Showing posts with label Kediri. Show all posts
Showing posts with label Kediri. Show all posts

Thursday, 1 July 2021

Menguak Tabir Peradaban Masa Lalu Situs Adan-adan di Kediri

Oleh DEFRI WERDIONO

Ekskavasi Situs Adan-adan di Kabupaten Kediri menjadi bagian dari upaya menguak tabir masa lalu tentang keberadaan candi Buddha yang diperkirakan terbesar di Jawa Timur. Satu lagi penelusuran atas peradaban bangsa di masa lampau menemukan titik terang.

Waktu menunjuk lepas pukul 10.00 saat Sumarno (40) bersama istri dan dua anaknya mengamati area candi utama Situs Adan-adan dari balik pagar kawat berduri, di Dusun Candi, Desa Adan-adan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Minggu (27/6/2021).

Tuesday, 24 December 2019

Harmoni Pecel Tumpang Kediri

Oleh DWI BAYU RADIUS
Pedagang pecel tumpang berserak di Kota Kediri, Jawa Timur, hingga sudut-sudutnya. Tak berarti mereka enteng beradu mulut. Cita rasa pecel yang khas membentuk segmentasinya sendiri-sendiri. Penjual pecel di rumah makan hingga emperan toko mengais rezeki dengan guyub.
Beberapa pembeli terlihat bingung memilih lauk. Tempe goreng, bakwan, dan perkedel jagung, semua tampak lezat. Di belakang nampan sajian pendamping, berjejer panci saus pecel, sambal tumpang, dan sayur-mayur.
Pecel Bu Darmo di Kelurahan Banjaran, Kota Kediri, Jumat (6/12/2019)

