Friday, 10 August 2018

Pengujian Disolusi untuk Produk Obat dengan Bahan Aktif Mudah Larut

Pada 9 Agustus 2018, akhirnya FDA merilis dokumen final pedoman untuk industri tentang uji disolusi dan kriteria penerimaan untuk bentuk sediaan oral padat yang mengandung bahan aktif mudah larut. Bentuk sediaan oral padat ini mencakup kapsul dan tablet, yang digunakan secara ditelan. Bentuk sediaan tablet yang terdisintegrasi di mulut (ODT) dan sublingual tidak ikut diatur dalam pedoman tersebut, kecuali, untuk sediaan UDT, penyerapan bukan terjadi di rongga mulut.
Batasan yang lain, pedoman tidak diterapkan untuk produk obat indeks jendela sempit atau produk obat yang diperlukan memberikan efek cepat (misalnya, penghilang rasa sakit cepat, obat-obat penyelamatan).
Metode pengujian baku yang direkomendasikan bisa dipilih salah satu antara metode keranjang (Alat 1 USP) dengan kecepatan pengadukan 100 RPM atau metode dayung (Alat 2 USP) dengan kecepatan pengadukan 50 RPM. Kecepatan pengadukan dayung dapat ditingkatkan dengan justifikasi, misalnya untuk meminimalkan efek gundukan (coning) di bawah dayung selama pengujian. 
Media yang digunakan adalah larutan HCl 0,1N, 500 mL, tanpa perlu penambahan bahan aktif permukaan, yang dijaga suhunya tetap pada 37±0,5°C. Penggunaan volume dan jenis larutan yang berbeda memerlukan justifikasi yang memadai.
Kriteria penerimaan yang digunakan adalah Q=80% dalam 30 menit. Tidak ada perbedaan spesifikasi untuk golongan BCS Kelas 1 dan 3, seperti yang diajukan dalam rancangan pedoman ini pada tahun 2015. 
Disintegrasi vs disolusi
Ada bagian yang dihilangkan dari rancangan pedoman, yakni tidak adanya hal penggantian disolusi dengan disintegrasi. Rancangan tahun 2015 menyebutkan bahwa uji disintegrasi dapat digunakan sebagai pengganti uji disolusi jika produk memenuhi spesifikasi disolusi Q=80% dalam waktu 15 menit. Kriteria uji disintegrasi yang dapat digunakan dalam kasus itu adalah produk hancur sepenuhnya dalam waktu 15 menit, menggunakan alat disintegrasi USP dengan media HCl 0,01 N. 
Pedoman yang lebih awal juga menyebutkan penggunaan disintegrasi sebagai pengganti disolusi. Pedoman ICH Q6A "Specifications: Test Procedures and Acceptance Criteria for New Drug Substances and New Drug Products: Chemical Substances", misalnya, dalam pohon keputusan #7 menunjukkan uji disintegrasi dapat diterapkan untuk produk obat dengan bahan aktif mudah larut air yang terdisolusi > 80% dalam waktu 15 menit pada media pH 1,2, 4,0, dan 6,8, serta menunjukkan adanya korelasi antara disintegrasi dan disolusi.
Syarat adanya bukti korelasi antara kedua pengujian tersebut juga tercantum dalam USP 41 <2> Oral Drug Products–Product Quality Tests, sebagai dasar jika akan menggunakan uji disintegrasi untuk menggantikan uji disolusi.
Penggantian disolusi dengan disintegrasi ini tidak pernah disinggung dalam dokumen EMA "Reflection paper on the dissolution specification for generic solid oral immediate release products with systemic action", baik dalam dokumen rancangan (EMA/332805/2016) maupun dokumen final (EMA/CHMP/CVMP/QWP/336031/2017). 
Dengan dua dokumen dari FDA dan EMA ini berarti penggantian uji disolusi dengan uji disintegrasi menjadi tidak memungkinkan lagi?