Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Monday, 26 December 2022

Seluk-beluk Qatar

Oleh SUMANTO AL QURTUBY

Kesejarahan sosial Qatar penuh dengan intrik, konflik, dan kekerasan, Sangat kontras dengan gambaran Qatar kontemporer yang relatif sepi dari kekerasan komunal dan konflik terbuka.

Meski banyak mata kini tertuju ke Qatar lantaran menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022, tak banyak yang mengetahui seluk-beluk Qatar.

Termasuk soal kesejarahan, struktur sosial-politik, kondisi geokultural, potret hak asasi manusia (HAM), atau sistem dan praktik keagamaan di negara ini. Sejauh ini Qatar hanya dikenal sebagai negara minyak yang kaya dan makmur. Di kawasan Arab Teluk (baca, negara-negara Arab di area Teluk Arab atau Teluk Persia), popularitas Qatar tenggelam oleh Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).

Saudi populer karena negara monarki ini jadi tempat haji dan umrah umat Islam seluruh dunia, selain faktor ekspansi Wahabisme ke banyak negara melalui proyek dakwah, pendidikan, beasiswa, dan penerbitan. Kini, Saudi kian populer lantaran gerakan masif modernisasi budaya dan moderatisasi agama, sementara UEA karena praktik ”liberalisasi” dan modernisasi yang sudah berlangsung lama mendahului negara kawasan Teluk Arab lain.

Jejak Yahudi di Arabia

Oleh SUMANTO AL QURTUBY

Dari aspek sejarah, Yahudi merupakan bagian integral dari Arabia serta turut membentuk peradaban dan kebudayaan masyarakat Arab masa lampau. Bukan tak mungkin Saudi dan Israel kelak akan menjalin hubungan diplomatik.

Belum lama ini seorang warga Israel-Yahudi kelahiran Arab Saudi bernama David Shunker menulis sebuah surat yang cukup mengharukan. Surat yang ditulis di Wall Street Journal itu ditujukan kepada Raja Salman dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Shunker yang usianya mendekati 80 tahun memohon diizinkan mengunjungi desa kelahirannya di Najran (dulu masuk wilayah Yaman, tetapi sejak 1934 jadi teritori Arab Saudi).

Beda dengan Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, Maroko, dan Jordania, Saudi tak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel sehingga warga negara di kedua negara itu tak bisa leluasa saling mengunjungi.

Shunker bersama ratusan warga Yahudi Najran berbondong-bondong meninggalkan Saudi menuju Israel—sebagian berjalan kaki, yang lain naik unta—sesaat setelah pendirian negara Israel tahun 1948.

Budaya di Timur Tengah, Agama di Indonesia

Oleh SUMANTO AL QURTUBY

Busana dan bahasa adalah produk budaya yang tak ada hubungannya dengan ajaran agama dan tingkat kesalehan seseorang. Kesalehan dan religiositas seseorang ditentukan moralitas, perilaku, dan komitmen sosial-kemanusiaan.

Menarik memperhatikan perbedaan sikap, pendapat, pandangan, persepsi, bahkan keyakinan antara (sebagian) umat Islam di Indonesia dan Timur Tengah mengenai berbagai hal menyangkut isu-isu sosial, kebudayaan, dan keagamaan.

Misalnya, banyak hal yang oleh umat Islam di Timur Tengah dianggap sebagai bagian dari produk kebudayaan, tetapi oleh kaum Muslim Indonesia dipandang sebagai bagian dari ajaran keagamaan (keislaman).

Salah satu isu yang menonjol dalam hal ini pandangan masyarakat mengenai busana. Sebagian umat Islam di Indonesia cenderung mengaitkan jenis busana tertentu, misal jilbab, hijab, kerudung, cadar (niqabburqa, dan lainnya), gamis (jubah), baju koko, atau sarung, dengan identitas keislaman dan bahkan ajaran keagamaan.

Friday, 16 April 2021

Puasa Lintas Tradisi

Oleh AHMAD NAJIB BURHANI 

Puasa merupakan praktik menahan atau membatasi diri, seperti dari makanan dan minuman, yang dilakukan oleh berbagai tradisi dalam masyarakat dunia sejak dulu kala. Puasa bisa bermotif agama, budaya, kesehatan, politik, atau lainnya.

Di Jawa, seperti ditulis Clifford Geertz (1964), puasa merupakan ritual yang banyak dilakukan masyarakat dari seluruh tingkatan kelas dengan tujuan ”untuk kekuatan dan intensitas spiritual”. Melalui ritual puasa, seseorang akan bisa meningkatkan kesaktian, kekuatan spiritual, atau kemampuan supranaturalnya.

Saturday, 26 October 2019

Ayo Tidur Satu Jam Lagi

Oleh M ZAID WAHYUDI
Untuk memiliki berat tubuh ideal, kulit cantik, fisik sehat, berpikir aktif, emosi terkendali, dan produktif, pola makan sehat dan olahraga teratur saja tak cukup. Waktu tidur yang cukup juga penting.
Jam masih menunjukkan pukul 07.00, Senin (21/10/2019). Kereta komuter dari Serpong menuju Tanah Abang, Jakarta Pusat, padat penumpang. Namun, itu tak menghalangi sebagian penumpang tidur memejamkan mata walau harus bergelantungan pada pegangan tangan atau bersandar di pintu kereta.
Suasana serupa mudah ditemukan di berbagai moda transportasi di Jakarta pada pagi hari. Perjalanan rumah dan tempat kerja yang memakan banyak waktu dimanfaatkan komuter tidur sejenak, menuntaskan kantuk akibat tak cukup tidur malam.
Orang dewasa, berumur 18-64 tahun, seharusnya tidur 7-9 jam per malam. Namun, waktu tidur rata-rata orang Indonesia kurang dari itu. "Waktu tidur orang Indonesia rata-rata 6,95 jam," kata Andreas Prasadja, dokter ahli tidur dari Klinik Mendengkur dan Gangguan Tidur, Pondok Indah, Jakarta, Jumat (25/10), mengutip sebuah survei.

