Sunday, 23 October 2016

Firdaus yang Hilang

Oleh TRIAS KUNCAHYONO
Kamis, 24 Juli 2014, Makam Nabi Yunus di puncak Tell Nebi Yunus, Bukit Nabi Yunus, di kota kuno Ninive (Nineveh), dihancurkan. Orang-orang dari kelompok bersenjata yang menyebut dirinya Negara Islam di Irak dan Suriah pelakunya.
Makam, ada di dalam Masjid Yunus, yang begitu megah dan selama ini menjadi tempat perziarahan tiga umat Abrahamik, tinggal puing-puing. Hanya membutuhkan waktu satu jam, dengan menggunakan bahan peledak, untuk menghancurkan makam tersebut. Hilang sudah jejak sejarah yang berumur ribuan tahun itu. Hilang pula keindahan itu.
Sejarawan Gwendolyn Leick menulis, “Nineveh, dengan penduduknya yang beragam, berasal dari seluruh wilayah Kerajaan Assyria, adalah salah satu kota yang sangat indah di Timur Dekat, dengan taman-taman, kuil-kuil, dan istana yang cantik.”
Nineveh, yang berada di sebelah timur Sungai Tigris, kini menjadi bagian dari kota metropolitan Mosul, ibu kota Provinsi Ninawa atau Nineveh. Mosul, yang juga disebut Al-Fayha’ (firdaus) atau Al-Khadhra’ (hijau), menjadi kota penting di Irak bagian utara. Mosul menjadi simpul segitiga Sunni di Irak utara. Karena memang mayoritas penduduknya adalah Sunni, lalu Syiah, dan kelompok kecil lain.
Keindahan Mosul digambarkan secara apik oleh Muhammad Ibn Ahmad Shams al-Din Al-Muqaddasi. Ahli geografi asal Palestina (Jerusalem) yang lebih populer disebut Al-Muqaddasi atau Al-Maqdisi (945-1000) itu menulis demikian:
“Mosul adalah metropolis di wilayah ini. Kota yang nyaman, bangunannya indah; iklim menyenangkan, air bersih, sehat. Sangat masyhur, dan sangat unik, memiliki pasar-pasar yang baik sekali dan rumah-rumah penginapan ditempati orang-orang terkemuka, dan orang-orang terpelajar, para doktor hukum. Dari Mosul dikirimkan bahan-bahan makanan ke Baghdad, karavan lalu lalang. Ada taman-taman yang indah, buah-buahan yang enak-enak, tempat mandi yang baik, rumah-rumah yang bagus sekali, dan daging yang baik dan enak. Kota ini sedang berkembang….”
Ibn-Hawqal-Abu-al-Mohammad Qasim yang dikenal sebagai Ibn Hawqal, seorang ahli geografi dan sejarah dari Nasibin (Nisibis, Mesopotamia atas) yang hidup pada abad ke-10, pernah juga mengunjungi Mosul (968-969). Ia melukiskan Mosul sebagai kota yang indah dengan lingkungan yang subur.
Kota yang indah itu juga menjadi tempat tinggal pada cerdik cendekia. Misalnya, filsuf Bakr bin Kasim Abi Thawr al-Mawsili atau biasa disebut Al-Mawsili. Ia hidup pada paruh pertama abad ke-10 dan dikenal dengan bukunya yang berjudul Fi’ al-Nafs (Tentang Jiwa); Ali Ibn al-Imrani (meninggal tahun 955), seorang astronom yang juga ahli matematika dan geometri. Di barat, ia dikenal dengan nama Alcabitius. Ia menulis, antara lain, buku tentang ukuran dan jarak planet-planet; Ammar Ibn’ Ali, dokter ahli mata, yang di Barat dikenal dengan nama Canamusali; lalu Muhammad Ibn ‘Abd Baqi al-Mawsili, seorang ahli matematika.
