Showing posts with label Keberagaman. Show all posts
Showing posts with label Keberagaman. Show all posts

Friday, 16 April 2021

Puasa Lintas Tradisi

Oleh AHMAD NAJIB BURHANI 

Puasa merupakan praktik menahan atau membatasi diri, seperti dari makanan dan minuman, yang dilakukan oleh berbagai tradisi dalam masyarakat dunia sejak dulu kala. Puasa bisa bermotif agama, budaya, kesehatan, politik, atau lainnya.

Di Jawa, seperti ditulis Clifford Geertz (1964), puasa merupakan ritual yang banyak dilakukan masyarakat dari seluruh tingkatan kelas dengan tujuan ”untuk kekuatan dan intensitas spiritual”. Melalui ritual puasa, seseorang akan bisa meningkatkan kesaktian, kekuatan spiritual, atau kemampuan supranaturalnya.

Wednesday, 28 October 2020

Peran Sie Kong Lian dan Pemuda Papua dalam Sumpah Pemuda

 Oleh IWAN SANTOSA

“Kalau tiba waktunya, hibahkan gedung ini untuk negara. Tolong sediakan ruangan untuk mengenang papi,” itulah pesan dokter Juliar Silman, putra Sie Kong Lian, pemilik rumah yang digunakan untuk Konggres Pemuda II, kepada keluarganya tentang rumah di Jalan Kramat Raya Nomor 106 yang kini menjadi Museum Sumpah Pemuda.

Gedung Jalan Kramat Raya 106, tempat terjadinya Sumpah Pemuda 1928, juga tempat para pemuda tergabung dalam Indonesisch Clubgebouw IC, menyelenggarakan Kongres Pemuda Indonesia II tahun 1928. Gambar gedung sudah dipugar, dimuat Kompas, Minggu (28/10/1984). (KOMPAS/HASANUDDIN ASSEGAFF)

Thursday, 17 September 2020

Toleransi di Tepian Musi

Semangat toleransi dan keberagaman sudah tumbuh di Palembang sejak lama. Hal itu tercermin dari bangunan-bangunan yang menjadi penanda akulturasi budaya, juga dari pembauran masyarakat.

Tepian sungai Musi dari kawasan Sebelarang Ulu 1, Palembang, Rabu (28/8/2020)

Tidak ada yang bisa menyangkal, keberagaman sudah tumbuh di Palembang, Sumatera Selatan, sejak abad ke-7. Di “Bumi Sriwijaya” ini bertebaran bangunan tua bersejarah penanda akulturasi budaya. Spirit toleransi pun bersemi dalam kehidupan sehari-hari di tepi Sungai Musi.

Saturday, 19 October 2019

Jamblang

Jamblang selama ini dikenal sebagai salah satu pojok toleransi di Cirebon. Coba tengok Wihara Dharma Rhakita di Desa Jamblang yang dibangun sekitar abad ke-15. Satu kayu wuwungan kelenteng itu berasal dari pohon yang sama dengan kayu untuk membangun Masjid Agung Sang Cipta Rasa pada 1480.
Konon, pohon besar itu hanya bisa dipotong oleh Njoo Kiet Tjit atau dikenal Ki Buyut Cigoler. Ia lalu meminta sepotong balok untuk membangun kelenteng di Jamblang. Sunan Gunung Jati, pimpinan Cirebon kala itu, mengizinkan. "Meski penyebar agama Islam, beliau menghormati budaya dan agama lain," kata Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat.
Dikutip dari: Abdullah Fikri Ashri, "Saat Toleransi 'Kota Wali' (Kembali) Terusik", Kompas, Minggu, 20 Oktober 2019, halaman 9

Thursday, 21 June 2018

Toleransi di Meja Makan

Oleh NINA SUSILO dan ANTONY LEE
Semangkuk soto kudus dan sepiring lontong capgome punya cerita. Tidak hanya nikmat di lidah, tetapi ada juga memori kolektif soal indahnya keberagaman dan toleransi.
Semangkuk soto dengan nasi dan taburan bawang putih goreng menggoda selera. Kuahnya bening dengan rasa asin gurih dan sedikit manis. Sebagai pelengkap, ada kecambang dan taburan seledri rajang.

Saturday, 27 May 2017

Pastor Greg Soetomo Raih Gelar Doktor di UIN Syarif Hidayatullah

Oleh ALOYSIUS B KURNIAWAN
Tahun 2013, Prof Azyumardi Azra mendengar kabar mengejutkan. Seorang pastor Gereja Katolik meminta izin untuk kuliah di Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Kala itu, Azyumardi menjabat Direktur Pascasarjana.
pastur-gregorius-soetomo-sj-menerima-ucapan-selamat-dari-harry-tjan-silalahi_20170526_233111.jpg
Pastor Gregorius Soetomo SJ menerima ucapan selamat dari Harry Tjan Silalahi, salah satu Pendiri Centre for Strategic and International Studies (CSIS) setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul Bahasa, Kekuasaan, Sejarah, Historiografi Islam Marshall GS Hodgson dalam Perspektif Kajian Poststrukturalisme Michel Foucault, di Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu (24/5/2017). Setelah mempertahankan disertasinya di hadapan para penguji, Soetomo dinyatakan lulus dengan predikat cum laude dan merupakan satu-satunya imam yang pernah meraih gelar doktor di UIN Jakarta. (Kompas/Aloysius Budi Kurniawan)
“Saya paling bahagia ketika mendengar kabar itu. Saya percaya bahwa saling menghormati dan menghargai akan terbanngun kalau perasaan saling curiga dihilangkan,” ujarnya, Rabu (24/5), di sela ujian promosi doktor Gregorius Soetomo SJ di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Soetomo tercatat sebagai pastor pertama yang meraih gelar doktor dari UIN Syarif Hidayatullah.

