Saturday, 10 September 2016

"Cuma Ngerem Doang"

Oleh AGUS HERMAWAN
Seorang anak sekolah, sepertinya masih duduk di kelas 4 atau 5 sekolah dasar, tampak mendekati sepeda motor yang terbungkus plastik rapi. Ketika plastik dibuka, tampak sebuah sepeda motor baru. Tampaknya itu hadiah ulang tahun atau kenaikan kelas bagi si anak, yang langsung terlihat berbinar ceria itu. Si ibu merekam peristiwa itu dengan gawai lalu memeluk anak kesayangannya.
Anak itu kemudian mencoba-coba menaiki motor barunya yang masih terparkir di garasi. Tak lama kemudian, masih dalam rekaman video gawai, si anak yang belum cukup umur itu mengendarai motornya ke luar dari garasi. Namun, baru saja keluar dari garasi, sebuah motor dari arah yang tak terduga menabraknya! Semua terekam dalam kamera.
Video peristiwa tragis tersebut beredar di media sosial. Kejadian ini hanya salah satu contoh betapa telah begitu banyak korban jatuh di jalanan karena kelalaian. Sudah jamak kita lihat anak-anak di bawah umur dilepas begitu saja mengendarai kendaraan bermotor.
Kisah pilu juga menyertai sebuah petisi melalu laman change.or.id [change.org], yang isinya mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum memenjarakan orangtua yang mengizinkan anak-anak di bawah umur mengendarai sepeda motor/modibl.
Petisi itu dibuat setelah seorang ibu yang memiliki anak berusia 3-4 tahun meregang nyawa sesudah ditabrak sepeda motor berkecepatan tinggi yang dikendarai anak tanggung. Kejadian yang disebutkan terjadi di kawasan Kemanggisan, Jakarta Barat, itu juga menyebabkan seorang perempuan lain dan si penabrak terluka.
jgboybmECrhSneI-800x450-noPad.jpg
Sangat mengkhawatirkan
Petisi yang diprakarsai Saleha Juliandi itu memang belum tentu dikabulkan pihak berwenang. Namun, petisi itu menggambarkan betapa masyarakat yang masih berpikiran sehat dan normal sangat khawatir dengan penggunaan sepeda motor oleh anak-anak.
Ketentuan perundangan bahwa hanya mereka yang berumur 16 tahun ke atas yang bisa mendapat surat izin mengemudi (SIM) C bukannya tanpa alasan. Remaja berumur sekian dinilai sudah cukup matang secara psikologis untuk mengendalikan kendaraan bermotor di jalan raya. Sementara bocah-bocah “ababil” (anak baru labil) itu, jangankan kematangan emosional, kakinya pun belum bisa menapak secara sempurna saat berada di sadel sepeda motor!
Padahal, berdasarkan catatan kepolisian, sepanjang tahun 2014 terjadi 95.906 kecelakaan lalu lintas dengan korban meninggal 28.897 orang. Artinya, setiap hari ada 263 kecelakaan dengan 79 korban meninggal. Data tersebut juga menunjukkan, 57 persen korbannya adalah siswa SMA (Kompas, 26 Oktober 2015).
Semakin mudahnya masyarakat memiliki sepeda motor dengan skema kredit yang murah dan gampang juga menjadi salah satu penyebab. Belum lagi di dalamnya ada kepentingan industri otomotif untuk terus meraih laba.
Berbagai kampanye atau imbauan sepertinya sudah tak mampu lagi membendung fenomena ini. Sebagian orangtua malah bangga jika melihat anaknya bisa naik sepeda motor.
Beberapa waktu lalu, Kompas melihat sepeda motor yang dikendarai seorang anak SMP terjungkal. Padahal, ia tengah memboncengkan ibunya dan seorang anak balita.
Saat didekati, tanpa rasa bersalah, si ibu berkata, “Padahal enggak ada apa-apa, Pak. Cuma ngerem doang, eh, malah terjungkal.”
Bu, motor kencang terus mengerem depan mendadak, ya, njungkel!”
Kompas, Minggu, 11 September 2016