Friday, 10 March 2017

Penetapan Makam Tan Malaka

Oleh ASVI WARMAN ADAM
Tanggal 21 Februari 1949, Tan Malaka tewas di Jawa Timur. Setelah melakukan penelitian selama berpuluh-puluh tahun, sejarawan Harry Poeze menyimpulkan  bahwa Tan Malaka ditembak di Desa Selopanggung, Kediri.
2120499Makam-tan-malaka-kediri-2780x390.jpg
Makam Tan Malaka di Selopanggung, Kediri, Jawa Timur. (M Agus Fauzul Hakim)
Keberadaan makam tokoh yang sudah diangkat menjadi pahlawan nasional pada tahun 1963 ini penting untuk kejelasan sejarah nasional, di samping untuk keperluan ziarah. Sangat urgen pemerintah segera menetapkan makam pahlawan nasional ini tanpa membiarkan masalahnya terkatung-katung.
Pada 2009, dilakukan penggalian di Selopanggung, Kediri. Jenazah yang ditemukan secara antropologi forensik sesuai dengan ciri-ciri fisik Tan Malaka. Maka, para sejarawan yang terlibat dalam pencarian ini beranggapan bahwa 90 persen jenazah itu memang Tan Malaka dan makamnya ada di lokasi tersebut. Namun, demi kesempurnaan investigasi dilakukan pembandingan DNA dari keponakan Tan Malaka (Zulfikar) dengan DNA pada tulang yang ada di makam tersebut. Namun, DNA Tan Malaka ini tidak kunjung muncul, diduga keasaman tanah yang tinggi.
Kemudian dilakukan pertemuan di rumah keponakan Tan Malaka, Zulfikar, di Jakarta, pada 15 Desember 2013. Pada kesempatan itu diperoleh kesepahaman bahwa dokter forensik dan pihak keluarga menginginkan proses penentuan makam itu tidak berlarut-larut. Kepastian sejarah dan forensik bahwa jenazah itu 90 persen adalah Tan Malaka, dianggap cukup untuk mengambil keputusan.
Ahli forensik Dr Djaja Surya Atmadja akan meneruskan membawa beberapa gram tulang dan gigi Tan Malaka keliling dunia pada seminar forensik regional dan internasional, sementara keluarga ingin memindahkan makam Tan Malaka dari Selopanggung ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata.
Bulan April 2017, menurut rencana, Dr Djaja mengikuti seminar forensik internasional di AS dan membawa serpihan tulang Tan Malaka yang tersisa untuk dikeluarkan DNA-nya. Jika sejarah Tan Malaka menjadi penelitian seumur hidup Harry Poeze, DNA Tan Malaka tampaknya menjadi obyek riset abadi Dr Djaja. Namun, penetapan makam harus dilakukan pemerintah tanpa menunggu 10-20 tahun lagi.
Apakah yang dipindahkan dari Selopanggung itu kerangka jenazah secara keseluruhan atau hanya sekepal tanah secara simbolis untuk dapat dimakamkan kembali di TMP Kalibata?
Pemakaman kembali
Yang terakhir ini lebih praktis karena Kementerian Sosial tak memiliki pos anggaran untuk pemindahan jenazah kecuali pemugaran makam. Penguburan simbolis pernah dilakukan terhadap pahlawan nasional lain, yaitu Otto Iskandar Dinata yang dibunuh di Pantai Mauk, Tangerang, Desember 1945, dan jenasahnya dibuang ke laut. Tanah dari Pantai Mauk itu diambil, dibungkus dengan kain kafan, lalu dimakamkan di Lembang. Tentu saja kasusnya berbeda dengan Tan Malaka karena kerangkanya masih ada di Selopanggung.
Setelah proses ini sempat terhenti beberapa tahun, muncul prakarsa dari Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, untuk memindahkan makam Tan Malaka ke kampung di Desa Pandan Gadang. Mereka sudah melakukan pembicaraan dengan pemerintah setempat di Kediri tentang rencana tersebut. Namun, ternyata dari pemerintah setempat terdapat keinginan untuk mempertahankan makam tersebut di sana.
Sebanyak 200 orang dari Sumatera Barat datang ke Kediri pada 21 Februari 2017 untuk memperingati 68 tahun kematian Tan Malaka sekaligus melakukan upacara adat. Di sana diselenggarakan penyempurnaan penyematan gelar Datuk Tan Malaka kepada penerusnya, Henky Novaron Arsil. Kegiatan penjemputan jasad Tan Malaka diubah menjadi upacara adat.
Dalam penentuan tempat makam seseorang, yang paling berhak menentukan adalah pihak keluarga. Ada tokoh nasional yang sebelum wafat berpesan kepada keluarga agar tak dimakamkan di TMP Kalibata dengan alasan tertentu. Sebetulnya ada tiga tempat yang bisa menjadi lokasi makam, yakni TMP Kalibata; Selopanggung, Kediri; dan Pandam Gadang, Kabupaten Limapuluh Kota. Kementerian Sosial tentu akhirnya harus menetapkan salah satu lokasi karena anggaran pemugaran makam hanya untuk satu tempat. Untuk pengajaran sejarah juga perlu kejelasan dan kepastian letak makam pahlawan nasional.
Jika diputuskan makam tetap di Selopanggung, Kediri, sebetulnya itu bukan hal unik. Dalam sejarah Indonesia terdapat beberapa pahlawan nasional yang dimakamkan di daerah lain bukan di kampungnya, seperti Tjut Njak Din (asal Aceh) di Sumedang, Jawa Barat; Pangeran Diponegoro di Makassar, Sulawesi Selatan; dan Tuanku Imam Bonjol di Manado, Sulawesi Utara.
ASVI WARMAN ADAM
Sejarawan LIPI; Penasihat Tim Penggalian Tan Malaka Tahun 2009
Kompas, Sabtu, 11 Maret 2017

