Wednesday, 26 November 2014

Melatih Kejujuran dari Kios Bensin

Saat harga premium di tingkat pengecer naik menjadi Rp 9.000 per botol, apa yang dilakukan Abdul Mukti (56), seorang penarik becak, merupakan sebuah solusi. Hanya dengan uang Rp 2.000, warga bisa mendapatkan setengah botol kecil premium di Kios Bensin Kejujuran yang didirikan di Jalan Veteran, Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur.
1525385bensin-jujur780x390.jpg
Abdul Mukti (56), pemilik kios bensin kejujuran di Kota Kediri, Jawa Timur.(Kompas/M.Agus Fauzul Hakim)
Jarum jam menunjuk kepas pukul 12.00, Kamis (20/11), saat Agung (15) dan Andika (15) yang berboncengan sepeda motor merapat ke kios Bensin Kejujuran (BK). Agung yang masih duduk di bangku kelas II salah satu SMP di Kediri itu langsung memasukkan satu lembar uang Rp 10.000 usang ke dalam stoples plastik yang tertempel di salah satu sisi rak kayu tempat premium.
Agung lalu mengambil uang kembalian senilai Rp 7.000 sembari memungut salah satu botol bekas saus makanan yang berisi premium yang ditempeli tulisan Rp 3.000. Tidak lama kemudian Mukti menghampiri keduanya sembari menanyakan, apakah mereka berdua tahu alasan dia menjual premium dengan harga murah disertai embel-embel kejujuran.
Mukti pun menjelaskan bahwa ingin mengajarkan generasi muda tentang pentingnya kejujuran. “Saya selalu memberi wejangan kepada pembeli premium yang sebagian besar merupakan siswa agar mereka tahu arti kejujuran,”ujarnya.
Kedua pembeli mengaku apa yang dilakukan Mukti sangat membatu mereka. Sebagai pelajar dengan uang saku terbatas, keduanya bisa mendapatkan bahan bakar dengan harga terjangkau meski volume premium yang dapat sekitar 0,3 liter.
Di rak dagangan Mukti terdapat belasan botol premium seharga Rp 2.000, Rp 3.000, Rp 4.000, Rp 5.000, Rp 6.000, Rp 7.000, Rp 8.000 sampai Rp 9.000. Isi botol disesuaikan dengan harga.
Tak berbanding lurus
Kios Bensin Kejujuran Mukti berdiri 18 Juni 2011. Berawal dari melihat pengendara sedang menuntun sepeda motor pada malam hari lantaran kehabisan premium, membuat lelaki kelahiran 29 Oktober 1958 tergerak hatinya untuk menyediakan bahan bakar yang bisa diakses siapa saja, kapan saja, dengan harga terjangkau oleh semua kalangan. Saat itu, Mukti masih berjualan nasi goreng di tenda, persis di seberang jalan kiosnya saat ini.
Upaya Mukti berjualan bensin dengan cara yang tak lazim pun kala itu mendapat respons masyarakat yang sebagai besar merupakan siswa. Maklum, Jalan Veteran dan sekitarnya merupakan sentra pendidikan di Kota Kediri. Ada belasa sekolahan di kawasan itu, mulai dari SD sampai SMA.
Sayangnya upaya Mukti tidak berbanding lurus dengan kenyataan. Saat awal kios bensin sering merugi. Namun, perkembangannya selalu dicatat dalam buku harian. Mukti mencontohkan pada 1 Mei 2012, ia pernah merugi Rp 35.000. “Pada periode 18 Juni 2011 sampai 1 Mei 2013, saya rugi 319 botol. Pembeli yang membayar kurang dari harga yang ditentukan mencapai 793 botol,” ujar Mukti yang mengaku bisa menjual sekitar 60 liter premium dalam waktu tiga hari sampai empat hari.
Selain tak membayar, membayar tetapi kurang, serta berutang tetapi tidak melunasi, Mukti juga mengalami perlakuan kurang menyenangkan. Bahkan, ada pembeli yang membayar dengan uang kertas mainan. Hal ini terjadi karena pembeli memang tidak diawasi. Mukti hanya mengandalkan kejujuran.
Perlahan tetapi pasti kesadaran pembeli terus membaik. Kerugian mulai berkurang, bahkan hampir tidak pernah terjadi lagi. “Hanya saja minggu lalu masih ada pembeli, anak sekolah, yang mengambil dua botol bensin seharga Rp 1.000 dan Rp 2.000 tetapi hanya membayar Rp 500,” katanya.
Mendapat perlakukan kurang menyenangkan tidak membuat Mukti marah dan berkecil hati. Ia pun tidak pernah mengeluarkan sumpah serapah terhadap pembeli yang tidak jujur. “Saya tidak berpikir soal keuntungan, tetapi bagaimana masyarakat bisa terbantu. Saya tidak kecewa jika ada yang tidak jujur. Hanya saya berpikir, kok, mereka tidak takut dosa ya. Mereka generasi muda. Bahaya nanti kalau jadi pejabat tinggi, bisa korupsi,” ujarnya.
Selain bensin kejujuran, ayah tiga anak – yang salah satunya kini tengah menuntut imu di Universitas Airlangga, Surabaya, (beasiswa) dan satu lagi masih sekolah di SMA 6 Kediri (juga beasiswa) – itu juga pernah membuka warung kejujuran pada pertengahan 2013.
Di warung yang buka 24 jam dan menjual mi instan dan aneka kopi itu, pembeli diberi kebebasan untuk memasak dan membayar makanan. Warung itu sendiri hanya bertahan lima bulan sebab lokasinya dipakai untuk membangun kios permanen yang ada saat ini. Kios itu dipakai untuk menjual seragam sekolah yang kini dikeloloa oleh anak pertamanya.
Ke depan, Mukti yang pernah mendapat penghargaan atas dedikasinya melatih kejujuran dari Polres Kediri Kota dan Anugerah dari Persatuan Wartawan Indonesia Kediri itu ingin tindakannya bisa menginspirasi dan ditiru banyak orang. Penirunya diharapkan tak hanya ada di Kediri, tetapi juga daerah lain dengan jenis jualan berbeda.
“Sepertinya, kok, sejauh ini belum ada yang meniru ya? Apa mereka tidak berpikir sampai ke situ.” Kata Mukti sembari menambahkan, jika sebenarnya ada pihak-pihak yang merasa kurang sreg dengan caranya berdagang. Cara seperti ini dianggap bisa mematikan usaha orang lain yang menjual barang sejenis.
Sri Wahyuni, akademisi dari Universitas Islam Kadiri yang juga manta pemuda pelopor bidang pendidikan, mengatakan, apa yang dilakukan Mukti merupakan langkah bagus untuk menanamkan pendidikan karakter kepada generasi muda, utamanya soal kejujuran. Meski terlihat kecil, hal itu bisa diterapkan di lingkungan yang lebih luas. (WER)
Kompas, Sabtu, 22 November 2014