Wednesday, 2 January 2019

Akulturasi Makanan di Indonesia

Berbagai makanan khasi dari daerah-daaerah di Indonesia banyak terpengaruh dari kebudayaan lain.


Selat Solo

Akulturasi Budaya: Belanda, Eropa
Makna: Dahulu makanan daging dengan perpaduan sayuran, seperti wortel, buncis, tomat, dan selada, sering disajikan untuk kaum kolonial. Mereka menyebutnya slachtje yang berarti salad. Penyebutan di Indonesia bergeser menjadi selat.


Nasi Goreng

Akulturasi Budaya: China
Makna: Sudah ditemukan di Nusantara sejak tahun 4000 Sebelum Masehi. Kebiasaan masyarakat Tionghoa yang tidak suka dengan makanan dingin sehingga mereka memasak kembali nasi dingin dengan menambah bumbu.


Bakso

Akulturasi Budaya: China
Makna: Di Tiongkok makanan yang dibuat dari daging giling sapi, ikan, atau babi dengan tepung tapioka ini dikenal dengan sebutan rou wan dalam dialek Hokkian.


Sekoteng

Akulturasi Budaya: China
Makna: Sebutan "sekoteng" berasal dari bahasa Hokkian, su ko thung atau si guo tang (sup empat buah-buahan).


Soto

Akulturasi Budaya: China dan India
Makna: Sebutan soto berasal dari bahasa Hokkian, caudo atau sauto berarti rerumputan jeroan atau jeroan berempah.


Lumpia

Akulturasi Budaya: China
Makna: Sebutan lumpia berasal dari bahasa Hokkian lun pia atau kue bulat. Ini merupakan panganan tradisional khas Tionghoa.


Semur

Akulturasi Budaya: Belanda
Makna: Mengadopsi teknik memasak daging atau ayam dari Belanda dengan api kecil.

Kompas, Rabu, 2 Januari 2019

Tuesday, 31 July 2018

Asal-usul Petani Padi Indonesia

Oleh AHMAD ARIF
Penyebaran padi di Asia Tenggara menjadi titik awal berkembangnya teknologi budidaya tanaman di kawasan ini dan perlahan menggeser budaya berburu-meramu ("hunter-gatherer") yang lebih dulu berkembang. Dengan melacak migrasi manusia di masa lalu, kita bisa merekonstruksi penyebaran budaya bercocok tanam padi hingga ke Indonesia.

Thursday, 21 June 2018

Kisah Docang

Aroma kuah oncom yang segar menyeruak di Warung Lasminah (55) di Jalan Kesambi, Kota Cirebon, Jawa Barat. Kuah itu dituang di atas piring berisi potongan daun singkong, taoge, lontong, dan parutan kelapa. Terakhir, hidangan ditambahi dengan kerupuk aci.
Itulah docang, makanan yang tak kalah pamornya jika dibandingkan dengan nasi jamblang atau empal gentong.

Sunday, 13 May 2018

Persaudaraan yang Membangun

Oleh A PONCO ANGGORO, MAHDI MUHAMMAD
Sejarah Bagansiapi-api tidak dapat dilepaskan dari berbagai etnis yang tinggal di ibu kota Kabupaten Rokan Hilir, Riau, tersebut. Kerja sama antarwarga yang beragam menjadi modal utama pembangunan daerah itu.

Saturday, 12 May 2018

Masa Jaya Lagu Anak-anak di Layar Kaca

Oleh CHRIS PUDJIASTUTI
Sekitar pertengahan tahun 1960-an sampai 1970-an, anak-anak usia taman kanak-kanak dan sekolah dasar “dimanjakan” lewat lagu-lagu yang memang diperuntukkan bagi mereka. TVRI, kala itu, memberikan porsi acara nyanyi-menyanyi untuk anak-anak. Salah satunya lewat acara Ayo Menyanyi asuhan AT Mahmud dan Bu Fat, diiringi piano Bu Meinar.

Saturday, 5 May 2018

Potehi Indonesia Menolak Punah

Represi kolonial Belanda dan merebaknya diskriminasi rasial pada era 1960-an tidak mampu menghapuskan tradisi wayang potehi di Indonesia.
JAKARTA, KOMPAS - Wayang potehi hadir di Nusantara bersama para perantau Tionghoa etnis Hokkian dari China Daratan sekitar abad ke-16. Eksistensi wayang potehi berulang kali terancam, mulai dari masa kolonial Belanda, Orde Lama, hingga Orde Baru, seiring munculnya pergolakan politik dan merebaknya diskriminasi rasial terhadap etnis Tionghoa.