Saturday, 4 March 2017

Ruang Publik Wujudkan Harmoni

Oleh DEFRI WERDIONO
Fahmi (39) berteduh di bawah pohon trembesi besar yang tumbuh di tengah Taman Sekartaji, Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (26/1) siang. Sementara anaknya, Selena Fatimah (7), asyik bermain sepatu roda bersama temannya, Florensia Kirana (7,5).
harmoni kediri sekartaji.jpg
Slogan baru “Harmoni Kediri” menghiasi Taman Sekartaji di Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (26/1/2017). (Kompas/Defri Werdiono)
Sesekali Fahmi berteriak, memberikan arahan dan suntikan semangat kepada Selena agar bermain dengan baik. Ia pun sigap bertindak ketika ada baut as salah satu roda sepatu anaknya lepas. Hanya dalam hitungan detik, baut yang terlepas sudah menempel erat.
Warga Kelurahan Mojoroto, Kecamatan Mojoroto, ini terlihat menikmati suasana yang ada. “Suasananya enak, teduh. Anak-anak bisa bermain dengan nyaman meski matahari bersinar terik. Tempatnya juga leluasa. Kalau taman yang lama tidak bisa dipakai main sepatu roda,” ujarnya.
Fahmi mengaku baru beberapa kali datang ke taman seluas 6.250 meter persegi yang memiliki wajah baru setelah penataan itu. Taman yang lama direnovasi total kecuali pepohonan yang dibiarkan tetap rindang.
Selain tempatnya kian lega, taman yang berada di dekat bundaran, tepatnya pertigaan, Jalan Veteran-Suprapto-Kapten Slamet itu dilengkapi sejumlah fasilitas, seperti penggunaan lantai kayu pada beberapa bagian sehingga cocok untuk main skate board dan sepeda BMX. Di sisi utara terdapat sejumlah kios yang direncanakan dipakai sebagai tempat jajan (food court) dan taman baca.
“Tamannya lebih tertata dibanding sebelumnya,” ujar Suci Sarehati (20) dan Desi Puspita (20), mahasiswa semester 3 Jurusan Akuntansi Politeknik Kediri, yang mampir sebentar di tempat tersebut. Siang itu, mereka hendak berangkat praktik kerja lapangan di kantor Badan Narkotika Nasional Kota Kediri.
Selain taman di sisi barat Jalan Suprapto, taman lain yang juga dibenahi ada di sisi timur jalan. Sebuah tulisan besar “Harmoni Kediri” berwarna ungu menghiasi tempat tersebut. Sejak setahun lalu, Kediri telah mempertegas posisi sebagai kota pelayanan dengan branding Harmoni Kediri the Service City.
“Memorial park”
Di sisi timur kota, dekat Stadion Brawijaya, ada bangunan baru yang menarik perhatian. Sebuah taman yang disebut sebagai Kediri Memorial Park sedang dalam penyelesaian. Kediri Memorial Park ada di Jalan Pahlawan Kusuma Bangsa, Kelurahan Banjaran, Kecamatan Kota.
memorial park.jpg
Beberapa anak sekolah dan mahasiswa menikmati suasana Kediri Memorial Park, Kamis (26/1/2017), di Banjaran, Kota Kediri, Jawa Timur. (Kompas/Defri Werdiono)
Taman yang lokasinya berada di seberang Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa itu memiliki bentuk modern. Selain kolam panjang di bagian depan, terdapat sejumlah tiang bendera. Di sayap kiri dan kanan dibuat dua lantai. Taman yang sekaligus menjadi monumen ini ramah bagi kaum difabel.
Meski dalam penyelesaian akhir, Kediri Memorial Park yang memiliki luas 2.375 meter persegi itu telah menyedot perhatian masyarakat. Siang itu, misalnya, puluhan mahasiswa Jurusan Marketing Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia (LP3I) Kediri memanfaatkan tempat ini untuk kegiatan pembelajaran luar ruang.
Mereka tidak langsung beranjak meninggalkan lokasi meski kegiatan belajar-mengajar telah selesai. Mereka berfoto ria terlebih dulu. “Baru kali ini outing di sini. Tempatnya asyik,” kata Winda Winarsih (19), salah satu mahasiswai. Menurut Winda, Kediri memang sudah lama memiliki sejumlah ruang publik. Namun, pembenahan dan pembangunan ruang publik baru akan memberikan nilai lebih.
Ruang publik yang dimiliki Kota Kediri antara lain Alun-alun Kota yang berada satu jalur dengan pusat perbelanjaan, taman di Goa Selomangleng di sisi timur lereng Gunung Wilis, hingga Monumen Simpang Lima Gumul (masuk Kabupaten Kediri) yang arsitekturnya mirip Arch de Triomphe di Perancis.
simpang lima gumul.jpg
Monumen Simpang Lima Gumul (Sonni S)
Rencana revitalisasi
Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar mengatakan, pihaknya sengaja memperbanyak ruang publik bagi warga. Selama ini, ruang publik di kota yang dibelah oleh Sungai Brantas ini dinilai masih kurang. Direncanakan, Alun-alun Kediri juga akan direvitalisasi.
“Alun-alun mau direvitalitasi. Kalau sekarang masih penuh pedagang. Seharusnya tempat itu menjadi alun-alun, bukan taman. Begitu pula dengan taman di Goa Selomangleng, rencana dipermak sebagai destinasi wisata,” katanya.
Pemerintah Kota Kediri berharap taman yang ada tidak sekadar menjadi ruang publik, tetapi juga mempunyai fungsi yang lebih luas. Kediri Memorial Park, misalnya, nantinya akan dilengkapi tulisan nama-nama pahlawan yang dimakamkan di Tempat Makam Pahlawan Kusuma Bangsa.
“Tujuannya, menjadi ruang publik. Masyarakat bisa beraktivitas di situ. Akan tetapi, terselip pula pesan agar mereka tidak melupakan nama-nama pahlawan yang ada. Jadi, bukan sekadar tempat nongkrong,” kata Abu Bakar.
Menurut Abu Bakar, pihaknya ingin menjadikan Kediri selaras dengan branding yang ada, yakni Harmoni Kediri. Istilah harmoni menunjukkan Kediri yang tahun ini memasuki usia 1.138 tahun sebagai kota yang menerima pluralisme di tengah kondisi masyarakat yang cair, guyub, dan bersahaja.
“Jadi, harmoni sebagai kekuatan Kota Kediri,” katanya.
Kompas, Minggu, 5 Maret 2017   

