Showing posts with label Arkeologi. Show all posts
Showing posts with label Arkeologi. Show all posts

Thursday, 1 July 2021

Menguak Tabir Peradaban Masa Lalu Situs Adan-adan di Kediri

Oleh DEFRI WERDIONO

Ekskavasi Situs Adan-adan di Kabupaten Kediri menjadi bagian dari upaya menguak tabir masa lalu tentang keberadaan candi Buddha yang diperkirakan terbesar di Jawa Timur. Satu lagi penelusuran atas peradaban bangsa di masa lampau menemukan titik terang.

Waktu menunjuk lepas pukul 10.00 saat Sumarno (40) bersama istri dan dua anaknya mengamati area candi utama Situs Adan-adan dari balik pagar kawat berduri, di Dusun Candi, Desa Adan-adan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Minggu (27/6/2021).

Sunday, 7 July 2019

"Homo erectus" Bumiayu Lebih Tua

DENPASAR, KOMPAS – Fosil tulang Homo erectus dan kapak perimbas yang ditemukan di Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, diperkirakan berusia 1,8 juta tahun. Fosil ini lebih tua dari Homo erectus di Sangiran yang berusia 1,5 juta tahun. Penemuan ini berpotensi mengoreksi teori kedatangan pertama Homo erectus di Jawa berdasarkan teori Out of Africa.
Beberapa bulan lalu, Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta menerima laporan dari  pemilik Museum Bumiayu-Tonjong, H Rafly Rizal, dan pelestari fosil, Karsono, bahwa mereka menemukan beberapa fosil tulang. Temuan itu disampaikan ke Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran dan arkeolog senior Balar Yogyakarta Prof Harry Widianto.

Sunday, 13 August 2017

Awal Kedatangan Manusia di Nusantara

Oleh AHMAD ARIF
Berada di zona tropis yang dilimpahi kekayaan alam, Nusantara telah menarik manusia sejak zaman purba. Ahli genetik Inggris, Stephen Oppenheimer (1998), menyebutnya sebagai surga di timur yang telah dihuni manusia modern (”Homo sapiens”) jauh sebelum penghunian Eropa, apalagi Amerika. Namun, Nusantara juga menyimpan bencana alam katastropik yang mengubur jejak kehidupan.
situs goa lida ajer.jpg

Saturday, 8 April 2017

Cermin Peradaban yang Terlupakan...