Saturday, 8 April 2017

Loyang Mendale, Peneguhan Kebinekaan

Oleh ZULKARNAINI
Penemuan artefak dan kerangka manusia prasejarah di Loyang (Goa) Mendale, Kebayakan, Aceh Tengah, Aceh, memiliki makna besar. Ternyata, tiga kelompok manusia pernah hidup di goa tiu pada rentang waktu 8.800 tahun hingga 3.500 tahun lalu. Meski berbeda budaya dan bahasa, mereka hidup secara harmonis.
loyang mendale.jpg
Pengunjung mengamati benda prasejarah yang diduga berusia 8.800 tahun hingga 3.500 tahun yang lalu di Loyang (Goa) Mendale, Kebayakan, Aceh Tengah, Aceh, Senin (20/3). Loyang Mendale merupakan tempat hidup manusia prasejarah ras Melanesia dan Mongoloid yang diduga leluhur suku Gayo. (Kompas/Zulkarnaini)
“Inilah bibit-bibit kebinekaan kita. Hal seperti ini terjadi di sini dan di daerah-daerah lain di Nusantara, kemudian berkembang dan menjadi nilai kehidupan. Artinya, nilai kebinekaan ini sudah tumbuh sejak nenek moyang kita dulu,” ujar ahli arkeologi Indonesia, Harry Truman Simanjuntak.
Truman bersama para arkeolog lainnya menghadiri peresmian Rumah Peradaban Gayo, Senin (20/3). Deklarasi Rumah Peradaban Gayo bertempat di Loyang Mendale, lokasi penemuan artefak dan kerangka manusia prasejarah.
Rumah Peradaban Gayo dibentuk untuk menyebarluaskan penemuan benda bersejarah di Mendale.
“Yang terpenting adalah memaknai penemuan ini,” kata Truman, yang merupakan profesor riset dari Pusat Arkeologi Nasional.
Penemuan artefak dan kerangka manusia prasejarah di Loyang Mendale berawal dari temuan gerabah oleh tim arkeologi Balai Arkeologi Medan pada tahun 2007. Saat itu, mereka menyurvei Danau Laut Tawar. Mereka memang menduga ada kehidupan di sekitar danau itu pada ribuan tahun lalu. Apalagi, danau itu cocok dijadikan tempat tinggal. Ekologi danau dengan segala sumber daya alam di sana mendukung kehidupan.
Danau Laut Tawar terletak sekitar 10 kilometer dari Takengon, ibu kota Aceh Tengah, atau 325 kilometer dari Banda Aceh. Danau luas 5.000 hektar itu merupakan penyedia air bagi pertanian dan menjadi obyek wisata unggulan daerah itu.
Pada tahun 2009, para arkeolog mulai melakukan ekskavasi untuk mengetahui kandungan arkeologis di dalam tanah di “mulut” Loyang Mendale. Loyang itu pun jaraknya hanya 30 meter dari tepi danau. Pada kedalaman 20 sentimeter hingga 2 meter ternyata ditemukan artefak berupa gerabah, kapak batu, tulang hewan, cangkang kerang, dan 13 kerangka manusia. Hingga tahun 2017 ini, penelitian masih terus dilanjutkan.
Tiga lapisan
Truman menuturkan, di Loyang Mendale ternyata terdapat tiga lapisan penghuni. Periode pertama sekitar 8.800 tahun lalu, periode kedua sekitar 4.400 tahun lalu, dan terakhir sekitar 3.500 tahun lalu.
Pada periode pertama, penghuninya bercirikan ras Austro-Melanesia dengan babakan peradaban mesolitik. Mereka menetap di goa, berburu, dan menggunakan alat dari batu lebih bervariasi seperti serpih batu, serut, mata panah, dan mata pancing. Orang-orang Melanesia, kata Truman, memiliki ciri kulit hitam dan rambut keriting. “Seperti saudrara kita di bagian timur Indonesia,” ujar Truman.
Pada 4.400 tahun lalu, lanjut Truman, datang penghuni baru dari ras Mongoloid. Mereka datang dari Asia Tenggara daratan. Budayanya disebut neolitik. Mereka sudah bercocok tanam, tinggal menetap, dan memiliki pranata sosial atau aturan dalam komunitasnya. Mereka berbahasa Austro Asiatik.
Imigrasi ketiga terjadi sekitar 3.500 tahun lalu saat kedatangan ras Mongoloid penutur Austronesia. Mereka memiliki budaya yang hampir sama dengan migrasi yang kedua itu, yaitu neolitik. Namun, kelompok ini lebih maju. Mereka punya inovasi di bidang pertenunan, teknologi, dan pelayaran.
“Inilah nenek moyang Nusantara yang dalam nyanyian disebut ‘nenek moyangku seorang pelaut’,” kata Truman.
Akulturasi budaya
Ketiga kelompok ini hidup di Loyang Mendale. Mereka tumbuh harmonis. Terjadi interaksi biologis atau perkawinan silang dan akulturasi budaya dengan baik. Kematian mereka bukan karena peperangan antarkelompok. Ini dibuktikan dengan posisi kerangka saat ditemukan telah diatur sedemikian rupa. Jasad terlentang dengan kaki dilipat, ditindih dengan batu sebagai bekal kubur, dan sebagian dihadapkan ke matahari terbit.
“Inilah bibit-bibik kebinekaan kita. Di Indonesia ada campuran ras, kelompok, dan etnis sehingga membentuk keindonesiaan. Nilai ini yang perlu kita teruskan kepada generasi muda bahwa kita bersaudara sejak leluhur,” tutur Truman.
Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas) I Made Geria menegaskan, sejarah panjang yang terkubur di Loyang Mendale merupakan bagian dari perjalanan bangsa. Nilai-nilai luhur yang dipraktikkan nenek moyang pun harus menginspirasi generasi muda.
Arkenas menjadikan Loyang Mendale sebagai situs pendidikan. Selain itu, situs ini juga berpotensi menjadi obyek wisata sejarah. “Gayo punya kekayaan sejarah, keindahan alam, budaya, dan kopi. Jika ini dipadukan, daerah ini akan lebih cepat berkembang,” ujar Made.
Wakil Bupati Aceh Tengah, Khairul Asmara mengatakan, hasil pengujian DNA kerangka manusia dan orang Gayo ada kesamaan. Artinya, diduga kuat leluhur orang Gayo merupakan manusia di Loyang Mendale.
Kehidupan masa lalu menjadi pijakan menata kehidupan sekarang dan masa depan. Loyang Mendale adalah pula kepingan sejarah untuk melengkapi jejak kehidupan di Nusantara.
danau laut tawar.jpg
Obyek wisata alam Danau Laut Tawar di Takengon, Aceh Tengah. (Kompas.com/Fikria Hidayat)
Kompas, Sabtu, 1 April 2017