Friday, 10 March 2017

Lubna S Olayan Tembus Tabir Budaya Puritan

Oleh MUSTHAFA ABD RAHMAN
Di Arab Saudi, ada seorang perempuan yang mampu menembus tabir kungkungan budaya negara itu terhadap kaum perempuan. Dialah Lubna S Olayan (61), yang kini dikenal pengusaha sukses.
glo-09-15-15-e16-lubna-olayan.jpg
Lubna Olayan. (Fortune/Daniel Acker)
Ia sekarang memimpin lebih dari 40 perusahaan keluarga, di antaranya sebagai CEO perusahaan keluarga Olayan, yang bergerak di bidang pasar modal dan keuangan. Perusahaan Olayan pada dua bidang itu kini merupakan salah satu perusahaan terbesar di Arab Saudi dari Timur Tengah.
Majalah Forbes tahun 2011 dan 2014 menobatkan Lubna S Olayan sebagai salah seorang dari 100 perempuan terkuat dan paling berpengaruh di dunia. Majalah Time tahun 2005 menobatkannya sebagai salah seorang dari 100 perempuan yang paling berpengaruh.
Lubna S Olayan direkrut Deputi Putra Mahkota Pangeran Mohammad bin Salman sebagai bagian dari lokomotif “Visi Arab Saudi 2030”, yang mengusung program era Arab Saudi pasca migas. Pangeran Mohammad bin Salman memang gencar merangkul para pengusaha potensial Arab Saudi untuk ikut mendukung, menyukseskan, dan bahkan merancang proses jalannya Visi Arab Saudi 2030.
Kisah kesuksesan Lubna S Olayan adalah cerita tentang kultur keluarga Olayan yang modern dan melampaui kultur mayoritas masyarakat Arab Saudi yang puritan dan konservatif. Lubna S Olayan lahir pada 4 Agustus 1955 dari pasangan Sulaiman Olayan dan Maryam binti Jassim al-Abdulwahab.
Sang ayah, Sulaiman Olayan, adalah seorang saudagar kaya sejak era Raja Abdulaziz al-Saud (1932-1953). Sulaiman juga dikenal dekat dengan keluarga Dinasti Abdulaziz al-Saud, mulai dari Raja Abdulaziz sendiri, Raja Al-Saud, hingga Raja Faisal.
Sulaiman merintis usaha dan membangun perusahaan tahun 1947. Olayan kini menjadi kelompok usaha konglomerasi dengan nilai kapital sekitar 10 miliar dollar AS. Kelompok usaha itu bergerak di berbagai bidang usaha, seperti distribusi, manufaktur, jasa, dan investasi. Kelompok Olayan kini juga banyak bermitra dan berkolaborasi dengan perusahaan multinasional dari mancanegara.
Sulaiman Olayan mendidik putra-putrinya secara modern untuk bisa menjawab tantangan zaman. Ia mengirim putrinya, Lubna S Olayan, ke Amerika Serikat untuk menempuh pendidikan tingginya. Lubna S Olayan mendapat gelar sarjana di bidang pertanian dari Universitas Cornell, AS, tahun 1977, lalu meraih gelar MBA dari Universitas Indiana tahun 1979.
Mulai tahun 1983, Lubna S Olayan mulai mendapat kepercayaan keluarga untuk menduduki posisi penting di perusahaan. Awal tampilnya Lubna S Olayan di ranah publik melalui posisi penting di perusahaan keluarga pada awal 1980-an merupakan terobosan besar keluarga besar Olayan dalam menembus tabir budaya puritan terkait dengan dunia perempuan di Arab Saudi saat itu.
Sejak awal 1980-an, Lubna S Olayan meniti karier cukup cemerlang di perusahaan keluarganya. Pada 2004, ia dipilih sebagai Dewan Direksi Saudi Holandi Bank, yang sahamnya dimiliki keluarga besar Olayan. Tahun itu juga, ia perempuan pertama dalam sejarah Arab Saudi yang menyampaikan sambutan pembukaan pada forum konferensi ekonomi di Jeddah.
Pada September 2006 hingga April 2007, ia menjadi penasihat internasional Dewan Direksi Citigroup dan Rolls-Royce. Ia sekarang juga menjadi anggota dewan bisnis internasional Forum Ekonomi Dunia (WEF), yang berbasis di Davos, Swiss.
Kompas, Sabtu, 11 Maret 2017

