Showing posts with label Kimia. Show all posts
Showing posts with label Kimia. Show all posts

Friday, 20 September 2019

Cemaran NDMA dalam Produk Obat Ranitidin

Pada 13 September 2019, US FDA, EMA, dan Health Canada menerbitkan hasil kajian yang menyebutkan temuan pengotor nitrosamine, yakni N-nitrosodimetilamin (NDMA), dalam kadar kecil di beberapa produk ranitidin, termasuk Zantac.
NDMA tergolong senyawa yang dapat menyebabkan kanker pada manusia (karsinogenik), berdasarkan hasil uji laboratorium. Senyawa ini merupakan kontaminan lingkungan, yang dapat ditemukan dalam air dan makanan, termasuk daging, produk susu, dan sayuran.
Ranitidin adalah penghambat H2 (histamine-2), yang dapat menurunkan produksi asam lambung. Produk obat ini digunakan untuk penyembuhan dan pencegahan tukak pada lambung dan usus, serta pengobatan penyakit refluks gastroesofageal (GERD).
Atas informasi ini, pasien diharapkan tidak serta merta menghentikan pengobatan dengan ranitidine. Namun, jika pasien ingin berhenti menggunakan obat ini, direkomendasikan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis supaya mendapatkan alternatif pengganti.

Saturday, 6 October 2018

Frances Hamilton Arnold dan Rekayasa Protein

Biologi sintetis merupakan bidang yang sedang berkembang dan fokus pada rekayasa biologi molekul seperti protein atau DNA. Para ilmuwan dapat membuat bakteri diproduksi secara massal untuk beragam keperluan khusus.
Frances Hamilton Arnold dari California Institute of Technology, Pasadena, AS, mengatakan, pada saat dirinya mulai menekuni bidang tersebut, bidang itu disebut sebagai "rekayasa protein". "Itu amat nyata bagi saya, bidang itu amat menggairahkan. Namun, saya tidak memprediksi bahwa ini akan demikian menarik dan besar pengaruhnya."

Saturday, 25 February 2017

Zat Maut VX

Oleh BENNY DWI KOESTANTO
Kode nama VX atau venomous agent X adalah senyawa organofosfat yang termasuk dalam salah satu zat kimia paling mematikan. Kode nama VX diberikan oleh para ilmuwan Amerika Serikat. Negara itu memproduksi VX secara massal dan menyimpan stok besar selama perang dingin.
VX-S-enantiomer-2D-skeletal.png
Zat itu tergolong zat pemusnah massal yang dilarang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Zat beracun berwarna kuning gelap dan tak berbau itu kekuatannya diperkirakan 10 kali lebih kuat daripada racun sarin. Pernampakannya mirip dengan oli kendaraan bermotor. Zat itu juga relatif mudah dan stabil saat dibawa atau diangkut. Cukup susah untuk mendeteksi zat itu sehingga ini memudahkan penggunanya untuk membunuh.
“Zat VX bisa membunuh orang dewasa dengan berat badan 70 kilogram hanya dengan mengoleskannya sebagai 5 miligram ke kulit,” kata mantan Pemimpin Sekolah Kimia Pasukan Pertahanan Darat Jepang, Yosuke Yamasato.
“Sangat luar biasa para eksekutor kejahatan itu menggunakan zat tersebut dengan tangan kosong. Mereka pasti tidak tahu bahwa yang mereka gunakan adalah VX,” kata Yosuke tentang dugaan penggunaan zat maut itu pada pembunuhan Kim Jong Nam.
Zat VX mengerang sistem saraf dengan cepat. Dosis yang tinggi dapat membunuh seseorang yang hanya beberapa menit saat dihirup. Ini terjadi karena pembuluh darah di paru-paru secara cepat menyebarkan senyawa itu melalui aliran darah dan organ-organ vital manusia.
Zaat VX mengakibatkan kelenjar-kelenjar dan otot-otot terstimulasi secara berlebihan dan memicu kondisi lemah secara cepat sekaligus membuat seseorang yang terkena zat itu tidak mampu bernapas secara normal atau tersengal-sengal.
Gejala-gejala itu bergantung pada dosis sekaligus apakah zat tersebut terhirup atau terkena kulit. Respons pada tubuh atas zat itu lebih cepat terjadi jika terhirup. Orang yang terpapar zat tersebut dalam dosis rendah dimungkinkan selamat.
Sebaliknya, seseorang yang terkontaminasi secara serius akan bereaksi secara cepat dan kerap kali mengerikan. Pernapasan seseorang yang terkena zat itu bisa terhenti disertai muntah-muntah dalam beberapa menit setelah terpapar. Jika dosis paparannya tinggi, bisa gagal jantung dan sistem respiratorinya berhenti total.
vx.jpg
Senyawa tersebut awalnya diciptakan di sebuah laboratorium di Inggris awal 1950-an. Namun, para ilmuwan AS kemudian memperbanyaknya pada masa Perang Dingin. Puluhan ribu ton zat VX pernah ditemukan di Newport Chemical Depot di Indiana. Seiring dengan berakhirnya Perang Dingin, stok zat itu kemudian dihancurkan pada akhir 1980. Zat tersebut diduga juta digunakan Irak terhadap suku Kurdi. (AFP)
Kompas, Sabtu, 25 Februari 2017
Penggunaan VX

