Showing posts with label Geologi. Show all posts
Showing posts with label Geologi. Show all posts

Saturday, 22 May 2021

Waspadai Potensi Keberadaan Celah Seismik di Selatan Jawa Timur

Oleh DAHLIA IRAWATI/DEFRI WERDIONO/AGNES SWETA PANDIA

MALANG, KOMPAS — Daerah rawan gempa bumi di selatan Jawa Timur diminta mewaspadai potensi keberadaan zona gelap kegempaan atau celah seismik (seismic gap). Alasannya, zona itu rentan memicu kerusakan sangat besar bila tidak diperhatikan.

Deretan Panjang Gempa Merusak di Jawa yang Dilupakan

Oleh Ahmad Arif

Deretan gempa bumi berkekuatan menengah yang terjadi di Samudra Hindia di sebelah selatan Jawa Timur telah menimbulkan berbagai kerusakan. Banyak yang masih terkejut dengan kejadian ini padahal Pulau Jawa, termasuk Jawa Timur, memiliki deretan panjang gempa di masa lalu sehingga wajib dimitigasi, di antaranya dengan bangunan tahan gempa.

Wednesday, 13 January 2021

Waspada Sembilan Sesar Pemicu Gempa di Papua dan Papua Barat

 Oleh FABIO MARIA LOPES COSTA

JAYAPURA, KOMPAS — Masyarakat wajib mewaspadai pergerakan sembilan sesar atau patahan di wilayah Papua dan Papua Barat yang menyebabkan terjadi gempa bumi. Sepanjang tahun 2020 terjadi 1.597 kali gempa di kedua provinsi tersebut akibat pergerakan sembilan sesar tersebut.

Hal ini disampaikan Kepala Subbidang Pengumpulan dan Penyebaran Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah V Jayapura Dedy Irjayanto di Jayapura, Kamis (14/1/ 2021).

Dedy memaparkan, sembilan sesar atau patahan wajib diwaspadai masyarakat di Papua dan Papua Barat karena pergerakannya yang sangat aktif. Hal inilah yang memicu rawan terjadi gempa bumi tektonik.

Adapun sembilan sesar ini meliputi Sesar Sorong di Sorong dan Sesar Ransiki di Ransiki di Wilayah Papua Barat. Sementara di wilayah Papua adalah  Sesar Yapen di Wilayah Serui dan Biak, Zona Patahan Waipoga, Wandamen, Sesar Sungkup Weyland di Nabire dan sekitarnya, Zona Lajur Anjak Mamberamo di Wilayah Sarmi dan sekitarnya, zona pengangkatan Cycloop di Jayapura dan sekitarnya, serta Lajur Anjak Pegunungan Tengah di Wilayah Wamena dan sekitarnya.

Wednesday, 18 November 2020

Memahami Karakter Erupsi Gunung Merapi

 Oleh HARIS FIRDAUS

Untuk memahami karakter erupsi Gunung Merapi, kita perlu membaca kembali sejarah erupsi gunung api yang berlokasi di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu. Hal ini karena Merapi merupakan gunung api yang sangat aktif sehingga banyak mengalami erupsi.

Letusan Gunung Merapi meletus dengan tinggi kolom letusan mencapai 6.000 meter dengan durasi selama dua menit pukul 08.20 terlihat dari Desa Ketep, Sawangan, Magelang, Jawa Tengah, Jumat (1/6/2018). Letusan itu mengakibatkan hujan abu vulkanik di sejumlah kawasan di sekitar gunung tersebut. Warga di sejumlah dusun di lereng gunung tersebut mengungsi untuk menghindari dampak letusan. (KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO)

Friday, 18 September 2020

Potensi Tsunami di Selatan Jawa Bisa Mencapai 20 Meter

Oleh AHMAD ARIF 

Kajian terbaru menunjukkan potensi tsunami di selatan Jawa bisa mencapai ketinggian 20 meter. Ini agar diwaspadai dengan penguatan mitigasi di wilayah itu melalui tata ruang dan sistem peringatan dini tsunami.

