaha menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Pria yang memegangi salah satu lengan wanita itu mencampakkannya ke tanah.
PassionoftheChrist_009.jpg
Sang Guru berjalan keluar sinagoga. Para murid dan umat mengikutinya. Dari antara kelompok di luar gedung, keluar seorang pria memberikan salam, yang kemudian dibalas Sang Guru. Dari pakaiannya, orang ini pastilah seorang petinggi Yahudi. “Wanita ini tertangkap basah melakukan zinah,” katanya kepada Sang Guru, sambil menuding wanita yang meringkuk di tanah.
“Dan, menurut hukum, dia harus dirajam,” lanjut si pemuka agama. “Bagaimana menurut Anda, Guru?”
Tanpa menjawab, Sang Guru mengambil napas panjang dan kemudian berjongkok, menulis di tanah dengan jari telunjuknya. Kerumunan massa mulai ribut melihat tindakan Sang Guru. Para murid dan orang-orang yang tadinya ada di dalam sinagoga pun heran dengan yang dilakukan Gurunya itu.
“Guru, mengapa diam saja? Apa yang harus kami lakukan?” tanya si pemuka agama.
Akhirnya, Sang Guru berdiri, menatap ke arah kerumunan dan berkata “Yang merasa tidak pernah berbuat salah silakan menjadi yang pertama melempar batu ke wanita itu untuk menghukumnya.” Setelah itu, Sang Guru kembali berjongkok dan menulis di tanah.
Siapa yang tidak pernah berbuat salah? Mana mungkin ada orang yang tidak pernah berbuat salah? Semua orang saling memandang satu sama lain. Seseorang melepas batu sebesar dua kepalan dari genggamannya ke tanah, bukan ke arah wanita yang akan dirajam, dan kemudian berbalik dan meninggalkan tempat itu. Aksi ini diikuti oleh yang lain dan kerumunan massa itu pun bubar. Si pemuka agama tampak kikuk dan kemudian juga memutuskan untuk pergi.
Sang Guru mendongak dan melihat ke arah tempat kerumunan yang kini hanya menyisakan wanita yang dituduh berzinah. “Loh? Ke mana orang-orang itu? Mereka tidak jadi menghukummu?” tanya Sang Guru.
“Mereka semua sudah pergi, Guru. Dan, tidak ada yang menhukumku,” kata wanita itu.
“Ya sudah, aku pun tidak akan menghukummu. Pulanglah dan jangan berbuat dosa lagi,” jawab Sang Guru sambil tersenyum.
jesus korean-chinese.jpg
Kisah Yesus dan perempuan berzinah dalam lukisan bergaya Tiongkok dan Korea

Thursday, 12 May 2016

Agama Versi Negara

Oleh KOMARUDDIN HIDAYAT
Di zaman modern ini semua agama tumbuh dalam ruang negara. Namun, hubungan antara keduanya tidak selalu harmonis, bahkan masih menyisakan banyak problem serius. Sering kali terjadi kontestasi antara pemimpin agama dan pemimpin negara dalam meraih dukungan publik.
Bahwa institusi agama merasa disaingi oleh negara, hal ini mudah dimaklumi mengingat agama merasa lebih dahulu lahir sebelum negara. Bahkan, agama diyakini sebagai cetak biru Tuhan pemilik semesta, sedangkan negara yang jumlahnya ratusan merupakan evolusi historis dan produk konsensus masyarakat.
Bagaimanakah konsep agama versi negara? Ternyata cukup beragam dan dinamis. Pengalaman Amerika, Eropa, Timur Tengah, dan Indonesia masing-masing berbeda dan saling memengaruhi. Di AS, misalnya, negara mengambil sikap separatif dan netral atas dasar prinsip sekularisme. Agama itu urusan personal. Agama tidak boleh masuk ruang negara. Namun, negara melindungi sepenuhnya hak dan kebebasan warganya untuk menganut keyakinan agama, apa pun agamanya, termasuk keyakinan untuk tidak beragama.
Bagi Abdullahi Ahmed An-Na’im, pemikir kenegaraan dan keislaman asal Sudan yang kini menetap di AS, ketulusan beragama lebih dimungkinkan jika seseorang tinggal di negara sekuler. Sebab, katanya, sikap keimanan dan keberagamaannya lebih ditentukan oleh kesadaran dan kebebasan, bukan karena keterpaksaan atau motif-motif sosial-politik lainnya. Dengan alasan itu pula, An-Na’im berpendapat bahwa Muslim membutuhkan negara sekuler; bukan agar mereka menjadi lebih modern atau liberal, melainkan agar menjadi Muslim yang lebih baik. Selain dapat beriman, beribadah dan beramal semata karena Allah, hak dan kebebasan mereka dalam kehidupan beragama pun dilindungi dan dibela negara secara lebih baik (An-Na’im, 2007).
Menurut dia, sekularisme model AS tidak anti agama, justru menghargai dan melindungi kebebasan individu untuk memilih agamanya dengan tetap menaati kaidah-kaidah hukum negara. Thomas Jefferson (1743-1826), presiden ketiga AS, turut berjasa dalam meletakkan fondasi sikap deistik yang inklusif, yang memberikan kebebasan beragama bagi warga AS. Sebuah teori mengatakan, dasar negara yang semula berbunyi In Jesus I Trust dia ubah menjadi In God We Trust yang diambil dari lagu rakyat AS, ”The Star-Spangled Banner”—karangan Francis Scott Key (1814)—yang sekarang menjadi lagu kebangsaan AS.