Friday, 23 December 2016

Toleransi, Denyut Kehidupan "Kota Wali"

Oleh ABDULLAH FIKRI ASHRI
Setiap tahun, menyambut peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, kompleks keraton di Kota Cirebon, Jawa Barat, didera kemacetan lalu lintas. Ribuan orang hilir mudik di antara pedagang dan kendaraan. Uniknya, saat itu pula, semangat toleransi antarumat yang berbeda agama dan suku tak sekejap pun macet.
0b58bd26d3fe48a1bd63ab87dc1d43c9.jpg
Pengunjung memadati Mande Manguntur di kompleks Keraton Kanoman, Kota Cirebon, Jawa Barat, Senin (12/12). Ribuan pengunjung hilir mudik di Keraton Kanoman untuk ikut serta dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. (Kompas/Abdullah Fikri Ashri)
Seperti malam itu, Senin (12/12), di sepanjang Jalan Pulaseran, sekitar Keraton Kasepuhan, Kota Cirebon, pedagang makanan dan pakaian memadati bahu jalan yang juga telah menjadi tempat parkir. Hujan mengguyur tanpa henti.
Ribuan orang berdesak-desakan di keraton yang berdiri lebih dari lima abad itu. Berbagai suku dan agama menyatu dalam tradisi Panjang Jimat, puncak acara Maulid Nabi Muhammad SAW. hal itu tampak dalam acara sungkeman atau silaturahim antara Sultan Keraton Kasepuhan XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat dengan masyarakat, termasuk dengan warga Tionghoa.
“Saat ini, yang perlu diteguhkan ialah toleransi di antara kita. Jangan sampai bangsa kita terpecah,” ujar Arief malam itu.
Prosesi Maulid atau muludan di “Kota Wali” memang menjadi momen memperkuat toleransi. Tidak sulit mendapatkan contoh. Halaman depan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh dan Perguruan Advent Cirebon (PAC) yang terletak di sekitar keraton, misalnya, diokupasi pasar tumpah muludan.
Bagi Kepala Sekolah TK dan SD PAC, Marni, meskipun muludan bukan bagian dari ritual agamanya, ia tidak mengeluhkan kemacetan yang dipicu Pasar Maulid. Bahkan, halaman parkir gereja dan sekolah dijadikan tempat pengunjung peringatan hari besar Islam itu.
Padahal, tradisi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kota Cirebon tidak berlangsung sehari dua hari. Pada pedagang berjualan sejak pukul 10.00 hingga 22.00 di bahu jalan sebulan penuh. “Sekolah dan jemaat enggak terganggu. Ibadah kami setiap hari Sabtu pagi, sebelum pedagang berjualan. Kami juga saling mengajak untuk berbelanja di muludan,” ujarnya.
Kepala PAC, J Siboro, menuturkan, meskipun berbeda agama dan suku, toleransi tetap menjadi yang utama. Sebelum peringatan Maulid, pihaknya rapat bersama pihak Keraton Kasepuhan dan aparat kecamatan untuk menyukseskan acara itu.
“Kami mencoba membantu sebisanya. Kalau Idul Fitri, kami mengunjungi Sultan Keraton Kasepuhan,” ujarnya.
Di sekolah beragama Kristen itu juga terdapat empat guru beragama Islam. Mereka mengajar dengan mengenakan jilbab.
Sekitar 1 kilometer ke arah utara, semarak menyambut Maulid juga tampak di Keraton Kanoman. Pasar Kanoman lebih ramai dengan pengunjung dan pedagang baru. Sekitar 400 meter dari keraton, terdapat kawasan Pecinan, sebagai salah satu pusat perdagangan. Pedagangnya kebanyakan etnis Tionghoa. Tidak terasa sedikit pun persaingan antarpedagan yang berbeda etnis tersebut.
Pasar Maulid juga menjadi tempat bagi siapa saja, tak peduli agama dan etnisnya. Setidaknya 700 hingga 1.000 pedagang atau usaha kecil menengah, berpartisipasi di pasar itu. Perputaran uang diperkirakan Rp 20 miliar dalam sebulan.
“Non-Muslim di Kota Cirebon berkontribusi besar dalam perekonomian dan kehidupan sosial umat Muslim. Begitu pun sebaliknya. Mereka saling mendukung,” ujar Sultan Sepuh Arief.
Kesejukan relasi sosial itu tidak terbentuk dari program pemerintah daerah ataupun pusat. Akan tetapi, selama berabad-abad secara turun-temurun diselenggarakan oleh keraton dan masyarakat.
Warisan besar