Saturday, 25 June 2016

Kediri, Jayabaya, dan Mbah Wasil

Oleh IMAM PRIHADIYOKO
Kediri, Jawa Timur, dikenal sebagai kota santri. Ada cukup banyak pondok pesantren di kota tersebut. Salah satu di antaranya yang terkenal adalah Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiien atau lebih dikenal sebagai Pondok Pesantren Lirboyo. Di Kediri, terdapat pula Ponpes Lembaga Dakwah Islam Indonesia dan Ponpes Kedunglo al Munadhdharah yang menjadi pusat pengamal Sholawat Wahidiyah.
setonogedong.jpg
Makam Mbah Wasil Setonogedong (Disbudparpora Kediri Kota)
Selain pondok pesantren, Kediri juga memiliki tempat yang banyak dikunjungi peziarah. Lokasi wisata religi ini berada di Jalan Dhoho, berupa kompleks makam Syech Sulaiman Samsuddin al-Wasil atau Syech Ali Samsuddin al-Wasil. Warga setempat sering menyebutnya sebagai kompleks makam Mbah Wasil. Di kompleks ini berdiri Masjid Auliya Setonogedong.
Mbah Wasil, menurut Mansyur (43), juru kunci makam, diperkirakan merupakan salah satu guru spiritual Raja Kediri Sri Aji Jayabaya. Bukti sejarah yang menguatkan hubungan kedua orang itu adalah batu nisan di dalam kompleks yang bertarik 1184. Selain itu, ada prasasti berbahasa Kawi Kuno yang diperkirakan ditulis sendiri oleh Jayabaya.
“Berdasarkan terjemahan yang dilakukan oleh Khatib Mustopa, Dosen Universitas Negeri Malang, prasasti lebih kurang menyebutkan bahwa Jayabaya menemukan buku yang isinya tidak dipahami olehnya,” ujar Mansyur. Lantas, Jayabaya meminta Mbah Wasil menerjemahkan dan mengajarkan isi buku itu.
Lokasi makam Mbah Wasil menjadi salah satu tempat yang dikunjungi oleh Tim Ekspedisi Islam Nusantara. Tim yang dipimpin Imam Pituduh ini memulai perjalanan pada 27 Maret di Kota Cirebon, Jawa Barat, dan mengakhiri ekspedisi di Raja Ampat, Papua Barat, sehari sebelum Ramadhan 2016.
Menurut Mansyur, di lokasi yang sekarang ditempati Masjid Auliya Setonogedong, pernah berdiri sebuah pura. Fondasinya masih bisa dilihat hingga hari ini.
Muhammad Yusuf (47) dari Badan Pemeliharaan Cagar Budaya Trowulan mengakui ada hubungan yang dekat antara Mbah Wasil dan Jayabaya. “Jayabaya yang menganut Hindu memang dipercaya mundur dan mengalami moksa. Namun, ada pula yang menyebutkan bahwa sebagai murid Mbah Wasil, Jayabaya menyendiri sebagai sufi,” ujarnya.
Mengingat minimnya dokumentasi sejarah yang tersedia, Yusuf dan Mansyur tidak mengetahui dengan pasti riwayat serta sosok Mbah Wasil. Menurut Yusuf, paling tidak ada dua versi tentang sejarah dan asal-usul Mbah Wasil.
Versi pertama menyebutkan Mbah Wasil hidup pada akhir abad X. Artinya, ia hidup sebelum era Wali Sanga. Sebaliknya, versi kedua menyebutkan Mbah Wasil hidup satu masa dengan keberadaan Wali Sanga, yakni pada abad XIV.
Bantu Wali Sanga
Yusuf menceritakan, Mbah Wasil, Syech Sulaiman al-Wasil, adalah utusan dari Istambul, Turki, pada abad XIV. Ia diutus pergi ke Pulau Jawa untuk bertemu dengan Wali Sanga guna membantu penyebaran Islam di masyarakat.
Dalam versi ini, Mbah Wasil dan para sunan memiliki rencana besar untuk membangun masjid yang akan dijadikan sebagai pusat penyebaran agama Islam di Kediri. Pembangunan masjid dimulai dengan membuat fondasi di atas susunan batu yang berada di kompleks makan Setonogedong.
Namun, sejumlah sumber lain menyebutkan bahwa susunan batu tersebut merupakan fondasi sebuah candi dari zaman Kerajaan Kediri. Adapun susunan batu di bagian atasnya adalah bagian yang belum selesai dikerjakan karena pembangunan terhenti.
Sejumlah bahan bangunan itu kemudian dipergunakan oleh para wali untuk membangun Masjid Demak dan Masjid Cirebon. Bagian atas fondasi yang tersisa dijadikan tempat berzikir dan pertemuan para wali di Kediri.
Fondasi ini sempat rusak parah, tetapi dibangun kembali oleh masyarakat. Sampai akhirnya dibangun sebuah masjid yang masih berdiri hingga saat ini.
Persia
Persoalannya, kalau versi Yusuf ini betul, Mbah Wasil tidak mungkin menjadi guru Jayabaya yang hidup sekitar awal abad XII. Sejumlah catatan sejarah menyebutkan Syech Sulaiman Samsuddin berasal dari Persia yang datang ke Tanah Jawa untuk menyebarkan agama Islam. Versi ini didasarkan pada serat Jangka Jayabaya yang menyebutkan bahwa Mbah Wasil merupakan guru spiritualnya.
Yusuf tidak menutup kemungkinan cerita yang menyebutkan Mbah Wasil datang dari Persia adalah versi yang benar. Terlepas dari kontroversi ini, Kediri kini berkembang menjadi kota santri dengan tradisi ponpes yang cukup kuat.
Sekarang, Kediri juga mempunyai ikon berupa Monumen Simpang Lima Gumul yang pembangunannya mungkin terinspirasi dari L’Arch de Triomphe, Paris, Perancis. Berada di Desa Tugu Rejo, Kecamatan Ngasem, Monumen Gumul mulai dibangun pada 2003.
Warga setempat mengenalnya dengan nama Kabbah Kediri karena saat melintasi simpang lima ini, warga harus memutar ke kanan, seperti orang yang tawaf di Mekkah. Namun, ada pula yang menyebutkan, pembangunan monumen terinspirasi oleh Jayabaya yang berhasil menyatukan lima wilayah Kediri.
Apa pun itu, satu hal yang jelas, Kediri membuktikan diri telah berkembang menjadi kota yang menghargai peninggalan peradaban di Nusantara.
Kompas, Minggu, 26 Juni 2016