Meski AS membela paham sekularisme, sulit membayangkan muncul Presiden AS yang beragama Islam ataupun di luar komunitas Protestan. Pernah sekali penganut Katolik terpilih menjadi Presiden AS (presiden ke-35), yaitu JF Kennedy, yang meninggal terbunuh pada 22 November 1963, di usia 46 tahun, dan masih menyisakan misteri.
Dalam melindungi dan melayani warga negaranya, Pemerintah AS tidak diskriminatif. Oleh karena itu, di AS tumbuh ribuan sekte keagamaan yang kesemuanya relatif berkembang secara damai.
Di Eropa juga terjadi pemisahan negara dan agama, tetapi negara masih memberikan perhatian khusus pada warisan budaya dan simbol-simbol agama. Di Inggris, misalnya, Ratu Elizabeth adalah juga ketua gereja Anglikan. Bahkan, ada blasphemy law, siapa yang menghina ratu sama halnya menghina gereja dan bisa terkena pidana. Di Eropa, ada parpol bernuansa keagamaan yang dibantu oleh negara dalam kategori LSM (lembaga swadaya masyarakat). Berbeda dari AS dan Inggris, kultur sekularisme Perancis mengesankan anti agama. Hal ini mungkin akibat trauma perang antar-agama di masa lalu dan kenangan kolektif yang pahit mengenai hubungan antara gereja dan negara.
Pengalaman Indonesia
Di Indonesia, negara mengakui eksistensi dan peran agama-agama besar dunia, misalnya Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Keenam agama ini kemudian dianggap sebagai agama resmi negara yang didukung secara sosial-kultural, sejauh mereka tidak mengganggu eksistensi negara. Keistimewaan seperti itu terkadang dirasa kurang adil terhadap kepercayaan-kepercayaan lokal yang telah lama ada dan memperkaya budaya nasional. Karena itu, pemerintah berusaha untuk memberinya perlindungan dengan berbagai macam cara guna menjaga keseimbangan dan keadilan.
Kembali ke hubungan negara dan agama, Indonesia bukannya mengambil sikap separatif-sekularistik, tidak juga teokratik, tetapi suportif-akomodatif terhadap agama dalam porsi yang cukup besar. Sikap akomodatif terhadap agama terkadang menghasilkan respons publik yang ambivalen. Misalnya, publik bisa saja mencoba mendesak penerapan syariat di ruang publik dengan klaim sila pertama Pancasila: Ketuhanan yang Maha Esa. Namun, pihak lain bisa juga menolaknya dengan sila ketiga: Persatuan Indonesia.
Ini tampak ambivalen, tetapi sebenarnya keduanya bisa saling menguatkan. Artinya, sah-sah saja ketika nilai-nilai agama dipromosikan di ruang publik, asalkan mengikuti prosedur demokrasi dengan menggunakan argumen kepentingan dan kebaikan publik. Dalam hal ini syariat boleh saja dikedepankan asalkan bisa diyakinkan kepentingan publiknya, misalnya sistem perbankan syariat yang dapat dimanfaatkan oleh pihak mana saja karena manfaat publiknya jelas.
Walaupun tidak menganut paham sekularisme, Indonesia menerapkan prinsip-prinsip kenegaraan dan pemerintahan yang biasa berlaku di negara sekuler. Contohnya, fungsi legislasi dilakukan DPR. Fungsi yudikatif oleh seperangkat sistem peradilan. Fungsi eksekutif dijalankan oleh pemerintah yang berkuasa. Presiden dan wakil presiden sebagai kepala pemerintahan dipilih dalam pemilu yang bebas dan rahasia. Hak asasi manusia (HAM) diterapkan dengan cukup baik.
Tiap warga negara, termasuk umat Islam, berkedudukan sama di depan hukum. Hanya saja, umat Islam yang mayoritas terkadang menuntut lebih dari pemerintah. Ini masuk akal saja karena alasan sejarah dan demokrasi. Sejarah mencatat bahwa umat Islam memiliki saham dan memberi dukungan politik sangat besar bagi lahirnya Republik Indonesia. Mereka tidak pernah ragu mendukung kemerdekaan. Bahkan, mereka memprakarsai ide tentang kemerdekaan, malah banyak yang gugur dalam perjuangan kemerdekaan melawan penjajah. Namun, setelah merdeka hingga sekarang umat Islam merasa hanya menikmati sedikit dari sumber daya ekonomi nasional yang maha besar itu. Salah satu sebabnya mungkin juga dikarenakan pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan Islam lemah dalam pengembangan sains dan ekonomi. Agenda yang menonjol dari Kementerian Agama pun masih berkutat pada pendidikan keagamaan dan dakwah.
