Sunday, 23 October 2016

Arsitek Itu Bernama Friedrich Silaban

Oleh CHRIS PUDJIASTUTI
Mendengar nama Friedrich Silaban, sebagian orang langsung teringat pada arsitek yang membuat Masjid Istiqlal, Jakarta. Masjid yang mulai dikerjakan Agustus 1961 itu diresmikan Presiden Soeharto pada 1978 dan menjadi salah satu ikon Kota Jakarta. Sebagai arsitek, pria kelahiran Bonandolok, Sumatera Utara, ini juga membuat banyak bangunan. Di antara bangunan hasil karyanya di Jakarta yang hingga kini masih bisa kita nikmati adalah gedung Bank Indonesia di Jalan MH Thamrin, Gedung Pola di Jalan Proklamasi, gedung Markas Besar TNI Angkatan Udara di Pancoran, dan Gedung BNI di kawasan Kota.
0223241BW-00008020-38-AHM004780x390.JPG
Arsitek Friedrich Silaban (Dudy Sudibyo/Kompas)
Silaban lahir pada 16 Desember 1912 dan meninggal di Jakarta, 14 Mei 1984, dalam usia 72 tahun. Dia menikahi Letty Kievits dan dikaruniai 10 anak. Keluarga Silaban tinggal di Bogor dan rumah pribadi yang juga hasil rancangannya itu pun menjadi salah satu kajian bagi sebagian mahasiswa arsitektur. Dia juga menjadi arsitek beberapa bangunan di Bogor, di antaranya rumah dinas Wali Kota Bogor dan bangunan Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Bogor. Tahun 1953, atas perintah Presiden Soekarno, Silaban yang bekerja sebagai Kepala Djawatan Pekerdjaan Umum (PU) Bogor menjadi arsitek pembangunan kembali makam pelukis Raden Saleh Sjarif Bustaman yang meninggal tahun 1880. Makam Raden Saleh terletak di Bondongan, Bogor.
Tentang karya Silaban lainnya, yakni Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Kompas, Minggu 7 Desember 1980 halaman 1 mencatat, kompleks olahraga di kawasan Senayan itu semula akan dibangun di daerah Dukuh Atas. Persisnya di lahan kiri-kanan Jalan Sudirman. Untuk menghubungkan kedua sisi itu, akan dibangun terowongan. Gambar, denah, dan teknisi dari Rusia sudah siap di Jakarta untuk mengerjakannya.
Sebelum proyek itu dimulai, Bung Karno meminta pendapat Silaban pada sidang penentuan. Silaban tak setuju dengan lokasinya karena akan mengganggu jalan utama yang menghubungkan kawasan Kebayoran dan daerah Kota. “Anak cucu kita nantinya pasti akan mencemooh dan menganggap para pendirinya bodoh.” Alhasil, kompleks olahraga itu dibangun di perkampungan Senayan. Saat itu tahun 1959. Indonesia akan menjadi tuan rumah Asian Games IV di Jakarta 1962.
Nomor satu: Jujur
Selulus ujian di Sibolga, tahun 1927, Silaban belajar di Kweek-school-Sekolah Teknik (KWS) Betawi. Saat baru duduk di kelas I, sang ayah, Jonas Silaban, meninggal. Berkat kepandaiannya, dia mendapat beasiswa dengan syarat harus tinggal dengan keluarga Belanda, keluarga Funck, di Petojo. Di kelas III, Silaban mulai menggambar dan membuat denah. Imbalan pertamanya 25 gulden. Tahun 1931, dia lulus KWS dan membantu arsitek Antonisse. Tahun 1937 dia bekerja di Pontianak, lalu menjadi Kepala PU di Bogor. dia menjadi arsitek yang kerap berdiskusi dengan Bung Karno, sampai disebut sebagai arsitek “kesayangan” Soekarno.
Bagi Silaban, kehebatan dan keterampilan para arsitek Indonesia untuk menciptakan gambar yang elok tidak ada masalah. Menurut dia, syarat pertama arsitek yang baik adalah jujur dan berintegritas. “Kalau hanya supaya dapat tugas, ikut-ikut kemauan bouwheer (pemberi pekerjaan, pemilik tanah), banyak kejadian seperti akhir-akhir ini. Perencana seolah-olah dipaksa oleh keinginan bouwheer,” katanya seperti dikutip Kompas, Kamis, 16 Januari 1975, halaman 6.
Kompas, Minggu, 23 Oktober 2016
Kisah Friedrich Silaban, Anak Pendeta yang Rancang Masjid Istiqlal
Oleh FABIAN JANUARIUS KUWADO
Hidup Friedrich Silaban terbilang cemerlang dan gemilang. Lahir di Bonandolok, Sumatera Utara, 16 Desember 1912, dia hanya bersekolah di HIS Narumonda, Tapanuli, Sumatera Utara, dan Koningin Wilhelmina School, sebuah sekolah teknik di Jakarta.
Namun, penganut Kristen Protestan dan anak seorang pendeta miskin itu telah melahirkan berbagai bangunan modern pada masanya hingga kini menjadi bangunan bersejarah. Salah satunya ialah kemegahan sekaligus simbol kerukunan antarumat beragama di Indonesia, Masjid Istiqlal, Jakarta, yang resmi digunakan tepat 38 tahun lalu.
Pada tahun 1955, Presiden pertama Indonesia Ir Soekarno mengadakan sayembara membuat desain maket Masjid Istiqlal. Sebanyak 22 dari 30 arsitek lolos persyaratan.