Menurut Arief, toleransi tersebut merupakan warisan besar Syekh Syarif Hidayatullah yang dikenal sebagai Sunan Gunung Jati, salah satu dari wali sanga, ulama besar di Jawa sejak abad ke-15 Masehi.
9b241eacda44438bb508c47c7846d72d.jpg
Antrean kendaraan hingga 1,5 kilometer terjadi di Jalan Raya Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, tepatnya sekitar makam Sunan Gunung Jati. (Kompas/Abdullah Fikri Ashri)
be43d3572b624a499205b0f84b74800a.jpg
Pengunjung memadati Bangsal Sekaten di kompleks Keraton Kanoman. (Kompas/Abdullah Fikri Ashri)
0e52073b8b4e4ced95058f0364fbed22.jpg
Nayaga, pemain gamelan, memainkan gamelan pusaka di Keraton Kanoman, Kota Cirebon, Jawa Barat. Gamelan yang berumur lebih dari 500 tahun itu hanya dimainkan menjelang perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. (Kompas/Abdullah Fikri Ashri)
Sebagai pemimpin, Sunan Gunung Jati paham betul akan pentingnya keberagaman dan sifat toleransi. Apalagi, berdasarkan naskah Purwaka Caruban Nagari yang ditulis tahun 1720 oleh Pangeran Arya Carbon, Cirebon berasal dari kata Sarumban lalu diucapkan Caruban yang berarti campuran. Orang berbagai etnis, dari Jawa, Tionghoa, hingga Arab yang berada di wilayah Panjunan bercampur di kota ini.
Tengoklah arsitektur keraton dan sejumlah masjid yang merupakan akulturasi budaya. Bangunan Siti Inggil di Kasepuhan dan Kanoman, misalnya, mengadopsi gerbang berupa bangunan berundak bercorak Hindu.
Bahkan, Sunan Gunung Jati tidak mengubah nama bangunan itu. Nama Panca Niti yang merupakan tempat istirahat pejabat Keraton Kanoman, misalnya, tidak berganti.
“Ini bukti bahwa Sunan Gunung Jati tidak merusak kepercayaan yang sudah ada sebelumnya. Meskipun berbeda etnis dan agama, masyarakat di Cirebon sadar persatuan,” ujar Cepi Irawan, kerabat Keraton Kanoman.
Keramik asal Tiongkok, misalnya, juga menempel di dinding kompleks Keraton Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan, dan Peguron Kaprabonan, serta Masjid Sang Cipta Rasa dan Masjid Merah Panjunan.
Profesor Dadan Wilda dalam bukunya Sunan Gunung Jati (Petuah, Pengaruh dan Jejak-Jejak Sang Wali di Tanah Jawa), corak Tionghoa masuk ketika utusan perdagangan Tiongkok yang dipimpin Laksamana Cheng Ho atau dikenal dengan nama Sampo Kong tiba di Cirebon. Sunan Gunung Jati menerima hadiah keramik dan bahan porselen lain. Ia juga menikah dengan Putri Ong Tien asal Tiongkok.
“Itu sebabnya, setiap acara besar warga Tionghoa di Cirebon juga menjadi kegiatan bersama masyarakat di Kota Wali,” ujar Sidik Sugiharto, Ketua Wihara Dewi Welas Asih. Saat perayaan Cap Go Meh, misalnya, ribuan orang memadati Jalan Kantor, sekitar wihara. Keraton ikut terlibat dalam acara itu.
Replika kereta Kencana Paksi Naga Liman dari keraton juga tersaji. Kereta peninggalan leluhur Cirebon itu menyimbolkan hibriditas kebudayaan. Dua sayap di kiri dan kanan menyimbolkan paksi atau burung (buroq) yang mewakili Islam. Adapun wajah yang mirip naga, tetapi memiliki belalai masing-masing melambangkan peninggalan Tionghoa dan Hindu.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW telah usai. Denyut toleransi di Kota Wali pun terus hidup.
1237277620X310.jpg
Kompleks makam Sunan Gunung Jati di Cirebon, Jawa Barat, yang dihiasi keramik asal Tiongkok. (Kompas/Rini Kustiasih)
1815025Picture-012780x390.jpg
Kereta Singabarong di Keraton Kasepuhan, Cirebon, Jawa Barat. (Kompas.com/Fitri Prawitasari)
1602167Keramik-Belanda-di-Keraton-Kasepuhan780x390.jpg
Keramik-keramik berwarna cokelat ini dibawa ke keraton Kasepuhan, Cirebon pada sekitar 1745. Keramik-keramik yang berisi cerita para nabi dalam Kitab Perjanjian Lama dipasang sebagai hiasan di salah satu sudut keraton. Keberadaan keramik-keramik ini semakin membuktikan bahwa keraton menjadi pusat percampuran berbagai budaya. (Kompas.com/Ervan Hardoko)