Friday, 27 December 2019

Bumi Relatif Tenang, Kondisi Cuaca Bergolak

Sebanyak 11.573 gempa bumi terekam di Indonesia sepanjang tahun 2019. Meski demikian, tak terjadi bencana geologi sebesar tahun-tahun sebelumnya. Korban jiwa, kehancuran, dan kerugian ekonomi lebih banyak diakibatkan oleh bencana hidrometeorologi.
Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan, dari belasan ribu gempa bumi yang terjadi di Indonesia tahun ini, hanya 1.107 yang dirasakan. Sebanyak 344 gempa berkekuatan di atas M 5, dan 17 di antaranya menimbulkan kerusakan.

Friday, 13 December 2019

Amblesan Tanah di Cekungan Bandung

Bandung, Kompas – Kawasan cekungan Bandung dibayangi potensi bencana alam yang dipicu penurunan permukaan tanah akibat kondisi alam dan ulah manusia yang tinggal di sekitarnya. Regulasi terkait tata ruang dan pembangunan di daerah-daerah amblesan tanah sangat dibutuhkan sebagai langkah mitigasi bencana.
Badan Geologi menyebutkan, sebagian kawasan cekungan Bandung berpotensi mengalami penurunan muka tanah dengan laju 15-20 sentimeter (cm) per tahun. Daerah itu meliputi Kecamatan Dayeuhkolot, Majalaya, Banjaran, dan Rancaekek di Kabupaten Bandung, serta di Kota Cimahi. Sementara amblesan antara 5-10 cm per tahun terjadi di Kecamatan Gedebage (Kota Bandung) serta Kecamatan Banjaran dan Rancaekek (Kabupaten Bandung).

Friday, 15 November 2019

Waspadai Perulangan Kejadian di Laut Maluku

Jakarta, Kompas – Laut Maluku merupakan zona tektonik sangat aktif yang memiliki jejak panjang gempa bumi dan tsunami dengan skala lebih besar dan merusak. Gempa berkekuatan M 7,1 pada Jumat (15/11/2019) pukul 00.17 Wita harus menjadi pelajaran untuk mengantisipasi potensi bencana di masa datang.
Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa kali ini berada di kedalaman 73 kilometer dengan koordinat 1,67 Lintang Utara dan 126,39 Bujur Timur atau 137 kilometer barat laut Jailolo, Halmahera Barat, Maluku Utara. Pusat gempa ini hanya sekitar 50 kilometer dari pusat gempa tahun 2014.

Monday, 17 June 2019

Kondisi Cuaca di Indonesia Beragam

Kondisi cuaca di Indonesia beragam. Pergerakan massa udara basah Madden-Julian Oscillation meningkatkan curah hujan di sebagian daerah, tetapi area lain memasuki kemarau.
Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua memiliki zona iklim ekuatorial dan dua puncak musim hujan, April dan Desember. Peningkatan hujan pada area ini dipengaruhi pergerakan massa udara basah Madden-Julian Oscillation di sepanjang khatulistiwa secara periodik dari barat ke timur.
Fenomena berbeda terjadi di Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara Timur, yang beriklim monsunal dengan satu puncak musim hujan. Iklim monsunal dipengaruhi pergantian angin monsun dari Asia dan Australia.
Dikutip dari: Kondisi Cuaca Beragam, Kompas, Sabtu, 15 Juni 2019, halaman 10

Friday, 28 December 2018

Indonesia Diguncang 11.577 Gempa Sepanjang 2018

JAKARTA, KOMPAS ━ Frekuensi gempa bumi di Indonesia terus meningkat sejak lima tahun terakhir. Sepanjang 2018, terjadi 11.577 kali gempa, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2017 sebanyak 6.929 kali dan hampir empat kali lipat dibandingkan dengan 2013.
Berdasarkan data Pusat Gempa Nasional Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), selama 2018 aktivitas gempa di Indonesia didominasi dari sumber dangkal atau kurang dari 60 kilometer yang mencapai 9.585 kali. Gempa dengan kedalaman sumber menengah atau berkisar 61-300 kilometer terjadi 1.856 kali. Sementara gempa hiposenter dalam atau di atas 300 km hanya terjadi 136 kali.

