Sunday, 8 November 2015

Warga Buru Terpapar Merkuri

AMBON, KOMPAS – Zat merkuri yang digunakan untuk pengolahan hasil tambang emas liar di Gunung Botak, Kabupaten Buru, Maluku, terdeteksi telah masuk ke dalam tubuh manusia.
bbaea7b51981400fbfc6c682d31042c3.jpg
Aktivitas penambangan emas skala kecil di Gunung Botak, Kabupaten Buru, Maluku, menggunakan metode baru yang disebut perendaman. Tanah direndam air dan merkuri serta dinaikkan keasamannya. Lalu, air mengandung merkuri dan emas itu dialirkan untuk digumpalkan dengan karbon aktif. Selanjutnya, gumpalan dibakar demi mendapat emas murni. Metode itu tetap berbahaya karena masih menggunakan logam berat merkuri/air raksa sebagai pemisah emas dan tanah. Tampak metode perendaman di Gunung Botak, Rabu (11/11/2015). (Kompas/Ichwan Susanto)
Ironisnya, sampai saat ini penambangan tetap berlangsung kendati secara lisan Presiden Joko Widodo telah memerintahkan agar tambang tanpa izin itu segera ditutup.
Yusthinus T Male, dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pattimura, Ambon, yang terlibat dalam penelitian itu, Jumat (6/11), mengatakan, merkuri masuk ke dalam tubuh manusia melalui rantai makanan.
Pasalnya, limbah pengolahan emas dibuang ke Sungai Waeapo yang memiliki tujuh subdaerah aliran sungai. Sungai itu merupakan sumber utama pengairan lahan pertanian di daerah itu.
Data pemerintah setempat, sekitar 10.000 petambang beraktivitas di Gunung Botak. Bupati Buru Ramly I Umasugi mengatakan, pihaknya sulit menertibkan penambangan liar karena ada keterlibatan oknum-oknum tertentu. “Puluhan kali kami tertibkan, setelah itu mereka menambang lagi,” ucapnya (Kompas, 7/2).
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Buru Masri, ketika dihubungi dari Ambon, Sabtu (7/11) mengatakan, pemerintah tidak memiliki data pasti mengenai jumlah petambang di sana. Namun, diperkirakan saat ini masih ada 4.000 orang yang aktif menambang. Mereka membawa material galian dari lokasi itu menuju lereng, pinggir sungai, dan permukiman penduduk, kemudian mengolahnya menjadi emas dengan menggunakan merkuri.
Potensi emas di Gunung Botak pertama kali ditemukan akhir 2011. Setahun kemudian, pemburu emas dari sejumlah wilayah di Indonesia berdatangan. Jumlah petambang memuncak pada 2012-2013, mencapai lebih dari 20.000 orang. Awal tahun ini diperkirakan masih ada 10.000 orang.
Berkurangnya petambang, menurut Masri, ditengarai karena kandungan emas sudah berkurang. Selain itu, banyak petambang dari luar daerah memilih pulang karena sering terjadi kasus pembunuhan. Pemerintah kewalahan mengatasi kondisi ini. Namun, setelah area tambang ditutup berulang kali, petambang kembali lagi.
Saat Kompas mendatangi kawasan Gunung Botak pada Februari lalu, pintu masuk dijaga aparat bersenjata dan satuan polisi pamong praja. Setiap petambang yang masuk diminta membayar sejumlah uang. Masri mengatakan, kondisi saat ini belum banyak berubah. Pengolahan menggunakan zat merkuri tidak terbendung.