Oleh ADRIAN FAJRIANSYAH
Masa lalu selalu mengawali masa kini. Di Nusantara, hampir semua wilayah memiliki peninggalan peradaban masa lampau yang maju dan berkembang pada zamannya. Namun, banyak dari peradaban itu hanya dikenang dan ditinggalkan. Padahal, kiranya peradaban itu menjadi bahan pembelajaran berharga bangsa untuk berkembang menjadi lebih baik.
1259232peradabann780x390.jpg
Suasana penggalian di situs manusia purba di Loyang (Goa) Ujung Karang, Takengon, Aceh Tengah, Senin (14/7/2014). Manusia purba tersebut dari ras Mongoloid dengan budaya Austronesia, berusia 4.000-5.000 tahun, dan diyakini sebagai manusia purba ras Mongoloid tertua yang ditemukan di Indonesia.(Kompas/Adrian Fajriansyah)
Di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, terdapat Museum Negeri Gayo. Museum itu baru. Cat di dinding masih ada yang basah dan aromanya merebak ke seluruh ruangan. Lampu di dalam museum pun banyak yang belum terpasang. Sebagian ruangan pun remang-remang. ”Museum ini baru selesai dibangun sebulan lalu,” ujar Kepala Unit Pelaksana Teknis Museum Negeri Gayo Sukmawati, Juli lalu.
Kendati baru selesai dibangun, beberapa koleksi benda arkeologi mulai terpajang di sejumlah lemari kaca. Di museum itulah benda peninggalan peradaban prasejarah di Aceh Tengah, seperti kapak batu, manik-manik, dan tembikar, tersimpan. ”Museum ini dijadikan sebagai tempat menyimpan hasil penggalian situs prasejarah di Loyang/Goa Mendale dan Loyang Ujung Karang,” ujar Sukmawati.
Ketua Tim Peneliti di Takengon dari Balai Arkeologi Medan, Ketut Wiradnyana, mengatakan, Sumatera bagian utara, terutama wilayah tengah Aceh, adalah kawasan yang amat penting dalam perkembangan budaya prasejarah di Nusantara.
Dari situs prasejarah Loyang Mendale dan Loyang Ujung Karang sejak 2009 hingga sekarang, Tim Balai Arkeologi Medan menemukan 13 kerangka manusia prasejarah ras Mongoloid dengan budaya Austronesia. Situs manusia prasejarah itu, adalah salah satu yang tertua di Indonesia, berusia sekitar 5.000 tahun lalu.
Bersamaan dengan penemuan kerangka manusia prasejarah, ditemukan pula sejumlah benda arkeologi. ”Manusia purba bersama kebudayaannya itu tergolong maju dan paling berkembang di masanya,” katanya. Contohnya, sejak 5.000 tahun yang lalu di Takengon, manusia Mongoloid telah menggunakan peralatan berburu berupa kapak batu yang terbuat dari batu kali.
Kapak batu itu berbentuk persegi atau lonjong. Kapak itu dibuat tajam pada salah satu atau kedua sisinya. Kapak batu itu pun dibuat halus sehingga mudah dipegang. Bahkan, ada kapak batu yang dibuat sedemikian rupa sehingga bisa digunakan dengan pegangan sebatang kayu, serupa kapak modern sekarang. Kapak itu digunakan untuk berburu dan memotong daging buruan.
Kapak batu yang mereka buat diperkirakan pengembangan kapak genggam dari masa sebelumnya, yakni masa manusia Austromelanesoid berbudaya Hoabinh yang hidup lebih dari 6.000 tahun lalu. ”Ini menunjukkan manusia Mongoloid di sini berpikir maju, mengembangkan teknologi yang telah ada,” tutur Ketut.
Contoh lainnya, sejak 5.000 tahun lalu di Takengon, manusia Mongoloid mengenal manik-manik yang terbuat dari biji-bijian. Mereka melubangi biji-bijian. Lalu memasukkannya satu per satu dalam akar yang dijadikan seperti benang atau tali. Biji-bijian yang tertata rapi itu dibuat seukuran lengan dan leher. Benda itu dibuat serupa gelang atau kalung. ”Itu adalah bentuk kecerdasan ilmu dan teknologi yang dimiliki manusia prasejarah. Mereka mengenal estetika berupa benda perhiasan untuk mempercantik diri,” ujar Ketut.
Contoh lain lagi, sejak 4.000 tahun lalu di Takengon, manusia Mongoloid mengenal cara pembuatan tembikar. Mereka membuat tembikar dari lumpur atau bahan baku di sekitar tempat tinggalnya. Tembikar dibuat dengan diameter sekitar 30 sentimeter dan tinggi sekitar 60 cm. Tembikar itu tak dibuat begitu saja, tetapi diberi corak horizontal-vertikal. Umumnya, tembikar itu digunakan sebagai tempat bekal kubur.
Pembuatan tembikar ini menunjukkan manusia prasejarah di Takengon sudah memanfaatkan secara optimal lingkungan di sekitarnya. Mereka juga memahami fungsi setiap benda yang dibuatnya. ”Mereka juga membuat benda dengan ketelitian yang tergolong sangat baik di zamannya,” kata Ketut. Peradaban Autronesia dari Takengon ini tidak berhenti di zamannya. Peradaban itu terus dibawa hingga sekarang.
Mulai terlupakan
Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Aceh Tengah Amir Hamzah menuturkan, hasil penelitian di situs prasejarah Loyang Mendale dan Loyang Ujung Karang membuka cakrawala ilmu pengetahuan bagi masyarakat Aceh Tengah. ”Muncul kebanggaan dalam diri kami, peradaban kami telah maju dan berkembang sejak dahulu,” tuturnya.
Namun, ujar Amir, ada keprihatinan yang muncul di masyarakat. Banyak kearifan lokal yang dibawa dari peradaban masa lalu yang mulai terlupakan saat ini. ”Anak muda zaman sekarang banyak terlena dengan budaya asing, terutama yang kebarat-baratan,” ujarnya.
Salah satu contoh adalah sudah jarang terlihat perajin tembikar bercorak horizontal-vertikal di Aceh Tengah. Tembikar sudah berganti dengan tembikar impor dari Tiongkok. ”Padahal, tembikar itu melambangkan kesakralan budaya nenek moyang orang Gayo,” kata Amir.
Hasil kebudayaan masa lalu lain yang juga rawan yakni tak banyak lagi rumah adat Gayo yang disebut Umah Edet Pitu Tujuh Ruang (Rumah Adat Pintu Tujuh Ruang) di dataran tinggi Gayo. Rumah itu sudah berganti dengan rumah modern berbahan beton.
Padahal, rumah adat Gayo mengandung kearifan lokal, yakni berteknologi anti gempa. Rumah seperti itu sangat aman di dataran tinggi Gayo.
Kompas, Sabtu, 23 Agustus 2014