Kompas, Minggu, 18 Desember 2016

Sunday, 18 December 2016

Suara Beda dari Palestina

Oleh MOHAMMAD HILMI FAIQ
Cerita tentang Palestina selalu identik dengan perang dan penindasan oleh Israel. Yang muncul kemudian adalah cerita pedih dan pilu tentang perjuangan anak manusia merebut kemerdekaan. Di balik itu, ternyata tersimpan cerita cantik tentang toleransi umat beragama. Muslim sebagai warga mayoritas sangat melindungi golongan kristiani sebagai minoritas. Inilah kesaksian kelompok paduan suara Bethlehem Bible College, Palestina. Mereka menyampaikan suara yang berbeda tentang Palestina.
voa-fathiyah wardah.jpg
Penampilan paduan suara Bethlehem Bible College dari Bethlehem, Palestina di depan jemaat misa di Gereja Bethel Indonesia Glow Fellowship Centre di Jakarta (11/12). (VOA/Fathiyah Wardah)
Rob, aina adzhabu mir ruhika, aina ahrobu min wajhika
A’ajibatun hadihil ma’rifah, irtafaat lâ istathi’uha
Itulah cuplikan lagu “Let You Know” yang dinyanyikan paduan suara Bethlehem Bible College dalam bahasa arab. Lagu yang menceritakan tentang ketundukan dan sikap kerendahan manusia di hadapan Tuhan ini terdengar syahdu sekaligus unik. Syahdu karena suara para penyanyi yang memang merdu. Unik lantaran jarang sekali, khususnya di Indonesia, ada lagu berbahasa Arab dilantunkan di tengah-tengah umat kristiani dalam konser menjelang Natal.
Di tempat ibadah Nafiri Allah, Central Park, Jakarta, Bethlehem Bible College mengisi acara bertajuk “Palestine Christmas Concert” di hadapan seribuan orang. Sebanyak dua belas penyanyi dipandu konduktor, Akram, membuka penampilan dengan lagu “Jesus Comes Tonight” yang mereka alih bahasakan secara bebas ke bahasa Arab dan ditulis menggunakan transliterasi Inggris menjadi “Jaiya el laily”.
Jemaah yang memadati ruangan segera merekam gambar mereka. Tidak sedikit yang merangsek maju untuk mendapatkan gambar yang lebih bagus sebagaimana saat mereka menonton konser musik pada umumnya. “Saya baru kali ini mendengar lagu gereja berbahasa arab,” kata seorang jemaah.
Sayang mereka hanya menyanyikan tiga lagu karena panitia hanya memberikan waktu 15 menit.
Suasana lebih menarik terlihat di Manado saat mereka menyanyi selama satu jam di atrium Manado Town Square (Mantos), Sulawesi Utara. Bukan hanya umat kristiani, umat Muslim juga berdatangan menonton. “Malnya empat lantai. Penuh semua orang menonton,” kata Hence Bulu, selaku Sekretaris Jenderal Badan Musyawarah Antargereja Nasional sekaligus Humas Sekolah Tinggi Teologi (STT) Global Glow Indonesia.
Paduan suara Bethlehem Bible College tampil tiga kali dalam sehari di Jakarta sebelum ke Manado dan Bali. mereka datang atas kerja sama dengan STT Global Glow Indonesia.
Pemandangan di Manado itu menunjukkan bahwa lagu dapat mempersatukan umat karena saat itu mereka tidak lagi melihat perbedaan agama. Daya tarik konser tersebut terletak pada lagu-lagu berbahasa Arab yang dinyanyikan oleh orang Palestina, yang bagi orang Indonesia tergolong pemandangan yang berbeda dan baru.
Selain itu, mereka menggunakan bahasa Arab. ini sekaligus menegaskan bahwa bahasa, sebagaimana lagu, memiliki makna universal. Bahasa Arab bukan milik agama tertentu. Itu juga berarti bahwa segala yang berbahasa Arab belum tentu mewakili agama tertentu. Bahasa Arab menjadi bahasa sehari-hari warga Palestina, termasuk kelompok Kristen evangelis yang memprakarsai Bethlehem Bible College.
Penampilan paduan suara Bethlehem Bible College mengonfirmasi bahwa Palestina tidaklah tunggal. Dia mempunyai wajah lain, kaum minoritas yang hidup aman di tengah mayoritas.
Toleransi
Bethlehem Bible College merupakan perguruan tinggi Kristen evangelis, yang berdiri sejak 1979 di Bethlehem ketika militer Israel berkuasa. Dr Bishara E Awad selaku Founding President Emeritus Bethlehem Bible College mengatakan, mereka merupakan kelompok kecil yang hidup di tengah-tengah mayoritas kaum Muslim. Akan tetapi, selama ini mereka hidup dalam harmoni karena saling berempati dan peduli.
Dia menambahkan, paduan suara Bethlehem Bible College memupuk rasa peduli dan toleransi bukan hanya di Palestina. Mereka setidaknya enam kali ke Jordania untuk membantu orang-orang yang kesusahan dan kesakitan karena perang. Semangat menolong perlu dipupuk tanpa melihat kelompok dan golongan. Sepanjang ada yang kesusahan, sudah seharusnya ditolong. Menolong tak kurang dari cara manusia untuk memahami sesama.
Semangat itu dia gambarkan dengan cerita orang Samaria yang berbaik hati menolong orang Yahudi yang terluka. Padahal, dia sadar bahwa selama ini orang Yahudi memusuhi orang Samaria.
Kehadiran paduan suara Bethlehem Bible College di Indonesia seolah menjadi testimoni pentingnya mengedepankan toleransi. Ini setidaknya dikuatkan oleh pernyataan Wakil Rektor STT Global Glow Indonesia sekaligus Ketua Panitia Konser di Nafiri Allah, Daniel Saragih. “Hari-hari ini ada gesekan-gesekan yang timbul kembali masalah hubungan agama (di Indonesia). Kami melihat ini waktu yang sangat tepat mengundang mereka sehingga kita bisa belajar dari Palestina bahwa Natal didukung oleh kalangan Muslim.”
Jika kabar tentang Palestina lebih banyak tentang perang dan derita, mereka kini menyuarakan perdamaian dan persatuan. Paduan suara Bethlehem Bible College telah membawa suara yang berbeda tentang Palestina.
Kompas, Minggu, 18 Desember 2016