1bbb8a899c364d3bb3cb9edb0af4493b.jpg
750c8a9822864c8781108cf5bacba87f.jpg
a624b2b30bed4929808ddedc9e630caa.jpg
d1ff0549610e41babfb6924b399eca5e.jpg
dbace333cddd4b53990dae9c88bc2d70.jpg
24215fefc3e1485fb27d5fecfb6ba282.jpg
Eksploitasi emas ilegal di Gunung Botak. (Kompas/Fransiskus Pati Herin, Ponco Anggoro)
Kadar sangat tinggi
Penelitian Yusthinus dimulai pada 2012, setahun setelah aktivitas penambangan massif. Penelitian diawali pada sedimen sungai. Mereka menemukan kadar merkuri di sana sudah sangat tinggi, mencapai 9 miligram (mg) per 1 kilogram (kg) lumpur. Padahal, ambang batas merkuri pada sedimen tidak boleh lebih dari 1 mg per 1 kg lumpur. Sampel dari sedimen di tujuh lokasi.
Penelitian dilanjutkan tahun 2014 dengan fokus pada bahan makanan yang meliputi udang, ikan, kerang-kerangan, dan kepiting yang diambil dari Teluk Kayeli, muara sungai yang sudah tercemar. Konsentrasi merkuri pada 30 persen sampel itu pun sudah melampaui batas atas standar nasional yang hanya 0,5 mg per 1 kg sampel. Temuan pada udah lebih dari tiga kali lipat dibandingkan standar, ikan tujuh kali, kerang enam kali, dan kepiting dua kali.
Mereka juga meneliti kandungan merkuri pada tubuh manusia dengan menjadikan rambut sebagai sampel. Hasilnya, pada rambut penduduk di sekitar tempat pengolahan emas, kadar merkuri 18 mg per 1 kg sampel atau lebih tinggi 36 kali dari standar. Ada lima warga dari petambang yang dijadikan sampel.
Pada sampel penduduk yang bukan pekerja tamang ditemukan konsentrasi merkuri di atas dua sampai tiga kali standar. Lima penduduk dijadikan sampel.
Sebelum memublikasikan hasil penelitiannya, Yusthinus dan Albert Nanlohy selaku pemimpin tim penelitian sudah melakukan uji banding hasil analisis sampel sama di Australia dengan melibatkan peneliti Australia, Amanda J Reichelt-Brushett, ahli lingkungan terkenal di dunia.
“Walaupun hanya dua sampai tiga kali melebihi ambang batas, hal itu sudah berbahaya. Melalui proses biomagnifikasi, yaitu pelipatgandaan konsentrasi merkuri melalui rantai makanan, manusia yang menempati puncak rantai makanan akan menerima dampak akumulasi merkuri,” paparnya.
Merkuri akan menumpuk di otak sehingga menyebabkan kegagalan motorik, seperti tangan tidak bisa bergerak. Gejala awal adalah kesemutan hingga lumpuh total. Khusus untuk wanita hamil atau menyusui, merkuri akan menular ke janin atau bayi sehingga bisa mengakibatkan cacat fisik dan mental. Merkuri bisa menembus plasenta sehingga dikhawatirkan tragedi Minamata di Jepang bakal terulang di Buru.
Mereka masih menganalisis kandungan merkuri yang ada dalam hasil pertanian di Buru. “Kami yakin area pertanian yang dekat dengan lokasi pengolahan emas itu sudah terkontaminasi zat merkuri,” katanya.
Menurut data Dinas Pertanian Maluku, pada 2014, dari produksi padi sebanyak 101.836 ton gabah kering giling, 42,33 persen berasal dari Buru. Padahal, banyak area persawahan di Buru menggunakan air dari sungai yang sudah tercemar itu.
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Krisis Kesehatan Dinas Kesehatan Maluku Ritha Tahitu juga mengemukakan temuan merkuri yang melebihi ambang batas di sejumlah lokasi, seperti Teluk Kayeli, tempat pemandian umum di Anahoni, serta sumur bor di Desar Wansait dan Desa Kayeli.
Catatan Kompas, kerusakan lingkungan di Buru sudah menjadi perhatian Presiden Jokowi. Dalam kunjungannya ke Buru, Mei lalu, secara lisan Jokowi memerintahkan Kepala Kepolisian Daerah Maluku Brigadir Jenderal (Pol) Murad Ismail untuk menutup tambang emas itu. “Saya perintahkan Kapolda (Maluku) untuk menutup tambang ilegal,” kata Jokowi.