  1. VX pertama kali disintesis pada 1952 oleh Dr Ranajit Ghosh, ahli kimia yang bekerja untuk Imperial Chemical Industries di Inggris. Mulai dipasarkan pada 1954 sebagai insektisida dengan merek “Amiton”. Namun, kemudian ditarik karena toksisitasnya pada manusia. Penelitian di Inggris dihentikan pada 1956.
  2. AS mulai memproduksi VX dalam skala besar-besaran pada 1961. Produksi di Amerika Serikat mulai dilarang pada 1969 dan di seluruh dunia pada 1993.
  3. Tahun 1994 dan 1995, kultus Jepang Aum Shinrikyo menggunakan VX buatan sendiri untuk meracuni tiga orang, salah satu di antaranya meninggal.
  4. Tahun 1960, pengujian VX telah menyebabkan kematian ribuan domba di Utah.
  5. Tahun 1988, Irak di bawah pemerintahan Saddam Hussein diduga telah menggunakan VX untuk menyerang suku Kurdi di Halabja dalam perang Iran-Irak.
  6. Pada 13 Februari 2017, Kim Jong Nam, kakak tiri Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, terbunuh di Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia. Kepolisian Malaysia menyatakan, zat beracun VX digunakan untuk membunuh Kim Jong Nam.

Sunday, 11 October 2015

Stabilitas Bahan Aktif dan Produk Obat - Kinetika Kimia dan Orde Reaksi

Kinetika kimia mencakup penelitian kecepatan dan mekanisme reaksi (Engel dan Reid, 2013). Dalam suatu reaksi, kadar senyawa akan berubah seiring waktu. Selama reaksi terjadi, dalam waktu tertentu, dapat teramati penurunan kadar reaktan menurun atau peningkatan kadar produk.
Dengan  pemantauan terhadap kecepatan reaksi yang terjadi dan menentukan ketergantungan kecepatan tersebut pada parameter seperti suhu, kadar, dan tekanan, maka akan dapat dilihat mekanisme reaksi tersebut.

Friday, 3 April 2015

Catatan Pendek tentang Kimia Asam dan Basa

pH didefinisikan oleh Søren Peder Lauritz Sørensen, seorang ahli kimia asal Skandinavia (sekarang Denmark), sebagai negatif logaritma basis 10 dari kadar ion hydrogen:
pH = –log10[H+] = log10 (1/[H+])

pH air murni seharusnya 7. Tetapi pada kenyataannya sampel air selalu memberikan hasil pengukuran pH kurang dari 7, terutama jika sampel dibiarkan terbuka. Hal ini disebabkan karbon dioksida dari atmosfer yang melarut ke dalam air membentuk asam karbonat (H2CO3), dan terdisosiasi melepas ion H+.