Wednesday, 10 August 2016

Tersisihnya Pejuang Nawacita dari Istana

PERNAK-PERNIK PASCA RESHUFFLE KABINET(1)
Oleh RATNA SUSILOWATI
Kawan saya, seorang pemimpin redaksi majalah nasional berkomentar pendek, tentang reshuffle kabinet kedua. "Pak Jonan diganti, itu tidak masuk di akal saya. Sama sekali nggak masuk akal. Kalau yang lain sih, agak dipahami," katanya, tepok jidat. Berulang-ulang dia ngomong begitu sambil geleng-geleng kepala.

Malam itu, sekitar tiga jam setelah pelantikan kabinet baru di Istana, sejumlah pemimpin redaksi media massa, menggelar halal bihalal di Wisma Penta, Jakarta. Acara ini sudah lama diagendakan. Tapi, kok ya kebetulan, bersamaan dengan hari pengumuman reshuffle.
Sejumlah menteri datang. Saya lihat ada Rini Soemarno. Menteri BUMN istimewa. Disebut begitu, karena tak ada yang meragukan kedekatannya dengan Presiden. Bahkan, ada media asing yang menyebutnya sebagai RI 1 ½. Sebutan yang menunjukkan kekuatan posisinya di atas RI-2 (baca: Wapres).
"Selamat ya, Bu," ucap saya. Rini tertawa. "Kok banyak orang malah selamatin saya ya," katanya.
Tapi yang menarik perhatian malam itu, kedatangan Puan Maharani. Orang-orang seperti ingin "membaca" apa sikap Megawati terhadap reshuffle kabinet melalui air mukanya. Menko Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan yang juga putri kesayangan Mega itu, sempat disodori mic dan bicara 10 menitan. Saya perhatikan, sekitar dua menit setelah Puan mengakhiri sambutan, Rini pergi.
Presiden melantik kabinet baru, Rabu, 27 Juli lalu sekitar pukul 14.00 WIB. Megawati tidak hadir. Kemana? Tak banyak yang tahu, di jam bersamaan, Mega sedang menerima Ignasius Jonan. Salah satu menteri yang dicopot Presiden. Jonan ke Teuku Umar untuk pamitan dan mengucapkan terima kasih atas dukungan kepadanya selama ini.
Jonan lahir di Singapura, 21 Juni 1963, di bulan kelahiran Bung Karno. Tanggalnya, bahkan sama dengan Presiden Jokowi. Tapi, orang tidak mengenal Jonan sebagai pencinta Bung Karno. Orang juga tak pernah mendengar Jonan teriak-teriak memuji Bung Karno. Tapi, sebetulnya, Jonan memahami jalur politik dan jalan pikiran Bung Karno. Dia paham benar Nawacita, slogan yang sering digembar-gemborkan Jokowi saat kampanye pilpres.
Di kursi Menteri Perhubungan (Menhub), mantan Dirut PT Kereta Api Indonesia (KAI) itu mendahulukan pembangunan kawasan terpencil, pedalaman, hingga ujung timur Indonesia. Garis merah programnya jelas: Merangkai, Menyatukan Indonesia. Sejumlah wilayah, pulau terluar diperbaiki pelabuhan dan bandaranya. Hingga di Sorong, Wamena dan Merauke, kini ada pelabuhan dan bandara megah.
Di sisi lain, Jonan terlihat kurang sreg dengan rencana pembangunan kereta cepat. Proyek prestigious luxury, yang dianggap banyak orang tak sejalan dengan cita-cita Nawacita. Jonan tak datang saat groundbreaking KA Cepat, dan dia terima risiko, dicap melawan Presiden.
Sehari setelah reshuffle kabinet, saya bertemu Ignasius Jonan. Hari itu, dia mengenakan batik dengan tampilan formal. "Rapi benar, Pak. Masih ada acara resmi?" canda saya. Jonan cuma tersenyum. Informasi dari Hadi Djuraid, orang dekatnya, saat itu Jonan baru bertemu Yasuo Fukuda, mantan Perdana Menteri Jepang. Pertemuan itu, sebenarnya sudah lama diagendakan. Fukuda, sebagai Presiden Asosiasi Jepang-Indonesia, datang ke Indonesia bersama sejumlah pengusaha, antara lain bos Mitsubishi Corp, untuk menjajaki kerja sama bisnis. Mereka tak menyangka angin politik di Indonesia berubah begitu cepat.
"Atas nama pribadi, pemerintah dan rakyat Jepang, saya terkejut dan tak menyangka mendengar Anda di-reshuffle dari kabinet," katanya kepada Jonan, seperti diceritakan Hadi Djuraid. Selama di Indonesia, Fukuda juga menjadi tamu Jokowi. Pada 27 Juli lalu, dua jam sebelum pengumuman reshuffle kabinet, Fukuda diterima Presiden di Istana.
Bertemu siang itu, Jonan terlihat santai saja. Kami minum teh di sebuah sudut kedai kopi kawasan Thamrin, Jakarta Pusat. Humornya tak habis-habis. Kami ngakak-ngakak menanggapi celetukannya yang lucu. Dia seperti biasanya, ngomong apa adanya. Terus terang.