Namun, kondisi lingkungan saat ini justru semakin parah dibandingkan pantauan Kompas di Gunung Botak, Februari lalu.
Kepala Bagian Humas Sekretariat Daerah Maluku Andrew Ardiansz mengatakan, Gubernur Maluku Said Assagaff telah mengeluarkan surat keputusan untuk penataan kembali kegiatan penambangan di Buru. Surat keputusan itu dikeluarkan pada akhir Oktober lalu. (FRN)
Ancaman merkuri di dalam tubuh
Penggunaan merkuri untuk pengolahan hasil tambang emas terus terjadi di Indonesia. Selain harganya relatif murah, merkuri juga mudah didapat dan penggunaannya gampang. Namun, itu menurunkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat di sekitar lokasi pertambangan.
1d93d54190f240caae569685aa8fa285.jpg
Selama ini, merkuri digunakan sebagai bahan pengikat bijih emas yang banyak digunakan petambang emas tradisional. Dengan cara mencampurkan merkuri dengan bijih emas, emas akan terikat dengan merkuri membentuk amalgam. Akan tetapi, penggunaan merkuri itu tak diimbangi pengetahuan tentang bahaya merkuri di kalangan petambang tradisional.
Riset yang dilakukan International Institute for Economic Development memperkirakan, 713 lokasi operasi kegiatan penambangan emas skala kecil muncul di Indonesia akibat kenaikan harga emas. Studi terbaru, seperti dimuat dalam buku Rencana Aksi Nasional Penghapusan Penggunaan Merkuri pada Pengolahan Emas, mencatat, terdapat 800 lokasi penambangan dengan estimasi 50.000 petambang.
Sebenarnya merkuri atau air raksa (Hg) termasuk jenis logam yang banyak ditemui di alam. Merkuri bisa terpapar ke tubuh manusia dalam bentuk uap merkuri, melalui ion merkuri anorganik, melalui metil merkuri, dan etil merkuri. Pada penambangan emas, merkuri masuk melalui media air, tanah, dan udara, lalu akhirnya masuk rantai makanan.
Kasus pencemaran merkuri paling terkenal dalam sejarah manusia adalah tragedi Minamata di Jepang, 1950-an, akibat kegiatan industri. Setidaknya 50.000 orang terdampak dan lebih dari 20.000 orang menjadi korban.
Penduduk yang mengalaminya memiliki gejala tangan dan kaki mati rasa, gangguan koordinasi otot, gangguan pada mata, gangguan pendengaran, dan kelumpuhan. Bahkan, pada level tertentu, paparan merkuri itu menyebabkan kematian.
5d3f834e21d34d60a3ed44720dc8c97f.gif
Dampak merkuri bagi kesehatan tergantung tipe konsentrasi, dosis, lama terpapar, usia seseorang saat terpapar, dan cara paparan itu. Menurut ahli farmakologi dan terapetik Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Iwan Prahasto, Jumat (6/11), paparan merkuri bisa lewat konsumsi ikan yang tercemar merkuri. Makin panjang usia ikan, kian tinggi kadar merkurinya.
Merkuri jadi satu-satunya logam berbentuk cair. Merkuri anorganik dipakai untuk memisahkan emas dari tanah. Pembuangan limbah merkuri sembarangan membuat merkuri masuk ke sungai, teluk, dan lautan. Merkuri pun mengendap di sedimen dasar perairan.
Endapan merkuri itu bisa dimakan plankton, tingkat terbawah rantai makanan di perairan. Sejak masuk metabolisme makhluk hidup, merkuri anorganik berubah jadi metil merkuri yang merupakan merkuri organik.
Sebagai logam berat, merkuri amat sulit diurai dalam tubuh makhluk hidup, termasuk manusia, sehingga tertinggal di tubuh selamanya. Karena itu, merkuri di plankton berpindah ke serangga air atau binatang air kecil lain yang makan plankton itu. Demikian juga saat hewan air kecil dimakan ikan lebih besar. Akibatnya, ikan besar di puncak rantai makanan mengandung merkuri lebih besar daripada hewan kecil perairan.
