Saturday, 25 March 2017

Adolf Eichmann

Oleh TRIAS KUNCAHYONO
Tengah malam, antara tanggal 31 Mei 1962 dan 1 Juni 1962, di Penjara Ramleh, Israel, berakhirlah sudah perjalanan hidup Ricardo Klement. Tubuhnya menggantung antara langit dan bumi. Ia dihukum gantung. Inilah bentuk hukuman mati yang dijatuhkan oleh tiga hakim di pengadilan Jerusalem.
Jenazah Ricardo Klement (56) dikremasi dan abunya disebar di laut lepas pantai Jaffna, perairan Laut Tengah. Ricardo Klement, mandor pabrik mobil Mercedes-Benz di Bueno Aires, Argentina, ditangkap agen rahasia Israel, Mossad, pada 11 Mei 1960. Ia bersembunyi di negeri itu sejak tahun 1950.
adolf eichmann.jpg
Adolf Eichmann di bawah pengawalan polisi Israel saat pengadilan di Yerusalem (DailyMail)
Sebelumnya, orang tidak pernah tahu bahwa Ricardo Klement adalah Karl Adolf Eichmann, salah seorang aktor utama dalam holocaust di zaman Nazi berkuasa di bawah kepemimpinan Adolf Hitler. Karena itu, Adolf Eichmann diadili dengan tuduhan melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan, dan melakukan kejahatan perang.
Sidang atas Adolf Eichmann berlangsung selama empat bulan. Lebih dari 100 orang memberikan kesaksian terhadap kejahatannya. Di depan pengadilan, ia mengatakan, “Mengapa saya? Mengapa saya yang diadili?” Ya, mengapa Adolf Eichmann? Jawabannya jelas: karena Eichmann bertanggung jawab atas pendeportasian lebih dari 1,5 juta orang Yahudi dari seluruh Eropa ke pusat-pusat pembantaian.
Adolf Eichmann, lahir pada 19 Maret 1906, adalah mantan komandan SS Nazi yang bertanggung jawab atas pembunuhan jutaan orang Yahudi di Eropa di kamar-kamar gas. Ia bergabung menjadi anggota Schutzstaffel (SS), organisasi militer elite Nazi, saat berusia 26 tahun.
adolf eichmann ss.jpg
Adolf Eichmann saat aktif menjadi letnan kolonel SS, Nazi
Catatan kejahatannya–paling tidak ia dikenai 15 tuduhan kejahatan–sangat mengerikan. Akan tetapi, Adolf Eichmann dilukiskan sebagai warga negara baik-baik yang patuh pada aturan. Karena itu, Elie Wiesel, seorang sastrawan, menulis, “Adalah mengganggu, saya memikirkan Eichmann sebagai manusia. Saya lebih memilih melukiskan Eichmann sebagai sosok monster seperti lukisan Picasso dengan tiga kuping dan empat mata.”
Wajah dan penampilan memang tidak jarang menipu. Banyak kali terjadi, yang jahat itu tidak tampil dalam wajah monster sadistis, kejam, tetapi bisa tampil dalam sosok orang atau warga negara yang baik-baik saja; warga negara yang patuh dan taat pada aturan; orang yang kesehariannya dibalut dengan kesantunan–dan termasuk–ketaatannya menunaikan ibadah, serta hidup bersosial dalam masyarakat.
Seorang teroris tidak pernah menempelkan plakat bertuliskan “Saya teroris” pada dada atau punggungnya atau memasang tulisan pada jidatnya “Saya teroris”. Ia akan tampil biasa. Tidak membuat orang lain curiga atau mencurigai atau selalu memperhatikannya. “Tidak ada tanda-tanda jasmaniah untuk disebut sebagai tipe penjahat, demikian pula tidak ada tanda-tanda rohaniah untuh menyatakan penjahat itu memiliki suatu tipe,” kata Charles Buckman Goring (1870-1919), seorang kriminolog.
