Saturday, 12 May 2018

Akhiri Perseteruan Tiga Abad

Oleh MUHAMMAD IKHSAN MAHAR, EDNA C PATTISINA
Meski pernah berperang selama tiga tahun dalam Perang Makassar, raja ke-16 Gowa, Sultan Hasanuddin, dan raja ke-15 Bone, Arung Palakka, justru menjauhkan rasa dendam dan saling menghormati di akhir perang. Mungkinkah keteladanan dan kenegarawan seperti itu dapat ditiru?
Makam raja ke-16 Gowa, Sultan Hasanuddin, di Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, hanya sekitar 1 kilometer dengan makam raja ke-15 Kerajaan Bone, Arung Palakka. Daerah Katangka memang diperuntukkan bagi pemakaman kaum bangsawan Kerajaan Gowa.
Makam Sultan Hasanuddin (kiri) dan Arung Palaka di Gowa (http://disbudpar-gowakab.com)
Dari segi lokasi, tempat peristirahatan dua orang besar di Sulsel sejak abad ke-17 itu berdampingan karena berada di dua daerah perbukitan di Gowa. Makam Arung Palakka bisa dilihat dari kompleks pemakaman Raja Gowa, yang salah satunya terdapat pusara Sultan Hasanuddin. Posisi kedua makam itu juga hanya sekitar 9 km dari titik nol Kota Makassar, Lapangan Karebosi.
Tak hanya makam, patung kepala kedua tokoh itu juga diletakkan berdampingan di Anjungan Pantai Losari, Makassar. Di anjungan itu, antara patung Arung Palakka dan Sultan Hasanuddin, yang berbahan gypsum, sekitar 10 meter. Meski demikian, apakah masyarakat Bugis dan Makassar dapat menerima “kedekatan” kedua tokoh itu?
Konflik digital
Nama Sultan Daeng Liwang (52) atau pemilik akun Facebook Karaengta Karaeng, Februari 2017, membuka polemik di jagat digital dan sosial Sulsel karena menyebut raja ke-16 Bone, Arung Palakka sebagai pengkhianat. Dengan dasar itu, di beranda salah satu grup sejarah Sulsel di Facebook, ia mengajak untuk menghancurkan patung Arung Palakka serta membongkar makamnya. Sejumlah warga beretnis Bugis, terutama dari Kabupaten Bone pun melaporkan Daeng Liwang.
Apa yang disebarkan Daeng Liwang menunjukkan akar perpecahan antaretnis Makassar dan Bugis masih terpelihara meskipun Perang Makassar sudah berakhir sejak 1669. Daeng Liwang, yang beretnis Makassar, menilai Arung Palakka pengkhianat karena membantu Serikat Dagang Hindia Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie/VOC), melawan Kerajaan Gowa yang dipimpin raja ke-16 Gowa, Sultan Hasanuddin, hingga berakhirnya kedigdayaan Gowa pada abad ke-17.
Namun, menurut Amrullah Amir, pengajar Departemen Ilmu Sejarah Universitas Hasanuddin, cap pengkhianat ke Arung Palakka dinilai tidak tepat. Sayangnya, pemerintah seolah “mendukung” perseteruan itu dengan menjadi Sultan Hasanuddin pahlawan nasional. Sebaliknya, Arung Palakka tidak. Sebenarnya, pengkhianat hanya pantas disematkan ke individu yang tidak tak setia atau bertentangan dengan janji tumpah darahnya. “Di Perang Makassar, Arung Palakka membela bangsanya, Kerajaan Bone, dari penindasan Kerajaan Gowa. Sebab itu, tidak tepat menyebut sosok pengkhianat yang dikaitkan dengan bangsa Indonesia karena abad ke-17 konsep negara Indonesia belum ada,” ujar Amrullah awal Februari, di kampus Unhas.
Ketika memerintah periode 1653-1669, Raja Gowa Sultan Hasanuddin (1631-1670) mewariskan masa emas kerajaan itu. Saat itu, Islam sebagai agama kerajaan oleh Sultan Alauddin yang menjabat 1593-1639, lalu dilanjutkan ayahanda Sultan Hasanuddin, Sultan Malikussaid, dengan melanjutkan estafet penguasa Gowa pada 1639-1653. Dengan mengislamkan di sekitarnya, Kerajaan Gowa melakukan penaklukan sejumlah kerajaan lainnya yang beretnis Makassar, Bugis, dan Luwu, termasuk tiga kerajaan Bugis besar, yaitu Sidenreng dan Soppeng, Wajo, serta Bone.
Peperangan menyebarkan Islam sejak 1590-1611, yang dinamakan Musu’ Selleng atau Peperangan Islam. J Noorduyn, dalam Sejarah Agama Islam di Sulawesi Selatan (1968) menyebutkan, peperangan itu menjadikan seluruh Sulsel, termasuk daerah Tana Toraja memeluk Islam. Terkait dengan penyebaran Islam, Amrullah menambahkan, penaklukan oleh Kerajaan Gowa bertujuan mengambil alih pasokan beras Kerajaan Bugis. Komoditas itu menjadi sarana utama perdagangan kerajaan. Meskipun penaklukan sejumlah kerajaan lewat peperangan, Kerajaan Gowa tetap memberikan perlakuan baik kepada kaum bangsawan, salah satunya keluarga Kerajaan Bone.
Adapun Arung Palakka (1634-1696) lahir di Kabupaten Soppeng. Ayahnya, La Pottobune Arung Tana Tenga, pemimpin sebuah desa di Soppeng. Sementara ibunya, Datu Mario ri Wawo We Tenrisui, yang merupakan cucu raja pertama Bone yang memeluk Islam, Arumpone La Tenrirua Sultan Adam.