"Itu membuat sejumlah negara membatasi perdagangan dan konsumsi ikan hingga besaran ukuran tertentu," kata ahli kimia pangan, yang juga Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor, Nuri Andarwulan, Sabtu (14/11).
Paparan merkuri juga ditentukan habitat dan pola gerak binatang air. Dalam perjalanan dari sungai ke laut, merkuri menurun konsentrasinya akibat bertambahnya volume air dan luasan wilayah. Jadi, ikan di tingkat rantai makanan sama di sungai dekat tambang emas punya kadar merkuri lebih besar daripada di muara atau teluk.
Selain itu, binatang air dengan pola gerak terbatas, seperti udang, kerang, dan kepiting, punya kadar merkuri lebih tinggi daripada ikan dengan kemampuan jelajah tinggi. Binatang dengan gerak terbatas terpapar merkuri tinggi sepanjang hidup, sedangkan hewan berdaya jelajah tinggi bisa mengurangi paparan merkuri pada dirinya.
Riset Domu Simbolon dari Departemen Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan IPB dan rekan, dalam Kandungan Merkuri dan Sianida pada Ikan yang Tertangkap dari Teluk Kao, Halmahera Utara, di jurnal Ilmu Kelautan, September 2010, menyebut, kadar merkuri ikan di Teluk Kao yang tercemar penambangan emas tinggi. Merkuri lebih banyak terkonsentrasi di hati dibandingkan daging ikan.
Ikan di perairan tercemar merkuri biasanya punya tumor dan luka di lapisan kulit luar. Jika ikan yang terpapar bahan kimia beracun itu dikonsumsi manusia, itu memicu akumulasi merkuri pada tubuh dan menimbulkan berbagai penyakit.
Gangguan kesehatan
Merkuri masuk tubuh manusia lewat beragam cara. Selain dari air dan bahan pangan tercemar, merkuri masuk melalui saluran pernapasan atau kulit.
Sumber cemaran merkuri beragam, mulai dari penambangan emas, pembakaran batubara di pembangkit listrik tenaga uap, industri, hingga penambangan batu sinabar yang mengandung 70-80 persen merkuri. Merkuri ada di kerak Bumi yang dilepaskan ke permukaan lewat letusan gunung api. Selain itu, merkuri dipakai pada bahan tambalan gigi (amalgam), baterai, lampu neon, termometer, dan kosmetik pemutih kulit.
Konsultan Gastroenterologi- Hepatologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo Jakarta Ari Fahrial Syam mengatakan, merkuri yang masuk lewat makanan atau minuman mengenai saluran cerna. Lalu, merkuri ke lever atau hati menuju jantung dan di pompa hingga beredar ke seluruh tubuh.
Hal itu membuat merkuri tertimbun di banyak organ tubuh, mulai dari kulit, rambut, otak, hingga ke janin lewat plasenta. Paparan merkuri di janin, khususnya di trimester pertama, mengganggu pembentukan janin, memicu kebutaan dan organ tubuh tak lengkap.
Penyebaran merkuri ke seluruh tubuh membuat deteksi merkuri di tubuh mudah dilakukan dengan memeriksa darah dan rambut. Itu bisa dilakukan di laboratorium tertentu.
Kasus terbesar akibat penggunaan merkuri terjadi di Minamata, Jepang, pada 1950-an. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, lebih dari 50.000 orang terpapar merkuri hingga kadar tertentu, lebih dari 2.000 orang terjangkit penyakit Minamata yang menimbulkan kerusakan otak, kelumpuhan, bicara tak jelas, dan linglung.
Ari menambahkan, tahap akhir pengolahan merkuri pada tubuh ada di ginjal. Masalahnya, kemampuan ginjal mengeluarkan merkuri terbatas. "Akibatnya, merkuri menumpuk di ginjal, daya tahan tubuh turun, memicu gagal ginjal, dan memicu kematian," ujarnya.
