Sunday, 18 September 2016

Jalan Panjang Teripang Tanah Air

Oleh J GALUH BIMANTARA
Teripang, barangkali banyak orang mengenal sebagai binatang laut yang juga kudapan. Namun, tahukah publik bahwa perdagangan teripan asal Indonesia terentang lebih dari 300 tahun. Tahukah pula bahwa teripang ternyata terdiri atas 54 spesies berbeda. Yang hampir pasti, kepedulian terhadap fauna yang merupakan bagian dari timun laut itu masih amat minim.
1909210teripanggg780x390.jpg
Teripang si sumber nafkah. (Kompas/Yunas Santhani Azis)
Jumlah 54 spesies dihasilkan dari riset yang dipublikasikan peneliti teripang Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O LIPI), Ana Setyastuti dan Pradina Purwati, dalam The 35th issue of Beche-de-mer Information Bulletin, Maret 2015. Jumlah itu masih mungkin bertambah dengan riset panjang.
Kenapa selama ini teripang hanya disebut satu jenis, ada pula jawabannya. “Data ekspor KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan), teripang hanya disebut sebagai salah satu jenis komoditas, tidak dipecah lagi ke dalam nama spesies,” ujar Ana, Selasa (2/8), di Jakarta.
Ana menjelaskan, ke-54 spesies teripang itu bagian dari 350-an spesies timun laut di perairan Indonesia. Adapun total spesies timun laut dunia sekitar 1.400. Semua teripang adalah timun laut, tetapi tidak semua timun laut itu teripang.
Istilah teripang dipakai untuk menyebut spesies-spesies timun laut (holothuroidea) yang dikonsumsi dan diperdagangkan. Dalam bahasa Perancis disebut beche-de-mer, atau haishen dalam bahasa Tiongkok.
Di Indonesia, timun laut serta teripang tersebar dari barat hingga timur, di daerah pesisir terutama area padang lamun. Data produksi teripang tahun 2014 menunjukkan hal itu. Di area Sumatera, produksi teripang dari laut di area Sumatera saja sebanyak 442 ton, Jawa 1.300 ton, Bali-Nusa Tenggara 521 ton, Kalimantan 599 ton, Sulawesi 937 ton, dan Maluku-Papua 1.629 ton.
Tubuh teripang lonjong dan lunak. Beberapa di antaranya memiliki kulit halus dan sebagian kasar karena ada duri atau tonjolan lunak dengan ukuran, bentuk, dan jumlah bervariasi. Mulut di bagian depan dilengkapi tentakel sebagai organ peraba dan penangkap makanan, sedangkan anus ada di belakang, dalam rongga kloaka.
Teripang tanpa organ mata, hidung, telinga, dan mata. Praktis, kemampuan inderawinya hanya untuk meraba. Teripang tergolong hewan tak bertulang belakang, seperti kerang-kerangan, siput, dan cacing.
Sigit Anggoro Putro Dwiono, peneliti senior bidang budidaya di Balai Bio Industri Laut P2O LIPI, mengatakan, tubuh teripang dapat memanjang dan memendek, membesar dan mengecil, karena mampu menahan air dalam tubuh atau mengeluarkan air hingga tubuh kempes. Terkait ukuran, Putro memberi gambaran pada teripang pasir (Holothuria scabra) mengingat ia fokus meneliti budidaya spesies itu. Teripang pasir dapat mencapai panjang 30 sentimeter dengan bobot 1,5 kilogram.
Teripang-Dewasa.png
Teripang pasir (Holothuria scabra) dewasa siap panen. (P2O LIPI)
Teripang bernapas dengan “pohon pernapasan”, yakni insang berbentuk seperti pohon dengan ranting dan daun di dalam rongga kloaka. Teripang bergerak dengan deretan tonjolan kaki tabung di sepanjang permukaan tubuh. Teripang tergolong aktif mencari makan di malam hari (nokturnal). Pakannya berupa sisa tumbuhan dan hewan yang sudah mati, mirip pakan cacing tanah di darat.
“Tidak ada ciri-ciri eksternal untuk membedakan jenis kelamin,” ujar Putro. Artinya, cara membedakan teripang jantan dan betina belum diketahui. Induk jantan dapat memijah 3-4 kali setahun, sedangkan betina 2-3 kali setahun. Teripang adalah partial spawner (pemijah sebagian), hanya mengeluarkan sperma atau telur yang benar-benar matang dan menyimpan yang belum matang untuk pemijahan berikutnya.