Sunday, 9 September 2018

Luas Daratan Utara Lombok Tambah 400 hektar

Mataram, Kompas - Gempa besar yang terjadi beberapa kali di Lombok, Nusa Tenggara Barat, mengakibatkan daratan pesisir utara Pulau Lombok meningkat 15-40 sentimeter. Akan tetapi, terjadi penurunan permukaan tanah sekitar 21 sentimeter. Peristiwa itu mejadikan pesisir utara Lombok bertambah luas sekitar 400 hektar.
"Luasan areal yang bertambah baru perkiraan sementara berdasarkan pemodelan setelah gempa bermagnitudo 7,0 pada Minggu (5/8/2018) malam. Untuk itu, perlu penelitian lebih lanjut. Kalau daratan pesisir ada yang naik dan turun, itu pasti,: kata Widjo Kongko, ahli tsunami dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dihubungi dari Mataram, Jumat (7/9).

Wednesday, 20 June 2018

Danau Toba

Menurut ahli geologi dari Museum Geologi Bandung, Indyo Pratomo, Danau Toba yang terbentuk dari letusan gunung api raksasa di masa lalu ini merupakan danau vulkanik terbesar di dunia dengan luas sekitar 1.130 kilometer (km) persegi dan menampung sekitar 256,2 km kubik air.
Kedalaman maksimum danau ini adalah 508 meter (m)yang menjadikannya sebagai danau terdalam ke-9 di duniaterdapat di cekungan utara, sedangkan di cekungan selatan kedalaman maksimumnya mencapai 420 m. Kedalaman rata-ratanya adalah 228 m.
Dengan volume air sebesar itu, danau ini merupakan cadangan air tawar terbesar di Indonesia. Suplai air ke danau berasal dari beberapa sungai yang kebanyakan masuk dalam bentuk air terjun. Adapun aliran keluar (outlet) hanya melalui air terjun di hulu Sungai Asahan yang kemudian mengalir ke perairan Selat Malaka.

Saturday, 3 February 2018

Gempa Lebak Berasal dari Sumber Baru

Gempa berkekuatan M 6,1 di selatan Lebak, Banten, Selasa (23/1), bersumber pada patahan Palabuhanratu. Ini membawa konsekuensi ada sumber gempa pembangkit tsunami yang lebih dekat ke pesisir Banten-Jawa Barat.

Saturday, 27 January 2018

Mitigasi Antisipasi Gempa Besar

Meski kejadian gempa belum bisa diprediksi, potensi gempa besar di selatan Jawa harus diantisipasi. Bangunan dan infrastruktur harus diperkuat, dan pembangunan ke depan harus berdasarkan risiko gempa.

Saturday, 16 December 2017

Kerentanan Jawa Terhadap Gempa

Dalam peta gempa termutakhir diidentifikasi sumber gempa baru di Jawa. Jika pada peta gempa nasional 2010 jumlah sesar di Jawa hanya 4, kini jadi 34. Sesar baru antara lain sesar Kendeng memanjang di kawasan utara Jawa Timur sampai Jateng. Di Jabar, dipastikan keaktifan sesar Lembang dan Baribis. “Kami paling khawatir gempa dari zona subduksi di Samudra Hindia selatan Jawa berkekuatan bisa lebih dari M 8,7. Ini berpotensi tsunami,” kata Irwan Meilano, ahli gempa dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Irwan adalah Ketua Kelompok Kerja Geodesi Tim Revisi Peta Gempa Bumi Nasional 2017.

Saturday, 23 September 2017

Saatnya Gunung Agung Memberi Jeda

Oleh AHMAD ARIF
Letusan Gunung Agung di Bali tahun 1963 merupakan yang paling mematikan pada era setelah Indonesia merdeka. Letusan gunung api ini juga dikenal sebagai salah satu yang terkuat di abad ke-20. Namun, yang membuat letusan Gunung Agung dikenal secara global terutama karena dampaknya telah memicu pendinginan Bumi.

Sunday, 9 July 2017

Gunung Toba Belum Mati

Oleh AHMAD ARIF
Danau Toba di Sumatera Utara telah diketahui terbentuk dari letusan gunung api raksasa. Letusan terakhirnya, pada 74.000 tahun lalu, merupakan yang terkuat di Bumi dalam 2 juta tahun terakhir. Letusan itu ternyata bukanlah aktivitas terakhir vulkanologi Toba.

