Sunday, 20 July 2014

Cerita dari "Sono": Lincoln dan Stanton

Oleh TRIAS KUNCAHYONO
Seorang kawan pernah bercerita tentang permusuhan serta persahabatan antara Abraham Lincoln (1809-1865), presiden ke-16 AS (Maret 1861-April 1865), dan Edwin McMasters Stanton (1814-1869), seorang pengacara sekaligus politisi. Lincoln, di mata Stanton, tidak ada yang baik.
Ketika Lincoln menjadi kandidat presiden AS pada 1860, Stanton sangat gencar mengkritiknya. Kritiknya begitu tajam, bahkan cenderung kelewat batas. Segala pendapat, wawasan, sikap, tindak tanduk, bahkan penampilan fisik Lincoln, tak luput dari serangan dan kritik Stanton. Orang-orang pintar menyebutnya sebagai destructive campaign, kampanye yang menghancurkan dengan segala cara.
Dari sisi wajah, Lincoln bisa dikatakan tidak tampan. Wajahnya tirus dengan tulang pipi menonjol, hidung begitu mancung dan besar, serta telinga besar. Semua itu menjadi bahan ledekan Stanton. Namun, ternyata orang yang tak tampan itu tercatat sebagai presiden besar dan hebat dalam sejarah AS. Lincoln-lah yang membuat rumusan bahwa demokrasi itu adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
Stanton tidak menduga bahwa orang yang di matanya tidak bermutu itu ternyata begitu hebat. Ketika pada 1860 Staton diangkat menjadi jaksa agung oleh Presiden James Buchanan dari Demokrat (sebenarnya saat itu Buchanan adalah presiden bebek-pincang atau lame duck karena presiden baru sudah terpilih, yakni Lincoln, dan hanya menunggu pelantikannya), ketidaksukaannya terhadap Lincoln menjadi-jadi.
Setelah Lincoln dilantik sebagai presiden, dalam suratnya kepada Buchanan, pada 1861, Stanton menulis, “Kesintingan pemerintah ini memuncak dalam malapetaka dan kemalangan serta aib nasional tak dapat ditebus kembali… sebagai hasil dari pemerintahan Lincoln dalam lima bulan ini.”
Meski demikian, Lincoln tak lama kemudian mengangkat Stanton sebagai penasihat hukum dan kemudian menjadi Menteri Pertahanan pada saat yang sangat penting. Sebab, saat itu, AS dilanda perang saudara. Meski sudah masuk menjadi anggota kabinet, Stanton tetap mengkritik Lincoln.
Suatu hari, Stanton mengatakan kepada seorang anggota Kongres bahwa Lincoln itu “benar-benar bodoh”. Ketika anggota Kongres itu bercerita kepada Lincoln, Lincoln bertanya, “Apa benar Stanton mengatakan saya bodoh?” Jawab anggota Kongres itu, “Ya, Bapak Presiden, bahkan dia tidak hanya sekali mengatakan hal itu.” Dengan enteng Lincoln mengatakan, “Kalau Stanton mengatakan saya benar-benar bodoh, memang demikianlah adanya, karena ia hampir selalu benar, dan biasanya ia mengatakan apa yang ada dalam hatinya.”
Meski dibilang sangat bodoh, Lincoln tetap bisa bekerja baik dengan Stanton yang memang dikenal sebagai pekerja keras. Bahkan, setelah kematian Lincoln karena dibunuh, Stanton menjadi orang paling berkuasa di AS karena kehebatannya. Padahal, dia bukanlah seorang presiden.
Lincoln telah mengubah musuh menjadi sahabat karibnya dan pekerja yang hebat. Padahal, sebelumnya, orang-orang di sekitar Lincoln – yang biasanya omongannya sangat beracun – mengatakan,  Stanton bisa menusuk dari belakang. Namun, Lincoln mengatakan, demi kepentingan negara, Stanton-lah orang yang paling dipercaya dan tepat bekerja dengannya.
Kompas, Minggu, 20 Juli 2014