Sunday, 22 November 2015

Malam Minggu Ayo Pergi ke Metropole

Oleh SARIE FEBRIANE
Bioskop Metropole, Jakarta, pernah berperan penting dalam perkembangan film Indonesia. Manajer di bioskop itu dengan gagah pernah memperjuangkan diputarnya film karya Usmar Ismail di Metropole pada tahun 1950-an.
908d19496d9e477dad1be8b4ab74d5de.jpg
Wajah gedung bioskop Metropole (atas), Sabtu (21/11/2015), dan Metropole (bawah) dari koleksi kartu pos Scott Merrillees, sekitar akhir tahun 1950. Metropole pernah berganti nama menjadi Megaria (kiri atas). (Arsip Scott Merrillees)
Dulu di bioskop Metropole itu banyak calo berkeliaran. Itu kenangan Djonny Sjafruddin (67) akan era 1960-an di gedung bioskop legendaris tersebut. “Banyak calonya dulu, mereka menguasai di sana. Kursi yang posisinya bagus sudah dikuasai calo,” kenang Djonny.
Bioskop Metropole terletak di pojok pertemuan Jalan Cikini Raya dan Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. Djonny mengingat lanskap gedung dengan cukup jelas, loket yang diberi terali, balkon di sini kanan dan kiri, tegel berwarna abu-abu semen berukuran besar, dan susunan bangku yang landai dari bawah ke atas.
“Pacaran dulu modalnya enggak banyak. Naik oplet dari Jatinegara, turun di Salemba. Nonton bioskop, kasih cokelat, traktir bakso, sudah,” kata Djonny, yang pengusaha bioskop sejak era sebelum bioskop XXI berdiri.
Salah satu film Indonesia berwarna yang paling diingat Djonny adalah Bernapas dalam Lumpur (1970), yang dibintangi Rachmat Kartolo dan Suzanna. Selain film Indonesia, Djonny mengingat, ia juga sering menonton film-film impor laga di bioskop Metropole. “Film-film ‘jenggo’ Italia, yang kalau nembak, enggak pernah habis pelurunya ha-ha-ha,” seloroh Djonny tentang film koboi spageti yang larisnya dipicu film Django dari Franco Nero.
Dari buku Jakarta: Portraits of a Capital, 1950-1980 karya Scott Merrillees (53) disebutkan, Metropole resmi dibuka pada April 1951. Ketika itu, film pertama yang diputar berjudul Annie Get Your Gun yang dibintangi Barbara Hutton. Pada tahun 1960-an, gedung bioskop tersebut berganti nama menjadi Megaria karena Presiden Soekarno ketika itu menganggap nama “Metropole” terlalu kebarat-baratan.
Dalam catatan Scott di bukunya, awal tahun 1950-an itu merupakan masa-masa perjuangan pula bagi industri film Indonesia untuk bisa diputar di gedung-gedung bioskop ternama. Sebab, gedung-gedung bioskop tersebut termasuk Metropole masih cenderung memilih untuk memutar film impor.
Metropole kemudian tercatat berperan penting dalam membangun kepercayaan industri film nasional, yaitu ketika pada tahun 1954 film karya Usmar Ismail berjudul Krisis diputar di layarnya. Film itu, dalam catatan Scott, sebelumnya ditolak dengan arogan oleh pihak manajer umum orang Eropa dari Bioskop Capitol di kawasan Pintu Air, Jakarta. Krisis nyatanya sukses dan bertahan selama empat minggu di layar Metropole.
Dari buku 100 Tahun Bioskop di Indonesia 1900-2000 (2008), yang ditulis HM Johan Tjasmadi, diungkapkan, Manajer Capitol bernama Weskin menganggap film Indonesia masih tergolong kelas C. Weskin tidak senang dengan kebiasaan orang Indonesia ketika itu yang suka berteriak-teriak tidak bisa mengendalikan diri karena terlalu hanyut menyaksikan adegan-adegan film. Oleh karena itu, ia menolak film Krisis.
Sebaliknya, di Metropole, Manajer Umum Metropole Theatre bernama Lie Khik Hwie justru meminati film Krisis. Sekalipun perwakilan MGM, perusahaan film asal Amerika Serikat, keberatan. Lie Khik Hwie bersikeras memutar Krisis. Seperti dikutip di buku tersebut, Lie Khik Hwie berucap, “MGM tidak memiliki saham sesen pun di Metropole Theatre Indonesia, maka kalau Anda berkeberatan  tidak ada salahnya saya merobek kontrak dengan MGM.”
