Showing posts with label Kutipan. Show all posts
Showing posts with label Kutipan. Show all posts

Thursday, 21 June 2018

Kisah Docang

Aroma kuah oncom yang segar menyeruak di Warung Lasminah (55) di Jalan Kesambi, Kota Cirebon, Jawa Barat. Kuah itu dituang di atas piring berisi potongan daun singkong, taoge, lontong, dan parutan kelapa. Terakhir, hidangan ditambahi dengan kerupuk aci.
Itulah docang, makanan yang tak kalah pamornya jika dibandingkan dengan nasi jamblang atau empal gentong.

Wednesday, 20 June 2018

Danau Toba

Menurut ahli geologi dari Museum Geologi Bandung, Indyo Pratomo, Danau Toba yang terbentuk dari letusan gunung api raksasa di masa lalu ini merupakan danau vulkanik terbesar di dunia dengan luas sekitar 1.130 kilometer (km) persegi dan menampung sekitar 256,2 km kubik air.
Kedalaman maksimum danau ini adalah 508 meter (m)yang menjadikannya sebagai danau terdalam ke-9 di duniaterdapat di cekungan utara, sedangkan di cekungan selatan kedalaman maksimumnya mencapai 420 m. Kedalaman rata-ratanya adalah 228 m.
Dengan volume air sebesar itu, danau ini merupakan cadangan air tawar terbesar di Indonesia. Suplai air ke danau berasal dari beberapa sungai yang kebanyakan masuk dalam bentuk air terjun. Adapun aliran keluar (outlet) hanya melalui air terjun di hulu Sungai Asahan yang kemudian mengalir ke perairan Selat Malaka.

Sunday, 13 August 2017

Pu Luo Chung

Suatu ketika, di suatu masa, demikian menurut legenda, ada seorang lelaki bernama Sri Tri Buana atau Sang Nila Utama. Ia diceritakan sebagai putra pasangan Sang Sapurba dan Wan Sundaria, anak Demang Lebar Daun, penguasa Palembang pada masa itu. Sang Nila Utama menikahi seorang perempuan dari Bintan, Wan Sri Bini. Dan, tinggal di Bintan.
Pada suatu hari, ia berburu di sebuah pulau di lepas pantai Pulau Sumatera. Ia melihat seekor rusa. Rusa itu hendak dipanahnya, tetapi rusa telah lari sebelum panah dilepaskan. Sang Nila Utama mengejar rusa. Ia menaiki sebuah batu besar untuk mencari di mana gerangan rusa yang diburunya itu. Ketika Sang Nila Utama berdiri di atas batu besar, ia melihat ada pulau di seberang lautan. Pulau kecil itu berpantai bersih, putih, bagaikan selembar kain. Seorang pengawalnya mengatakan, pulau itu bernama Temasek.

Saturday, 25 February 2017

Abu Nawas

Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami (756-814) dikenal dengan nama Abu-Awas atau Abu-Nuwas. Salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik pada awal periode Abbasid atau Abbasiyah (750-1258) ini dilahirkan di Ahvaz, Persia, dan meninggal di Baghdad. Dalam tubuhnya mengalir darah Arab dan Persia. Ia digambarkan sebagai sosok yang bijaksana dan kocak, Abu Nawas, yang belajar di Basrah, lalu di Kufah di bawah bimbingan penyair Walibah ibn al-Hubah, kemudian dibimbing Khalaf al-Ahmar. Namanya disebut-sebut dalam kisah Seribu Satu Malam. Banyak yang mengatakan, karyanya mencerminkan gambaran masyarakat: lucu, sinikal, bahkan ironi kehidupan.
Dikutip dari: Trias Kuncahyono, “Abu Nawas”, Kompas, Minggu, 26 Februari 2017, halaman 4