Friday, 3 March 2017

Perempuan (Arab Saudi) Pun Berkarier Cerah

Oleh MUSTAFA ABD RAHMAN
Ada kabar baik dari Arab Saudi terkait perkembangan kaum perempuan di negara tersebut. Kaum perempuan di Arab Saudi dalam beberapa waktu belakangan mulai mampu mendobrak dinding tebal budaya yang selama ini mengekang mereka.
Para srikandi Arab Saudi kini mulai menduduki posisi penting di sejumlah sektor kehidupan, antara lain bisnis dan politik. Kesuksesan mereka meniti karier tampak mengesampingkan polemik terkait soal perempuan di negara itu yang masih dilarang menyetir mobil.
Cerita perempuan Arab Saudi yang masih dilarang menyetir mobil hanyalah bagian dari segelintir cerita tak menggembirakan mengenai nasib mereka. Sesungguhnya, ada lebih banyak cerita menggembirakan terkait perempuan di Arab Saudi.
Bahkan, sekarang, cerita gemerlap mengenai perempuan Arab Saudi sudah tak bisa hanya menyangkut perempuan dari lingkungan dinasti Raja Abdulaziz al-Saud, seperti Putri Ameerah serta Putri Deena Aljuhani.
Putri Ameerah merupakan mantan istri konglomerat Pangeran Waleed bin Talal bin Abdulaziz. Adapun Putri Deena Aljuhani adalah istri Pangeran Sultan bin Fahd bin Nasser bin Abdulaziz.
Putri Ameerah memang cukup populer. Namanya cukup sering disebut oleh media Barat karena posisinya sebagai istri Pangeran Waleed bin Talal yang sangat terkenal.
ameerah dan deena.jpg
Putri Ameerah Al-Taweel dan Putri Deena Aljhani
Cerita menggembirakan mengenai perempuan Arab Saudi kini juga meliputi nama Sarah al-Suhaimi. Ia menjabat sebagai Direktur Utama NCB (National Commercial Bank) sejak tahun 2014 serta menjadi CEO Tadawul, perusahaan yang bergerak di pasar uang. Sarah al-Suhaimi menjadi perempuan Arab Saudi pertama yang memimpin perusahaan keuangan.
sarah al-suhaimi.jpg
Sarah al-Suhaimi
Sarah al-Suhaimi meraih gelar S-1 di bidang akuntansi dari Universitas al-Sau. Ia juga menyelesaikan pendidikan non-gelar di bidang manajemen di Universitas Harvard, Amerika Serikat, tahun 2015.
Ada lagi nama Lamia al-ajaji yang menjabat Direktur Intilaq Alia. Perusahaan tersebut bergerak di bidang penyelenggaraan acara atau event organizer (EO). Lamia al-ajaji berada di balik acara-acara besar di Riyadh, Jeddah, serta Dhahran.
Ada pula nama Latifa Sabhan. Ia merupakan Direktur Keuangan Bank Nasional Arab.
Masih ada lagi nama Rania Mahmoud Nashar. Ia sekarang sibuk sebagai Direktur Eksekutif Bank Samba Arab Saudi. Rania tercatat sebagai perempuan Arab Saudi pertama yang memimpin bank.
rania mahmoud nashar.jpg
Rania Mahmoud Nashar
Rania berkarier di dunia perbankan selama 20 tahun hingga menempati jabatan direktur eksekutif. Gelar S-1 diraihnya dari Universitas al-Saud di bidang teknologi informasi. Lantas, ia mengantongi S-2 di bidang bisnis administrasi dari Universitas George Washington, AS.
Ada juga nama Nahed Taher, yang menjadi Direktur Umum Bank Investasi. Ia meraih S-2 dan S-3 ekonomi internasional di Universitas King Abdulaziz, Jeddah.
nahed-taher.jpg
Dr Nahed Taher
Majelis Syura
Peran perempuan juga kian terasa di bidang politik. Kini, ada 30 perempuan yang menjadi anggota Majelis Syura Arab Saudi. Mereka ditunjuk dan dilantik oleh almarhum Raja Abdullah bin Abdulaziz, 2013.
Tampilnya kaum perempuan Arab Saudi di berbagai posisi puncak di sektor ekonomi adalah bagian dari gerakan reformasi sosial dan ekonomi yang tengah berlangsung di Arab Saudi. Hal itu terjadi akibat ketidakpastian pasar minyak yang memaksa Arab Saudi untuk mulai lebih banyak mempekerjakan perempuan.
Arab Saudi memiliki program untuk mempromosikan 28 persen perempuan memasuki dunia kerja hingga tahun 2020. Pada 2016, hanya 23 persen perempuan masuk ke dunia kerja.
Lembaga riset Jadwa Investment mengungkapkan, pengangguran di kalangan perempuan di Arab Saudi pada 2016 mencapai 34,4 persen. Adapun pengangguran di kalangan laki-laki hanya 5,7.
Kompas, Sabtu, 4 Maret 2017

Friday, 3 February 2017

Dari "Kuppuru"