Sebagai kota yang menjadi simpul perlintasan Jalur Sutra dari timur ke barat dan dari utara ke selatan (Baghdad), Mosul adalah kota yang terbuka. Sebelum direbut NIIS pada 2014, kota terbesar kedua di Irak ini berpenduduk sekitar dua juta. Penduduk Mosul beragambaik etnik, agama, ras, maupun kelompok sukudengan perbandingan hampir 75 persen Arab Sunni, 25 persen Kurdi, dan sisanya campuran Syiah, Turkoman, Yezidi, dan Kristen.
Pada zaman Saddam Hussein, sebelum pecah perang (2003), Mosul menjadi markas besar Partai Ba’ath, partai penguasa. Sejak zaman Ottoman (Utsmaniyah), Mosul menjadi gudang tentara. Bahkan, saat Saddam Hussein berkuasa, sebagian besar tentaranya berasal dari kota kota ini. Tercatat 300.000 penduduk Mosul menjadi tentara, intelijen, dan aparat keamanan lainnya. Karena itu, Mosul mendapat sebutan sebagai “kota sejuta perwira.” Setelah Saddam Hussein jatuh, para perwira dan tentara asal Mosul ini membentuk kelompok perlawanan Sunni di Nineveh.
Perimbangan etnik dan sejarah sebagai pusat militer dan Partai Ba’ath membantu untuk menjelaskan betapa pentingnya kota itu dan mengapa ketika itudan saat inimenjadi pusat pertarungan. Pertama, Mosul adalah bagian kompetisi Arab-Kurdi di wilayah Irak utara. Kedua, kehadiran Partai Ba’ath (kala itu) dan militer sebelum perang menjelaskan bahwa Mosul menjadi sumber perekrutan serta tempat aman bagi pemberontakan.
Namun, karena terletak dekat dengan Suriah (sekitar 160 kilometer dari perbatasan Suriah-Irak), Mosul sangat terpengaruh oleh situasi yang tidak menentu di Suriah. Sejak awal tahun 2000-an, Mosul disebut-sebut sebagai kota paling berbahaya di Irak. Kota ini, dan wilayah Provinsi Nineveh, menjadi sarang kelompok bersenjata, baik yang melawan Baghdad maupun yang terlibat dalam perang di Suriah.
Namun, kegelapan menyelimuti Mosul setelah kota itu serta wilayah sekitarnya direbut dan dikuasai NIIS pada Juli 2014. Kehancuran makam Nabi Yunus, gedung-gedung lainnya, termasuk souk, pasar, telah menjadi tanda kehancuran tidak hanya fisik, tetapi juga sosial dan kultural Mosul. Dinamika sosial unik antarwarganya yang memiliki latar belakang berbeda, beragam pun berakhir setelah NIIS menguasai kota itu dan menggantikannya dengan kuasa kegelapan yang tidak menghargai kehidupan dan kemanusiaan; yang mengingkari keragaman; dan yang memaksakan kehendak dengan kekerasan; mengembangkan fanatisme dengan bersembunyi di balik pembenaran simbolis, ideologis, atau teologis. Fanatisme adalah penolakan terhadap yang berbeda dan menjadi ladang subur bagi pelaku kekerasan yang merasa tak bersalah.
Seluruh sejarah manusia sarat dengan perjuangan sengit melawan kekuatan kegelapan. Pergulatan itu mulai sejak awal mula. Dan, akhirnya Al-Fayha’, firdaus telah hilang….
jonah shrine.jpg
The-shrine-before-the-bombing.jpg
Masjid Yunus di puncak Tell Nebi Yunus, Bukit Nabi Yunus, di kota kuno Ninive (Nineveh). Di dalam masjid tersebut terdapat makam Nabi Yunus.
jonah tomb ruin.jpg
jonah tomb.jpg
Reruntuhan Masjid Yunus akibat penghancuran yang dilakukan NIIS pada 24 Juli 2014.
Kompas, Minggu, 23 Oktober 2016