Thursday, 25 May 2017

Kota-kota Besar Dilintasi Sesar

Kajian Terbaru, Risiko Bencana Gempa Bumi di Indonesia Lebih Tinggi
JAKARTA, KOMPAS — Kota-kota besar di sepanjang pantai utara Jawa, mulai dari Surabaya, Semarang, hingga Cirebon, ternyata berada di jalur sesar gempa aktif. Sumber gempa yang melintasi kota-kota ini berada di dekat dengan pusat permukiman penduduk sehingga dikhawatirkan bisa menimbulkan kerusakan masif jika tak diantisipasi.
sesar.jpg
Jalur sesar aktif di Jawa. Sumber: Masyhur Irsyam, Tim Revisi Peta Gempa Bumi Nasional, PusGeN, 2017. Infografik: Ismawadi
Jalur sesar darat yang baru diidentifikasi itu disebut sebagai zona Kendeng, memanjang dari Jawa Timur hingga Jawa Tengah. Sesar ini merupakan kelanjutan jalur busur belakang (back arch) dari utara Pulau Flores dan menerus hingga utara Pulau Bali, dan masuk daratan di Jatim.
“Sesar Kendeng ini kemungkinan besar menyambung dengan sesar Baribis di Jawa Barat,” kata Irwan Meilano, ahli gempa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Geodesi Tim Revisi Peta Gempa Bumi Nasional, Kamis (25/5).
Sesar Kendeng ini merupakan satu dari ratusan sumber gempa baru yang ditambahkan dalam revisi peta gempa bumi nasional. Pada peta gempa nasional tahun 2010, jumlah sesar di Jawa hanya 4, kini jadi 34. Jumlah sesar baru yang ditemukan kini menjadi 295 zona, pada peta gempa bumi nasional 2010 hanya 81 zona.
“Data baru ini menunjukkan bahwa risiko bencana gempa bumi di Indonesia ternyata lebih tinggi dari perhitungan kita selama ini,” kata Irwan.
Implikasi penting
Danny Hilman Natawidjaja, ahli gempa bumi dari Lembaga Ilmi Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang juga Ketua Pokja Geologi Tim Revisi Peta Gempa Bumi Nasional mengatakan, penemuan sesar darat di sepanjang pantai utara Jawa ini memiliki implikasi penting bagi mitigasi bencana. Hal ini karena jalur gempa ini melintasi banyak kota besar dengan kepadatan tinggi.
“Beberapa kota besar yang dilintasi sesar ini adalah Surabaya, Semarang, dan Cirebon,” ujar Danny. Bahkan, menurut Danny, sesar aktif yang bergerak dengan kecepatan 5 milimeter per tahun ini kemungkinan menerus ke Jakarta.
Sesar Kendeng ini, kata Danny, bisa memicu gempa bumi hingga kekuatan Magnitude 7 di sekitar Kota Surabaya. Sekalipun sudah diidentifikasi bahwa zona Kendeng merupakan sesar naik yang aktif, periode keberulangannya belum diketahui.
“Beberapa gempa kecil sebenarnya terekam di zona ini, misalnya kejadian gempa bumi di Salatiga beberapa waktu lalu. Namun, kami belum bisa memastikan kapan gempa besarnya akan muncul,” kata Danny.
Satu hal yang penting, sesar darat yang berada di dekat kota tersebut harus diantisipasi. “Kita tentu ingat dengan gempa M 6 yang menyebabkan ribuan korban jiwa di Yogyakarta pada tahun 2006,” katanya.
Guru Besar Teknik Sipil ITB Masyhur Irsyam, yang juga Ketua Tim Revisi Peta Gempa Bumi Nasional, mengatakan, penambahan data baru kegempaan ini menuntut konsekuensi perubahan standar bangunan tahan gempa. Selama ini, sebagian besar korban dan kerugian akibat gempa disebabkan oleh kerusakan dan kegagalan struktur bangunan dan infrastruktur.
“Minimal, untuk bangunan baru yang akan dibangun harusnya mengikuti peta gempa nasional yang baru ini, yang otomatis standar kekuatannya akan naik, dan berarti juga menaikkan biaya konstruksi,” katanya.
Selain penambahan data sesar di Jawa, kata Irwan, ada sumber gempa baru di busur belakang Sumatera. Sumber gempa ini berada di antara zona subduksi dan sesar Sumatera. “Sebelumnya, kita hanya mengenal sumber ancaman gempa di Sumatera hanya dari zona subduksi dan sesar darat,” katanya. Perubahan ini meningkatkan ancaman bencana di Sumatera. (AIK)
Kompas, Jumat, 26 Mei 2017