Banyak pelaku kejahatan–termasuk koruptor– berpenampilan seperti orang suci. Banyak pula di antara mereka yang memiliki penampilan fisik tampan rupawan, cantik jelita, santun, dan saleh, rajin beribadah. Bahkan, ada yang terpandang sebagai sosok baik karena sikap kedermawanannya; pandai berpidato, supel, lemah lembut tutur kata dan penampilannya. “Yang jahat tidak radikal, melainkan banal, yakni dangkal dan sehari-hari, seolah-olah merupakan pekerjaan administrasi rutin,” kata Hannah Arendt.
Karena itu, ada pepatah “serigala berbulu domba” untuk menggambarkan bahwa penampilan semata tidak menjamin kebaikan hati seseorang. Memang manusia adalah serigala bagi sesamanya, begitu Thomas Hobbes, mengutip metafora yang disodorkan penyair Romawi, Plautus (lahir 254 SM di Sarsina, Umbria, Italia, dan meninggal tahun 184 SM). dengan mengatakan itu, Thomas Hobbes ingin mengingatkan bahwa dalam diri manusia ada tersembunyi benih-benih kejahatan, ada sekawanan serigala yang setiap saat bisa muncul. Dengan kata lain, akar kejahatan yang sebenarnya juga terletak dalam diri manusia.
Adakah yang menyangka bahwa Khalid Masood (52) nekat menyerudukkan mobil yang dia kemudikan ke orang-orang yang berjalan di trotoar dan kemudian menusuk polisi? Meskipun Khalid Masood pernah diperiksa polisi karena kegiatan “ekstremisme”-nya, ia kemudian dinyatakan tidak membahayakan. Akan tetapi, di dalam dirinya sudah telanjur tertanam benih-benih kejahatan karena berbagai alasan.
Sama halnya, tidak ada yang pernah mengira dan menduga bahwa Adolf Eichmann adalah tokoh yang bertanggung jawab atas kamp konsentrasi. Tidak ada yang mengira, karena menilik latar belakangnya–ayahnya seorang industrialis yang memberikan anak-anaknya pendidikan doktrinal Protestan yang saleh. Ibunya meninggal saat ia berusia 10 tahun, dan ayahnya menikah lagi dengan seorang perempuan yang juga seorang Protestan yang saleh. “Di bawah bimbingan ibunya, Adolf Eichmann membaca Kitab Suci dan menandai dengan pensil warna merah bagian-bagian yang sangat menarik baginya–deskripsi tentang peperangan dan pertempuran” (Hausner G: 1996).
Kalau begitu, “Benarkan Agama Berbahaya?”, tulis Keith Ward (2006). Keith Ward mengatakan, agama terlibat dalam kekerasan, khususnya di mana agama menjadi penanda identitas dalam situasi konflik sosial. Agama sering menjadi suara moderasi dan rekonsiliasi. Itulah peran yang benar. Dengan agama, ada kesempatan bahwa suara orang-orang yang memberikan hidupnya itu bukanlah untuk mencari keuntungan, melainkan agar yang baik menjadi lebih jelas terdengar. Dengan agama, ada kesempatan bawah, sekurang-kurangnya tempat untuk sementara, dan lebih luas, kebaikan akan berjalan baik di muka bumi.
Akan tetapi, pendapat Keith Ward tersebut tentu masih bisa digugat melihat kenyataan di banyak tempat, di banyak negara di dunia ini, dan juga di sekitar kita saat ini. Yang belakangan ini tampak adalah agama sering dikaitkan dengan fenomena kekerasan; kekerasan atas nama agama atau kekerasan bertopeng agama. Apalagi, di sekitarnya berkeliaran “karl adolf eichmann, karl adolf eichmann” lain yang berpenampilan bagaikan domba-domba tetapi berhati serigala. Padahal, seharusnya agama mengajarkan perdamaian dan menentang kekerasan.
Kompas, Minggu, 26 Maret 2017