Saturday, 27 January 2018

Mitigasi Antisipasi Gempa Besar

Meski kejadian gempa belum bisa diprediksi, potensi gempa besar di selatan Jawa harus diantisipasi. Bangunan dan infrastruktur harus diperkuat, dan pembangunan ke depan harus berdasarkan risiko gempa.
JAKARTA, KOMPAS — Gempa susulan terus terjadi di Samudra Hindia sebelah barat daya Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Sekalipun frekuensi dan intensitas gempa menurun, aktivitas tektonik di selatan Jawa ini harus menjadi pelajaran untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Apalagi, gempa berkekuatan M 6,1 pada Selasa (23/1) telah merusak sekitar 2.700 bangunan.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hingga Jumat (26/1) malam, tercatat 55 kali gempa susulan. ”Pada Jumat terekam dua gempa cukup kuat, yaitu M 5,1 pada pukul 11.48 dan M 5 pada pukul 17.12,” kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Mochammad Riyadi.
Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono menambahkan, kecil kemungkinan terjadi gempa lebih besar lagi di zona kegempaan yang sama di Lebak. ”Gempa bumi hari ini (Jumat) diklasifikasikan sebagai aftershock (gempa susulan) dari gempa utama berkekuatan M 6,1 pada Selasa lalu,” katanya.
Peneliti gempa bumi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Rahma Hanifa mengatakan, gempa di Lebak perlu dilihat kaitannya dengan rangkaian gempa di selatan Jawa sejak gempa berkekuatan M 7,8 di Pangandaran yang disusul tsunami pada tahun 2006.
”Setelah gempa Pangandaran, terjadi dua gempa di Tasikmalaya, yaitu tahun 2009 dan 2017. Sekarang terjadi di selatan Lebak. Kami duga gempa ini masih dalam satu rangkaian yang belum diketahui ujungnya,” katanya.
Di luar kelaziman
Kajian Endra Gunawan bersama Rahma dan tim dari ITB menemukan tren peningkatan aktivitas kegempaan di selatan Jawa setelah gempa Pangandaran 2006.
”Setiap ada gempa besar memang akan ada gempa susulan untuk menyeimbangkan menuju ke titik stabil. Namun, riset kami, rentetan gempa di kawasan ini berbeda dengan lazimnya. Biasanya gempa di zona megathrust dengan kekuatan M 7,8 perlu sekitar 5 tahun untuk menyeimbangkan diri. Namun, Pangandaran ternyata jauh lebih lama,” katanya.
Rahma mengatakan, sejauh ini kapan terjadinya gempa lebih besar belum bisa diprediksi. Meski demikian, dia menyarankan perlunya meningkatkan kesiapsiagaan untuk mengantisipasi kondisi terburuk. Apalagi, dari kejadian gempa Lebak Selasa lalu yang kekuatannya tergolong menengah, dampaknya cukup besar. ”Ini menandai masih lemahnya tingkat kesiapan kita,” katanya.
Menurut Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, gempa Lebak pada Selasa lalu berdampak terhadap 73 kecamatan di 9 kabupaten/kota di Jawa Barat, Banten, dan Jakarta. Satu orang meninggal akibat gempa dan 11 orang terluka.
Sebanyak 2.760 rumah rusak, meliputi 291 rumah rusak berat, 575 rumah rusak sedang, dan 1.894 rumah rusak ringan. Dari jumlah itu, terbanyak di Kabupaten Lebak dan Sukabumi.
Akibatnya, sejumlah warga mengungsi. Setelah gempa susulan kemarin, jumlah pengungsi yang semula 200 keluarga bertambah menjadi 300 keluarga. Mereka mengungsi di tenda dan posko yang didirikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi.
Gempa susulan Jumat membuat warga cemas. ”Warga yang rumahnya retak-retak akibat gempa pada Selasa lalu memilih mengungsi,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sukabumi Maman Suherman.
Di Lebak dan Pandeglang, Banten, warga lebih tenang menghadapi gempa susulan kemarin. Endan Hudri (52), warga Kecamatan Bayah, Lebak, mengatakan, saat gempa kemarin, warga tidak panik lagi.
Hal yang sama dikatakan Momo (68), warga Kecamatan Saketi, Pandeglang. ”Sudah lebih terbiasa. Kalau gempa sebelumnya, saya panik,” katanya.
Selain rumah, kata Sutopo, gempa pada Selasa lalu juga merusak paling tidak 85 bangunan publik, mulai dari fasilitas peribadatan, kesehatan, pendidikan, kantor/gedung pemerintahan, hingga fasilitas umum.
Potensi energi besar
Riyadi mengatakan, belajar dari gempa Lebak kali ini, kewaspadaan terhadap potensi gempa besar di selatan Jawa perlu ditingkatkan. Riyadi mengatakan, zona gempa di selatan Jawa cenderung aktif dan menyimpan potensi energi besar. Sesuai Peta Sumber dan Bahaya Gempa Bumi Nasional tahun 2017, potensi gempa dari zona megathrust atau patahan raksasa di selatan Jawa bisa mencapai kekuatan M 8,7.
”Pelajaran pentingnya dari gempa Lebak saat ini, masyarakat Jakarta jadi merasakan bahwa daerah mereka bisa terdampak,” kata Riyadi.
Selain dari zona megathrust di selatan Jawa, potensi ancaman untuk Jakarta bisa berasal dari Selat Sunda. Pada 1903 di segmen ini terjadi gempa berkekuatan M 8,1.
Kerentanan Jakarta terhadap gempa sangat tinggi. Selain banyaknya gedung bertingkat, kedalaman batuan keras di Jakarta sangat dalam. Akibatnya, jika ada gempa, hal itu bisa memperkuat dampak guncangannya. ”Dampaknya kemungkinan bisa lebih merusak jika memang ada sumber sesar darat di dekat Jakarta,” katanya.
Dalam diskusi di BMKG, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mengingatkan pentingnya menghitung risiko bencana sejak awal pembangunan infrastruktur. ”Kami sudah punya peta baru sumber gempa bumi. Walaupun meningkatkan biaya pembangunan, peta ini harus menjadi dasar pembangunan semua infrastruktur,” katanya.
(AIK/BAY/BKY)
Kompas, Sabtu, 27 Januari 2018