Dalam konteks ketidakseimbangan ini, sering kali kita saksikan kekecewaan muncul dari sekelompok umat Islam dengan ekspresinya yang bermacam-macam. Ada yang lembut-lembut, konseptual-intelektual, tetapi ada juga yang agak keras, meskipun pada dasarnya Islam membenci kekerasan. Terlebih lagi kekerasan yang memperalat agama yang jelas tidak sejalan dengan ajaran Islam, kecuali ketika mereka ditindas dan diperlakukan tidak adil. Periksa saja peristiwa-peristiwa sejarah sejak masa kolonial, dari Perang Diponegoro sampai Peristiwa Tanjung Priok di masa Orde Baru. Bahkan, pemberontakan Darul Islam sekalipun, semua itu merupakan protes terhadap ketidakadilan.
Lantas kenapa agama digunakan? Ya, karena itu salah satu sumber daya yang mereka punya dan hanya itu yang bisa menginspirasi mereka untuk menyatakan protes kepada negara secara bersama-sama. Jadi, bukan memperalat agama seperti yang sering kali dituduhkan, melainkan agama digunakan sebagai sumber daya untuk mengekspresikan kekecewaan sosial mereka.
Maka, ke depan, aspek keadilan harus diperhatikan untuk menjaga agar hubungan antara agama dan negara tetap harmonis, apa pun agamanya. Negara dan pemerintah tentu akan terus mendukung perkembangan umat beragama, apalagi jika hal itu bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa serta memperkuat karakter dan identitas nasional guna mengantisipasi persaingan regional ataupun global.
Prinsip keadilan dan kebaikan
Fenomena yang selalu mengemuka, terjadi gesekan hubungan antara negara ketika agama dijadikan instrumen bagi mobilitas dan perjuangan politik untuk memperebutkan kursi legislatif dan eksekutif. Sentimen dan aspirasi keagamaan selalu muncul dan dimunculkan setiap menjelang pemilu dan pilkada. Semua ini menunjukkan betapa kuatnya peran agama dalam proses dan mekanisme politik di Indonesia, sementara negara juga memanfaatkan sentimen agama untuk mendukung legitimasi pemerintah.
Namun, proses negosiasi antara negara dan agama tidak selalu mulus. Terlebih ketika muncul paham dan gerakan agama yang tidak mau mengakui eksistensi negara di atas institusi agama. Muncul ideologi tandingan terhadap negara yang digerakkan oleh sekelompok tokoh agama yang memiliki jaringan kerja sama dengan gerakan transnasional.
Dalam sistem teokrasi, otoritas keagamaan diberi peran politik dan memiliki kekuasaan eksekutif dalam pemerintahan, seperti halnya Republik Islam Iran atau negara Vatikan, sekalipun kepala pemerintahannya dipilih melalui proses pemilihan yang demokratis. Adapun Arab Saudi pada dasarnya sebuah monarki yang kebetulan rajanya seorang Muslim yang sangat peduli kepada kepentingan Islam, bahkan menyebut dirinya sebagai pelayan dua kota suci: Mekkah dan Madinah (khadimul kharamain). Cerita yang tidak sedap didengar adalah Pakistan yang memisahkan diri dari India karena alasan agama. Namun, Republik Islam Pakistan selalu menampilkan peristiwa kekerasan yang berdarah-darah, yang sangat tidak sejalan dengan ajaran Islam.
Dalam ajaran Islam, pemimpin diminta lebih mengutamakan prinsip keadilan, baru diikuti prinsip kebaikan. Adil itu memberikan sesuatu kepada yang berhak, sedangkan kebaikan itu memberikan sesuatu dari yang seseorang miliki untuk membantu orang lain. Jadi, kalau pemimpin bertindak adil, artinya dia memberikan dan melindungi apa yang menjadi hak warga negaranya: tidak pandang mayoritas atau minoritas, tidak mengenal lawan atau kawan.
KOMARUDDIN HIDAYAT
Guru Besar Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
Kompas, Jumat, 13 Mei 2016

Monday, 15 February 2016

Antusiasme Spiritual

Oleh KURNIA JR
Menurut kronik, pada 1 Oktober 527 Masehi Kaisar  Liang Wudi-penganut Buddhisme yang antusias-mengundang Bodhidharma, pemimpin Zen India ke-28, yang baru tiba di negerinya, ke ibu kota kerajaan di Nanjing.
Sang Kaisar gemar mengenakan busana Buddhis dan melantunkan tembang Buddhis. Ia juga vegetarian. Kepada sang guru, dia mengajukan satu pertanyaan: "Sejak naik takhta, saya telah membangun banyak kuil, menyalin banyak naskah, dan menyokong kehidupan banyak biksu dan biksuni. Apa kebajikan dari semua ini?"
"Tak ada kebajikannya," jawab Bodhidharma, "Apa yang Anda lakukan hanyalah kegiatan duniawi dan tidak bisa dianggap sebagai pahala sejati. Kebajikan sejati terdiri dari kesadaran murni, indah, dan sempurna. Intinya adalah kekosongan. Seseorang tidak bisa mendapatkan kesejatian dengan cara-cara duniawi."
Antusiasme spiritual sang Kaisar, amal perbuatannya, juga pertanyaannya kerap kita dapati di sekitar kita. Mereka adalah penganut agama yang secara lahiriah taat, termasuk juru dakwah dan ustaz. Para dai rata-rata memiliki komunitas, pesantren, ataupun gedung dakwah sendiri, dengan para donatur yang loyal. Kita akan berpikir seperti sang Kaisar, bahwa mereka pantas menuntut pahala sejati.
