Tuesday, 3 December 2013

Shinta Nuriyah: Keberagaman

Mantan ibu negara, Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid (65), memimpin kegiatan sahur bersama yang dilakukan di halaman Gereja Kristen Jawi Wetan, di Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Kamis (1/8) dini hari. Acara itu juga dihadiri Pendeta Gereja Kristen Jawi Wetan Wibo Saksono dan sekitar 700 orang dari komunitas berbagai agama. Mereka yang hadir termasuk umat GKJW dan santri Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, yang lokasinya hanya berjarak sekitar 5 kilometer dari Mojowarno.
1031064-sinta-780x390.JPG
Shinta Nuriyah Wahid (Kompas/Dhoni Setiawan)
Shinta yang mewakili lembaga yayasan yang dipimpinnya, Puan Amal Hayati, didampingi komunitas simpatisan pemikirian almarhum KH Abdurrahman Wahid, “Gus Durian”. Ia mengatakan, acara sahur bersama sudah dilakukannya beberapa tahun terakhir, baik di lingkungan masjid maupun gereja.
Suasana acaara berlangsung semarak, diiringi musik kombinasi gamelan dan modern yang biasanya mengiringi kebaktian umat GKJW Pasamuwan Mojowarno.
“Sambutan warga beragam, ada yang disambut dengan tari, ada hiburan barongsai. Itu semua menegaskan maknanya bagi kita bahwa kita hidup dalam negara majemuk yang dihuni bermacam suku, bangsa, dan umat berbeda agama,” kata Shinta.
Dalam kesempatan itu, Shinta mengungkapkan, puasa diibaratkan sebagai sebuah sekolah bagi pemeluk agama Islam. Pada masa puasa, menurut Shinta, umat Islam tidak saja melaksanakan ritual menahan lapar dan dahaga, tetapi juga memahami maknanya untuk mengerti penderitaan sesama.
Wilayah Mojowarno cukup unik karena muncul harmoni hidup bersama saling menghargai antara umat GKJW yang mempunyai populasi cukup besar dan puluhan pondok pesantren di seluruh Jombang.
Pemimpin Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, KH Salahuddin Wahid yang juga ipar Shinta mengungkapkan, usia Tebu Ireng yang didirikan pendiri NU, KH Hasyim Asyhari, kalah tua jika dibandingkan dengan pendirian GKJW di Jombang oleh para pendeta Kristen asal Belanda.
Sementara itu, Pendeta Wibo mengungkapkan rasa gembiranya bahwa acara sahur itu bisa berlangsung di gereja dan menegaskan terbentuknya suasana saling menghormati di antara pemeluk berbeda agama di Jombang.
Kompas, Sabtu, 3 Agustus 2013