Sejarah perdagangan
Ana menyebut, salah satu penggemar utama teripang adalah warga Tionghoa. Ekspor teripang ke Hongkong dan Tiongkok terbanyak kedua setelah Vietnam. Sejarah perdagangan teripang Indonesia pun tak lepas dari kebutuhan Tiongkok.
Berdasarkan tulisan Ana “Sinopsis Teripang Indonesia: Dulu, Sekarang, dan yang Akan Datang” (Oseana, 2015), sejak akhir abad ke-17, teripang sangat mudah diperoleh di sepanjang pantai di Tiongkok. Namun, karena permintaan lokal terus naik, stok teripang di alam merosot karena eksploitasi. Tiongkok pun mulai mengimpor dari Jepang dan Asia Tenggara.
Perdagangan teripang di Asia Tenggara populer mulai akhir abad ke-17 hingga awal abad ke-18, sedangkan di Indonesia dimulai pertengahan abad ke-18. Makassar, Sulawesi Selatan, merupakan pusat perdagangan teripang terbesar di Asia.
Tahun 1850, ekspor teripang dari Kepulauan Kei, Maluku, ke Tiongkok diperkirakan 36 ton (600.000-1,2 juta ekor). Sementara itu, ekspor dari Makassar 490-550 ton per tahun. Jumlah itu terus meningkat, bahkan ekspor ke Tiongkok sebelum Perang Kemerdekaan RI mencapai 640 ton per tahun. Ekspor sempat mencapai puncak tertinggi dengan angka 2.928 ton setahun.
Kian langka
Data KKP, volume produksi teripang yang ditangkap di laut naik-turun selama 2000-2014, pada kisaran 3.000-7.000 ton per tahun. Selama rentang waktu itu, produksi nasional tertinggi dicapai tahun 2005, yakni 7.178 ton.
Selama 2012-2015, tren ekspor teripang meningkat. Dari 905,2 ton diekspor tahun 2012; naik menjadi 947,6 ton tahun 2013; 1.153,2 ton pada 2014; dan 1.231,6 ton pada 2015. Dua negara konsisten jadi pengimpor terbesar empat tahun itu, yakni Vietnam di urutan pertama dan Hongkong (Tiongkok) pada posisi kedua.
Namun, Ana malah khawatir dengan statistik ekspor itu. Sebab, itu berarti penangkapan teripang meningkat, sedangkan manajemen pelestarian spesies-spesies teripang belum jelas. Data KKP yang memukul rata seluruh spesies dengan sebutan teripang pun menyulitkan upaya konservasi, salah satunya guna mengetahui spesies mana yang sudah perlu perlindungan.
Pergeseran budaya cara menangkap teripang jadi bukti. Masa sebelum abad ke-20, pengumpulan teripang menggunakan tangan. Kini, pengumpulan teripang menggunakan kompresor dan alat selam scuba. Para nelayan harus mencari di perairan yang lebih dalam dan lebih jauh.
Ana menyebut, di Kepulauan Seribu, terutama Pulau Pari, seorang peneliti pernah bercerita bisa mendapatkan puluhan individu teripang. “Sekarang, menemukan satu ekor saja di sana seperti mukjizat,” ucapnya.
Keberadaan teripang memberi manfaat bagi ekosistem, salah satunya lewat aktivitas makannya. Sedimen organik yang dimakan akan dikeluarkan lagi dalam kondisi lebih gembur, memungkinkan oksigen masuk sehingga hewan-hewan kecil lain akan tinggal di situ. Ketika timun laut tidak lagi hadir, sedimen akan rapat dan padat.
Artinya, ketiadaan teripang mungkin saja mengurangi jumlah organisme kecil di area tersebut sehingga mengurangi jumlah ikan di sana karena organisme kecil sebagai pakan ikan berkurang. Skenario yang lebih buruk, konsumsi ikan manusia pun terancam.
Apakah hal itu perlu sungguh-sungguh terwujud agar kita percaya? Tentu tidak.
Kompas, Minggu, 18 September 2016