Oleh SAMSUDIN BERLIAN
Dari mana datangnya kafir? Jauh di hulu sejarah adalah satu kata dalam bahasa-bahasa Semit yang menggambarkan gerak tangan mengusap di atas suatu permukaan. Dari situ berkembanglah dua makna utama. Pertama, menggosok (hingga ada yang lepas), misalnya dalam rangka membuang lapisan kotoran, mencuci; dan kedua, memoles (hingga ada yang tambah), misalnya dalam rangka mengecat, melapis. Kata ini ditrasliterasikan sebagai k-p-r atau k-f-r karena aslinya bunyi p dan f dituliskan dengan huruf yang sama dan bunyi vokal tidak dituliskan sebagai huruf; semua huruf Semit adalah konsonan. Semit–dari nama Sem, putra pertama Nuh–adalah rumpun bahasa yang dipakai luas oleh bangsa-bangsa di Timur Tengah. Dalam bentuk tertulis ia lahir pada 5.000 tahun lalu di fajar peradaban yang merekah di antara Sungai Efrat dan Tigris. Salah satu kekhasan bahasa-bahasa Semit–yang mencakup, tapi tidak terbatas pada, Ibrani (Israel) dan Arab–adalah akar verba yang dirangkai dari tiga huruf.
Bahasa Semit yang pertama kali menonjol dalam sejarah adalah Akkadia. Bangsa Akkadia mencapai puncak kejayaan pada lebih dari 4.000 tahun lalu di lembah-lembah Mesopotamia. Selama 200 tahun ia menguasai wilayah yang sekarang bernama Irak, Kuwait, Syria, Lebanon, serta sebagian Turki dan Iran; yakni belahan timur Sabit Subur. Nenek moyang Abraham atau Ibrahim–yang sangat dimuliakan dalam iman Yahudi, Kristen, dan Islam–berasal dari Ur, kota pelabuhan dan perdagangan penting Kerajaan Akkadia.
Bahasa Akkadia mengenal kata kuppuru, kaparu, dan bentukan-bentukan lain yang dalam pemakaian sehari-hari berarti mengusap, menggosok atau mengelap (sampai bersih), mencuci, menghapus. Juga berarti memoles, misalnya, sebagai istilah teknis dalam pembuatan tembikar. Sebagai istilah agama, kuppuru bermakna menghapus kenajisan atau dosa sehingga menjadi tahir, murni, atau suci. Kuppuru juga adalah upacara agama. Teks Akkadia menggambarkan upacara menghapus dosa yang melibatkan kegiatan mencuci tangan, mencuci kuil dan peralatannya, membakar kemenyan, membuang barang najis ke padang gurun, dan menyembelih kambing jantan sebagai korban, darahnya diusapkan ke kuil untuk menyucikannya. Jadi ada kegiatan menggosok sehingga kotoran terhapus atau mengoles sehingga yang bersih menutupi yang kotor; yang lama terlihat baru. Konsep bahwa kenajisan ritual itu seperti kotoran yang bisa dan harus dicuci bersih, bahwa kehidupan manusia perlu ditebus dari dosa yang menajiskan dan mematikannya–seperti utang darah yang harus dibayar dengan darah korban sembelihan–tetap dipegang banyak orang dan masyarakat yang menjadi ahli waris iman-iman Semitik sampai sekarang, dalam berbagai versi dan varian ajaran.
Salah satu bentu upacara kuppuru yang mungkin tidak asing bagi kita adalah membebankan atau memindahkan secara ritual segala dosa manusia pada seekor kambing yang kemudian disembelih dan mayatnya dibuang ke sungai. Dalam adaptasi tradisi Ibrani, selain ada yang disembelih, ada pula seekor kambing jantan yang dibuang dengan cara dilepaskan (sebagai hukuman, karena sudah menjadi najis oleh dosa manusia) ke padang gurun yang mematikan. Itulah cikal bakal konsep kambing hitam.
scapegoat.jpg
Kambing hitam adalah seekor kambing yang dilepaskan ke padang gurun sebagai bagian dari upacara Yom Kippur, Hari Pendamaian, dalam Yudaisme. Ritus ini dilukiskan dalam Kitab Imamat 16. (Wikipedia)
K-p-r atau k-f-r berkembang dalam banyak makna. Dari pengertian memoleskan suatu lapisan ke permukaan, ia kemudian menyandang makna menutup atau menutupi. Karena secara keagamaan yang bisa ditutupi dan dilucuti bukan hanya kenajisan atau dosa, tapi juga kebenaran, timbullah dua makna utama yang saling bertolak belakang. Kalau yang ditutupi adalah kebenaran atau keimanan, maknanya negatif. Kalau yang ditutupi adalah keburukan, maknanya positif. Kadang-kadang satu kata yang sama bisa memiliki berbagai arti yang berbeda, bahkan berlawanan.