Saturday, 14 February 2015

Kediri, Negeri Seribu Cagar Budaya

Oleh: RUNIK SRI ASTUTI dan DEFRI WERDIONO
Yudi (72), penjaga situs Semen di Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, membersihkan debu yang menempel di arca Garuda Wisnu Kencana, Rabu (11/2). Situs pemandian raja dari Kerajaan Kediri yang ditemukan tahun 1999 itu menjadi salah satu tujuan wisata minat khusus. (Kompas/Runik Dwi Astuti)
Dio (10), pelajar kelas IV sebuah sekolah dasar; terpaku memandang arca Garuda Wisnu Kencana di tebing sungai di tengah hamparan tanaman cabai dan tebu di Desa Semen, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Rabu (11/2). Kepalanya menggeleng dan mulutnya menggumam.
Sesaat kemudian dia berlari menghampiri bundanya yang berdiri hanya sepelemparan batu dari arca. “ Bunda, itu benda apa namanya dan kenapa ada di tempat seperti ini,” ujar Dio polos.
Dwi Wahyuni (34), bunda Dio, mengatakan, batu berpahat menyerupai bentuk manusia itu disebut arca. Benda itu merupakan bukti otentik peradaban masa lalu, tepatnya di era kerajaaan. Dan karena arca ini ditemukan petani di tepi sungai, benda itu kemudian diletakkan tak jauh dari lokasi penemuan.
Selain arca Garuda Wisnu Kencana, di tempat yang kini dikenal sebagai situs Semen itu ditemukan benda purbakala lain, seperti lingga yoni dan dua patung jwaladara, yakni tempat air mancur pada pemandian raja. Selain itu, ditemukan saluran air dan gapura serta puluhan fragmen benda cagar budaya yang berasal dari Kerajaan Kediri (1045-1222 Masehi).
Kerajaan Kediri
Februari tahun lalu, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim di Trowulan, Mojokerto, melakukan ekskavasi awal struktur bangunan batu bata. Struktur bangunan ini diduga kuat merupakan peninggalan Kerajaan Kediri. Analisis itu diperkuat keberadaan arca Garuda Wisnu Kencana dan jwaladara karena kerajaan yang pusat pemerintahannya ada di Dhaha ini merupakan pemuja Wisnu.
Situs Semen, yang berlokasi 1,5 kilometer dari petilasan Prabu Jayabaya, raja Kediri yang termasyhur dengan ramalan Jangka Jayabaya, itu memiliki luas sekitar 6 hektar. Lokasi masih berupa area persawahan yang di dalamnya bertebaran batu bata kuno yang diletakkan begitu saja. Batu bata ini akan terungkap jelas jika petani baru saja selesai membajak sawah. Tahun 1970-an dan 1980-an, batu bata kuno ini banyak berpindah tempat karena warga menggunakannya untuk menguruk pekarangan.
Akhir November-awal Desember lalu, BPCB melakukan ekskavasi situs berupa bangunan altar di Tunglur, Desa Sumberjo, Kecamatan Badas. Meski belum bisa dipastikan asal dinastinya, situs berwujud altar batu itu diperkirakan dibangun pada masa Kerajaan Kediri.
Di luar situs Tunglur dan Semen, ada arca Totok Kerot yang berada di Desa Sumberejo, Kecamatan Ngasem, tidak jauh dari monument Simpang Lima Gumul, ikon Kediri masa kini. Arca setinggi 3 meter itu,menurut arkeolog, merupakan sosok Dwarapala, yakni arca penjaga pintu gerbang kerajaan Dahanapura (1222 M).
Selain itu, Kediri memiliki Candi Surowono di Kecamatan Pare, Candi Tegowangi di Plemahan yang dibangun pada masa Majapahit, situs Prambata di Pagu, dan situs Sukorejo atau lebih dikenal masyarakat sebagai legenda makam Calon Arang.
Sejarawan menyebut wilayah Kediri di Jawa Timur menjadi saksi tiga zaman, yakni masa kejayaan Kerajaan Kediri, Singasari, dan Majapahit. Tidak mengherankan jika kabupaten yang dibelah Sungai Brantas dan berada di lereng sisi timur (seharusnya: barat) Gunung Kelud itu memiliki ribuan benda cagar budaya yang tersebar hampir di seluruh wilayah.