Ratusan Sumber Gempa Baru Ditemukan

JAKARTA, KOMPAS — Para ahli menemukan ratusan jalur sesar baru yang sebelumnya tidak terdapat dalam peta gempa bumi nasional tahun 2010. Sebagian besar sumber gempa yang baru teridentifikasi ini berada di darat dan dekat dengan kawasan perkotaan. Data baru ini menjadi salah satu tambahan penting dalam memutakhirkan peta gempa bumi nasional 2017.
"Penambahan terutama untuk sumber gempa di zona sesar yang mencapai tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Dari 81 jalur sesar darat yang tertera dalam peta gempa bumi nasional tahun 2010 kini menjadi 295 jalur sesar," kata Guru Besar Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung Masyhur Irsyam, yang juga Ketua Tim Revisi Peta Gempa Bumi Nasional, Selasa (23/5), di Jakarta.
Penambahan jalur sesar yang signifikan ini di antaranya berada di zona busur belakang (back arch) di perairan sebelah barat Pulau Sumatera yang memanjang hingga selatan Pulau Jawa. Zona ini berada di antara jalur sesar darat Semangko dengan zona subduksi Samudra Hindia.
Jalur sesar lainnya yang baru teridentifikasi adalah sesar darat yang memanjang di kawasan pantai utara Jawa Timur hingga Jawa Barat. Sesar di darat ini berpotensi memicu gempa bumi yang bisa berdampak terhadap sejumlah kota besar, seperti Surabaya, Semarang, dan Cirebon.
Sejumlah sesar baru juga ditemukan di Sulawesi dan Papua. Selain penambahan data tentang sesar darat ini, menurut Irsyam, timnya juga memperbaiki lokasi episentrum atau pusat gempa yang telah dipetakan sebelumnya. "Ada 12.000 titik episenter gempa yang direlokasi," katanya.
Selain sumber gempa di zona sesar, pemutakhiran juga dilakukan untuk sumber gempa di zona subduksi. "Segmentasi sumber gempa di zona subduksi diubah, juga besarannya. Misalnya, di Sumatera sekarang menjadi lima segmen, dan jika satu segmen dulu maksimal potensi gempa M (magnitude) 8,6, sekarang menjadi M 8,9. Demikian juga kekuatan gempa di selatan Jawa juga naik," kata Ketua Kelompok Kerja Geologi Tim Revisi Peta Gempa Nasional Danny Hilman Natawidjaja.
Danny, yang juga ahli gempa dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, mengatakan, sejumlah sumber gempa baru ini sebelumnya tak teridentifikasi karena minimnya studi. Selain itu, sejumlah sesar teridentifikasi setelah terjadi gempa bumi, misalnya sesar Pidie Jaya yang memicu gempa bumi M 6,5 pada Desember 2016.
"Jika ada upaya penelitian yang sistematis, kemungkinan akan ditemukan lebih banyak lagi sesar yang sebelumnya tak terpetakan," kata Danny.
Menurut Danny, data peta revisi gempa telah diperbarui berdasarkan data dasar yang lebih baik, yaitu dari katalog Pusat Studi Gempa Nasional yang merekam kejadian seluruh gempa bumi di Indonesia pada 1907-2016. Data juga diperbaiki berdasarkan studi sesar aktif terkini dengan memanfaatkan survei geolistrik dan paleoseismologi yang dilakukan tim geologi.
Danny mengatakan, peta gempa nasional ini idealnya terus dimutakhirkan seiring penemuan baru, juga kebaruan metodologi, serta teknik perhitungan. "Dari data penambahan sumber-sumber gempa ini, pada akhirnya akan dibuat peta gempa nasional," katanya. Revisi data sumber gempa ini akan menjadi dasar perhitungan bagi penentuan Standar Nasional Indonesia untuk kekuatan konstruksi bangunan atau infrastruktur. (AIK)
Kompas, Rabu, 24 Mei 2017 

