Saturday, 4 March 2017

Ruang Publik Wujudkan Harmoni

Oleh DEFRI WERDIONO
Fahmi (39) berteduh di bawah pohon trembesi besar yang tumbuh di tengah Taman Sekartaji, Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (26/1) siang. Sementara anaknya, Selena Fatimah (7), asyik bermain sepatu roda bersama temannya, Florensia Kirana (7,5).
harmoni kediri sekartaji.jpg
Slogan baru “Harmoni Kediri” menghiasi Taman Sekartaji di Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (26/1/2017). (Kompas/Defri Werdiono)
Sesekali Fahmi berteriak, memberikan arahan dan suntikan semangat kepada Selena agar bermain dengan baik. Ia pun sigap bertindak ketika ada baut as salah satu roda sepatu anaknya lepas. Hanya dalam hitungan detik, baut yang terlepas sudah menempel erat.
Warga Kelurahan Mojoroto, Kecamatan Mojoroto, ini terlihat menikmati suasana yang ada. “Suasananya enak, teduh. Anak-anak bisa bermain dengan nyaman meski matahari bersinar terik. Tempatnya juga leluasa. Kalau taman yang lama tidak bisa dipakai main sepatu roda,” ujarnya.
Fahmi mengaku baru beberapa kali datang ke taman seluas 6.250 meter persegi yang memiliki wajah baru setelah penataan itu. Taman yang lama direnovasi total kecuali pepohonan yang dibiarkan tetap rindang.
Selain tempatnya kian lega, taman yang berada di dekat bundaran, tepatnya pertigaan, Jalan Veteran-Suprapto-Kapten Slamet itu dilengkapi sejumlah fasilitas, seperti penggunaan lantai kayu pada beberapa bagian sehingga cocok untuk main skate board dan sepeda BMX. Di sisi utara terdapat sejumlah kios yang direncanakan dipakai sebagai tempat jajan (food court) dan taman baca.
“Tamannya lebih tertata dibanding sebelumnya,” ujar Suci Sarehati (20) dan Desi Puspita (20), mahasiswa semester 3 Jurusan Akuntansi Politeknik Kediri, yang mampir sebentar di tempat tersebut. Siang itu, mereka hendak berangkat praktik kerja lapangan di kantor Badan Narkotika Nasional Kota Kediri.
Selain taman di sisi barat Jalan Suprapto, taman lain yang juga dibenahi ada di sisi timur jalan. Sebuah tulisan besar “Harmoni Kediri” berwarna ungu menghiasi tempat tersebut. Sejak setahun lalu, Kediri telah mempertegas posisi sebagai kota pelayanan dengan branding Harmoni Kediri the Service City.
“Memorial park”
Di sisi timur kota, dekat Stadion Brawijaya, ada bangunan baru yang menarik perhatian. Sebuah taman yang disebut sebagai Kediri Memorial Park sedang dalam penyelesaian. Kediri Memorial Park ada di Jalan Pahlawan Kusuma Bangsa, Kelurahan Banjaran, Kecamatan Kota.
memorial park.jpg
Beberapa anak sekolah dan mahasiswa menikmati suasana Kediri Memorial Park, Kamis (26/1/2017), di Banjaran, Kota Kediri, Jawa Timur. (Kompas/Defri Werdiono)
Taman yang lokasinya berada di seberang Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa itu memiliki bentuk modern. Selain kolam panjang di bagian depan, terdapat sejumlah tiang bendera. Di sayap kiri dan kanan dibuat dua lantai. Taman yang sekaligus menjadi monumen ini ramah bagi kaum difabel.
Meski dalam penyelesaian akhir, Kediri Memorial Park yang memiliki luas 2.375 meter persegi itu telah menyedot perhatian masyarakat. Siang itu, misalnya, puluhan mahasiswa Jurusan Marketing Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia (LP3I) Kediri memanfaatkan tempat ini untuk kegiatan pembelajaran luar ruang.
Mereka tidak langsung beranjak meninggalkan lokasi meski kegiatan belajar-mengajar telah selesai. Mereka berfoto ria terlebih dulu. “Baru kali ini outing di sini. Tempatnya asyik,” kata Winda Winarsih (19), salah satu mahasiswai. Menurut Winda, Kediri memang sudah lama memiliki sejumlah ruang publik. Namun, pembenahan dan pembangunan ruang publik baru akan memberikan nilai lebih.
Ruang publik yang dimiliki Kota Kediri antara lain Alun-alun Kota yang berada satu jalur dengan pusat perbelanjaan, taman di Goa Selomangleng di sisi timur lereng Gunung Wilis, hingga Monumen Simpang Lima Gumul (masuk Kabupaten Kediri) yang arsitekturnya mirip Arch de Triomphe di Perancis.
simpang lima gumul.jpg
Monumen Simpang Lima Gumul (Sonni S)
Rencana revitalisasi
Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar mengatakan, pihaknya sengaja memperbanyak ruang publik bagi warga. Selama ini, ruang publik di kota yang dibelah oleh Sungai Brantas ini dinilai masih kurang. Direncanakan, Alun-alun Kediri juga akan direvitalisasi.
“Alun-alun mau direvitalitasi. Kalau sekarang masih penuh pedagang. Seharusnya tempat itu menjadi alun-alun, bukan taman. Begitu pula dengan taman di Goa Selomangleng, rencana dipermak sebagai destinasi wisata,” katanya.
Pemerintah Kota Kediri berharap taman yang ada tidak sekadar menjadi ruang publik, tetapi juga mempunyai fungsi yang lebih luas. Kediri Memorial Park, misalnya, nantinya akan dilengkapi tulisan nama-nama pahlawan yang dimakamkan di Tempat Makam Pahlawan Kusuma Bangsa.
“Tujuannya, menjadi ruang publik. Masyarakat bisa beraktivitas di situ. Akan tetapi, terselip pula pesan agar mereka tidak melupakan nama-nama pahlawan yang ada. Jadi, bukan sekadar tempat nongkrong,” kata Abu Bakar.
Menurut Abu Bakar, pihaknya ingin menjadikan Kediri selaras dengan branding yang ada, yakni Harmoni Kediri. Istilah harmoni menunjukkan Kediri yang tahun ini memasuki usia 1.138 tahun sebagai kota yang menerima pluralisme di tengah kondisi masyarakat yang cair, guyub, dan bersahaja.
“Jadi, harmoni sebagai kekuatan Kota Kediri,” katanya.
Kompas, Minggu, 5 Maret 2017