Sementara itu, ada cerita lain. Ada seorang pria yang antusias meniti jalan spiritual. Pada suatu hari, Nabi Khidir menemui dia untuk memberi bimbingan. Dia diajak ke dua tempat. Mula-mula ke tempat orang-orang yang sengsara. Kemudian ke tempat orang-orang yang senang dan bahagia. Di setiap tempat itu dia berdialog dengan para penghuninya perihal kebenaran. Dia menyimpulkan bahwa kebahagiaan sama dengan kebenaran. Cara pandang itu membuat hatinya gelisah. Dia pun mengadu kepada sang pembimbing.
"Itu lantaran engkau telah menjadi pendusta," kata Khidir. "Engkau telah diberi kesempatan yang, kalau mau, engkau akan mencapai kebenaran. Yang kau kejar malah kepuasan pribadi."
"Kalau aku salah jalan, kenapa aku bertemu dengan Anda, yang tak sembarang orang bisa?"
Khidir menjelaskan, "Ketika engkau bersikap teguh mengarahkan pandangan pada kebenaran demi kebenaran itu sendiri, aku pun punya alasan untuk hadir memberikan bimbingan."
Alkisah, sang murid sadar. Ia kembali dikuasai hasrat awal menemukan kebenaran walau itu bakal merugikan dan tak berarti dia bakal mengecap rasa bahagia. Tanpa dia sadari, tahu-tahu ia sudah berpindah tempat dari Taman (maqam) Pengetahuan ke Taman (maqam) Kebenaran.
Edukasi toleransi
Kisah-kisah ini bukan perkara umum yang mudah dan lazim. Yang kita saksikan bahkan para juru dakwah kerap terpeleset mengkhotbahkan kebenaran bukan demi kebenaran itu sendiri. Di lisan mereka, kebenaran berpihak dan berprasangka. Kita saksikan di layar TV tempo hari, warga Sungailiat, Bangka Belitung, geram terhadap jemaah Ahmadiyah di kampung mereka. Sekali lagi terjadi pengusiran terhadap yang berbeda keyakinan.
Sampai kapan kita harus menyaksikan pemerintah tak berdaya menghadapi masyarakat awam yang merasa kapabel menghakimi sikap beragama yang berbeda? Kasus berulang-ulang ini memperlihatkan pemerintah tak punya program menanggulangi konflik sektarian.
Masyarakat yang mengusir tetangga mereka tak mungkin diredam sebab mereka ibarat bidak catur di tangan tokoh agama setempat. Pemerintah perlu menyusun program edukasi toleransi bagi para tokoh masyarakat dan agama di seluruh negeri.
Sekadar contoh, ada dua buku mengenai Islam di Barat yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia: American Jihad, Islam After Malcolm X (Steven Barboza, 1993) dan Allah in the West: Islamic Movements in America and Europe (Gilles Kepel, 1997). Melihat judulnya sekilas saja mungkin orang akan merasa menyaksikan Islam yang satu, yang monolitik, yang homogen, di dunia Barat, hutan belantara materialisme dan rasionalisme.
Melihat sesuatu dari kejauhan, orang riskan terjebak ilusi yang manipulatif. Para juru dakwah dan warga masyarakat yang mengusir orang-orang berbeda keyakinan mungkin berilusi tentang satu negeri tanpa heterogenitas kepercayaan dan agama. Negeri semacam itu mustahil ada. Jika setiap kepala punya ilusi, ilusi yang satu dengan yang lain akan bertabrakan dan saling mengingkari. Tak ada yang melihat kebenaran.
Mereka memeluk mimpi itu dengan takabur, sedangkan pemerintah tak punya program untuk membangunkan mereka dari tidur. Mereka mengejar kebenaran demi kepuasan hasrat pribadi, bukan demi kebenaran itu sendiri. Mereka beranggapan kebenaran mudah diidentifikasi tanpa kehadiran-bersama-dengan- yang-lain. Mereka terjebak di labirin egoisme dan arogansi, yang menghasilkan tirani mayoritas.
Seperti Kaisar Liang Wudi, orang kaya royal menyokong program dakwah dan pembangunan masjid. Para dai giat menggelar acara zikir, tetapi tidak selalu ingat bahwa Nabi Muhammad memerintahkan dakwah yang menghargai kemajemukan dan kedamaian. Nabi menganjurkan diskusi atas perbedaan keyakinan, seperti yang dicontohkan dengan para pendeta Nasrani dari Najran. Tak ada pemaksaan.
Masyarakat kita dewasa ini terjangkiti semacam antusiasme spiritual yang bersifat kebendaan (lahiriah) melulu. Kesalehan hanya berarti rajin sembahyang dan menghadiri pengajian, royal menyumbang ke masjid/panti asuhan, tak pelit menyembelih hewan kurban, sering umrah dan berhaji. Sementara rohani mereka tak melembut, tak lapang dada menghargai hak hidup mazhab lain, yang hakikatnya merupakan hak dan urusan Allah. Bahkan, sebagian dari mereka lebih suka mematahkan ketimbang meluruskan yang dinilai bengkok.