Thursday, 19 January 2017

Media Asosial

Rezim digital itu memang ambigu. Satu sisi pertanda revolusi teknologi informasi yang menghubungkan umat manusia di Bumi, tanpa batas waktu dan teritori. Di sisi lain, senyampang revolusi teknologi itu, publik bukan semakin tercerahkan di titik puncak peradaban, melainkan justru melahirkan generasi yang semakin tak memiliki karakter berkeadaban.
Demokrasi digital dengan media sosialnya justru melahirkan anomali. Agresivitas dan kekasaran di dunia maya, ujar psikolog internet Graham Jones, antara lain karena anonimitas, yang bersuara keras tanpa ada risiko langsung. Kalau dunia nyata, ketika Anda ngomong seenaknya dan membuat jengkel lawan bicara, mungkin langsung disambut bogem mentah oleh lawan bicara Anda. Di dunia maya tidak ada mekanisme umpan balik adaptasi aksi-reaksi perilaku seperti itu.
Lebih lanjut, psikolog John Suller (Martin, 2013) menyebut enam hal yang mengubah perilaku pengguna internet, yaitu dissociative anonimity (Anda tidak tahu saya), invisibility (Anda tidak bisa lihat saya), asynchronicity (urusan nanti saja), solipsistic introjection (semua ada di kepala, tak ada orang lain), dissociative imagination (bukan dunia nyata, cuma permainan), minimizing authority (tak ada otoritas lebih, semua setara).
Media sosial pun semakin disesaki dengan komunikasi negatif, meniadakan kepedulian sesama. Interaksi sosial tidak terbangun positif. Ah, media sosial pun menjelma menjadi media asosial….
M SUBHAN SD, Media Asosial, Kompas, Kamis, 19 Januari 2017

Friday, 9 December 2016

Kutipan: Julius Karambage Nyerere

Makerere-at-90-Mwalimu-Julius-Kambarage-Nyerere-3.jpg
Saat berjuang menggapai kemerdekaan Tanzania yang multietnik pada 1950-an, Julius K Nyerere (13 April 1922 – 14 October 1999) ditanya, “Bagaimana bangsamu akan mencapai persatuan karena ada perbedaan prinsip?” Nyerere memberikan dua jawaban sederhana: selalu berbicara terbuka tanpa kebencian dan selalu bersahabat pada orang-orang yang berbeda (fisik ataupun ideologi).
Dikutip dari:
M Subhan SD: Solidaritas Bangsa. Koran Kompas, Sabtu, 10 Desember 2016

Monday, 4 January 2016

Sandiwara Politik Heboh Badut Senayan 2015

Di pengujung tahun 2015, Presiden FIFA Sepp Blater dan Presiden UEFA Michel Platini dihukum oleh FIFA. Dua tokoh kunci yang begitu melegenda di dunia sepak bola itu tak kebal juga. Komite Etik FIFA sebagaimana disampaikan hakim asal Jerman, Hans-Joachim Eckert, bahwa Blatter dan Platini dihukum karena bayaran senilai 1,35 juta poundsterling pada 2011. Mereka dilarang terlibat di kegiatan sepak bola selama delapan tahun ke depan. Padahal, sepak bola adalah darah kehidupan mereka.
butuh-badut.jpg
Sebelumnya, dalam waktu hampir sama, masih di sekitar pengujung tahun 2015, Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) tidak memberi putusan tegas terhadap Ketua DPR Setya Novanto dalam kasus ”papa minta saham” PT Freeport. Meskipun semua ”hakim yang mulia” MKD menyatakan Novanto melanggar etika, bahkan beberapa di antaranya mengategorikan berat, tetapi tidak memberi putusan begitu Novanto mundur dari Ketua DPR sebelum sidang putusan MKD rampung. Sidang MKD yang sempat membuat gaduh menjadi antiklimaks. Seakan-akan masalah pelanggaran etik selesai seiring mundurnya Novanto.
Inilah bedanya realitas di negara kita dan negara orang lain. Kalau Blatter dan Platini dihukum ”karier dan kehidupan masa depannya” sehingga peluang untuk mengulangi perbuatan dapat dicegah. Namun, Novanto bukan saja tidak dihukum ”karier dan masa depan kehidupannya” sebagai bentuk pertanggungjawaban seorang politisi yang merupakan pimpinan lembaga negara, malah justru dapat ”promosi” sebagai Ketua Fraksi Partai Golkar di DPR. Apakah pelanggaran etik dalam kasus ”papa minta saham” hanya berlaku untuk jabatan Ketua DPR. Apakah itu berarti anggota DPR boleh melakukan pelanggaran sejenis? Itulah sandiwara politik heboh tahun 2015.

Dikutip dari: M Shuban SD, Sekarang Sudah Tahun 2016, Kompas, Sabtu, 2 Januari 2016

Sunday, 26 July 2015

Kutipan Singkat: Yap Thiam Hien

“Jika Saudara hendak menang perkara, jangan pilih saya sebagai pengacara Anda karena kita pasti akan kalah. Tapi, jika Saudara cukup dan puas mengemukakan kebenaran Saudara, saya mau menjadi pembela Saudara.”

Demikian disampaikan Yap Thiam Hien saat diminta menjadi kuasa hukum dari Soebandrio, mantan Wakil Perdana Menteri Pertama Indonesia, yang merangkap Menteri Luar Negeri.

Yap Thiam Hien (Sumber: yapthiamhien.org)

Sejarah mencatat, Yap merupakan advokat yang menggunakan ilmu hukum untuk kemaslahatan bersama. Yap menjadi besar dengan sikapnya tersebut.