Loyang Mendale, Peneguhan Kebinekaan

Oleh ZULKARNAINI
Penemuan artefak dan kerangka manusia prasejarah di Loyang (Goa) Mendale, Kebayakan, Aceh Tengah, Aceh, memiliki makna besar. Ternyata, tiga kelompok manusia pernah hidup di goa tiu pada rentang waktu 8.800 tahun hingga 3.500 tahun lalu. Meski berbeda budaya dan bahasa, mereka hidup secara harmonis.
loyang mendale.jpg
Pengunjung mengamati benda prasejarah yang diduga berusia 8.800 tahun hingga 3.500 tahun yang lalu di Loyang (Goa) Mendale, Kebayakan, Aceh Tengah, Aceh, Senin (20/3). Loyang Mendale merupakan tempat hidup manusia prasejarah ras Melanesia dan Mongoloid yang diduga leluhur suku Gayo. (Kompas/Zulkarnaini)
“Inilah bibit-bibit kebinekaan kita. Hal seperti ini terjadi di sini dan di daerah-daerah lain di Nusantara, kemudian berkembang dan menjadi nilai kehidupan. Artinya, nilai kebinekaan ini sudah tumbuh sejak nenek moyang kita dulu,” ujar ahli arkeologi Indonesia, Harry Truman Simanjuntak.
Truman bersama para arkeolog lainnya menghadiri peresmian Rumah Peradaban Gayo, Senin (20/3). Deklarasi Rumah Peradaban Gayo bertempat di Loyang Mendale, lokasi penemuan artefak dan kerangka manusia prasejarah.
Rumah Peradaban Gayo dibentuk untuk menyebarluaskan penemuan benda bersejarah di Mendale.
“Yang terpenting adalah memaknai penemuan ini,” kata Truman, yang merupakan profesor riset dari Pusat Arkeologi Nasional.
Penemuan artefak dan kerangka manusia prasejarah di Loyang Mendale berawal dari temuan gerabah oleh tim arkeologi Balai Arkeologi Medan pada tahun 2007. Saat itu, mereka menyurvei Danau Laut Tawar. Mereka memang menduga ada kehidupan di sekitar danau itu pada ribuan tahun lalu. Apalagi, danau itu cocok dijadikan tempat tinggal. Ekologi danau dengan segala sumber daya alam di sana mendukung kehidupan.
Danau Laut Tawar terletak sekitar 10 kilometer dari Takengon, ibu kota Aceh Tengah, atau 325 kilometer dari Banda Aceh. Danau luas 5.000 hektar itu merupakan penyedia air bagi pertanian dan menjadi obyek wisata unggulan daerah itu.
Pada tahun 2009, para arkeolog mulai melakukan ekskavasi untuk mengetahui kandungan arkeologis di dalam tanah di “mulut” Loyang Mendale. Loyang itu pun jaraknya hanya 30 meter dari tepi danau. Pada kedalaman 20 sentimeter hingga 2 meter ternyata ditemukan artefak berupa gerabah, kapak batu, tulang hewan, cangkang kerang, dan 13 kerangka manusia. Hingga tahun 2017 ini, penelitian masih terus dilanjutkan.
Tiga lapisan
Truman menuturkan, di Loyang Mendale ternyata terdapat tiga lapisan penghuni. Periode pertama sekitar 8.800 tahun lalu, periode kedua sekitar 4.400 tahun lalu, dan terakhir sekitar 3.500 tahun lalu.
Pada periode pertama, penghuninya bercirikan ras Austro-Melanesia dengan babakan peradaban mesolitik. Mereka menetap di goa, berburu, dan menggunakan alat dari batu lebih bervariasi seperti serpih batu, serut, mata panah, dan mata pancing. Orang-orang Melanesia, kata Truman, memiliki ciri kulit hitam dan rambut keriting. “Seperti saudrara kita di bagian timur Indonesia,” ujar Truman.
Pada 4.400 tahun lalu, lanjut Truman, datang penghuni baru dari ras Mongoloid. Mereka datang dari Asia Tenggara daratan. Budayanya disebut neolitik. Mereka sudah bercocok tanam, tinggal menetap, dan memiliki pranata sosial atau aturan dalam komunitasnya. Mereka berbahasa Austro Asiatik.
Imigrasi ketiga terjadi sekitar 3.500 tahun lalu saat kedatangan ras Mongoloid penutur Austronesia. Mereka memiliki budaya yang hampir sama dengan migrasi yang kedua itu, yaitu neolitik. Namun, kelompok ini lebih maju. Mereka punya inovasi di bidang pertenunan, teknologi, dan pelayaran.
“Inilah nenek moyang Nusantara yang dalam nyanyian disebut ‘nenek moyangku seorang pelaut’,” kata Truman.
Akulturasi budaya
Ketiga kelompok ini hidup di Loyang Mendale. Mereka tumbuh harmonis. Terjadi interaksi biologis atau perkawinan silang dan akulturasi budaya dengan baik. Kematian mereka bukan karena peperangan antarkelompok. Ini dibuktikan dengan posisi kerangka saat ditemukan telah diatur sedemikian rupa. Jasad terlentang dengan kaki dilipat, ditindih dengan batu sebagai bekal kubur, dan sebagian dihadapkan ke matahari terbit.
“Inilah bibit-bibik kebinekaan kita. Di Indonesia ada campuran ras, kelompok, dan etnis sehingga membentuk keindonesiaan. Nilai ini yang perlu kita teruskan kepada generasi muda bahwa kita bersaudara sejak leluhur,” tutur Truman.
Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas) I Made Geria menegaskan, sejarah panjang yang terkubur di Loyang Mendale merupakan bagian dari perjalanan bangsa. Nilai-nilai luhur yang dipraktikkan nenek moyang pun harus menginspirasi generasi muda.
Arkenas menjadikan Loyang Mendale sebagai situs pendidikan. Selain itu, situs ini juga berpotensi menjadi obyek wisata sejarah. “Gayo punya kekayaan sejarah, keindahan alam, budaya, dan kopi. Jika ini dipadukan, daerah ini akan lebih cepat berkembang,” ujar Made.
Wakil Bupati Aceh Tengah, Khairul Asmara mengatakan, hasil pengujian DNA kerangka manusia dan orang Gayo ada kesamaan. Artinya, diduga kuat leluhur orang Gayo merupakan manusia di Loyang Mendale.
Kehidupan masa lalu menjadi pijakan menata kehidupan sekarang dan masa depan. Loyang Mendale adalah pula kepingan sejarah untuk melengkapi jejak kehidupan di Nusantara.
danau laut tawar.jpg
Obyek wisata alam Danau Laut Tawar di Takengon, Aceh Tengah. (Kompas.com/Fikria Hidayat)
Kompas, Sabtu, 1 April 2017