Yang memprihatinkan, di antara orang-orang intelek, yang seharusnya menjadi panutan toleransi, justru menyimpan sentimen sektarian yang akut dan berpandangan picik terhadap perbedaan keyakinan dan bahkan ras. Pemerintah harus menunjukkan kemauan politik plus keberanian untuk menghentikan kekerasan sektarian yang terus terjadi dan mungkin akan semakin masif.
KURNIA JR
Sastrawan - Esais
Kompas, Selasa, 16 Februari 2016

Sunday, 24 January 2016

Pahlawan Muslim Kenya Meninggal Dunia

Salah Farah adalah pahlawan sekaligus syuhada sejati. Desember lalu, dengan gagah berani, dia bersama sejumlah orang lainnya melawan ancaman todongan senjata gerombolan teroris Al-Shabab.
salah farah.jpg
Salah Farah (VOA/Jill Craig)
Saat itu, bus yang ditumpanginya dibajak di tengah perjalanan dari Mandera menuju Nairobi, Kenya. Provinsi Mandera berada dekat perbatasan Kenya dengan Somalia dan Etiopia.
"Bunuh kami atau jika tidak pergi saja kalian," tantang Farah. Bersama beberapa orang lainnya, sesama penumpang bus, Farah yang bekerja sebagai guru di kota pantai, Malindi, menolak kemauan para pembajak bersenjata.
Para milisi Al-Shabab itu memaksa penumpang bus untuk memisahkan diri berdasarkan agama yang dianut, Islam dan Kristen. Hal ini dilakukan untuk memuluskan rencana kelompok itu mengeksekusi warga Kristen.
Namun, dengan gagah berani Farah berdiri menjadi tameng hidup. Bersama beberapa penumpang Muslim lainnya, Farah nekat melindungi penumpang beragama Kristen dari pembantaian.
Para teroris marah. Mereka lalu menembak Farah di bagian pinggang. Dia terluka parah akibat keberaniannya itu.
Pada Minggu (17/1), Farah meninggal dunia ketika tengah menjalani pembedahan di Rumah Sakit Nairobi. Tim dokter tidak mampu untuk menyelamatkan nyawanya.
Dua hari kemudian, Selasa (19/1), Farah dimakamkan di kota Mandera, timur laut Kenya. Dia meninggalkan seorang istri dan empat anak.
Semangat hidup
Selama beberapa pekan setelah insiden berdarah itu, Farah sempat dirawat dan menunjukkan semangat hidup yang sangat tinggi. Dia bahkan beberapa kali diwawancarai oleh sejumlah media massa internasional. Aksi kepahlawanan yang dilakukannya mendapat perhatian dunia.
Kepada stasiun televisi BBC dari Inggris, Farah menceritakan saat-saat mencekam berada di bawah ancaman moncong senapan. "Mereka bilang kalau engkau seorang Muslim, maka kalian akan selamat," ujar Farah mengenang pernyataan para milisi ketika itu.
Dalam wawancara, Farah juga menyampaikan keyakinan dan prinsip hidupnya yang mulia. Menurut dia, semua orang harus bisa hidup damai bersama-sama, tak peduli apa agama yang dianutnya. "Kita semua bersaudara. Hanya masalah agama yang membedakan kita," ujarnya.
"Dengan begitu, saya meminta semua saudara saya sesama Muslim untuk menjaga saudara Kristen kita sehingga mereka juga bisa melakukan hal yang sama kepada kita. Dengan demikian, kita bisa saling bantu dan hidup dalam kedamaian," ujarnya kepada stasiun radio Voice of America, awal bulan ini.
Kematian Farah membuat banyak pihak di Kenya berduka. Para pelayat datang berkumpul di pemakamannya. Mereka bersedih dan datang untuk mendoakan Farah.
Pahlawan sejati
Sebagai bentuk belasungkawa sekaligus penghormatan, jenazah Farah diterbangkan menuju lokasi peristirahatannya yang terakhir dengan helikopter kepolisian Kenya. "Dia adalah seorang pahlawan sejati. Dia tewas karena melindungi warga tak berdosa Kenya dari serangan teroris," ujar Kepala Kepolisian Kenya Joseph Boinnet.
Tampak pula hadir di pemakaman, istri Farah, Dunia Mohamed, yang tengah hamil sembilan bulan. Pasangan itu sebelumnya telah dianugerahi empat anak.
Farah menjadi tulang punggung keluarga. Selain dengan anak dan istri, bersama Farah juga tinggal kedua orangtuanya yang berusia lanjut. Ibu Farah, Amina Sabdow, tak sanggup berkata-kata ketika mengetahui putranya meninggal dunia.
Mengingat tindakan berani Farah untuk melindungi sesama manusia, sejumlah pihak berkomitmen menanggung keluarga yang ditinggalkan Farah secara finansial. Komitmen itu disampaikan Komisi Guru Kenya dan juga Gubernur Mandera Ali Ibrahim Roba. Mereka berjanji menanggung biaya hidup keluarga Farah dan biaya pendidikan anak-anaknya. "Farah adalah tokoh panutan kita semua," ujar Roba.
Upaya menggalang bantuan bagi keluarga Farah juga dilakukan di jagat maya. Salah satunya, upaya penggalangan dana melalui Twitter dengan tagar #HeroSalah.