Dalam bahasa Ibrani, beragam arti k-p-r termasuk membersihkan, mengalihkan, mewakili, mengganti-rugi, menebus, menutupi, menyangkali. Secara ritual, k-p-r mengacu pada tindakan melepaskan dosa dan akibat dosa dari manusia. Kata kipper secara positif berarti menutupi, menyembunyikan, yakni perihal dosa atau kenajisan dari pandangan Allah. Karena Tuhan mahamelihat, itu berarti dosa bukan hanya tersembunyi, tapi memang sudah lenyap. Tuhan berhenti marah. Maka, timbul pula arti mendamaikan (antara Allah dan manusia), yang menjadi makna ritual yang utama. Kefira sebaliknya berarti ajaran yang tidak sesuai dengan dogma umum agama Yahudi. Kofer berarti ganti rugi atau tebusan, dalam rangka membayar utang dosa kepada Tuhan. Tapi, kofer juga berarti orang yang menutupi kebenaran, jadi dipakai sebagai label untuk orang Yahudi yang tidak percaya kepada Taurat atau yang menolak iman Yahudi.
Orang Yahudi, bahkan yang tidak beragama Yahudi, merayakan hari raya paling utama mereka, Yom Kippur, Hari Pendamaian dan Pertobatan–ketika manusia mengadakan ritual untuk berdamai dengan Allah–pada bulan ketujuh kalender Yahudi, sama dengan saat upacara Kuppuru pada kalender Akkadia, dengan mempersembahkan korban dan sebagai hari penyucian. Yom Kippur selalu jatuh pada hari sabat, dari Jumat saat matahari terbenam sampai Sabtu saat yang sama. Dunia mengenal istilah Yom Kippur sebagai perang, yang dimulai pada hari raya itu, antara koalisi Arab lawan Israel 6-25 Oktober 1973. Karena terjadi pada bulan puasa, disebut juga Perang Ramadan. Adalah ironi bahwa orang Yahudi biasa berpuasa total selama 25 jam pada Yom Kippur sambil berpakaian serba putih. Ramadan adalah bulannya bulan, Yom Kippur adalah sabatnya sabat. Itulah perang di antara orang-orang yang sama-sama sedang berpuasa dan berdoa.
Dalam bahasa Arab, kafara berarti menutupi. Dalam dunia pertanian kata itu lalu berarti menanam, yakni menutupkan tanah di atas biji atau benih. Alkuffar bisa juga diterjemahkan petani. Kafr juga berarti desa, tempat tinggal petani, sama dengan kfar dalam Ibrani. Dalam hukum, kaffarat berarti ganti rugi, analogis dengan penebusan ritual. Karena apa-apa yang ditutupi menjadi tak terlihat, timbullah arti menyembunyikan. Dari pengertian menyembunyikan kebenaran seperti kegelapan malam menutupi cahaya ilahi, berkembanglah makna menyangkal, menolak, tidak percaya, menutup hati, tidak bersyukur. Inilah yang kini menjadi makna utama kata kafir di seluruh dunia–orang yang tidak percaya kepada atau menolak Allah.
Dalam bahasa Indonesia, sejak dulu kita kenal kata makian keparat, yang juga berarti kafir, tapi biasanya dipakai tanpa acuan religius. Pada saat ini kafir telah menjadi kata kontroversial yang dipakai atau ditolak-pakai dengan berbagai alasan keagamaan, sosial, dan politik. Ada yang menembakkan kafir ke segala arah kepada siapa pun yang tidak bersetuju dengannya. Ada yang rajin melakukan takfir. Ada yang tidak mau melabelkan kafir kepada siapa pun dan apa pun. Karena takfir sangatlah sensitif dan berpotensi menimbulkan gejolak sosial, otoritas negara kadang-kadang diminta atau terpaksa turun tangan. Undang-Undang Dasar Tunisia, misalnya, melarang fatwa takfir.
Agama Kristen lahir dari rahim Yahudi dan pada awalnya secara lisan memakai bahasa Aram yang juga termasuk rumpun Semit. Tapi, secara tertulis bahasa utama kitab dan surat Perjanjian Baru adalah Yunani, yang tidak termasuk Semit, karena itu secara linguistik etimologis kata hilasmos dan eksilasetai (keduanya berarti pendamaian) tidak memberikan sumbangan baru kepada konsep kipper yang diterjemahkannya. Lembaga Alkitab Indonesia menggunakan kafir beberapa kali dalam terjemahannya.
Kompas, Sabtu, 4 dan 11 Februari 2017