Friday, 9 September 2016

Memperkuat Toleransi Beragama

Oleh MASDAR HILMY
Kerusuhan Tanjung Balai – dan juga kerusuhan Tolikara tahun lalu – telah mengentakkan kesadaran kita bahwa gambar kerukunan dan toleransi beragama di negeri ini tidaklah “seindah warna aslinya”.
Ternyata masih ada banyak hal yang harus dibenahi. Kondisi semacam ini ibarat memandang gunung: indah ketika dilihat dari jauh, tetapi penuh jurang dan bebatuan mengerikan jika didekati. Lebih berbahaya lagi, sebuah gunung berapi menyimpan magma panas yang sewaktu-waktu dapat meletus dan menghancurkan kehidupan alam sekitar.
Terlepas dari berbagai pujian dunia terhadap tradisi toleransi beragama di negeri ini, kerukunan dan toleransi beragama kita harus diakui berdiri di atas fondasi yang masih rapuh. Hanya karena hasutan “kecil” melalui pesan berantai di media sosial, harmoni sosial umat beragama mendadak terkoyak. Masyarakat kita seolah kehilangan kecerdasan publik untuk memfilter dan menangkis segala isu provokatif.
Di tengah banjirnya informasi di media sosial, rasanya tiada pilihan lain bagi masyarakat kita kecuali perlu memperkuat kecerdasan publik dalam rangka merasionalisasi segala bentuk provokasi agar konflik kerusuhan bernuansa suku, agama, ras, dan antar-agama (SARA) tidak mudah terjadi. Barangkali inilah tantangan terberat masyarakat kita di tengah era digital seperti sekarang ini.
Kekenyalan sosiologis
Sebuah masyarakat dapat dikatakan dewasa dalam hal kerukunan dan toleransi beragama manakala mereka memiliki tingkat kekenyalan sosiologis yang tinggi dalam mengelola, memfilter, dan selanjutnya menangkal berbagai bentuk isu provokatif di seluruh tingkatan: kecil, sedang, dan berat. Berbagai konflik dan kerusuhan sosial bernuansa SARA terjadi akibat minimnya (bahkan absennya) kekenyalan sosiologis dimaksud. Sementara itu, roh dari kekenyalan sosiologis adalah rasionalitas publik yang bekerja untuk menimbang keuntungan dan kerugian dari sebuah tindakan kolektif.
Ketika rasionalitas publik bekerja secara maksimal, maka sebuah masyarakat niscaya tidak akan memilih tindakan yang dapat membahayakan dan merugikan orang lain. Memang, tindakan membakar rumah ibadah agama lain bisa saja dikonstruksi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab sebagai upaya pembelaan diri atas penghinaan terhadap agamanya. Namun, jika mereka sadar sesadar-sadarnya (religiously literate), tindakan tersebut pasti cenderung dihindari karena tidak dibenarkan oleh ajaran agama apa pun di dunia ini. Dalam keadaan perang pun, Islam tidak membenarkan penghancuran rumah-rumah ibadah umat agama lain!
Pertanyaannya, sudah sedemikian parahkan masyarakat kita? Mengapa mereka lebih memilih cara perusakan dan penghancuran ketimbang dialog? Seberapa jauh masyarakat kita “kenyal” secara sosiologis ketika ada “tangan-tangan jahil” mencoba mengail di air keruh? Jangan-jangan Tanjung Balai adalah fenomena gunung es di negeri ini: masyarakat kita secara umum belum teruji untuk menghadapi hantaman provokasi dari yang ringan hingga yang berat. Artinya, masyarakat kita berdiri di atas fondasi toleransi yang rapuh (fragile tolerance) yang sewaktu-waktu dapat meledak jika diprovokasi.
Dalam kondisi semacam ini, ada baiknya kita membayangkan diri sebagai kelompok minoritas di wilayah lain, seperti masyarakat Muslim di daratan Eropa atau di Amerika Serikat. Bagaimana masyarakat non-Muslim di kedua benua tersebut secara umum berusaha sekuat tenaga menjaga harmono di tengah hantaman berbagai provokasi kekerasan melalui ulah segelintir teroris yang menewaskan banyak warga sipil? Bagaimana pula Pemerintah Jerman masih tetap menerima gelombang pengungsi di tengah hancurnya reputasi mereka akibat ulah teroris?
Pembunuhan warga sipil di Nice, Perancis, melalui modus terorisme single wolf yang menewaskan 84 warga sipil (15/7/2016), aksi penembakan membabi buta seorang pemuda berketurunan Iran di kota Muenchen, Jerman (22/7/2016), dan penyerangan sebuah gereja di Perancis (26/7/2016) adalah sebentuk provokasi tingkat berat.
Sekalipun daratan Eropa telah berkali-kali dihantam isu terorisme, masyarakat sejauh ini tetap tenang dan tidak terprovokasi untuk melancarkan aksi balasan. Artinya, masyarakat di kedua negara tersebut secara umum telah memiliki tingkat kekenyalan sosiologis yang tinggi dalam menghadapi berbagai tekanan dan hantaman provokasi.
Memang kasus-kasus diskriminasi dan pelecehan agama kerap terjadi di daratan Eropa, AS, dan Australia. Namun, jatuhnya korban di kalangan warga sipil akibat aksi teroris bukanlah balasan setimpal atas aksi diskriminasi dan pelecehan tersebut. Aksi kekerasan teroris jelas sudah melewati batas-batas kemanusiaan, sesuatu yang semestinya sangat disakralkan oleh ajaran agama apa pun, tak terkecuali Islam. Namun, mengapa aksi-aksi kekerasan masih tetap dilakukan teroris? Jawabannya: karena rasionalitas publik mereka telah tersubordinasi dan terkooptasi oleh fanatisme buta yang justru merugikan semua.
Pilarisasi masyarakat sipil
Sebenarnya aksi kekerasan di kalangan umat beragama dapat dicegah jika kelompok masyarakat sipil (civil society) kita dapat memerankan diri sebagai benteng terakhir kerukunan dan toleransi beragama. Meminjam istilah Bryan S Turner (2016: 266), penciptaan toleransi beragama dapat dilakukan melalui “pilarisasi masyarakat sipil” dengan cara melakukan berbagai bentuk penguatan toleransi di tiap-tiap kluster masyarakat sipil, baik secara teologis maupun sosiologis. Tentu saja proses penguatan tersebut harus dilakukan secara top-down, bukan bottom-up.
Artinya, para elite agamawan sebagai bagian dari masyarakat sipil harus sigap dan bertanggung jawab mengendalikan emosi massa agar kekerasan dan kerusuhan sosial bisa dicegah. Sayangnya, tidak semua elite agamawan memiliki kesadaran atau kapasitas demikian.
Dalam banyak kasus, beberapa aksi kekerasan bernuansa SARA di negeri ini justru “direstui” oleh para elite agamawan. Yang lebih menyedihkan, beberapa aksi kekerasan terjadi akibat pembiaran oleh para aktor negara yang semestinya berdiri di garda depan dalam melindungi setiap warga negara.
Dalam konstruk teoretik Simon Chambers dan Jeffery Kopstein (2001), kelompok masyarakat sipil yang tidak mampu mencerdaskan dan menyejahterakan para anggotanya disebut sebagai masyarakat sipil yang buruk (bad civil society). Oleh karena itu, ada baiknya masyarakat sipil kita melakukan berbagai penguatan dan advokasi massa agar masyarakat kita mampu mendayagunakan rasionalitas publik secara maksimal.
Bekerjanya mekanisme rasionalitas publik tersebut dengan sendirinya akan menciptakan kekenyalan sosiologis di kalangan masyarakat dalam menghadapi berbagai macam provokasi yang pada gilirannya akan menciptakan kedewasaan di kalangan mereka.
Salah satu indikator kedewasaan masyakat kita adalah dipilihnya cara-cara beradab (baca: non-kekerasan) sebagai mekanisme resolusi konflik yang baik bagi berbagai masalah sosial kemasyarakatan. Ada banyak isu provokatif yang berseliweran di ruang publik yang dapat mengancam bangunan toleransi beragama kita. Seberat apa pun tingkat provokasinya, tidak semestinya kita memilih cara-cara kekerasan untuk menyelesaikan masalah-masalah keagamaan. Memasuki usianya yang ke-71, semoga kerukunan dan toleransi beragama kita semakin kokoh, kenyal, dan dewasa sehingga kemajemukan beragama akan membawa berkah ketimbang bencana.
MASDAR HILMY
Guru Besar Ilmu-ilmu Sosial dan Wakil Direktur Pascasarjana UIN Sunan Ampel, Surabaya
Kompas, Sabtu, 10 September 2016