Desainer terkenal kelas dunia asal Skotlandia, yang kini menetap di Kenya, Ann McCreath, memberikan pernyataan dukungan lewat #HeroSalah. "Sangat penting untuk mendukung #HeroSalah sebagai simbol Kenya seperti yang kita inginkan bersama," kicau McCreath.
Ancaman Al-Shabab
Gerombolan milisi Al-Shabab sejak lama menjadi ancaman serius bagi sejumlah negara di kawasan Afrika timur, terutama Kenya dan Somalia. Kelompok teroris asal Somalia itu kerap melakukan serangan ke wilayah negara tetangga, Kenya, terutama di wilayah perbatasan.
Pekan lalu, Al-Shabab menyerang kamp pasukan penjaga perdamaian Kenya di barat daya Somalia. Mereka mengklaim berhasil menewaskan sedikitnya 100 tentara Kenya.
Akan tetapi, Pemerintah Kenya menolak menyebut jumlah korban tewas sebenarnya. Sejak 2011, Pemerintah Kenya mengerahkan pasukannya ke Somalia untuk mencegah masuknya milisi Al-Shabab ke Kenya. Namun, hal itu memicu kemarahan kelompok Al-Shabab. Kelompok ini mengancam akan meningkatkan serangannya. (AP/DWA)
Kompas, Minggu, 24 Januari 2016

Monday, 11 January 2016

Konflik Iran-Arab Saudi

Oleh MOHAMMAD BAKIR
Iran Versus Arab Saudi, Sejarah yang Terulang
Ketegangan yang masih menyelimuti kawasan Timur Tengah, menyusul hukuman mati terhadap aktivis Syiah Arab Saudi, Nimr Baqir al Nimr, mengingatkan kita akan sejarah hubungan Sunni-Syiah yang nyaris tak pernah akur. Pertentangan antara keduanya muncul tak lama setelah Nabi Muhammad SAW meninggal dunia.
Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir menghadiri pertemuan darurat Liga Arab di Kairo, Mesir, Minggu (10/1), membahas krisis hubungan Iran dan Arab Saudi. Ketegangan Iran-Arab Saudi menyusul hukuman mati terhadap aktivis Syiah Arab Saudi, Nimr Baqir al Nimr, mengingatkan kita akan sejarah hubungan Sunni-Syiah yang nyaris tak pernah akur.
Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir menghadiri pertemuan darurat Liga Arab di Kairo, Mesir, Minggu (10/1), membahas krisis hubungan Iran dan Arab Saudi. Ketegangan Iran-Arab Saudi menyusul hukuman mati terhadap aktivis Syiah Arab Saudi, Nimr Baqir al Nimr, mengingatkan kita akan sejarah hubungan Sunni-Syiah yang nyaris tak pernah akur. (AP/Ahmed Omar)
Para pengikut Syiah beranggapan bahwa yang layak menggantikan Nabi Muhammad SAW tak lain adalah Ali bin Abu Thalib. Selain menjadi menantu Rasulullah dengan mempersunting Fatimah, Ali juga sepupu Muhammad SAW dan pemuda pertama yang mengakui kenabiannya. Sejarah juga mencatat Ali dan Khadijah binti Khuwailid, istri Nabi SAW, melaksanakan shalat berjemaah pertama di dunia di dekat Kakbah dengan imam Rasulullah Muhammad SAW.
Kelompok Syiah yang ekstrem bahkan tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar al Faruq, dan Utsman bin Affan, tiga khalifah sebelum Ali diangkat menggantikan Utsman. Kesetiaan pengikut Ali makin mengental setelah Ali RA dibunuh oleh Abdur-Rahman bin Muljam, konon orang yang hafal Al Quran, puasa di siang hari, dan shalat tahajud di malam hari.
Inilah sedikit latar belakang munculnya pengelompokan dalam tubuh Islam, yang terus bertahan hingga sekarang. Tiap-tiap kelompok itu mengaku paling benar sehingga memunculkan ketegangan di antara pengikutnya.
Ketegangan tersebut makin menjadi karena persoalan politik ikut mewarnai di dalamnya. Ketika Ali menjadi khalifah dan kemudian terbunuh, Gubernur Damaskus Muawiyah bin Sufyan mengambil keuntungan atas peristiwa itu. Di benak Muawiyah, Ali-lah yang selama ini dianggap menjadi penghalang baginya untuk mendirikan kerajaan.
Berbeda dengan pengangkatan khalifah sejak masa Abu Bakar Ash-Shiddiq yang tidak turun ke anak atau keluarga, Muawiyah yang mengangkat diri sebagai raja memberikan takhta kepada anaknya, Yazid. Sejak itu berdirilah Dinasti Umayyah. Para tentara Yazid inilah yang dalam sejarah tercatat melakukan pembantaian terhadap pengikut Ali, termasuk anaknya, Husain bin Ali RA, yang berarti masih cucu Rasul Muhammad.
Muawiyah yang beraliran Sunni terus berkuasa hingga digantikan Dinasti Abbasiyah di Baghdad. Namun, antara abad ke-10 dan ke-11 terjadi perpecahan di tubuh Dinasti Abbasiyah, yang kemudian muncullah Dinasti Mamluk Turki, yang juga beraliran Sunni.