"Saya dipanggil Presiden, sekitar lima menit. Presiden mengucapkan terima kasih, lalu memberitahu kalau besok saya diganti," ucapnya, saat saya tanya menit-menit jelang pencopotan. Jonan pun meresponsnya dengan mengucapkan terima kasih kepada Presiden karena telah dipercaya ikut mengabdi untuk bangsa dan negara di kabinet. Saat pamitan, Presiden mengantar dia sampai ke depan pintu.
Rencana berikutnya apa? Tanya saya. Jonan merespons, "Selama 8 tahun terakhir, saya tidak pernah cuti. Dan nyaris tak memperhatikan anak-anak saya. Saya belum pernah...." Jonan tak meneruskan kalimatnya. Suaranya tercekat, lalu terdiam. Dia tertunduk. Matanya agak basah. Saya yang duduk di sampingnya, tertegun. Tak menyangka, orang sekeras dan setegas Jonan, bisa menangis saat bicara tentang anak.
Jonan tidak menangisi pencopotannya. Tapi, pertanyaan saya itu rupanya seperti alarm, ini waktunya Jonan untuk keluarga. Sudah sangat lama, dia tidak berkumpul atau liburan bersama istri dan kedua putrinya. Jonan memang dikenal workaholic. Terbiasa bekerja dan terima tamu sampai jelang pagi.
Di media sosial, penggantian Jonan dianggap mengejutkan. Apalagi, sehari sebelum reshuffle kabinet, portal online memberitakan hanya enam menteri yang dipanggil Jokowi ke Istana. Dan tak ada nama Ignasius Jonan. Jokowi ternyata menyediakan jalur pintu khusus untuk Jonan, sampai-sampai kedatangannya, tak terendus wartawan.
Mengapa Jonan dicopot? Muncul banyak sekali opini. Dari yang sederhana, sampai kontroversial. Dari insiden Gojek, kereta cepat, sampai tragedi tol Brexit. Dari dugaan transaksi politik, hingga kepentingan Pilpred 2019. Di Facebook Ignasius Jonan, foto-fotonya saat berpelukan dengan Budi Karya Sumadi, Menhub baru, mendapat lima ribuan komentar. Dan statusnya saat pamitan dikomentari 12 ribuan.
"Dia menteri yang berani berbeda, walau dengan Presiden sekalipun, karena dia memegang teguh regulasi. Bukan pada arahan kebijakan sesaat atau tekanan politik," kata Fary Djemi Francis, Ketua Komisi V DPR.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo, di depan Forum Pemimpin Redaksi, dua bulan lalu, juga menyebut Jonan salah satu menteri terbaik. Berhasil melakukan efisiensi. "Bandara yang dibangun bagus-bagus dengan biaya cukup murah," kata Agus Marto.
Juga Bambang Brodjonegoro. Diwawancarai Rakyat Merdeka saat masih di pos Menteri Keuangan, Bambang menyebut, kerja Kementerian Perhubungan di tangan Jonan bagus, dan termasuk paling agresif menaikkan PNBP atau Pendapatan Negara Bukan Pajak. Anggota kabinet lainnya yang memuji kinerja dan kejujuran Jonan adalah Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Amran menyampaikan itu saat diwawancara Rakyat Merdeka, 6 Juni lalu, bertepatan dengan hari pertama bulan Ramadan.
Soal etos kerja, tak banyak yang meragukan Jonan. Tapi, bagi sebagian orang, mungkin pribadinya bikin tak tahan. Dia unik. Gaya bicaranya ceplas-ceplos, berani, lantang dan pedas. Sikapnya lantang dan apa adanya, khas Suroboyoan. Argumennya seringkali benar. Tapi dalam politik, kadang kebenaran perlu diucapkan tanpa terang-terangan.
Kini, palu telah diketok. Keputusan politik telah dijatuhkan. Namun bagi Jonan, lepas dari kabinet bukanlah sesuatu yang merisaukan. Saya pernah mendengar dia menjawab pertanyaan, tentang mengapa dia mau jadi menteri, padahal gajinya sebagai bankir internasional tentu berkali-kali lipat lebih tinggi.
"Kerja jadi menteri pasti nombok, kan Pak?" tanya seorang wartawan. Jonan tertawa, lalu menjawab, "Bukan nombok, tapi menguras...." Lalu, apa yang anda cari dengan jabatan menteri? Jonan yang dua bulan lalu baru berulang tahun ke 53, diam agak lama. Lalu, dia mengatakan, "Misalnya Tuhan memberi kita usia 75 tahun... Maka, pada 25 tahun pertama, hidup kita lebih banyak menerima. Dan 25 tahun berikutnya, hidup haruslah berimbang, menerima dan memberi. Nah, saya sudah di 25 tahun ketiga. Maka, harus lebih banyak memberi daripada menerima."
Ya inilah akhirnya. Dalam politik, kerja keras dan kerja cerdas saja rupanya tak cukup. Jonan disisihkan dari kabinet, saat perjalanan membangun Nawacita Perhubungan, baru ditempuh sepertiganya. Memang hak prerogatif Jokowi mencopot menteri yang bicara apa adanya. Tapi jangan sampai yang dipertahankan adalah menteri-menteri yang "ada apanya".
Harian Rakyat Merdeka, Kamis, 4 Agustus 2016