Arkeolog dari BPCB Trowulan, Nugroho Lukito, mengatakan, Kediri memang kaya akan situs masa lalu. Tetapi semua belum terungkap. “Kalau semua terungkap, pasti sangat banyak. Situs terbanyak berasal dari masa Kediri dan Majapahit. Sebagian kecil di sisi selatan Kelud yang mungkin berasal dari Singasari,” ucapnya.
Bergeser ke timur di lereng Kelud, situs-situs masa lalu juga tersebar di sejumlah lokasi. Arca berukuran kecil ataupun bejana atau bak batu (media petirtaan) bisa ditemukan di pekarangan warga ataupun perkebunan.
Di area PT Perkebunan Nusantara XII Rangkahpawon, Kecamatan Plosoklaten, terdapat setidaknya dua bak petirtaan, salah satunya berhuruf Jawa kwadrat yang diperkirakan dari zaman Kediri. Ada juga arca Siwa yang diperkirakan berasal dari zaman Singasari.
Beberapa waktu lalu, arkeolog dari Universitas Negeri Malang, Ismail Lutfi, menyebut wilayah Kelud memiliki banyak bangunan suci. Bangunan itu didirikan lintas masa, yakni Singasari, Kediri, dan Majapahit. Kelud dianggap jadi salah satu gunung suci di Jawa. Nugroho Lukito juga menyebut orang dulu percaya di Kelud bersemayam dewa gunung, Sang Acalapati.
Kumpulkan arca
Tidak jauh dari lereng Kelud, di sisi utara, pemerintah Desa Brumbung, Kecamatan Kepung, dalam beberapa tahun terakhir membuat kebijakan mengumpulkan arca dan benda masa lalu yang ditemukan warga. Benda-benda itu dikumpulkan di sebuah bangunan kecil di sisi kanan pendapa balai desa.
Di tempat ini terdapat, antara lain, 2 prasasti bertuliskan huruf Jawa kuno, yakni Brumbung I peninggalan Kediri dan Brumbung II peninggalan Majapahit; arca dwarapala; dan petirtaan. Dahulu benda temuan masyarakat dijual penemunya, tetapi saat ini benda itu dikumpulkan ke balai desa.
Kepala Bidang Sejarah, Nilai Tradisi, Museum, dan Purbakala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri  Eko Budi Santoso menyebut, terdapat 182 benda cagar budaya yang bergerak ataupun tidak bergerak di wilayahnya yang sudah teregister. BCB bergerak contohnya arca, sedangkan yang tidak bergerak adalah situs.
Namun, benda cagar budaya yang belum teregister jauh lebih banyak dan umumnya berada di dalam bumi Kediri. Contohnya, bata merah kuno, fragmen arca dan fragmen benda lain seperti tempayan.
Demi keamanan dan pelestarian, BCB kerap ditimbun kembali setelah diekskavasi untuk penelitian.
Keberadaan BCB yang jumlahnya ribuan ini menarik minat masyarakat tidak hanya dari Kediri, tetapi juga daerah lain seperti Blitas, Nganjuk, bahkan Surabaya, hingga Solo dan Yogyakarta. Mereka datang ke Kediri dengan beragam tujuan, mulai dari melihat langsung benda peninggalan leluhur hingga melakukan sesuatu yang khusus seperti ritual.
“Kedatangan para tamu inilah yang mendasari Pemkab Kediri mengembangkan situs-situs yang ditemukan itu menjadi wisata minat khusus. Meskipun pengunjungnya belum sebanyak obyek wisata alam Gunung Kelud, setiap tahun jumlahnya cenderung naik,” ujar Eko.
Di kawasan wisata Candi Surowono, misalnya, jumlah pengunjung selama 2014 mencapai 48.913 orang, sedangkan di Candi Tegowangi sebanyak 23.501 orang. Jumlah kunjungan tersebut didasarkan pada pencatatan buku tamu karena sebagian obyek wisata minat khusus ini umumnya tidak beretribusi.