Di sisi lain, kaum Syiah terus berkonsolidasi hingga berhasil mendirikan Dinasti Fatimiyah yang menguasai Afrika Utara hingga akhirnya berkedudukan di Mesir antara 910 M dan 1171 M. Dinasti inilah yang membangun Universitas Al-Azhar yang sampai sekarang masih ada di Kairo.
Antara Fatimiyah, Abbasiyah, dan Mamluk terus terjadi ketegangan. Hingga akhir abad ke-10 masuklah pasukan Frank ke kawasan Timur Tengah. Tentara Salib ini menyerbu kawasan Timur Tengah dan menimbulkan apa yang disebut Perang Salib atau di dunia Islam disebut Perang Sabil. Baik Abbasiyah maupun Fatimiyah tidak siap menghadapi kehadiran tentara Salib. Dan, kekalahan pasukan Islam di perang ini karena dua kerajaan besar Islam tersebut tidak fokus dan terus di antara mereka terlibat perang.
content
Penguasa Syiah di Mesir, Dinasti Fatimiyah, terusir dari negaranya menjelang abad ke-12, antara lain karena terus terlibat perang dengan Abbasiyah. Pemberontakan di dalam negeri juga terus berlangsung, hingga muncul Salahuddin Al-Ayyubi yang menggantikan Dinasti Fatimiyah. Dialah yang kemudian berhasil mengusir tentara Frank dari Jerusalem tahun 1187 M. Salahuddin kemudian mendirikan Dinasti Ayyubiyah, yang juga berpaham Sunni.
Akan tetapi, keberhasilan Salahuddin mengusir tentara Salib tidak mengurangi perseteruan di dalam tubuh Islam, khususnya hubungan Sunni-Syiah. Konflik kecil di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya terus-menerus terjadi hingga Dinasti Utsmaniyah yang juga beraliran Sunni menguasai kawasan ini akhir abad ke-13.
Turki, tempat kedudukan Dinasti Utsmaniyah, menjadi kerajaan besar dan lintas benua. Kerajaan ini berkuasa hingga abad ke-20 dan terlibat dalam Perang Dunia Kedua melawan Sekutu. Akibat kekalahan Turki, kawasan Timur Tengah tercerai-berai dan Sekutu sebagai pihak pemenang membagi-bagi wilayah itu menjadi beberapa negara.
Namun, tidak berarti pengikut Syiah menyurut. Mereka terus bergerak dan menyebar hingga terjadi Revolusi Iran di tahun 1979 yang secara resmi menyatakan Iran yang awalnya kerajaan menjadi negara republik agama dengan Syiah Imamiyah sebagai mazhab resmi negara.
Sebenarnya, penganut Syiah tersebar di seantero kawasan Timur Tengah, mulai dari Mesir hingga Indonesia. Bahkan, di beberapa negara Timur Tengah, kaum Syiah cukup dominan dari segi jumlah, seperti di Irak, Oman, dan Lebanon.
Setelah menjadi mazhab resmi negara, para pejabat Iran di mana pun ditempatkan ikut menyebarkan paham Syiah. Di sisi lain, Arab Saudi yang secara resmi menganut mazhab Wahabi juga mulai gencar menyebarkan pahamnya.
Berawal dari titik inilah, kedua negara, Iran dan Arab Saudi, terlibat persaingan dalam mengembangkan mazhab masing-masing. Pengikut Syiah yang tinggal di Arab Saudi, seperti Nimr al Nimr, mencoba menggoyang dominasi Wahabi dari dalam. Tidak heran jika pemerintah kerajaan Arab Saudi menjatuhkan hukuman mati dan mengeksekusinya akhir Desember lalu.
Arab Saudi pun Mulai Gerah
Kondisi di kawasan Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir ini, mirip dengan kondisi di akhir abad ke-10 Masehi. Ketika itu, pasukan Frank atau yang lebih dikenal dengan tentara Salib mulai memasuki kawasan itu lewat pantai Mediterania.
Bahkan, tentara Salib sempat menguasai beberapa pelabuhan di wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh Dinasti Abbasiyah yang digantikan Dinasti Seljuk di Irak atau Dinasti Fatimiyah di Mesir.
Kedua kerajaan itu kehilangan wilayah akibat selalu terlibat konflik bahkan perang, kurang memperhatikan ancaman dari Eropa, dalam hal ini tentara Salib. Bahkan, karena terlalu mementingkan kelanjutan dinastinya, beberapa raja Dinasti Fatimiyah mengikat perjanjian dengan tentara Salib.
Ringkasnya, kedua kekhalifahan itu tidak memperhatikan kepentingan umat Islam secara umum. Kondisi ini mirip dengan kondisi kawasan Timur Tengah sekarang. Tiap negara sibuk mengikat perjanjian dengan negara luar kawasan, sekadar untuk melindungi kepentingan masing-masing.
Melihat kasus hukuman mati terhadap Nimr Baqir al Nimr, seorang aktivis Syiah Arab Saudi, dari sisi kepentingan dalam negeri, menurut klaim, hal itu harus dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi. Tetapi, persoalannya mengapa baru sekarang dilakukan ketika Barat (baca AS dan sekutunya) mulai bermesraan dengan Iran.