Saturday, 2 July 2016

Akulturasi dalam Lontong

Sepiring lontong dengan kuah opor, suwiran daging ayam, telur bulat, sambal goreng, dan kerupuk merupakan penganan wajib dalam perayaan Cap Go Meh atau puncak perayaan tahun baru Imlek. Lontong ini tak hanya mengenyangkan dan merekatkan kebersamaan, tetapi juga melambangkan akulturasi antara dua budaya, yaitu Tiongkok dan Jawa.
1717392-lontong-cap-go-meh-620X310.gif
Lontong Cap Go Meh (Kompas.com/Puji Utami)
Salah satu sudut kompleks Kelenteng Tay Kak Sie di kawasan pecinan Kota Semarang, Jawa Tengah, pekan lalu, dipenuhi siswa sekolah Kuncup Melati. Di dekat pintu masuk, piring plastik berisi lontong berjajar. Kaum multietnis satu per satu mengisi piring itu dengan sayur, memberi kerupuk, dan memberikannya kepada anak-anak yang duduk di lantai.
Seorang guru Sonorous Dharma (Sonny) menjelaskan mengenai Cap Go Meh dan alasan acara itu identik dengan penganan lontong. Cap Go Meh merupakan akhir perayaan akhir tahun baru Imlek, yang jatuh 15 hari setelah Imlek. Cap Go Meh di Tiongkok menandakan awal musim semi, awal yang baru untuk bercocok tanam.
Di Tiongkok, rangkaian perayaan tahun baru bisa berlangsung hingga satu bulan. Saat bulan bersinar penuh, bulan purnama, orang biasanya berkumpul. Jika orang berkumpul, bertemu, pasti selalu ada makanan. Kehadiran makanan dalam pertemuan ini menjadi tradisi.
"Dalam perayaan hari khusus selalu ada penganan identik, seperti kue keranjang atau kue bulan. Saat Cap Go Meh di Indonesia, makanan yang identik adalah lontong," kata Sonny.
Penganan Indonesia
Siang itu, anak-anak menikmati lontong yang disiram dengan opor, suwiran ayam, sayur terong, sambal goreng, telur pindang, abing (parutan kelapa yang diberi gula jawa), bubuk kedelai, dan kerupuk.
"Di Tiongkok tidak ada lontong. Lontong benar-benar penganan dari Indonesia. Cap Go Meh, meski diperingati oleh masyarakat peranakan, ikut dinikmati juga oleh warga etnis lain. Penganan yang dipilih adalah makanan yang digemari banyak orang," papar Sonny.
Jongkie Tio, pemilik Restoran Semarang yang juga pemerhati budaya, mengungkapkan, lontong Cap Go Meh identik ketupat Lebaran yang biasanya dimakan orang Jawa pada satu minggu setelah Idul Fitri. Ketupat seperti saudara lontong.
Menurut Jongkie, zaman dahulu, ketika masyarakat Jawa merayakan Lebaran Ketupat, mereka membagikan ketupat lengkap dengan sayur dan lauk kepada tetangga dan saudara, termasuk warga peranakan. Dari kejadian itu, setiap tahun baru Imlek warga peranakan pun ingin membagi kegembiraan dengan membagikan penganan serupa.
"Kalau Lebaran makan ketupat, saat Cap Go Meh dibuatlah lontong. Lontong berbentuk silinder lonjong, jika diiris bentuknya bulat-bulat. Bentuk lingkaran ini melambangkan bulan purnama yang bersinar penuh saat Cap Go Meh," kata Jongkie.
Oleh karena tradisi, beberapa sajian tidak dapat dihilangkan dalam sepiring lontong Cap Go Meh. Pelengkap lontong antara lain opor ayam, bubuk kedelai, abing, docang (parutan kelapa), sambal goreng, dan kerupuk. Selain itu, dimungkinkan adanya kreasi lain, seperti yang disajikan di Restoran Semarang, yaitu penambahan sambal goreng ati, sambal goreng rebung, sambal goreng tahu, buncis, dan sayur lodeh.
Lontong Cap Go Meh melambangkan banyak perbedaan di Indonesia, tetapi ketika disatukan dalam satu piring, rasanya ternyata enak. (UTI)