Sementara merkuri yang masuk lewat pernapasan merusak paru-paru. Itu biasa dialami pekerja industri yang memakai pembakaran batubara atau merkuri pada proses industri.
Keterbatasan tubuh mengeluarkan logam berat itu lewat urine dan keringat tampak dari kecilnya ambang batas paparan merkuri di tubuh.
Panel Ilmiah untuk Kontaminasi pada Rantai Makanan (Panel CONTAM) Badan Keamanan Pangan Eropa (EFSA) dan Komite Ahli Bahan Aditif Makanan (JECFA) yang dibentuk Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) dan WHO menyebut, batas maksimum paparan merkuri anorganik per minggu (TWI) 4 mikrogram per kilogram berat badan per minggu.
Untuk paparan metil merkuri, terutama pada ikan laut, Panel CONTAM menetapkan 1,3 mikrogram per kg berat badan per minggu boleh masuk tubuh. Adapun JECFA menetapkan ambang metil merkuri 1,6 mikrogram per kg per minggu.
Pencegahan
Karena merkuri nyaris tak bisa diuraikan tubuh, menurut WHO, satu-satunya cara menghindari paparan merkuri adalah menghentikan penggunaan merkuri di penambangan emas, mengurangi penggunaan produk mengandung merkuri. Cara lain adalah memakai energi ramah lingkungan bagi pembangkit.
Selain itu, hindari daerah terpapar merkuri dan batasi konsumsi ikan terpapar merkuri. Pemasakan ikan tak menghilangkan merkuri karena titik didih merkuri 356,7 derajat celsius, tak ada makanan diproses hingga suhu setinggi itu.
Sejumlah negara mendorong pembatasan konsumsi ikan menurut ukuran karena ikan besar bisa mengandung merkuri tinggi. Udang kecil, salmon, dan tiram bisa dikonsumsi tanpa batasan dan ikan besar berusia panjang, seperti hiu dan tuna Albacore, bisa dikonsumsi terbatas.
Menurut Nuri, masyarakat tak perlu takut mengonsumsi ikan dari perairan Indonesia. Karena laut Indonesia amat luas, kadar merkuri dari daerah tercemar turun signifikan. Namun, kewaspadaan konsumsi bahan pangan dari cemaran merkuri harus dilakukan.
Fenomena gunung es
Penasihat senior Balifokus, Yuyun Ismawati, mengatakan, tambang emas skala kecil yang menggunakan merkuri di Gunung Botak merupakan fenomena gunung es. Tahun 2012, ia mencatat ada 850 titik pertambangan emas skala kecil (PESK) di seluruh Indonesia.
Pihaknya bersama Yayasan Medicuss pada 2015 pernah mengkaji paparan merkuri terhadap lingkungan permukiman sekitar PESK di Cisitu, Lebak (Banten), Bombana (Sulawesi Tenggara), dan Sekotong (Lombok Barat). Hasilnya, paparan merkuri mencapai 54.931,84 nanogram per meter kubik di Sekotong, jauh melebihi ambang batas kualitas udara di bawah 1.000 nanogram per meter kubik (WHO).
Pemeriksaan kondisi warga pun menunjukkan dugaan kuat paparan merkuri telah berdampak negatif pada kesehatan. Dicontohkan, kelahiran bayi dalam  kondisi tubuh tidak normal, bibir sumbing, gangguan saraf, dan jari-jari tidak normal.
Meski gangguan kesehatan ini nyata, titik-titik PESK terus meluas. Kata Yuyun, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mendata terdapat 2.000 titik PESK di Indonesia. Lokasinya tersebar dari Sumatera hingga Papua dan masih menggunakan logam berat merkuri atau air raksa (Hg) sebagai bahan pemisah emas dari tanah.
Pada awalnya, merkuri yang digunakan diduga kuat berasal dari barang impor ilegal. Ini didasarkan pada laporan Organisasi PBB untuk Program Lingkungan (UNEF), yang menunjukkan jumlah merkuri yang masuk ke Indonesia mencapai 500 ton. Adapun data resmi pemerintah, Indonesia hanya mengimpor 800 kilogram (Kompas, 17 Desember 2013).