Sunday, 23 October 2016

Firdaus yang Hilang

Oleh TRIAS KUNCAHYONO
Kamis, 24 Juli 2014, Makam Nabi Yunus di puncak Tell Nebi Yunus, Bukit Nabi Yunus, di kota kuno Ninive (Nineveh), dihancurkan. Orang-orang dari kelompok bersenjata yang menyebut dirinya Negara Islam di Irak dan Suriah pelakunya.
Makam, ada di dalam Masjid Yunus, yang begitu megah dan selama ini menjadi tempat perziarahan tiga umat Abrahamik, tinggal puing-puing. Hanya membutuhkan waktu satu jam, dengan menggunakan bahan peledak, untuk menghancurkan makam tersebut. Hilang sudah jejak sejarah yang berumur ribuan tahun itu. Hilang pula keindahan itu.
Sejarawan Gwendolyn Leick menulis, “Nineveh, dengan penduduknya yang beragam, berasal dari seluruh wilayah Kerajaan Assyria, adalah salah satu kota yang sangat indah di Timur Dekat, dengan taman-taman, kuil-kuil, dan istana yang cantik.”
Nineveh, yang berada di sebelah timur Sungai Tigris, kini menjadi bagian dari kota metropolitan Mosul, ibu kota Provinsi Ninawa atau Nineveh. Mosul, yang juga disebut Al-Fayha’ (firdaus) atau Al-Khadhra’ (hijau), menjadi kota penting di Irak bagian utara. Mosul menjadi simpul segitiga Sunni di Irak utara. Karena memang mayoritas penduduknya adalah Sunni, lalu Syiah, dan kelompok kecil lain.
Keindahan Mosul digambarkan secara apik oleh Muhammad Ibn Ahmad Shams al-Din Al-Muqaddasi. Ahli geografi asal Palestina (Jerusalem) yang lebih populer disebut Al-Muqaddasi atau Al-Maqdisi (945-1000) itu menulis demikian:
“Mosul adalah metropolis di wilayah ini. Kota yang nyaman, bangunannya indah; iklim menyenangkan, air bersih, sehat. Sangat masyhur, dan sangat unik, memiliki pasar-pasar yang baik sekali dan rumah-rumah penginapan ditempati orang-orang terkemuka, dan orang-orang terpelajar, para doktor hukum. Dari Mosul dikirimkan bahan-bahan makanan ke Baghdad, karavan lalu lalang. Ada taman-taman yang indah, buah-buahan yang enak-enak, tempat mandi yang baik, rumah-rumah yang bagus sekali, dan daging yang baik dan enak. Kota ini sedang berkembang….”
Ibn-Hawqal-Abu-al-Mohammad Qasim yang dikenal sebagai Ibn Hawqal, seorang ahli geografi dan sejarah dari Nasibin (Nisibis, Mesopotamia atas) yang hidup pada abad ke-10, pernah juga mengunjungi Mosul (968-969). Ia melukiskan Mosul sebagai kota yang indah dengan lingkungan yang subur.
Kota yang indah itu juga menjadi tempat tinggal pada cerdik cendekia. Misalnya, filsuf Bakr bin Kasim Abi Thawr al-Mawsili atau biasa disebut Al-Mawsili. Ia hidup pada paruh pertama abad ke-10 dan dikenal dengan bukunya yang berjudul Fi’ al-Nafs (Tentang Jiwa); Ali Ibn al-Imrani (meninggal tahun 955), seorang astronom yang juga ahli matematika dan geometri. Di barat, ia dikenal dengan nama Alcabitius. Ia menulis, antara lain, buku tentang ukuran dan jarak planet-planet; Ammar Ibn’ Ali, dokter ahli mata, yang di Barat dikenal dengan nama Canamusali; lalu Muhammad Ibn ‘Abd Baqi al-Mawsili, seorang ahli matematika.
Sebagai kota yang menjadi simpul perlintasan Jalur Sutra dari timur ke barat dan dari utara ke selatan (Baghdad), Mosul adalah kota yang terbuka. Sebelum direbut NIIS pada 2014, kota terbesar kedua di Irak ini berpenduduk sekitar dua juta. Penduduk Mosul beragambaik etnik, agama, ras, maupun kelompok sukudengan perbandingan hampir 75 persen Arab Sunni, 25 persen Kurdi, dan sisanya campuran Syiah, Turkoman, Yezidi, dan Kristen.
Pada zaman Saddam Hussein, sebelum pecah perang (2003), Mosul menjadi markas besar Partai Ba’ath, partai penguasa. Sejak zaman Ottoman (Utsmaniyah), Mosul menjadi gudang tentara. Bahkan, saat Saddam Hussein berkuasa, sebagian besar tentaranya berasal dari kota kota ini. Tercatat 300.000 penduduk Mosul menjadi tentara, intelijen, dan aparat keamanan lainnya. Karena itu, Mosul mendapat sebutan sebagai “kota sejuta perwira.” Setelah Saddam Hussein jatuh, para perwira dan tentara asal Mosul ini membentuk kelompok perlawanan Sunni di Nineveh.
Perimbangan etnik dan sejarah sebagai pusat militer dan Partai Ba’ath membantu untuk menjelaskan betapa pentingnya kota itu dan mengapa ketika itudan saat inimenjadi pusat pertarungan. Pertama, Mosul adalah bagian kompetisi Arab-Kurdi di wilayah Irak utara. Kedua, kehadiran Partai Ba’ath (kala itu) dan militer sebelum perang menjelaskan bahwa Mosul menjadi sumber perekrutan serta tempat aman bagi pemberontakan.
Namun, karena terletak dekat dengan Suriah (sekitar 160 kilometer dari perbatasan Suriah-Irak), Mosul sangat terpengaruh oleh situasi yang tidak menentu di Suriah. Sejak awal tahun 2000-an, Mosul disebut-sebut sebagai kota paling berbahaya di Irak. Kota ini, dan wilayah Provinsi Nineveh, menjadi sarang kelompok bersenjata, baik yang melawan Baghdad maupun yang terlibat dalam perang di Suriah.
Namun, kegelapan menyelimuti Mosul setelah kota itu serta wilayah sekitarnya direbut dan dikuasai NIIS pada Juli 2014. Kehancuran makam Nabi Yunus, gedung-gedung lainnya, termasuk souk, pasar, telah menjadi tanda kehancuran tidak hanya fisik, tetapi juga sosial dan kultural Mosul. Dinamika sosial unik antarwarganya yang memiliki latar belakang berbeda, beragam pun berakhir setelah NIIS menguasai kota itu dan menggantikannya dengan kuasa kegelapan yang tidak menghargai kehidupan dan kemanusiaan; yang mengingkari keragaman; dan yang memaksakan kehendak dengan kekerasan; mengembangkan fanatisme dengan bersembunyi di balik pembenaran simbolis, ideologis, atau teologis. Fanatisme adalah penolakan terhadap yang berbeda dan menjadi ladang subur bagi pelaku kekerasan yang merasa tak bersalah.
Seluruh sejarah manusia sarat dengan perjuangan sengit melawan kekuatan kegelapan. Pergulatan itu mulai sejak awal mula. Dan, akhirnya Al-Fayha’, firdaus telah hilang….
jonah shrine.jpg
The-shrine-before-the-bombing.jpg
Masjid Yunus di puncak Tell Nebi Yunus, Bukit Nabi Yunus, di kota kuno Ninive (Nineveh). Di dalam masjid tersebut terdapat makam Nabi Yunus.
jonah tomb ruin.jpg
jonah tomb.jpg
Reruntuhan Masjid Yunus akibat penghancuran yang dilakukan NIIS pada 24 Juli 2014.
Kompas, Minggu, 23 Oktober 2016