Friday, 17 February 2017

Zealandia, Benua yang Tersembunyi

Hipotesis ahli meteorologi dan geofisika asal Jerman, Alfred L Wegener, mungkin benar. Pada 1912, ia memiliki hipotesis bahwa di Bumi pernah ada satu benua raksasa yang dikelilingi lautan. Sekitar 200 juta tahun lalu, benua itu terpecah menjadi benua-benua kecil seperti sekarang.
mount cook.jpg
Gunung Cook, puncak tertinggi di Selandia Baru dan Zealandia
Hipotesis ini diperkuat dengan temuan dari penelitian yang dipublikasikan di jurnal Geological Society of America’s Journal, GSA Today, Jumat (17/2). Tim peneliti menemukan ada daratan seluas 4,9 juta kilometer persegi atau dua pertiga dari luas wilayah Australia. Sekitar 94 persen dari total luas itu terendam di bawah permukaan air Samudra Pasifik. Daratan itu diberi nama Zealandia. Puncak dari daratan itu sudah kita kenal baik karena terkenal dengan pegunungan tinggi dan indah di film Lord of the Rings. Selama ini kita mengenalnya dengan nama Selandia Baru.
Para peneliti yang berasal dari lembaga penelitian pemerintah Selandia, GNS Service, Victoria University of Wellington di Selandia Baru, The Service Geologique di Kaledonia Baru, dan The University of Sydney’s School of Geosciences itu menilai Zealandia memenuhi kriteria sebagai benua. Statusnya sama dengan tujuh benua lainnya, Asia, Eropa, Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Australia, dan Antartika.
Harian The Guardian menyebutkan, ahli geofisikawan Bruce Luyendyk dari Amerika Serikat adalah orang yang pertama kali menggunakan nama Zealandia untuk kawasan barat daya Pasifik itu pada 1995. Saat ini, peneliti memperjuangkan pengakuan Zealandia sebagai benua.
Zealandia dulu menjadi satu bagian dari benau besar Gondwana yang terpecah sekitar 100 juta tahun lalu. Gondwana adalah daratan luas yang dulu mencakup Australia dan tenggelam sekitar 60 atau 85 juta tahun lalu. “Benua yang masih terendam dan belum terpecah seperti ini sangat bermanfaat bagi kita untuk memahami penyatuan dan terpecahnya kerak benua,” tulis para peneliti.
Nick Mortimer, ahli geologi Selandia Baru yang juga ketua tim penulis laporan, menjelaskan, para peneliti sudah mengumpulkan data terkait dengan Zealandia selama lebih dari 20 tahun. Upaya mengungkap keberadaan Zealandia sulit dan membuat peneliti frustrasi karena daratan itu berada di bawah air. “Kalau saja kita bisa menguras lautan, akan kelihatan jelas ada rantai jajaran gunung dan benua yang besar,” ujarnya.
Dari total luasan Zealandia, hanya tiga daratan yang muncul ke atas permukaan air, yakni Pulau Utara dan Selatan Selandia Baru serta Kaledonia Baru. selebihnya, terendam di bawah air.
Situs BBC News menyebutkan, para peneliti menetapkan sejumlah kriteria untuk menentukan apakah daratan itu sebuah benua atau bukan. Ada empat kriteria, yakni profil ketinggian dibandingkan dengan  lingkungan sekitarnya, kondisi geologi yang khas, wilayah yang tertata dengan baik, dan kerak yang lebih tebal dibandingkan dengan dasar laut yang biasa. Ketebalan keraknya sekitar 10-30 kilometer dan makin tebal menjadi 40 kilometer sampai di bawah Pulau Selatan.
“Nilai ilmiah klasifikasi Zealandia sebagai benua jauh lebih penting daripada hanya tambahan nama di daftar,” kata para peneliti dalam laporan.
Belum ada lembaga penelitian yang secara formal mengakui keberadaan benua baru ini. Meski demikian, Mortimer berharap Zealandia akan menjadi bagian dari Bumi yang diakui dan akan muncul di peta serta diajarkan di sekolah.
Situs National Geographic menyebutkan, Zealandia masih menjadi perdebatan karena ahli geologi dan geografi kerap tak sependapat dengan teori pembentukan benua. Bagi ahli geografi, Eropa dan Asia adalah dua entitas terpisah. Adapun bagi pakar geologi, Eropa dan Asia merupakan satu daratan yang sama sehingga mereka menyebutnya Eurasia. (LUK)
GSATG321A.1-f01.gif
Peta sederhana lempeng tektonik dan benua, termasuk Zealandia (Mortimer et al, 2017)
GSATG321A.1-f02.jpg
Batas spasial Zealandia (Mortimer et al, 2017)
GSA.jpg
Kompas, Sabtu, 18 Februari 2017