Harga resmi merkuri sekitar Rp 1 juta per kilogram. Namun, menurut pengakuan SY, petambang emas di Gunung Botak, merkuri saat ini bisa didapatkan dengan mudah Rp 300.000 per kilogram. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat aktivitas di Gunung Botak menggunakan 117,9 ton merkuri per tahun.
Keberadaan merkuri murah ini diyakini berasal dari pengolahan batu sinabar yang ditambang di Pulau Seram, Maluku. Batu ini memiliki kandungan 70-80 persen merkuri yang diperjualbelikan secara bebas.
cinnabar.jpg
Batu sinabar (sumber: Nevada Outback)
“Penambangan batu sinabar untuk diambil merkurinya ini semakin mempersulit penanganan tambang emas ilegal. Ini karena bahan merkuri menjadi murah dan terjangkau,” kata Vera Tomasoa, Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Provinsi Maluku.
Secara terpisah, Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya KLHK Tuti Hendrawati Mintarsih mengatakan, pihaknya telah mendengar tentang kecenderungan penambangan merkuri di Indonesia. “Kami sedang bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk mengetahui lokasi-lokasi mana yang menjadi sumber merkuri,” katanya. (FRN/ICH)
Kondisi lingkungan
Tubuh bukit itu tidak lagi mulus setelah ditikam dari segala penjuru. Isinya diambil, lalu dibawa pergi. Sisi jalan menuju puncak yang dulu semerbak wangi daun kayu putih nan mendamaikan hati kini telah berubah menjadi keangkeran yang menakutkan jiwa. Kilauan emas yang dikandungnya telah membutakan mata hati para pemburu.
Kawasan itu oleh masyarakat umum dinamakan Gunung Botak. Letaknya di Desa Wamsait, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru, Maluku. Namun, warga adat setempat menyebutnya Lea Bumi, yang berarti pijakan pertama para leluhur mereka.
Nama Gunung Botak disematkan oleh Tarno, transmigran asal Banyuwangi, Jawa Timur, yang sudah lama menetap di sana. Ia sehari-hari menyuling minyak kayu putih di Desa Wamsait. Tarno pergi ke bukit itu untuk mengambil daun kayu putih. Minyak kayu putih merupakan ikon Pulau Buru. Saat musim kemarau, banyak pohon kayu putih mati, membuat bukit pun gundul. Tarno menyebutnya Gunung Botak dan diikuti warga setempat.
Kisah Tarno berlanjut hingga penemuan emas. Pada 2011, saat tungku untuk memasak minyak kayu putih ambruk, Tarno ingin membuat tungku baru dengan bahan tanah liat yang diambil dari Gunung Botak. Sebelum membuat tungku, Tarno mencampur tanah itu dengan air di dalam ember. Setelah menuangkan tanah dari ember, ia melihat ada logam yang akhirnya diketahui sebagai emas.
Tarno menghadap Raja Kayeli M Fuad Wael untuk melaporkan temuan itu, namun Fuad tidak percaya dan menganggap logam itu ampas besi. Diam-diam, setiap hari Tarno mengambil material tanah dan mendulang di sekitar rumahnya. Aktivitas Tarno pun mengundang kecurigaan warga. Ketika dipanggil Fuad, Tarno mengaku telah mendulang lebih dari 1 kilogram emas dan akan membeli mobil. Raja kaget. Demikian dituturkan Ruslan Arif Soamole, hulubalang Raja Kayeli.
Pengakuan Tarno menggemparkan warga. Mereka ramai-ramai mengambil tanah di Gunung Botak dan mendulangnya di sejumlah sungai. Seketika itu juga, informasi emas di Gunung Botak menyebar ke seluruh penjuru Tanah Air. Para pemburu emas dari beberapa pulau di Indonesia pun berdatangan.
Petambang luar datang dengan teknik baru, yakni menggunakan tromol untuk mengolah material tambang. Zat merkuri dan sianida dicampur untuk mengikat emas dari logam lain. Limbah pengolahan dibuang di sekitar permukiman dan sungai sehingga membuat pencemaran tak terhindarkan.
