Sunday, 7 June 2015

Heran

Jangan heran bila kata heran bikin heran. Saya heran ketika jumpa lagi dengan kata ini waktu membaca ulang Tesaurus Bahasa Indonesia (TBI) selagi mengerjakan perbaikan terhadapnya untuk edisi revisi yang kini sudah dekat selesai. Heran, sebab di sana ia tercatat berkerabat dengan ajaib dan aneh. Sambil memanggul heran, saya periksa kembali beberapa kamus bahasa Indonesia, rujukan saya dalam menyusun TBI edisi pertama. Hasilnya? Tentu saja mudah diterka. Semua kamus bahasa Indonesia pada saya menyuratkan heran punya arti atau bersinonim dengan ajaib dan aneh.
Yang tak begitu bikin bingung, pada detik perjumpaan kembali tadi serta-merta saya menganggap penyandingan heran dengan ajaib dan aneh ganjil. Apalagi kemudian saya dapati fakta rada berbeda setelah memeriksa lebih jauh ke data, korpus dari laras bahasa jurnalistik, yaitu empat media dalam jaringan (daring, online) Kompas,  Pikiran Rakyat, Tempo, dan Waspada – dan satu korpus laras bahasa sastra (goenawanmohamad.com), secara sekilas dan cepat. Pada kata heran dalam semua korpus itu tidak kita jumpai pengertian-pengertian ajaib dan aneh. Sejauh yang saya tangkap, heran yang bertaburan di sana lebih dekat ke bingung atau takjub. Itulah maka kini saya berani berkata, kedua kata ganjil itu adalah pangkal yang memunculkan heran, bukan heran itu sendiri. Heran saya yang sesungguhnya adalah kenapa kedua kata ganjil tadi bisa dengan gagah berani menyelundup ke dalam rumah heran di edisi pertama TBI.
Begitulah. Baru saja kita melihat, makna dalam kamus tidak selalu akur atau sama sebangun dengan makna sebagaimana ia memancar dari sebuah konteks dalam pemakaiannya oleh pengguna bahasa. Tak jarang dikatakan perselisihan keduanya kekal sebab bahasa selalu berkembang, makna selalu bergeser, padahal kesanggupan kamus merekam dinamika bahasa berhenti pada menit saat ia mesti terbit. Sementara itu, manusia terus-menerus mengeksploitasi bahasa demi banyak sekali keperluan.
Saya pikir senjang atau selisih itu tidak selalu berhubungan dengan soal perbedaan watak antara kamus yang statis dan bahasa yang dinamis (tentang ini tengok tulisan saya, “Pesona Bicara Canggih”, Kompas edisi 10 Januari 2015). Semacam pengakuan kamus kita bahwa ajaib dan aneh bersaudara dengan heran, dan diingkari oleh bahasa yang hidup, sama sekali tak ada urusannya dengan pergeseran makna (yang belum sempat terekam kamus). Atau contoh lain, kamus kita cenderung tidak mencatat ngedumel dan ngelunjak.
Baiklah. Namun, kenapa dua kata ganjil ajaib dan  aneh bisa dengan gagah berani nangkring dalam rumah heran di edisi pertama TBI? Izinkanlah saya sekarang menengok ke belakang barang sebentar.
Saya kira, saya sudah sedikit terkecoh oleh contoh dalam kamus. Poerwadarminta (Kamus Umum Bahasa Indonesia, cetakan keempat, 1965): “Tidak heran kalau dia marah”. Atau ini: “Heran, dng gaji sekecil itu, orang itu masih bisa hidup di kota besar” (KBBI, edisi keempat, 2008). Kita baca dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (Badudu dan Zain, 1994): “Heran bahwa dia tidak mati dl kecelakaan yang hebat itu”. Dua dari beberapa teman yang saya mintai bantuan dalam kerja merevisi punya pendapat menarik setelah saya sodori contoh serupa tapi tak sama, “Heran, jelek tapi sombong.”
Yanwardi Natadipura, penulis masalah kebahasaan yang luas dan tajam wawasan linguistiknya, malah balik mengirim tanda tanya retoris buat saya. “Yang heran kan penutur, ya, bukan obyek yang jelek.” Pikiran senada yang sedikit lebih terurai saya dapat dari Uu Suhardi, koordinator redaktur bahasa di majalah Tempo dan redaktur bahasa Koran Tempo, majalah Matra, U-Mag. “Gampangnya begini: saya heran kan beda dg saya aneh.” Lalu ia tambahkan, “Itu (contoh dari saya di atas) kan ada yg lesap (bahasa lisan). Lengkapnya: Saya heran, dia jelek tapi sombong.” Demikian korespondensi mereka dengan saya lewat sandek – salah satu media kami bertukar pikiran dalam bekerja.
Jadi, jangan heran bila ajaib dan aneh tersisih dari lema heran dalam TBI edisi revisi nanti.
EKO ENDARMOKO
Munsyi, Penulis Tesaurus Bahasa Indonesia
Kompas, Sabtu, 6 Juni 2015