Kompas, Sabtu, 14 Februari 2015

Wednesday, 26 November 2014

Melatih Kejujuran dari Kios Bensin

Saat harga premium di tingkat pengecer naik menjadi Rp 9.000 per botol, apa yang dilakukan Abdul Mukti (56), seorang penarik becak, merupakan sebuah solusi. Hanya dengan uang Rp 2.000, warga bisa mendapatkan setengah botol kecil premium di Kios Bensin Kejujuran yang didirikan di Jalan Veteran, Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur.
1525385bensin-jujur780x390.jpg
Abdul Mukti (56), pemilik kios bensin kejujuran di Kota Kediri, Jawa Timur.(Kompas/M.Agus Fauzul Hakim)
Jarum jam menunjuk kepas pukul 12.00, Kamis (20/11), saat Agung (15) dan Andika (15) yang berboncengan sepeda motor merapat ke kios Bensin Kejujuran (BK). Agung yang masih duduk di bangku kelas II salah satu SMP di Kediri itu langsung memasukkan satu lembar uang Rp 10.000 usang ke dalam stoples plastik yang tertempel di salah satu sisi rak kayu tempat premium.
Agung lalu mengambil uang kembalian senilai Rp 7.000 sembari memungut salah satu botol bekas saus makanan yang berisi premium yang ditempeli tulisan Rp 3.000. Tidak lama kemudian Mukti menghampiri keduanya sembari menanyakan, apakah mereka berdua tahu alasan dia menjual premium dengan harga murah disertai embel-embel kejujuran.
Mukti pun menjelaskan bahwa ingin mengajarkan generasi muda tentang pentingnya kejujuran. “Saya selalu memberi wejangan kepada pembeli premium yang sebagian besar merupakan siswa agar mereka tahu arti kejujuran,”ujarnya.
Kedua pembeli mengaku apa yang dilakukan Mukti sangat membatu mereka. Sebagai pelajar dengan uang saku terbatas, keduanya bisa mendapatkan bahan bakar dengan harga terjangkau meski volume premium yang dapat sekitar 0,3 liter.
Di rak dagangan Mukti terdapat belasan botol premium seharga Rp 2.000, Rp 3.000, Rp 4.000, Rp 5.000, Rp 6.000, Rp 7.000, Rp 8.000 sampai Rp 9.000. Isi botol disesuaikan dengan harga.
Tak berbanding lurus
Kios Bensin Kejujuran Mukti berdiri 18 Juni 2011. Berawal dari melihat pengendara sedang menuntun sepeda motor pada malam hari lantaran kehabisan premium, membuat lelaki kelahiran 29 Oktober 1958 tergerak hatinya untuk menyediakan bahan bakar yang bisa diakses siapa saja, kapan saja, dengan harga terjangkau oleh semua kalangan. Saat itu, Mukti masih berjualan nasi goreng di tenda, persis di seberang jalan kiosnya saat ini.
Upaya Mukti berjualan bensin dengan cara yang tak lazim pun kala itu mendapat respons masyarakat yang sebagai besar merupakan siswa. Maklum, Jalan Veteran dan sekitarnya merupakan sentra pendidikan di Kota Kediri. Ada belasa sekolahan di kawasan itu, mulai dari SD sampai SMA.
Sayangnya upaya Mukti tidak berbanding lurus dengan kenyataan. Saat awal kios bensin sering merugi. Namun, perkembangannya selalu dicatat dalam buku harian. Mukti mencontohkan pada 1 Mei 2012, ia pernah merugi Rp 35.000. “Pada periode 18 Juni 2011 sampai 1 Mei 2013, saya rugi 319 botol. Pembeli yang membayar kurang dari harga yang ditentukan mencapai 793 botol,” ujar Mukti yang mengaku bisa menjual sekitar 60 liter premium dalam waktu tiga hari sampai empat hari.
