Tuesday, 30 December 2014

Globalisasi Tsunami

Oleh AHMAD ARIF
Jumat, 2 Desember 1611. Dua jam setelah gempa mengguncang Sanriku, pantai timur Jepang, laut tiba-tiba menyerbu daratan. Gempa itu tak menyebabkan kerusakan berarti, tetapi ombak tinggi telah mencipta kehancuran dahsyat dan menewaskan ribuan warga di pesisir Sendai.
20140403_090254_tsunami-jepang.jpg
Bencana ini dikisahkan dalam “Sumpuki”, catatan resmi pemerintah, Januari 1612. Kisahnya dimulai dari tiadanya upeti yang biasanya rutin dikirim Daimyo Sendai, Date Masamune (1566-1636), kepada Shogun Tokugawa Ieyasu (1542-1616). Dari kawasan utara Honshu, Masamune biasanya mengirim hatsu tara, ikan kod terbaik di awal musim.
Namun, Januari 1612 tak ada upeti yang dipersembahkan. Masamune hanya mengirim utusan yang mengabarkan bencana yang melanda Sendai di akhir tahun itu. Sebanyak 5.000 orang tewas di wilayah kekuasaan Masamune. Sementara di Nambu-clan, wilayah Morioka dan Tsugaru, dilaporkan 3.000 orang tewas dan hilang.
Sang utusan menyebut bencana itu sebagai tsunami (yon i tsunami to yu’u). Tsu dimaknai sbagai ‘pelabuhan’ dan nami bermakna ‘gelombang’.
Mengglobal
Meski di Jepang istilah tsunami sudah dipakai pada 1600-an, pengenalan istilah tsunami secara global baru terjadi sekitar 250 tahun kemudian. Lagi-lagi, tsunami Sanriku menjadi tonggak sejarahnya. Dua penulis Barat, yang melaporkan bencana di Sanriku, Jepang, 15 Juni 1896, mengutip istilah lokal tsunami untuk menggambarkan naiknya gelombang laut ke daratan yang terjadi tak lama setelah gempa.
Penulis pertama adalah Eliza Ruhamah Scidmore yang melaporkan peristiwa itu bagi National Geographic Magazine edisi September 1896, “Pada sore, 15 Juni 1896, pantai timur laut Hondo, pulau utama di Jepang, dilanda gelombang raksasa yang dipicu gempa (tsunami)…” Scidmore menulis, tsunami menewaskan 26.975 orang dan menyebabkan korban luka 5.390 orang.
Tragedi ini juga dilaporkan pewarta Lafcadio Hearn untuk the Atlantic Monthly edisi Desember tahun yang sama. “Gelombang laut yang mengerikan naik tiba-tiba dan ini oleh orang-orang Jepang disebut sebagai tsunami...,” tulis Hearn.
Bahasa Inggris tak punya kata yang sepadan dengan tsunami. Sebelum menyerap kata ini, bahasa Inggris menggunakan tidal wave (gelombang pasang) untuk menyebut tsunami. Namun, istilah tidal wave kurang tepat karena tidal atau tide dipengaruhi gaya gravitasi bulan dan matahari, padahal tsunami dipicu gempa bumi, longsoran bawah laut, dan letusan gunung api.
Istilah lain dalam bahasa Inggris yang kerap dipakai, terutama di kalangan ilmuwan, adalah seismic sea wave atau gelombang tinggi karena gempa. Istilah ini pun tak sepenuhnya tepat karena tsunami tidak hanya dipicu gempa bumi.
Setelah Scidmore dan Hearn, istilah tsunami mulai populer di dunia Barat dan perlahan menggantikan berbagai istilah sebelumnya, seperti tidal wave dan earthquake wave. Majalah Nature, misalnya, sejak awal 1900-an beberapa kali menyebut tsunami dalam sejumlah artikel mereka.
Istilah tsunami kemudian mencapai popularitasnya di dunai Barat setelah Hawaii diterjang tsunami pada 1 April 1946. Peristiwa ini dikenal sebagai April Fool’s Day tsunami. Setelah kejadian ini, Pacific Tsunami Warning Center didirikan di Hawaii pada 1949.
Hingga awal 1960-an, istilah “tsunami” belum digunakan di Indonesia. Misalnya, koran Merdeka, pada 5 Mei 1960, di halaman 1 melaporkan terjadinya tsunami kiriman dari Cile ke Irian Barat (Papua) dengan istilah “gelombang pasang” akibat gempa.
Dari penelusuran database di Kompas, istilah tsunami pertama kali dipakai di koran ini di edisi Senin, 30 Okober 1967, dalam artikel ringkas “Kilasan Kawat Dunia” yang menceritakan tentang Pacific Tsunami Warning Center di Hawaii.
Sekalipun istilah tsunami relatif baru dikenal di Indonesia, masyarakat Nusantara memiliki variasi istilah untuk menyebut fenomena alam ini. Misalnya kata smong yang merupakan kesaksian warga Simeulue terhadap tsunami 1907. Selain itu ada galoro di Singkil, ie beuna di Banda Aceh, dan ae mesi nuka tana lala di Ende. Ini membuktikan tsunami telah lama ada dalam khazanah pengetahuan masyarakat Nusantara.
Kompas, Rabu, 24 Desember 2014