Saturday, 10 September 2016

Yazidi

Oleh TRIAS KUNCAHYONO
Komunitas Yazidi adalah sebuah komunitas kuno yang tinggal di wilayah Irak bagian Utara, Turki tenggara, Suriah, dan Iran. Sebagian besar dari mereka berbicara dalam bahasa Kurdi. Jumlah mereka hingga tahun 2014, menurut para ahli Timur Tengah, sekitar 700.000 orang, tetapi ada pula yang menyebut angka 500.000 orang.
peacock1.png
Merak sebagai simbol kepercayaan Yazidi
Cerita lain mengisahkan, orang-orang selama berabad-abad tinggal di wilayah pegunungan di Irak barat daya, sekitar Sinjar, suatu wilayah yang tidak jauh dengan perbatasan Suriah. Selain di Sinjar, mereka juga tinggal di Mosul – sebelah timur Sinjar – dan Provinsi Dohuk yang dikuasai Kursi. Provinsi Dohuk adalah provinsi di Irak yang paling utara berbatasan dengan Turki.
J Brooks Spector dalam Daily Maverick menulis bahwa keyakinan mereka campuran dari Yudaisme, Islam, Zoroaster, Kristen, dan bahkan kepercayaan animis. Karena kepercayaan “unorthodox” inilah mereka sering disalah mengerti dan dipandang sebagai agama yang menyembah setan.
Avi Asher-Schapiro dalam National Geographic News (11 Agustus 2014) menulis, kepercayaan mereka telah berabad-abad menjadi sasaran kebencian. Mereka dianggap sebagai penyembah setan. Karena itu, berulang kali mereka menghadapi bahaya genosida. Yazidisme adalah kepercayaan kuno yang kaya dengan tradisi lisan. Mereka mengombinasikan berbagai sistem kepercayaan yang dalam istilah keagamaan disebut sinkretisme.
Akan tetapi, hingga kini, asal muasal kepercayaan mereka masih menjadi bahan perdebatan. Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa Yazidisme dibentuk ketika seorang pemimpin Sufi, Adi ibn Musafir, bermukim di Kurdistan pada abad ke-12 dan mendirikan sebuah komunitas yang mencampur elemen-elemen Islam dengan kepercayaan pra-Islam.
Demes_Yezidis_roof_web smaller.jpg
Biara Laish, yang sekaligus makam Syeikh Adi ibn Musafir di Irak utara (Transatlantic Academy)
Mereka mulai dituduh menyembah setan pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17. Pada paruh kedua abad ke-19. Orang-orang Yazidi menjadi target, baik para pemimpin Ottoman maupun Kurdi. Menurut Matthew Barber, seorang ilmuwan sejarah Yazidi di Universitas Chicago, orang-orang Yazidi sering mengatakan menjadi korban 72 kali genosida atau usaha pembasmian. “Ingatan akan penganiayaan menjadi komponen identitas mereka,” kata Matthew Barber.
Akan tetapi, karena banyak di antara mereka yang berbicara dalam bahasa Kurdi, sering kali mereka bernasib sama dengan orang-orang Kurdi di Irak pada zaman Saddam Hussein. Pada akhir tahun 1970-an, ketika Saddam Hussein melancarkan kampanye Arabisasi brutal terhadap orang-orang Kurdi, ia membumihanguskan desa-desa orang Yazidi. Lalu, mereka dipaksa tinggal di pusat-pusat kota, terputus dari cara hidup mereka di pedesaan. Saddam Hussein membangun kota Sinjar dan memaksa orang-orang Yazidi tinggal di kota itu.
Orang-orang Yazidi percaya akan satu dewa, figur sentral dalam kepercayaan mereka, yakni Tawusî Melek, malaikat yang menentang Tuhan (ada yang menyebutnya sebagai Lucifer atau ada pula yang menyebut sebagai setan). Namun, bagi orang-orang Yazidi, Tawusî Melek adalah kekuatan untuk kebaikan dalam kepercayaan Yazidi. Tawusî Melek berperan sebagai mediator antara manusia dan Ilahi.
Dikutip sebagian, dari Kompas, Minggu, 11 September 2016