Sunday, 18 December 2016

Suara Beda dari Palestina

Oleh MOHAMMAD HILMI FAIQ
Cerita tentang Palestina selalu identik dengan perang dan penindasan oleh Israel. Yang muncul kemudian adalah cerita pedih dan pilu tentang perjuangan anak manusia merebut kemerdekaan. Di balik itu, ternyata tersimpan cerita cantik tentang toleransi umat beragama. Muslim sebagai warga mayoritas sangat melindungi golongan kristiani sebagai minoritas. Inilah kesaksian kelompok paduan suara Bethlehem Bible College, Palestina. Mereka menyampaikan suara yang berbeda tentang Palestina.
voa-fathiyah wardah.jpg
Penampilan paduan suara Bethlehem Bible College dari Bethlehem, Palestina di depan jemaat misa di Gereja Bethel Indonesia Glow Fellowship Centre di Jakarta (11/12). (VOA/Fathiyah Wardah)
Rob, aina adzhabu mir ruhika, aina ahrobu min wajhika
A’ajibatun hadihil ma’rifah, irtafaat lâ istathi’uha
Itulah cuplikan lagu “Let You Know” yang dinyanyikan paduan suara Bethlehem Bible College dalam bahasa arab. Lagu yang menceritakan tentang ketundukan dan sikap kerendahan manusia di hadapan Tuhan ini terdengar syahdu sekaligus unik. Syahdu karena suara para penyanyi yang memang merdu. Unik lantaran jarang sekali, khususnya di Indonesia, ada lagu berbahasa Arab dilantunkan di tengah-tengah umat kristiani dalam konser menjelang Natal.
Di tempat ibadah Nafiri Allah, Central Park, Jakarta, Bethlehem Bible College mengisi acara bertajuk “Palestine Christmas Concert” di hadapan seribuan orang. Sebanyak dua belas penyanyi dipandu konduktor, Akram, membuka penampilan dengan lagu “Jesus Comes Tonight” yang mereka alih bahasakan secara bebas ke bahasa Arab dan ditulis menggunakan transliterasi Inggris menjadi “Jaiya el laily”.
Jemaah yang memadati ruangan segera merekam gambar mereka. Tidak sedikit yang merangsek maju untuk mendapatkan gambar yang lebih bagus sebagaimana saat mereka menonton konser musik pada umumnya. “Saya baru kali ini mendengar lagu gereja berbahasa arab,” kata seorang jemaah.
Sayang mereka hanya menyanyikan tiga lagu karena panitia hanya memberikan waktu 15 menit.
Suasana lebih menarik terlihat di Manado saat mereka menyanyi selama satu jam di atrium Manado Town Square (Mantos), Sulawesi Utara. Bukan hanya umat kristiani, umat Muslim juga berdatangan menonton. “Malnya empat lantai. Penuh semua orang menonton,” kata Hence Bulu, selaku Sekretaris Jenderal Badan Musyawarah Antargereja Nasional sekaligus Humas Sekolah Tinggi Teologi (STT) Global Glow Indonesia.
Paduan suara Bethlehem Bible College tampil tiga kali dalam sehari di Jakarta sebelum ke Manado dan Bali. mereka datang atas kerja sama dengan STT Global Glow Indonesia.
Pemandangan di Manado itu menunjukkan bahwa lagu dapat mempersatukan umat karena saat itu mereka tidak lagi melihat perbedaan agama. Daya tarik konser tersebut terletak pada lagu-lagu berbahasa Arab yang dinyanyikan oleh orang Palestina, yang bagi orang Indonesia tergolong pemandangan yang berbeda dan baru.
Selain itu, mereka menggunakan bahasa Arab. ini sekaligus menegaskan bahwa bahasa, sebagaimana lagu, memiliki makna universal. Bahasa Arab bukan milik agama tertentu. Itu juga berarti bahwa segala yang berbahasa Arab belum tentu mewakili agama tertentu. Bahasa Arab menjadi bahasa sehari-hari warga Palestina, termasuk kelompok Kristen evangelis yang memprakarsai Bethlehem Bible College.
Penampilan paduan suara Bethlehem Bible College mengonfirmasi bahwa Palestina tidaklah tunggal. Dia mempunyai wajah lain, kaum minoritas yang hidup aman di tengah mayoritas.
Toleransi
Bethlehem Bible College merupakan perguruan tinggi Kristen evangelis, yang berdiri sejak 1979 di Bethlehem ketika militer Israel berkuasa. Dr Bishara E Awad selaku Founding President Emeritus Bethlehem Bible College mengatakan, mereka merupakan kelompok kecil yang hidup di tengah-tengah mayoritas kaum Muslim. Akan tetapi, selama ini mereka hidup dalam harmoni karena saling berempati dan peduli.
Dia menambahkan, paduan suara Bethlehem Bible College memupuk rasa peduli dan toleransi bukan hanya di Palestina. Mereka setidaknya enam kali ke Jordania untuk membantu orang-orang yang kesusahan dan kesakitan karena perang. Semangat menolong perlu dipupuk tanpa melihat kelompok dan golongan. Sepanjang ada yang kesusahan, sudah seharusnya ditolong. Menolong tak kurang dari cara manusia untuk memahami sesama.
Semangat itu dia gambarkan dengan cerita orang Samaria yang berbaik hati menolong orang Yahudi yang terluka. Padahal, dia sadar bahwa selama ini orang Yahudi memusuhi orang Samaria.
Kehadiran paduan suara Bethlehem Bible College di Indonesia seolah menjadi testimoni pentingnya mengedepankan toleransi. Ini setidaknya dikuatkan oleh pernyataan Wakil Rektor STT Global Glow Indonesia sekaligus Ketua Panitia Konser di Nafiri Allah, Daniel Saragih. “Hari-hari ini ada gesekan-gesekan yang timbul kembali masalah hubungan agama (di Indonesia). Kami melihat ini waktu yang sangat tepat mengundang mereka sehingga kita bisa belajar dari Palestina bahwa Natal didukung oleh kalangan Muslim.”
Jika kabar tentang Palestina lebih banyak tentang perang dan derita, mereka kini menyuarakan perdamaian dan persatuan. Paduan suara Bethlehem Bible College telah membawa suara yang berbeda tentang Palestina.
Kompas, Minggu, 18 Desember 2016