Namun, sejarah juga mencatat, jalan yang ditempuh Yap, yang adalah cucu Kapitan di Aceh, Yap Hun Han ini tidak selalu mulus.

Tahun 1968, misalnya, Yap ditahan selama seminggu karena membongkar kasus suap dan pemerasan oleh polisi. Tahun 1974, bersama Hariman Siregar, Adnan Buyung Nasution, HJC Princen, dan Mochtar Lubis, Yap juga ditahan tanpa peradilan karena membela aktivis mahasiswa saat Malapetaka 15 Januari (Malari) 1974.

Dua tahun lalu, dalam peringatan 100 tahun hidup Yap Thiam Hien, advokat Frans Hendra Winata mengatakan, Yap pasti merasa sedih melihat kondisi hukum saat ini seandainya dia masih hidup. “Terjadi kemerosotan penegakan hukum. Hukum kian diperdagangkan,” ujarnya.

Operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi terhadap tiga hakim Pengadilan Tata Usaha Negara Medan, seorang panitera, dan seorang advokat, yang kemudian dilanjutkan dengan langkah KPK menahan advokat OC Kaligis beberapa waktu lalu, menjadi salah satu contoh dari wajah buruk hukum Indonesia.

Dikutip dari:
HARYO DAMARDONO
Dunia Advokat: Jejak Langkah Alumni Sekolah Hukum…

Kompas, Rabu, 22 Juli 2015

Saturday, 14 February 2015

Invictus


Out of the night that covers me,
Black as the pit from pole to pole,
I thank whatever gods may be
For my unconquerable soul.

In the fell clutch of circumstance
I have not winced nor cried aloud.
Under the bludgeonings of chance
My head is bloody, but unbowed.

Beyond this place of wrath and tears
Looms but the Horror of the shade,
And yet the menace of the years
Finds and shall find me unafraid.

It matters not how strait the gate,
How charged with punishments the scroll,
I am the master of my fate,
I am the captain of my soul.

William Ernest Henley (1849-1903)

Tuesday, 29 April 2014

Kutipan: Bung Hatta

Perang Padri berawal dari pertentangan kaum adat dan kaum agama. Guru-guru agama yang baru kembali dari Mekkah, yang di sana terpengaruh dengan sikap keras dan murni kaum Wahabi, mau membersihkan agama Islam di Minangkabau dari berbagai perbuatan yang diadatkan seperti mengadu ayam, makan sirih, dan mengisap cerutu. Beberapa bagian dari hukum adat dianggap mereka bertentangan dengan hukum-hukum Islam. Mereka lupa bahwa hukum yang setinggi-tingginya dalam Islam ialah damai. Damai membawa kesejahteraan kepada segala golongan dan memperbesar rasa bakti kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Di atas dasar damai itu Nabi Muhammad SAW membiarkan berlaku hukum kebiasaan di Tanah Arab yang menjamin keselamatan umum. Tetapi, menurut kebiasaan, pengikut-pengikut baru dalam Islam yang belum memahami ajaran Islam seluruhnya untuk dunia dan akhirat lebih fanatik dibandingkan dengan Rasul dan pengikut-pengikut yang pertama.
(Mohammad Hatta)
Diambil dari: Hatta M (2011) Untuk Negeriku: Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi. Jakarta: Penerbit Buku Kompas

Monday, 2 December 2013

Agama dan Instrumen Negara

Kualitas keberagamaan dan moralitas seseorang tidak bisa diraih tanpa dilandasi kesadaran dan kebebasan dalam menentukan tindakannya. Al Quran menegaskan, tak ada paksaan dalam beragama. Ketulusan dan keikhlasan beragama akan hilang jika dilakukan di bawah ancaman dan paksaan.
Dalam jargon keagamaan, hidup ini ibadah, semuanya tertuju hanya pada Allah. Namun, implementasi dan konsekuensi mengabdi pada Allah adalah juga mencintai dan melayani manusia. Jadi, siapa yang ingin dekat kepada Tuhan haruslah hatinya juga dekat dengan manusia. Siapa yang ingin bersih di hadapan Tuhan haruslah bersih di hadapan manusia.
Itulah sebabnya Al Quran secara tegas mengkritik, orang yang rajin melakukan ritual keagamaan, tetapi kalau tidak peduli terhadap agenda perbaikan sosial, seperti menyantuni orang miskin dan anak yatim, mereka dianggap mendustakan agama. Pura-pura beragama.
Komaruddin Hidayat
Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Agama dan Instrumen Negara
Kompas, 18 Agustus 2012