Bung Karno sebagai Ketua Dewan Juri mengumumkan nama Friedrich Silaban dengan karya berjudul "Ketuhanan" sebagai pemegang sayembara arsitek masjid itu. Bung Karno menjuluki F Silaban sebagai "By the grace of God" karena memenangi sayembara itu.
0351111BW-19710602-15-AJN0091780x390.JPG
Gereja Katedral dengan latar kubah Masjid Istiqlal yang belum selesai dibangun. (Pat Hendranto/Kompas)
Pada 1961, penanaman tiang pancang baru dilakukan. Pembangunan baru selesai 17 tahun kemudian dan resmi digunakan sejak tanggal 22 Februari 1978.
Dikutip dari surat kabar Kompas edisi 21 Februari 1978, enam tahun setelah Masjid Istiqlal selesai dibangun, F Silaban mengatakan, "Arsitektur Istiqlal itu asli, tidak meniru dari mana-mana, tetapi juga tidak tahu dari mana datangnya."
"Patokan saya dalam merancang hanyalah kaidah-kaidah arsitektur yang sesuai dengan iklim Indonesia dan berdasarkan apa yang dikehendaki orang Islam terhadap sebuah masjid," lanjut dia.
Kesederhanaan ide Silaban rupanya berbuah kemegahan. Jadilah masjid yang berdampingan dengan Gereja Katedral itu tampak seperti masa saat ini.
Masjid Istiqlal berdiri di atas lahan seluas 9,5 hektar, diapit dua kanal Kali Ciliwung, kubahnya bergaris tengah 45 meter, dan ditopang 12 pilar raksasa serta 5.138 tiang pancang. Dindingnya berlapis batu marmer putih. Air mancur besar melambangkan "tauhid" dibangun di barat daya. Dilengkapi menara setinggi 6.666 sentimeter, sesuai dengan jumlah ayat Al Quran, masjid itu mampu menampung 20.000 umat.
Udara di dalam masjid begitu sejuk walau tanpa dilengkapi pendingin ruangan. Sebab, Silaban membuat dinding sesedikit mungkin supaya angin leluasa masuk. Silaban ingin umat yang sembahyang di masjid itu seintim mungkin dengan Tuhan.
Haji Nadi, haji asli Betawi yang sembahyang di masjid itu, dalam surat kabar Kompas edisi yang sama mengatakan, "Berada di masjid ini saya merasa betapa besarnya umat Islam."
Dari Gambir ke penjuru dunia
Dikutip dari buku Rumah Silaban; Saya adalah Arsitek, tapi Bukan Arsitek Biasa, Silaban mulai tertarik dengan dunia arsitektur sejak sekolah di Jakarta.
Sayang, "Perderik", demikian dia dipanggil sang ayah, tak dapat melanjutkan pendidikan ke tingkat universitas karena persoalan biaya.
0451343F-SILABAN2-05780x390.JPG
Arsitek Friedrich Silaban (kiri) bersama Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik Ir Sutami, sedang mengamati bangunan Masjid Istiqlal. (Sindunata/Kompas)
Karier Silaban di dunia arsitek diawali saat bersekolah di Jakarta. Dia sangat tertarik pada desain bangunan Pasar Gambir di Koningsplein, Batavia, 1929, buatan arsitek Belanda, JH Antonisse. Setelah lulus sekolah, Silaban mengunjungi kantor Antonisse. Dia pun dipekerjakan sebagai pegawai di Departemen Umum, di bawah pemerintahan kolonial.
Kariernya terus meningkat hingga akhirnya ia menjabat sebagai Direktur Pekerjaan Umum tahun 1947 hingga 1965. Jabatannya itu membawa Silaban ke penjuru dunia. Tahun 1949 hingga 1950, Silaban ke Belanda mengikuti kuliah tahun terakhir di Academie voor Bouwkunst atau akademi seni dan bangunan. Pada saat inilah, Silaban mendalami arsitektur Negeri Kincir Angin itu dengan melihat dan "menyentuhnya" secara langsung.
Tidak hanya Belanda, setidaknya 30 kota besar di penjuru dunia telah dikunjungi Silaban. Tujuannya satu, mempelajari arsitektur di negara-negara tersebut. Perjalanannya ke penjuru dunia, terutama setelah kunjungannya ke India, menyiratkan satu hal bahwa jiwa sebuah bangsalah yang mendefinisikan arsitektur bangsa tersebut. Perjalanan Silaban itu memengaruhi keinginannya dalam "manifestasi identitas asli Indonesia; negara yang bebas dan progresif" melalui karya-karyanya di Tanah Air.
Tutup usia
Sang arsitek tutup usia pada hari Senin, 14 Mei 1984, di RSPAD Gatot Subrotot karena mengalami komplikasi.
Selain Istiqlal, peninggalan Silaban hadir di sekitar 700 bangunan penjuru Tanah Air, di antaranya Stadion Gelora Bung Karno (Jakarta/1962), Monumen Pembebasan Irian Barat (Jakarta/1963), Monumen Nasional atau Tugu Monas (Jakarta/1960), Gerbang Taman Makam Pahlawan Kalibata (Jakarta/1953), hingga Tugu Khatulistiwa (Pontianak/1938).
"Dia pergi setelah mengukir sejarah, suatu sejarah yang lebih tinggi darikarya sebuah hasil seni atau teknologi, tetapi adalah sejarah kemanusiaan, kebersamaan, toleransi. Namanya akan dikenang sepanjang zaman," demikian paragraf penutup di situs bertajuk "Silaban Brotherhood".