Sunday, 23 October 2016

Firdaus yang Hilang

Oleh TRIAS KUNCAHYONO
Kamis, 24 Juli 2014, Makam Nabi Yunus di puncak Tell Nebi Yunus, Bukit Nabi Yunus, di kota kuno Ninive (Nineveh), dihancurkan. Orang-orang dari kelompok bersenjata yang menyebut dirinya Negara Islam di Irak dan Suriah pelakunya.
Makam, ada di dalam Masjid Yunus, yang begitu megah dan selama ini menjadi tempat perziarahan tiga umat Abrahamik, tinggal puing-puing. Hanya membutuhkan waktu satu jam, dengan menggunakan bahan peledak, untuk menghancurkan makam tersebut. Hilang sudah jejak sejarah yang berumur ribuan tahun itu. Hilang pula keindahan itu.
Sejarawan Gwendolyn Leick menulis, “Nineveh, dengan penduduknya yang beragam, berasal dari seluruh wilayah Kerajaan Assyria, adalah salah satu kota yang sangat indah di Timur Dekat, dengan taman-taman, kuil-kuil, dan istana yang cantik.”
Nineveh, yang berada di sebelah timur Sungai Tigris, kini menjadi bagian dari kota metropolitan Mosul, ibu kota Provinsi Ninawa atau Nineveh. Mosul, yang juga disebut Al-Fayha’ (firdaus) atau Al-Khadhra’ (hijau), menjadi kota penting di Irak bagian utara. Mosul menjadi simpul segitiga Sunni di Irak utara. Karena memang mayoritas penduduknya adalah Sunni, lalu Syiah, dan kelompok kecil lain.
Keindahan Mosul digambarkan secara apik oleh Muhammad Ibn Ahmad Shams al-Din Al-Muqaddasi. Ahli geografi asal Palestina (Jerusalem) yang lebih populer disebut Al-Muqaddasi atau Al-Maqdisi (945-1000) itu menulis demikian:
“Mosul adalah metropolis di wilayah ini. Kota yang nyaman, bangunannya indah; iklim menyenangkan, air bersih, sehat. Sangat masyhur, dan sangat unik, memiliki pasar-pasar yang baik sekali dan rumah-rumah penginapan ditempati orang-orang terkemuka, dan orang-orang terpelajar, para doktor hukum. Dari Mosul dikirimkan bahan-bahan makanan ke Baghdad, karavan lalu lalang. Ada taman-taman yang indah, buah-buahan yang enak-enak, tempat mandi yang baik, rumah-rumah yang bagus sekali, dan daging yang baik dan enak. Kota ini sedang berkembang….”
Ibn-Hawqal-Abu-al-Mohammad Qasim yang dikenal sebagai Ibn Hawqal, seorang ahli geografi dan sejarah dari Nasibin (Nisibis, Mesopotamia atas) yang hidup pada abad ke-10, pernah juga mengunjungi Mosul (968-969). Ia melukiskan Mosul sebagai kota yang indah dengan lingkungan yang subur.
Kota yang indah itu juga menjadi tempat tinggal pada cerdik cendekia. Misalnya, filsuf Bakr bin Kasim Abi Thawr al-Mawsili atau biasa disebut Al-Mawsili. Ia hidup pada paruh pertama abad ke-10 dan dikenal dengan bukunya yang berjudul Fi’ al-Nafs (Tentang Jiwa); Ali Ibn al-Imrani (meninggal tahun 955), seorang astronom yang juga ahli matematika dan geometri. Di barat, ia dikenal dengan nama Alcabitius. Ia menulis, antara lain, buku tentang ukuran dan jarak planet-planet; Ammar Ibn’ Ali, dokter ahli mata, yang di Barat dikenal dengan nama Canamusali; lalu Muhammad Ibn ‘Abd Baqi al-Mawsili, seorang ahli matematika.
Sebagai kota yang menjadi simpul perlintasan Jalur Sutra dari timur ke barat dan dari utara ke selatan (Baghdad), Mosul adalah kota yang terbuka. Sebelum direbut NIIS pada 2014, kota terbesar kedua di Irak ini berpenduduk sekitar dua juta. Penduduk Mosul beragambaik etnik, agama, ras, maupun kelompok sukudengan perbandingan hampir 75 persen Arab Sunni, 25 persen Kurdi, dan sisanya campuran Syiah, Turkoman, Yezidi, dan Kristen.
Pada zaman Saddam Hussein, sebelum pecah perang (2003), Mosul menjadi markas besar Partai Ba’ath, partai penguasa. Sejak zaman Ottoman (Utsmaniyah), Mosul menjadi gudang tentara. Bahkan, saat Saddam Hussein berkuasa, sebagian besar tentaranya berasal dari kota kota ini. Tercatat 300.000 penduduk Mosul menjadi tentara, intelijen, dan aparat keamanan lainnya. Karena itu, Mosul mendapat sebutan sebagai “kota sejuta perwira.” Setelah Saddam Hussein jatuh, para perwira dan tentara asal Mosul ini membentuk kelompok perlawanan Sunni di Nineveh.
Perimbangan etnik dan sejarah sebagai pusat militer dan Partai Ba’ath membantu untuk menjelaskan betapa pentingnya kota itu dan mengapa ketika itudan saat inimenjadi pusat pertarungan. Pertama, Mosul adalah bagian kompetisi Arab-Kurdi di wilayah Irak utara. Kedua, kehadiran Partai Ba’ath (kala itu) dan militer sebelum perang menjelaskan bahwa Mosul menjadi sumber perekrutan serta tempat aman bagi pemberontakan.
Namun, karena terletak dekat dengan Suriah (sekitar 160 kilometer dari perbatasan Suriah-Irak), Mosul sangat terpengaruh oleh situasi yang tidak menentu di Suriah. Sejak awal tahun 2000-an, Mosul disebut-sebut sebagai kota paling berbahaya di Irak. Kota ini, dan wilayah Provinsi Nineveh, menjadi sarang kelompok bersenjata, baik yang melawan Baghdad maupun yang terlibat dalam perang di Suriah.
Namun, kegelapan menyelimuti Mosul setelah kota itu serta wilayah sekitarnya direbut dan dikuasai NIIS pada Juli 2014. Kehancuran makam Nabi Yunus, gedung-gedung lainnya, termasuk souk, pasar, telah menjadi tanda kehancuran tidak hanya fisik, tetapi juga sosial dan kultural Mosul. Dinamika sosial unik antarwarganya yang memiliki latar belakang berbeda, beragam pun berakhir setelah NIIS menguasai kota itu dan menggantikannya dengan kuasa kegelapan yang tidak menghargai kehidupan dan kemanusiaan; yang mengingkari keragaman; dan yang memaksakan kehendak dengan kekerasan; mengembangkan fanatisme dengan bersembunyi di balik pembenaran simbolis, ideologis, atau teologis. Fanatisme adalah penolakan terhadap yang berbeda dan menjadi ladang subur bagi pelaku kekerasan yang merasa tak bersalah.
Seluruh sejarah manusia sarat dengan perjuangan sengit melawan kekuatan kegelapan. Pergulatan itu mulai sejak awal mula. Dan, akhirnya Al-Fayha’, firdaus telah hilang….
jonah shrine.jpg
The-shrine-before-the-bombing.jpg
Masjid Yunus di puncak Tell Nebi Yunus, Bukit Nabi Yunus, di kota kuno Ninive (Nineveh). Di dalam masjid tersebut terdapat makam Nabi Yunus.
jonah tomb ruin.jpg
jonah tomb.jpg
Reruntuhan Masjid Yunus akibat penghancuran yang dilakukan NIIS pada 24 Juli 2014.
Kompas, Minggu, 23 Oktober 2016