Saturday, 20 August 2016

Aleppo

Oleh TRIAS KUNCAHYONO
Alkisah, pada suatu ketika, dalam perjalanan dari Ur di wilayah Chaldea – sekarang Irak Selatan – untuk menuju ke Tanah Terjanji, Abram yang kemudian menjadi Abraham (Ibrahim), “bapa sejumlah bangsa besar”, “bapa yang agung”, singgah di sebuah kota bernama Haran (Harran). Kala itu, Haran adalah kota yang ramai dan menjadi salah satu mitra dagang utama dari Tirus. Haran adalah kota dagang penting pada zamannya.
Haran, yang dalam bahasa Asiria, “Harranu”, berarti ‘Jalan’ atau ‘Jalur Kafilah’. Hal itu menunjukkan bahwa kota Haran berada di rute dagang utama yang menghubungkan kota-kota besar di masa itu dan sering disinggahi para kafilah.
Kini, Haran, kota yang terletak sekitar 50 kilometer sebelah selatan Sanliurfa atau Urta – 150 kilometer sebelah timur Gaziantep dan 1.300 kilometer sebelah tenggara Istanbul, Turki – itu tidak seramai dahulu. Haran, menurut sejumlah laporan, kini hanyalah sekumpulan rumah beratap kubah. Di sekitarnya terdapat reruntuhan berbagai peradaban kuno.
Harran-adobe-domes.jpg
Rumah dengan kubah bata di Haran (Natural Building Blog)
Dari Haran, Abraham berjalan menuju Damaskus, yang terletak di Lembah Aram, kini Suriah. Dalam perjalanan itu, Abraham dan rombongannya melewati dan singgah di suatu tempat. Sambil istirahat, ia menyempatkan diri memerah susu sapi yang dibawanya dari Ur. Susu hasil perahan itu diberikan kepada siapa saja yang melintas di tempat dia beristirahat.
Tempat Abraham memerah susu itu kemudian diberi nama Halab, yang berarti ‘memerah susu’. Halab itulah yang kini disebut Aleppo. Dalam bahasa Amorit, halab berarti ‘besi’ atau ‘tembaga’. Namun, dalam bahasa Aramaik, halaba berarti ‘putih’. Ini sesuai dengan warna tanah di daerah itu. Kota ini juga disebut Khalpe, Khalibon. Orang-orang Yunani menyebut Beroea, dan orang-orang Turki menyebutnya Helep. Semasa Perang Salib dan semasa Mandat Perancis disebut Alep. Dari sinilah muncul nama “Aleppo”, mengikuti sebutannya dalam bahasa Italia.
Sapi-sapi Abraham, menurut cerita, berwarna abu-abu, yang dalam bahasa Arab adalah shaheb. Karena itu, tempat Abraham memerah susu juga disebut Halab ash-Shahba atau ia memerah susu sapi berwarna abu-abu. “Dalam bahasa Arab, shaheb juga berarti ‘sahabat’,” kata Zuhairi Mizrawi, intelektual muda NU, dalam suatu diskusi. “Karena itu, barangkali tempat itu juga berarti ‘tempat Abraham memberikan susu kepada para sahabatnya’,” lanjutnya.
Persahabatan menjadi roh kota ini meski tidak selamanya persahabatan di kota itu hidup. Namun, orang tetap mengenal Aleppo sebagai tempat Abraham memerah susu sapinya; tempat Aleksander Agung pernah berkemah; lokasi pasukan Salib mengakui kekalahan dari pasukan Muslim pimpinan Imd al-Dn Zang pada tahun 1129; dan tempat Raja Faisal memproklamasikan kemerdekaan Suriah. Aleppo juga merasakan cengkeraman kekuasaan orang-orang Amorit, Hittite, Mittania, Assiria, Babilonia, Persia, pasukan Aleksander Agung, Kesultanan Seleucid, Umayyad, Ayyubid, Mameluk, Mongol, Arab, Romawi, hingga kemudian Ottoman Turki.
Pada abad ke-13, Hulagu, anak Genghis Khan, menyerbu kota yang terletak di lembah subur antara Sungai Eufrat dan Tigris serta ujung Jalur Sutera setelah melewati Asia Tengah dan Mesopotamia ini. Tentara Mongol ini membunuh 50.000 penduduk Aleppo. Timurlane atau Timur Leng yang mengaku keturunan Genghis Khan pun menduduki Aleppo pada tahun 1400-an.