Dalam buku Warisan Arung Palakka (2004), Leonard Y Andaya menuturkan, Arung Palakka bersama kedua orang tuanya dibawa ke Gowa sebagai sandera pascaperang Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone. Keluarga Arung Palakka bahkan menjadi pelayan seorang petinggi Kerajaan Gowa, Karaeng Pattinngaloang. Namun, Karaeng Pattinngaloang justru mendidik Arung Palakka memakai senjata serta dipercaya pembawa kotak sirih ketika Karaeng Pattinngaloang hadir di upacara penting kerajaan.
Arung Palakka juga dikenal berhubungan baik dengan keluarga Kerajaan Gowa dan sejumlah bangsawan kerajaan lainnya yang juga tawanan. Kehidupan tenteram sebagai tahanan berakhir saat Karaeng Pattinngaloang digantikan anaknya, Karaeng Karunrung. Tepat enam tahun sebagai penasihat Sultan Hasanuddin, Karaeng Karunrung memerintahkan penguasa Bone, Tobala, membawa sekitar 10.000 orang Bone ke Gowa Juli 1660. Kaum bangsawan dan rakyat diperintahkan menggali parit melindungi benteng Kerajaan dari VOC.
Ketika melihat kehormatan keluarga dan bangsanya ditindas, Arung Palakka menganggap Kerajaan Gowa melecehkannya. Siri’ dan pesse atau perasaan harga diri dan rasa malu, serta rasa empati dan simpati Arung Palakka pun terusik. Dalam bukunya, Ayam Jantan Tanah Daeng (2005), Nasaruddin Koro melihat lain. Alasan pemberontakan Arung Palakka disebut karena Gowa melanggar perjanjian II kerajaan abad ke-16, perjanjian “Sitettongenna Sudanga La Te Riduni”. Perjanjian dilakukan raja ke-6 Bone, La Uliyo Botoe, dan raja ke-9 Gowa, Daeng Matanre Tumaparisi Kallonna. Isinya, kedua kerajaan saling menolong, memuliakan, dan tak mencelakakan.
Meski melawan, Arung Palakka dan para pengikutnya kabur ke Pulau Buton untuk menghindari kejaran pasukan Kerajaan Gowa. Arung Palakka sebelumnya pernah menerima tawaran dari militer VOC untuk menyerang pasukan Minangkabau di pantai barat Sumatera. Kemenangan perang itu mengukuhkan tekad VOC memanfaatkan Arung Palakka melawan Kerajaan Gowa. VOC pun mempersiapkan Cornelis Janszoon Speelman sebagai pemimpin pasukan. Adapun Arung Palakka memimpin pasukan Bugis. Perang Makassar pun pecah mulai 1666 hingga 1669.
Menurut Andaya, keduanya punya misi pribadi saat Perang Makassar. Speelman ingin Perang Makassar menjadi pembuktian dirinya setelah dipecat sebagai Gubernur Coromandel, India. Dan, Arung Palakka bertekad memulihkan siri'-nya. Pada Juni 1669, Benteng Somba Opu berhasil diambil alih VOC. Berakhirlah perlawanan Kerajaan Gowa hingga menyebabkan Sultan Hasanuddin menyerahkan takhta kepada putranya, I Mappasomba.
Rekonsiliasi
Syair Perang Mengkasar karya Ence Amin, juru tulis Sultan Hasanuddin, Arung Palakka digambarkan sosok kejam yang inginkan perang dengan Kerajaan Gowa. “Si Tunderu (Arung Palakka) itu hulubalang yang garang/mencari akal kan berperang/menggali lubang malam dan siang/dibubuhnya ubat berapa loyang”.
Namun, seusai Perang Makassar, Sultan Hasanuddin dan Arung Palakka justru telah jauh membuang dendam. Nasaruddin mengungkapkan, beberapa hari sebelum Sultan Hasanuddin meninggal 12 Juni 1670, Arung Palakka pernah mengunjungi Sultan Hasanuddin sebagai bentuk rasa hormatnya ke “Ayam Jantan dari Timur” itu.
Menurut Nasaruddin, ketika rakyat dan bangsawan Bone mendesak agar Arung Palakka membalas perbuatan Kerajaan Gowa ke bangsa Bone, Arung Palakka justru mengabaikannya. Setelah tiga tahun Perang Makassar, Arung Palakka alias La Tenritatta dikukuhkan sebagai raja ke-15 Bone. Hingga wafatnya 1696, Andaya menyatakan, Arung Palakka berhasil menyatukan seluruh kerajaan di Tanah Sulsel, mulai dari Gowa, Mandar, hingga Toraja.
Selama menjadi raja Bone sekaligus “penguasa” Sulsel, Arung Palakka bermukim di Bontoala, Kota Makassar. Kedekatan Sultan Hasanuddin dan Arung Palakka terus terjaga hingga akhir hayatnya. “Keberadaan makam yang berdekatan itu menunjukkan rekonsiliasi antara Gowa dan Bone sehingga masyarakat Gowa sudah menerima Arung Palakka. Jadi, konflik sudah selesai secara kultural,” ujar antropolog Unhas, Tasrifin Tahara.
Tampaknya, tambah Tasrifin, konflik pada masa lalu akan dimanfaatkan generasi kini untuk mengagungkan ketokohan keduanya sebagai representasi etnis Bugis dan Makassar. Di pertarungan politik, misalnya, persaingan calon kepala daerah akan mengerucut pada persaingan antartokoh kedua etnis.
Sultan Hasanuddin dan Arung Palakka tak pernah mengira dampak Perang Makassar akan “dilestarikan” nyaris selama 350 tahun. Kini, sepatutnya kita meneladani sifat negarawan kedua tokoh yang justru menyingkirkan seteru dan menunjukkan perdamaian.
Kompas, Minggu, 13 Mei 2018