”Sebagian besar petambang berasal dari luar daerah. Masyarakat di sini tidak dapat apa-apa. Hanya racun yang kami dapatkan,” ujarnya.
292a8b9a338140dbb416329a6aba9e87.jpg
6b5cb06948534e478e9028617b49414d.jpg
Kondisi sebagian besar Gunung Botak di Kabupaten Buru, Provinsi Maluku, telah hancur akibat penambangan emas secara liar seperti pada Minggu (8/11/2015).(Kompas/Fransiskus Pati Herin, Ichwan Susanto)
Saling bunuh
Nafsu akan emas mendorong mereka menghancurkan bukit itu menjadi kubangan besar dengan diameter sekitar 1 kilometer dan kedalaman hampir 200 meter. Bahkan ada satu makam keramat yang ketika didatangi pada Februari lalu masih utuh kini telah hilang jejak.
Jangankan tempat peristirahatan orang meninggal, manusia hidup pun serasa tak berharga. Hanya karena berebut lubang penggalian, sesama petambang baku bunuh. Kantor Perwakilan Komnas HAM Maluku dalam investigasinya mencatat, lebih dari 1.000 petambang tewas, baik dibunuh maupun mengalami kecelakaan kerja. Jumlah petambang sempat melampaui 20.000 orang, tetapi kini tinggal sekitar 4.000 orang.
Ketika melintasi sejumlah tempat penggalian, ada petambang yang mengatakan, ”Di dalam lubang ini ada mayat.” Lubang penggalian terkadang berubah menjadi liang lahat. Kedalaman lubang yang mencapai lebih dari 100 meter membuat sesama rekan kerja tak bisa mengangkat jasad temannya. Ironisnya, ada petambang percaya pada mitos bahwa jika sudah jatuh korban jiwa, berarti emas yang didapatkan akan semakin banyak.
Firman, petambang asal Ternate, Maluku Utara, menuturkan, lubang yang digali memiliki diameter permukaan sekitar 50 sentimeter. Ia dan empat rekannya membuat lagi lubang ke kiri dan kanan dengan panjang lebih dari 50 meter. Karena jarak lubang yang berdekatan, terkadang petambang dari lubang yang berbeda bisa bertemu di dalam tanah.
Sejak masuk ke lubang pukul 09.00, mereka baru bisa keluar sembilan jam kemudian. Untuk memasukkan oksigen ke dalam lubang, mereka menyedot udara dari luar, kemudian mengalirkannya melalui pipa. Jika aliran terhenti, petambang diminta segera keluar.
Jatuhnya korban jiwa dan aksi kekerasan membuat Gunung Botak angker. Wajah baru yang masuk ke area itu akan selalu diawasi orang tertentu. Sejumlah aparat negara juga berada di kawasan itu, menjaga tambang ilegal dengan berbagai alasan. Mereka menagih petambang atau penarik ojek yang mengangkut hasil tambang.
Kondisi jalan setapak menuju puncak yang rusak parah dan penuh tanjakan tajam akan mengocok perut kalau ke sana mengendarai sepeda motor. Sering kali saat melintas, tiba-tiba ada warga yang mengaku anak adat menarik tali, menghalangi laju motor yang ”ngos-ngosan”. Tak ada kompromi selain merogoh saku. Jika melawan, mereka akan bertindak nekat sebab di dalam pos penjagaan ada senjata tajam.
Kompas, Sabtu, 7 November 2015
*) Dengan tambahan:
Ada 4.000 Orang yang Masih Aktif Menambang, Kompas, Minggu, 8 November 2015
Kini Racun yang Kami Dapatkan, Kompas, Kamis, 12 November 2015
Perintah Tinggalkan Tambang Diabaikan: Penggalian Bahan Merkuri Marak, Kompas, Sabtu, 14 November 2015
Merkuri Sulit Diurai Tubuh, Kompas, Selasa, 17 November 2015