Friday, 3 April 2015

Menjaga Toleransi dari Gang Masjid Taman Sari

Oleh DIAN DEWI PURNAMASARI
Di antara hiruk-pikuk isu radikalisme, kekerasan atas nama agama, dan larangan beribadah, masyarakat tidak kehilangan sikap toleransi.
Di sudut kawasan Glodok, Taman Sari, Jakarta Barat, lonceng Gereja Kristus Yesus berdentang tanpa seteru bersama gema suara azan. Umat Kristen Protestan beribadah Jumat Agung dan umat Islam shalat Jumat di rumah ibadah masing-masing yang hanya disekat tembok setebal 40 sentimeter.
729e23f221bf43999927b3a0a2663d43.jpg
Warga melintas di depan bangunan Gereja Kristus Yesus Jemaat Mangga Besar di Jalan Mangga Besar I Nomor 74, Taman Sari, Jakarta Barat, Jumat (3/4). Bangunan gereja ini berdiri berdampingan dengan Masjid Al Awwabin dan hanya tersekat tembok setebal sekitar 40 sentimeter.(Kompas/Dian Dewi Purnamasari)
Pukul 12.00, lonceng Gereja Kristus Yesus yang berada di Jalan Mangga Besar I nomor 74 atau di belakang Mal Lindeteves berdentang nyaring. Sekitar 2.400 jemaat khusyuk beribadah Jumat Agung. Kurang dari satu menit, suara azan penanda panggilan shalat Jumat dari Masjid Awwabin berkumandang.
Jemaah shalat Jumat bergegas menuju gang masuk masjid yang berjarak 3 meter dari bangunan gereja. Beberapa polisi yang berjaga di gereja, sopir jemaat gereja, dan warga sekitar setengah berlari menuju masjid.
Suara khotbah khotib lalu menggema lantang melalui pengeras suara. Di seberangnya, umat Kristen Protestan melakukan kebaktian mengenang sengsara dan wafat Yesus Kristus. Khidmat kebaktian Jumat Agung tak terusik sedikit pun.
Sejak 18 tahun lalu, gereja-masjid ini berjalan beriringann. Tak pernah ada konflik horizontal yang terjadi karena masing-masing pemuka agama mengedepankan dialog. Meski berbeda keyakinan, baik pemuka agama Kristen Protestan maupun Islam saling membantu. Mereka lebih memilih menghargai dan bertoleransi daripada menebar kebencian.
“Di dalam Islam ada ajaran ukhuwah Islamiyah yang mengajarkan untuk menjaga persatuan sesama Muslim, negara, maupun sesama manusia. Itu yang kami pegang teguh,” ujar Ketua Harian Masjid Awwabin Arief Haryono seusai shalat Jumat.
Arief menuturkan, bangunan gereja lebih dulu ada dibandingkan masjid. Bangunan gereja lama (yang lebih kecil) sudah ada sejak 70 tahun lalu. Sementara masjid baru didirikan pada 12 Agustus 1997. Pihak gereja pun berkontribusi dalam pembangunan masjid yang berada di RT 014 RW 004 Kelurahan Mangga Besar itu. Pengurus gereja menyumbang material berupa semen, pasir, besi, dan beberapa pekerja bangunan.
“Meskipun membantu, sampai sekarang pihak gereja tak pernah mengungkit. Mereka ikhlas membantu warga,” ujar Abdurrahman, sekretaris masjid.

Komunikasi

Saat perayaan hari besar keagamaan, umat Kristen dan Islam di Taman Sari sudah terbiasa saling tolong-menolong. Pada bulan Ramadhan, tak jarang pengurus gereja memberikan bantuan bahan pokok kepada warga. Sebaliknya, saat perayaan Natal, remaja masjid akan membantu pengamanan gereja. Mereka bekerja sama dengan aparat Polsek Taman Sari dan Polda Metro Jaya. Kerja sama itu didukung oleh peran Kepolisian Sektor Taman Sari yang berinisiatif merangkung warga menjaga kerukunan antar-umat beragama.
Saat ada perbaikan atau sampah daun kering dari gereja yang mengotori masjid, pengurus masjid pun akan datang berkomunikasi. Keluhan akan diutarakan secara santun sehingga masalah tidak berlarut-larut dan segera diselesaikan. Menurut penuturan warna, selama 18 tahun terakhir tidak ada konflik horizontal yang mencolok di kedua rumah ibadah itu.

Kegiatan sosial

Pihak gereja pun rutin menyelenggarakan bakti sosial pelayanan kesehatan setiap Selasa dan Jumat. Petugas tidak memandang agama, suku, ataupun ras dalam pelayanan tersebut. Warga sekitar lebih diprioritaskan.
“Kebetulan Paskah kali ini bertepatan dengan ulang tahun ke-70 gereja. Kami mengumpulkan 70 warga sekitar untuk operasi katarak di Jakarta Eye Center (JEC),” ujar John Tjandra, Kepala Rumah Tangga Gereja Kristus Yesus.
Bakti sosial juga dilakukan saat lingkungan terkena banjir. Pengurus mengizinkan warga mengungsi di halaman gereja yang dibuat lebih tinggi dari jalan raya. Mereka juga mendirikan dapur umum, menyediakan perahu karet, serta pengobatan bersama Palang Merah Indonesia dan puskesmas.
“Banjir yang terjadi pada 1996 dan 2002 itu membuat hubungan kami semakin erat dan harmonis,” tutur John.
Karyawan yang bekerja di gereja itu pun mayoritas beragama Islam. Meskipun dekat dengan masjid dan mushala, pengurus tetap menyediakan mushala khusus di area gereja ataupun area parkir untuk memudahkan mereka beribadah.
Menanggapi konflik kekerasan atas nama agama yang masih marak terjadi di Tanah Air dan berbagai belahan dunia, John dan jemaat gereja mengatakan prihatin. Semua agama mengajarkan manusia untuk saling mengasihi, bertoleransi, dan saling memaafkan antar-suku, agama, golongan, dan ras. Ia mengutip khotbah Jumat Agung Pendeta Regi Andreas yang menekankan agar umat meneladani pengorbanan Yesus Kristus untuk saling mengasihi sesame.
“Jangan ada dendam. Hidup bermasyarakat harus tolong-menolong, terutama jika ada yang terkena musibah,” kata John.
Ana (40), jemaat dari Jembatan Lima, menuturkan, ia berharap kehidupan antar-umat beragama di Indonesia lebih rukun dan damai. Ia mengaku sedih jika melihat jemaat agama tertentu tidak diizinkan beribadah oleh warga lain yang berbeda keyakinan.
Itulah secuil potret kerukunan warga yang masih tersisa di Ibu Kota. Jika warga Taman Sari bisa, tentunya seluruh penjuru dunia juga bisa menciptakan negara yang damai.
Kompas, Sabtu, 4 April 2015