Kompas, Rabu, 18 Maret 2015

Rasa Kuno Babah Nyonya

Oleh MAWAR KUSUMA dan ARYO WISANGGENI G
Orang Madura selalu terbuka terhadap pendatang, termasuk pendatang Tionghoa ataupun peranakan Tionghoa. Kehadiran peranakan Tionghoa ini tak hanya memberi sentuhan pengaruh Tionghoa pada budaya Madura, tetapi juga membubuhkan cita rasa baru pada masakan madura. Maka, lahirlah kuliner peranakan atau babah nyonya di Madura.
Daftar menu ditempel di tembok di dalam  Rumah Makan 17 Agustus di Sumenep, Sabtu, (5/3). Sejumlah menu masakan di rumah makan tersebut merupakan menu makanan peranakan dengan resep turun-temurun.
Daftar menu ditempel di tembok di dalam Rumah Makan 17 Agustus di Sumenep, Sabtu, (5/3). Sejumlah menu masakan di rumah makan tersebut merupakan menu makanan peranakan dengan resep turun-temurun. (Kompas/Bahana Patria Gupta)
Bukti keterbukaan menyambut orang asing itu bisa dilihat pada kolom jumlah penduduk dalam buku The History of Java karya Thomas Stamford Raffles. Pada 1800-an, jumlah orang Tionghoa dan peranakan Tionghoa di Madura tercatat 3,6 persen dari total penduduk. Jumlah ini hanya kalah dari Batavia.
Keeratan hubungan antara pendatang Tionghoa dan orang Madura kentara dalam keseharian hidup. Tak pernah ada gejolak, apalagi kerusuhan. Masuknya orang Tionghoa juga memperkaya hadirnya masakan baru. Apalagi, cara memasak tradisional Madura cenderung hanya mengenal proses rebus dan bakar.
Lewat Rumah Makan 17 Agustus, pemerhati budaya Madura, Edhi Setiawan, dengan nama Tionghoa Phwa Tiong Sien, menjadi salah satu peranakan Tionghoa yang setia menyajikan resep babah nyonya di Sumenep. "Kami mempertahankan resep babah nyonya. Asal-usul masakannya adalah masakan madura yang disempurnakan," kata Edhi yang telah sembilan generasi tinggal di Madura.
Resep babah nyonya ternyata cocok dengan lidah lokal. Pada 1957, ayahanda Edhi melihat peluang membuka restoran ketika menyaksikan keramaian orang pada saat pergelaran upacara kemerdekaan di Lapangan Sumenep. Rumah makan yang kini diwarisi dan dikelola Edhi dan istrinya, Trisnadewi, itu segera menarik pelanggannya ketika dibuka pertama kali seusai keramaian upacara 17 Agustus 1957.
Saking gandrungnya dengan gurih legit masakan peranakan di Rumah Makan 17 Agustus ini, selama dua hari di Sumenep, tim Selisik Batik Madura sampai tiga kali bersantap di restoran tersebut. Menu primadona kami adalah lontong cap go meh dengan kaldu gurih kental yang memang bakal bikin lidah ketagihan.
Adaptasi makanan
Lontong cap go meh menjadi salah satu menu yang mencerminkan adaptasi masakan Tionghoa dengan budaya lokal. Resepnya diwarisi turun-temurun. "Lontong cap go mehnya saja, kan, lain. Babah nyonya datang ke Indonesia bawa budaya sendiri. Bahan dasar masakan yang tersedia beda. Lontong cap go meh ini bukan murni Tiongkok," tutur Edhi.
Sepiring lontong cap go meh sudah bisa membangkitkan selera dari aroma harum kaldunya. Lontong yang merupakan makanan khas Indonesia dipadukan dengan opor ayam, pindang telur, hati sapi, dan sambal. "Masakan babah nyonya menang di kaldunya. Kaldu fanatik enggak boleh ditambah air," kata Edhi.
Berbeda dengan lontong cap go meh di Jawa, lontong cap go meh di Rumah Makan 17 Agustus disajikan tanpa sayur lodeh. Trisnadewi menyebut orang Madura tidak suka makan sayur kala bersantap di restoran. Karena tuntutan konsumen itu, lontong cap go meh hadir tanpa racikan sayur. Lontong cap go meh biasanya disantap keluarga Tionghoa 15 hari setelah Imlek pada perayaan Cap Go Meh.
Menu babah nyonya lain yang menjadi andalan adalah rawon yang diolah tanpa keluak. Peranakan Tionghoa awalnya berjumpa dengan rawon yang kaldunya tampak kotor oleh bumbu keluak, lalu "dibersihkan" sehingga tampak bening segar. Rawon dengan potongan daging sapi disajikan di atas nasi dengan tambahan kecambah kacang hijau.
Lontong Cap Gomeh di Rumah Makan 17 Agustus di Sumenep, Sabtu, (5/3). sejumlah menu masakan di rumah makan tersebut merupakan menu makanan peranakan dengan resep dari turun temurun.
Nasi Rawon di Rumah Makan 17 Agustus di Sumenep, Sabtu, (5/3). sejumlah menu masakan di rumah makan tersebut merupakan menu makanan peranakan dengan resep dari turun temurun.
Sop Buntut di Rumah Makan 17 Agustus di Sumenep, Sabtu, (5/3). sejumlah menu masakan di rumah makan tersebut merupakan menu makanan peranakan dengan resep dari turun temurun.
Lontong Cap Go Meh, Nasi Rawon, dan Sop Buntut di Rumah Makan 17 Agustus di Sumenep, Sabtu, (5/3). sejumlah menu masakan di rumah makan tersebut merupakan menu makanan peranakan dengan resep dari turun temurun. (Kompas/Bahana Patria Gupta)
Dalam resep babah nyonya, kaldu gulai diolah tanpa santan. Berbeda dengan gulai di Jawa yang diisi dengan aneka jeroan, gulai babah nyonya hanya diberi olahan daging dan tulang rusuk sapi. Lezatnya kaldu peranakan juga bisa dicecap dengan memesan sop buntut. Sebelum disajikan, kaldu terlebih dulu disaring.
Kedatangan pertama
Trisnadewi membuka restoran mulai pukul 08.00 hingga pukul 20.00. Rumah Makan 17 Agustus juga menghidangkan minuman istimewa, yaitu soda gembira, yang sudah hadir di restoran tersebut sejak 1960.
Tak hanya menyajikan masakan berat, Rumah Makan 17 Agustus sekaligus menjual camilan khas Madura, seperti emping teki yang terbuat dari umbi rumput teki, keripik gayam dari buah gayam, rengginang lorjuk (sejenis kerang laut), kerupuk terung laut, petis ikan, serta kerupuk ikan dari pelabuhan-pelabuhan ikan seperti Talango, Dungkek, Sepudi, dan Marengan.
Dari pelabuhan-pelabuhan itu, leluhur orang Tionghoa mulai menapakkan kaki di Madura. Konon, leluhur Edhi masuk pertama kali lewat Pelabuhan Dungkek. Dung berarti 'pertama', sedangkan kek adalah 'tamu'. Bahasa Hokkian itu bermakna 'tamu pertama'. Pelabuhan yang aslinya bernama Panjurangan itu kini dikenal sebagai Dungkek.
Dalam perjumpaan dengan Claudine Salmon yang menulis "The Han Family of East Java: Entrepreneurship and Politics (18th-19th Centuries)", Edhi yang memiliki ibu bermarga Han, yaitu Han Tjieo Nio, baru tahu bahwa marga Han yang mendarat di Sumenep masih bertalian darah dengan keturunan Jenderal Han yang tiba di pelabuhan tua Lasem dan Surabaya.
Edhi lalu mengantar sejarawan asal Perancis itu ke makam leluhurnya di Taposan, 5 kilometer dari kota Sumenep. Di makam kuno itu terdapat banyak nisan dengan syair Tionghoa kuno. "Makam leluhur saya ada di puncak bukit. Awalnya enggak sadar, ternyata Ta bermakna 'besar', Po adalah 'harta', San 'gunung'. Dulu Sumenep masih sepi, ini tanah terpilih," ujar Edhi.
Leluhur Edhi pertama kali datang ke Madura pada 1700-an, terlihat dari makam tertua leluhurnya yang berangka tahun 1776. Cerita serupa tentang masuknya orang-orang Tionghoa di Dungkek juga dikisahkan budayawan Madura, KH Zawawi Imron, yang juga peranakan Tionghoa. Menurut Zawawi, Dungkek menjadi salah satu titik pelarian orang Tionghoa ketika terjadi Geger Pacinan pada 1740-1743.
Selalu ada sejarah kuno Tionghoa dalam sepiring masakan babah nyonya yang tak terkira lezatnya.

Kompas, Minggu, 5 Juni 2016