Bioskop Metropole pada tahun 1950-an (Foto: Sinematek Indonesia/karbonjournal.org)
Bioskop Megaria pada tahun 2007 (Foto: Sinematek Indonesia/karbonjournal.org)
Bioskop Metropole XXI pada tahun 2010 (Foto: Ardi Yunanto/karbonjournal.org)
Arsitek
Gedung Metropole yang bergaya art deco ini masih menyisakan pertanyaan soal siapa sebenarnya arsitek yang merancangnya. Sering disebut-sebut, seorang arsitek Belanda bernama Johannes Martinus (Han) Groenewegen, yang merancang arsitektur Metropole. Namun, dugaan itu sejauh ini belum dapat terkonfirmasi.
Scott sendiri meyakini Metropole bukan rancangan Groenewegen. “Itu (Metropole) bukan hasil rancangan Groenewegen. Saya mempunyai daftar karya Groenewegen dan Metropole tidak termasuk di dalam daftar itu,” kata Scott.
Scott telah meneliti sejarah lanskap di Jakarta selama sekitar 20 tahun. Ia kemudian menuangkan hasil penelitiannya dalam trilogi buku yang merangkum sejarah Jakarta sejak tahun 1900 hingga tahun 1980-an.
Dari situs karbonjournal.org yang dikelola Ruang Rupa, gedung Metropole sebenarnya dirancang arsitek bernama Liauw Goan Seng, yang meninggalkan Indonesia dan pindah ke Belanda ketika terjadi naturalisasi. Situs ini merupakan jurnal virtual mengenai ruang publik, kota, seni visual, dan budaya visual di Indonesia.
Dari buku berjudul Layar Perak, 90 Tahun Bioskop di Indonesia (1992) yang berisi kumpulan tulisan beberapa penulis dengan editor Haris Jauhari disebutkan, gedung bioskop Metropole ini berkapasitas 1.446 penonton. Hingga tahun 1954, ciri khas bioskop ketika itu memang memiliki tempat duduk yang banyak, hingga melebihi untuk seribu penonton.
Menurut catatan buku tersebut, ketika itu dari segi ukurannya, kemegahan Metropole menandingi bioskop kelas satu lainnya, yaitu Bioskop Menteng, yang kini sudah tidak ada lagi, di kawasan Menteng, Jakarta. Selain itu, Metropole juga menyaingi kemegahan Bioskop Broadway di Surabaya.
menteng.jpg
Bioskop Menteng pada tahun 1984 (Foto: Nanang Baso/Tempo)
Peresmian Metropole, yang dibangun selama tiga tahun, ketika itu dihadiri istri Wakil Presiden Rahmi Hatta, Sultan Hamengku Buwono IX, dan H Agus Salim.
Sepanjang tahun 1966, film-film Jepang sempat pula merajai bioskop-bioskop di Indonesia, termasuk Megaria/Metropole. Peta politik ketika itu bagaimanapun terefleksi pada bioskop. Bersama beberapa bioskop lain, pada 13 April 1966 misalnya, Megaria memutar film Seishun Zankoku Monogatari. Pada bulan berikutnya diputar film Zatoichi Kesho Tabi. Setiap sebelum pertunjukan digelar pertunjukan musik untuk menghibur penonton. Tema kepahlawanan dan sikap ksatria kental terasa dari jenis film-film Jepang yang diputar pada saat itu.
Pada akhir tahun 1980-an bioskop Metropole akhirnya dikelola jaringan 21 Cineplex. Pada tahun 2007 sempat beredar kabar bahwa Gedung Metropole, yang tergolong Cagar Budaya Kelas A, akan dijual melalui situs jual beli properti (“Heboh Rencana Jual Beli Gedung Bioskop Megaria”, Kompas, 15 Maret 2007). Namun, rencana itu batal. Jaringan 21 Cineplex memperpanjang sewa dan memugar interior dalam dan menamainya menjadi Metropole XXI.
Kini, renovasi masih berlanjut. Status cagar budaya mengamanatkan bagian luar gedung harus tetap dipertahankan bentuk aslinya. Sebagian interior gedung pun sudah terlihat lebih cantik. Di bagian atas juga telah berdiri restoran Roemah Kuliner bergaya art deco yang menyajikan masakan Indonesia.
Kompas, Minggu, 22 November 2015