Selain tak membayar, membayar tetapi kurang, serta berutang tetapi tidak melunasi, Mukti juga mengalami perlakuan kurang menyenangkan. Bahkan, ada pembeli yang membayar dengan uang kertas mainan. Hal ini terjadi karena pembeli memang tidak diawasi. Mukti hanya mengandalkan kejujuran.
Perlahan tetapi pasti kesadaran pembeli terus membaik. Kerugian mulai berkurang, bahkan hampir tidak pernah terjadi lagi. “Hanya saja minggu lalu masih ada pembeli, anak sekolah, yang mengambil dua botol bensin seharga Rp 1.000 dan Rp 2.000 tetapi hanya membayar Rp 500,” katanya.
Mendapat perlakukan kurang menyenangkan tidak membuat Mukti marah dan berkecil hati. Ia pun tidak pernah mengeluarkan sumpah serapah terhadap pembeli yang tidak jujur. “Saya tidak berpikir soal keuntungan, tetapi bagaimana masyarakat bisa terbantu. Saya tidak kecewa jika ada yang tidak jujur. Hanya saya berpikir, kok, mereka tidak takut dosa ya. Mereka generasi muda. Bahaya nanti kalau jadi pejabat tinggi, bisa korupsi,” ujarnya.
Selain bensin kejujuran, ayah tiga anak – yang salah satunya kini tengah menuntut imu di Universitas Airlangga, Surabaya, (beasiswa) dan satu lagi masih sekolah di SMA 6 Kediri (juga beasiswa) – itu juga pernah membuka warung kejujuran pada pertengahan 2013.
Di warung yang buka 24 jam dan menjual mi instan dan aneka kopi itu, pembeli diberi kebebasan untuk memasak dan membayar makanan. Warung itu sendiri hanya bertahan lima bulan sebab lokasinya dipakai untuk membangun kios permanen yang ada saat ini. Kios itu dipakai untuk menjual seragam sekolah yang kini dikeloloa oleh anak pertamanya.
Ke depan, Mukti yang pernah mendapat penghargaan atas dedikasinya melatih kejujuran dari Polres Kediri Kota dan Anugerah dari Persatuan Wartawan Indonesia Kediri itu ingin tindakannya bisa menginspirasi dan ditiru banyak orang. Penirunya diharapkan tak hanya ada di Kediri, tetapi juga daerah lain dengan jenis jualan berbeda.
“Sepertinya, kok, sejauh ini belum ada yang meniru ya? Apa mereka tidak berpikir sampai ke situ.” Kata Mukti sembari menambahkan, jika sebenarnya ada pihak-pihak yang merasa kurang sreg dengan caranya berdagang. Cara seperti ini dianggap bisa mematikan usaha orang lain yang menjual barang sejenis.
Sri Wahyuni, akademisi dari Universitas Islam Kadiri yang juga manta pemuda pelopor bidang pendidikan, mengatakan, apa yang dilakukan Mukti merupakan langkah bagus untuk menanamkan pendidikan karakter kepada generasi muda, utamanya soal kejujuran. Meski terlihat kecil, hal itu bisa diterapkan di lingkungan yang lebih luas. (WER)
Kompas, Sabtu, 22 November 2014  

Tuesday, 10 June 2014

Gunung Kelud 2014

Menjelang penghujung malam 13 Februari 2014, Gunung Kelud meletus. Cendawan erupsi (eruption plume) pertama kali terdeteksi satelit pada pukul 23.09. Berdasarkan analisis citra satelit, awan abu memiliki ketinggian hampir 20 km, dengan lebar cendawan mendekati 30 km. Sebagian abu bahkan mencapai ketinggian 26 km. Berdasarkan citra satelit, abu terbawa angin ke arah barat-barat daya dan jatuh ke Samudra Hindia.