Tuesday, 21 October 2014

Cerita Perubahan dari Cikeas Udik

Oleh WISNU NUGROHO
Kita tengah berdusta jika menampik hadirnya perubahan selama dua periode pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2014). Angka-angka statistik dan fakta yang kasatmata serta bisa diraba dengan mudah akan membungkam upaya kita berdusta. Karenanya, spanduk ucapan terima kasih kepada SBY menjelang akhir masa tugasnya ada dasarnya juga. Spanduk itu terlihat bersaing dengan centang-perenangnya iklan luar ruang di ruas jalan menuju kediaman SBY di Puri Cikeas Indah, Gunung Putri, Bogor.
Terkait perubahan dalam fakta kasatmata dan mudah diraba, cerita dari Cikeas Udik ini perlu dikemukakan. Cikeas Udik ini adalah kawasan berjarak sekitar 5 kilometer dari kediaman SBY. Di Cikeas Udik, tepatnya di Desa Bojong Nangka, SBY bertemu Pak Mayar saat kampanye pilpres, Agustus 2004. Mendapat tekanan dari Koalisi Kebangsaan (gabungan partai besar) yang mengusung Megawati Soekarnoputri sebagai capres, SBY mendeklarasikan Koalisi Kerakyatan di rumah Pak Mayar. Di pilpres langsung pertama itu, citra SBY yang dekat dengan rakyat lebih memikat dibandingkan citra Megawati yang lekat dengan elite politik.
Tidak hanya deklarasi Koalisi Kerakyatan yang tercatat di rumah Pak Mayar. Kepada ratusan warga yang umumnya buruh lepasan dan buruh tani seperti Pak Mayar, SBY menyampaikan tiga janji perubahan. Tiga janji itu adalah mengaspal jalan, membangun SMA negeri, dan membangun irigasi.
Belum satu periode SBY berakhir, jalan di Cikeas Udik halus beraspal. SMA Negeri 1 Gunung Putri didirikan di sebagian tanah lapang yang biasa dilalui Pak Mayar pergi ke ladang. Hanya irigasi tidak bisa diwujudkan sampai 10 tahun pemerintahan SBY berakhir.
Namun, tidak mewujudnya janji irigasi untuk buruh tani seperti Pak Mayar dan warga Cikeas Udik bukan tanpa alasan. Halusnya aspal jalan memunculkan banyak pembangunan perumahan. Hadirnya SMA Negeri 1 Gunung Putri menjadi daya tarik tambahan bagi penjual perumahan. Membiarkan lahan ditanami padi, serai, dan lengkuas tidak lagi menjanjikan pemilik lahan. Dengan perubahan ini, janji pembangunan irigasi menjadi tidak relevan.
Mendatangi lagi Cikeas Udik, alasan tidak mewujudkan pembangunan irigasi, seperti dijanjikan kepada Pak Mayar, mendapat pembenaran. Rumah tempat SBY bertemu Pak Mayar sudah dirobohkan. Ladang berkontur seperti bukit di sekitar rumah Pak Mayar itu sudah diratakan. Rabu (15/10) lalu, dua truk hilir mudik membawa tanah merah yang dikeruk backhoe di gundukan tanah. Di kejauhan, alat berat lain meratakan lahan. Belasan buruh bangunan membuat tembok setinggi 2 meter. Lahan yang sebelumnya hijau memerah karena urukan tanah. Perumahan sedang disiapkan. Di gerbang masuk telah dipasang spanduk penjualan dengan cicilan jutaan rupiah per bulan.
"Jalan aspal menghadirkan para pendatang di perumahan-perumahan," ujar Afit (30), pendatang dari Jawa Tengah yang sejak 2005 tinggal di Cikeas Udik.
Tidak lagi relevan
Perumahan tidak hadir sendiri di Cikeas Udik. Di sekitarnya berdiri sejumlah gugusan rumah toko dan minimarket yang berhadap-hadapan. Lahan yang semula dipakai warga Cikeas Udik seperti Pak Mayar untuk menanam padi, serai, dan lengkuas makin berkurang. Sekali lagi, janji membangun irigasi menjadi tidak relevan.
Untuk janji membangun irigasi ini, Pak Mayar memang tidak lagi bisa berharap, apalagi menuntuk. Pada 28 Desember 2008, Pak Mayar meninggal di usia 89 tahun. Sebelum meninggal, Pak Mayar melihat jalan halus beraspal dan SMA negeri sudah didirikan. Namun, perubahan itu justru menjadi seperti petaka buatnya dan keluarga. Selain lahan garapan berkurang, tak satu pun cucu Pak Mayar bisa sekolah di SMA Negeri 1 Gunung Putri karena biaya yang mahal.
"Untuk penghuni perumahan kena Rp 6 juta, sementara warga kampung Rp 5 juta. Meski lebih murah, masih tidak terjangkau," ujar Nesi (48), putri Pak Mayar, yang tengah menunggu puterinya pulang menjadi buruh.
Seperti putrinya, lima cucu Pak Mayar yang lain juga menjadi buruh. Dengan hanya lulus SMP tanpa punya lahan garapan untuk bercocok tanam, menjadi buruh adalah pilihan terbaik meski tidak memberi banyak jaminan. Tiap tahun, kontrak buruh dievaluasi. Kerap tanpa alasan jelas, kontrak disudahi.
Menghadapi situasi mengimpit ini, Nesi seperti juga Pak Mayar, tidak banyak mengeluh apalagi menuntut. Kepada SBY yang mendatangi dan memberi tiga janji, mereka terus memberi dukungan nyata setiap diminta.
Dalam Pilpres 2014, rakyat jadi bahan jualan lagi. Ada Ibu Eli (tukang cuci dari Sulawesi Utara), Pak Abdulah (nelayan dari Sumatera Utara), Ibu Satinah (buruh tani di Jawa Tengah), dan Pak Asep (guru dari Jawa Barat). Lima tahun lagi, perubahan akan diceritakan. Namun, siapa yang menikmati? Rakyat? Kita tunggu nanti.
Kompas, Sabtu, 18 Oktober 2014