Wajarlah kalau jejak peninggalan bangsa-bangsa itu tertinggal di Aleppo, kota yang diyakini sudah dihuni orang sejak milenium ketiga sebelum Masehi. Kota lama Aleppo mengisahkan kekayaan dan keragaman budaya bangsa-bangsa yang pernah meninggalinya. Semua serba indah.
Coba simak puisi Nâbî, seorang diva penyair zaman Ottoman pada abad ke-18:
Hari itu akan datang ketika orang menjadi bagianmu, kota Aleppo/
Adalah sangat pantas kalau kemudian tidak ada kegembiraan/
Karena inilah yang sesungguhnya, keindahan ditemukan di sini/
Dalam keagunganmu yang dibangun dengan kokoh/
Segala macam barang dagangan ada/
Kekayaan dan barang-barang indah tak terbilang/
Tetapi, lebih dari ini, air dan udaranya menawan hati/
Karena sungai dan bangunan-bangunannya.
Dahulu, Aleppo adalah keindahan. Di sana ada Masjid Umayyad yang agung dan indah. Masjid itu dibangun pada tahun 715 oleh Kalifah Khalid ibn al-Walid Al-Walid dan diselesaikan oleh penerusnya, Kalifah Suleiman. Sama seperti Masjid Umayyad di Damaskus, yang dibangun 10 tahun sebelumnya, Masjid Umayyad di Aleppo, yang dalam bahasa Arab disebut Al-Jami al-Kabir, berdiri di atas kuil Romawi dan katedral Byzantium yang dibangun oleh St Helena. Tetapi, masjid yang indah itu hancur karena perang (BBC News, 24 April 2013).
Aleppo, dulu, juga memiliki Benteng (Citadel) Aleppo yang begitu megah dan masyhur. Benteng di puncak bukit yang dibangun pada abad ke-13 itu juga digunakan sebagai pusat pemerintahan dan istana Dinasti Ayyubid. Dari dinasti inilah Saladin berasal. Di sekitar benteng terdapat bangunan, misalnya masjid, madrasah, istana, dan hammam (tempat pemandian umum) yang bertarik abad ke-17 dan sebelumnya. Berdiri pula Katedral Armenia Empat Puluh Martir.
Umayyad-Mosque-in-Aleppo-2009.jpg
Masjid Ummayad di Aleppo, pada tahun 2009
citadel.jpeg
Foto udara Citadel di Aleppo pada tahun 1993 (The Guardian/Frederic Soltan)
armenian cathedral aleppo.jpg
Katedral Armenia Empat Puluh Martir di Aleppo, pada tahun 2011 (kiri) dan reruntuhan pada tahun 2015, akibat perang yang berlangsung di Suriah (kanan).
Yang indah-indah itu kini tinggallah kenangan. Perang yang pecah di Suriah sejak 2011, baru menyentuh Aleppo pada Juli 2012. Meski demikian, kota yang berada di jalur ke Damaskus dari utara itu kini demikian menderita. Aleppo terbelah: bagian barat dikuasai pasukan pemerintah dan bagian timur dikuasai pasukan oposisi. Tak kurang 300.000 penduduknya terjebak di tengah pertempuran (entah berapa ribu yang telah tewas). Gedung-gedung hancur, tidak ada makana dan minuman. Orang mati di mana-mana, dan tak ada lagi keindahan yang pernah dimiliki kota bersejarah itu.
Tidak ada yang tahu pasti kapan tragedi kemanusiaan itu akan berakhir. Selama nafsu kekuasaan, angkara murka, menguasai manusia-manusia di sana, tragedi kemanusiaan itu akan terus terjadi. Dan, cerita tentang kebaikan Abraham yang membagikan susu sapinya kepada para musafir yang dianggap saudara tak ada lagi. Yang ada justru kekejaman, kelaliman, dan permusuhan.
Umayyad-Mosque-in-Aleppo-001.jpg
Masjid Ummayad di Aleppo pada 2012 (atas) dan 2013 (bawah). (The Guardian/Alamy, Corbis)
Souk-Bab-Antakya-in-Alepp-001.jpg
Souq Bab Antakya, Aleppo, pada tahun 2009 (atas) dan setelah serangan 2012 (bawah). (The Guardian/Alamy, Reuters)
The-Old-Souk-in-Aleppo-001.jpg
Pasar tradisional tua di Aleppo, pada tahun 2007 (atas) dan setelah serangan 2013 (bawah). (The Guardian/Corbis, Stanley Green)
Kompas, Minggu, 21 Agustus 2016