Tidak seperti lazimnya, Iran yang biasa tampil garang dan seringkali enggan memenuhi tuntutan Barat, menjelang akhir tahun 2015 justru mulai melaksanakan kesepakatan nuklir dengan mengirimkan uranium yang sudah diperkaya ke Rusia. Langkah Iran itu mendapat pujian dari PBB, dan saat itu pun Iran hanya tinggal menunggu pencabutan sanksi terhadap negaranya mulai dilaksanakan.
Mengapa dalam soal nuklir, Iran mengambil langkah kompromis? Negara Syiah ini sadar bahwa sanksi ekonomi telah membuat negaranya terkucil dan tertinggal. Disadari atau tidak, sanksi itu telah membuat negaranya sulit beranjak. Apalagi, dalam setahun terakhir harga minyak dunia, penopang utama ekspor Iran, turun sekitar 70 persen.
Di sisi lain, sebagian pengamat menduga Iran yang sudah memiliki sedikit kemampuan teknologi nuklir, dapat dengan cepat mengalihkan kemampuannya untuk kepentingan pembangunan ekonomi. Artinya, Iran mulai berpikir untuk mengalihkan ketergantungan ekonomi negaranya dari minyak, dengan memanfaatkan kemampuannya di bidang teknologi.
Hal ini berbeda dengan kondisi Arab Saudi, yang dalam beberapa dekade perekonomiannya berkembang pesat karena harga minyak yang tinggi. Meski selama 2015 harga minyak terus turun hingga mencapai sekitar 40 dollar AS per barel, Saudi tidak mau menurunkan produksi.
Penurunan produksi minyak di Arab Saudi, dapat kembali meningkatkan harga minyak dunia. Dan, kenaikan minyak akan membuat Iran punya kesempatan untuk terus mengembangkan kemampuan nuklirnya dan membantu kelompok Syiah yang tersebar di banyak negara di kawasan Timur Tengah ini.
Dengan kata lain, langkah kompromistis Iran sedikit atau banyak didorong oleh terus turunnya harga minyak dunia. Di sisi lain, Saudi mulai merasa kurang diperhatikan oleh Barat akibat langkah Iran ini. Kondisi ini telah memunculkan situasi dan kondisi baru di kawasan.
Apakah langkah Saudi menghukum mati Nimr Baqir al Nimr terkait dengan melemahnya dukungan Barat terhadap negaranya? Atau, protes keras dilancarkan Iran karena mau mengambil keuntungan politik dari kedekatannya dengan Barat? Pertanyaan itu muncul karena Nimr al Nimr sudah sejak lama berada di tahanan Saudi, dan kapan pun pemerintah Saudi dapat menghukum mati dia.
Barat kecewa atas pelaksanaan hukuman mati terhadap Nimr oleh pemerintah Arab Saudi, namun mengecam keras tindakan pemuda Iran merusak kedubes Arab Saudi di Teheran dan Konsulat di Masyhad. Apakah konflik ini akan terus berlanjut dan sampai kapan, tidak seorang pun yang tahu pasti.
Barat bisa saja mengupayakan masalah ini dengan cara damai, tetapi mereka akan menghadapi tantangan cukup keras. Pasalnya, dukungan terhadap Arab Saudi terutama dari negara-negara tetangga kawasan, sudah cukup solid. Apalagi, Saudi sudah memutus hubungan diplomatik dengan Iran.
Sebaliknya, Iran seperti dikucilkan karena propaganda anti-Syiah yang cukup gencar dilakukan oleh Saudi Arabia, lewat kelompok garis keras di Wahabi, yang biasa disebut Salafi. Hanya Irak dan kelompok Syiah di beberapa negara kawasan, yang masih menoleh ke Iran.
Memilih penyelesaian lewat perang, tentu tidak diinginkan oleh Iran atau pun Arab Saudi. Jika harus terjadi perang, berdasarkan pengalaman, rasanya Iran lebih siap dibanding Saudi. Kalau pun Saudi memiliki persenjataan lebih lengkap dan canggih, tidak berarti Iran yang sejak tahun 1979 terlibat konflik, akan mudah ditaklukkan.
Bagi Iran, kekacauan di kawasan, di satu sisi menguntungkan karena harga minyak akan kembali merangkak naik. Pun juga hubungan cukup erat antara Iran dan penguasa Irak dan Suriah, yang juga menganut Syiah, akan dipertimbangkan Saudi jika harus melakukan perang terbuka.
Begitu juga dengan Teluk Persia yang menjadi jalur utama pengiriman minyak ke berbagai kawasan dunia, selama ini didominasi Iran. Apapun alasannya, kedua negara ini harus aktif di meja perundingan dan harus melupakan, apa pun alasannya, untuk mengangkat senjata. Sejarah buruk politik perebutan kekuasaan harus diakhiri demi kemaslahatan ummat.
Kompas Siang, Senin, 11 Januari 2016 (Bagian 1: Iran Versus Arab Saudi, Sejarah yang Terulang)
Kompas Siang, Selasa, 12 Januari 2016 (Bagian 2: Arab Saudi pun Mulai Gerah)