Saturday, 25 June 2016

Kediri, Jayabaya, dan Mbah Wasil

Oleh IMAM PRIHADIYOKO
Kediri, Jawa Timur, dikenal sebagai kota santri. Ada cukup banyak pondok pesantren di kota tersebut. Salah satu di antaranya yang terkenal adalah Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiien atau lebih dikenal sebagai Pondok Pesantren Lirboyo. Di Kediri, terdapat pula Ponpes Lembaga Dakwah Islam Indonesia dan Ponpes Kedunglo al Munadhdharah yang menjadi pusat pengamal Sholawat Wahidiyah.
setonogedong.jpg
Makam Mbah Wasil Setonogedong (Disbudparpora Kediri Kota)
Selain pondok pesantren, Kediri juga memiliki tempat yang banyak dikunjungi peziarah. Lokasi wisata religi ini berada di Jalan Dhoho, berupa kompleks makam Syech Sulaiman Samsuddin al-Wasil atau Syech Ali Samsuddin al-Wasil. Warga setempat sering menyebutnya sebagai kompleks makam Mbah Wasil. Di kompleks ini berdiri Masjid Auliya Setonogedong.
Mbah Wasil, menurut Mansyur (43), juru kunci makam, diperkirakan merupakan salah satu guru spiritual Raja Kediri Sri Aji Jayabaya. Bukti sejarah yang menguatkan hubungan kedua orang itu adalah batu nisan di dalam kompleks yang bertarik 1184. Selain itu, ada prasasti berbahasa Kawi Kuno yang diperkirakan ditulis sendiri oleh Jayabaya.
“Berdasarkan terjemahan yang dilakukan oleh Khatib Mustopa, Dosen Universitas Negeri Malang, prasasti lebih kurang menyebutkan bahwa Jayabaya menemukan buku yang isinya tidak dipahami olehnya,” ujar Mansyur. Lantas, Jayabaya meminta Mbah Wasil menerjemahkan dan mengajarkan isi buku itu.
Lokasi makam Mbah Wasil menjadi salah satu tempat yang dikunjungi oleh Tim Ekspedisi Islam Nusantara. Tim yang dipimpin Imam Pituduh ini memulai perjalanan pada 27 Maret di Kota Cirebon, Jawa Barat, dan mengakhiri ekspedisi di Raja Ampat, Papua Barat, sehari sebelum Ramadhan 2016.
Menurut Mansyur, di lokasi yang sekarang ditempati Masjid Auliya Setonogedong, pernah berdiri sebuah pura. Fondasinya masih bisa dilihat hingga hari ini.
Muhammad Yusuf (47) dari Badan Pemeliharaan Cagar Budaya Trowulan mengakui ada hubungan yang dekat antara Mbah Wasil dan Jayabaya. “Jayabaya yang menganut Hindu memang dipercaya mundur dan mengalami moksa. Namun, ada pula yang menyebutkan bahwa sebagai murid Mbah Wasil, Jayabaya menyendiri sebagai sufi,” ujarnya.
Mengingat minimnya dokumentasi sejarah yang tersedia, Yusuf dan Mansyur tidak mengetahui dengan pasti riwayat serta sosok Mbah Wasil. Menurut Yusuf, paling tidak ada dua versi tentang sejarah dan asal-usul Mbah Wasil.
Versi pertama menyebutkan Mbah Wasil hidup pada akhir abad X. Artinya, ia hidup sebelum era Wali Sanga. Sebaliknya, versi kedua menyebutkan Mbah Wasil hidup satu masa dengan keberadaan Wali Sanga, yakni pada abad XIV.
Bantu Wali Sanga
Yusuf menceritakan, Mbah Wasil, Syech Sulaiman al-Wasil, adalah utusan dari Istambul, Turki, pada abad XIV. Ia diutus pergi ke Pulau Jawa untuk bertemu dengan Wali Sanga guna membantu penyebaran Islam di masyarakat.
Dalam versi ini, Mbah Wasil dan para sunan memiliki rencana besar untuk membangun masjid yang akan dijadikan sebagai pusat penyebaran agama Islam di Kediri. Pembangunan masjid dimulai dengan membuat fondasi di atas susunan batu yang berada di kompleks makan Setonogedong.
Namun, sejumlah sumber lain menyebutkan bahwa susunan batu tersebut merupakan fondasi sebuah candi dari zaman Kerajaan Kediri. Adapun susunan batu di bagian atasnya adalah bagian yang belum selesai dikerjakan karena pembangunan terhenti.
Sejumlah bahan bangunan itu kemudian dipergunakan oleh para wali untuk membangun Masjid Demak dan Masjid Cirebon. Bagian atas fondasi yang tersisa dijadikan tempat berzikir dan pertemuan para wali di Kediri.
Fondasi ini sempat rusak parah, tetapi dibangun kembali oleh masyarakat. Sampai akhirnya dibangun sebuah masjid yang masih berdiri hingga saat ini.
Persia
Persoalannya, kalau versi Yusuf ini betul, Mbah Wasil tidak mungkin menjadi guru Jayabaya yang hidup sekitar awal abad XII. Sejumlah catatan sejarah menyebutkan Syech Sulaiman Samsuddin berasal dari Persia yang datang ke Tanah Jawa untuk menyebarkan agama Islam. Versi ini didasarkan pada serat Jangka Jayabaya yang menyebutkan bahwa Mbah Wasil merupakan guru spiritualnya.
Yusuf tidak menutup kemungkinan cerita yang menyebutkan Mbah Wasil datang dari Persia adalah versi yang benar. Terlepas dari kontroversi ini, Kediri kini berkembang menjadi kota santri dengan tradisi ponpes yang cukup kuat.
Sekarang, Kediri juga mempunyai ikon berupa Monumen Simpang Lima Gumul yang pembangunannya mungkin terinspirasi dari L’Arch de Triomphe, Paris, Perancis. Berada di Desa Tugu Rejo, Kecamatan Ngasem, Monumen Gumul mulai dibangun pada 2003.
Warga setempat mengenalnya dengan nama Kabbah Kediri karena saat melintasi simpang lima ini, warga harus memutar ke kanan, seperti orang yang tawaf di Mekkah. Namun, ada pula yang menyebutkan, pembangunan monumen terinspirasi oleh Jayabaya yang berhasil menyatukan lima wilayah Kediri.
Apa pun itu, satu hal yang jelas, Kediri membuktikan diri telah berkembang menjadi kota yang menghargai peninggalan peradaban di Nusantara.
Kompas, Minggu, 26 Juni 2016