Saturday, 29 April 2017

Kisah Kristen Koptik dan Negara Mesir

Oleh MUSTHAFA ABD RAHMAN
Paus Fransiskus selama dua hari, 28-29 April, berkunjung ke Mesir. Kunjungan Paus sesungguhnya adalah bagian dari tradisi komunikasi yang sudah terjalin secara intens antara Vatikan dan negara Mesir selama ini. Di mata Vatikan, Mesir selalu menjadi perhatian khusus mengingat di negara itu terdapat komunitas Kristen terbesar dan tertua di Timur Tengah dan Asia Barat.
Pope-Francis-with-Tawadros-II-Coptic-Orthodox-Patriarch-of-Alexandria-in-Cairo-Egypt-April-28-2017.-Credit-LOsservatore-Romano.-.jpeg
Paus Fransiskus dan Pemimpin Kristen Koptik Tawadros II saat bertemu di Kairo (28/4/2017).
Menurut beberapa sensus yang dilakukan Pemerintah Mesir, jumlah warga Kristen Koptik di Mesir berkisar 7-10 persen dari populasi Mesir. Jika jumlah penduduk Mesir saat ini sekitar 90 juta jiwa, jumlah warga Kristen Koptik di negara itu berkisar 7 juta-9 juta jiwa.
Nama Koptik untuk sebutan kaum Kristen di Mesir diambil dari bahasa Yunani “Aiguptus”. Konon orang Yunani menyebut wilayah Mesir dan lembah Nil dengan sebutan Aiguptus. Nama Egypt, sebutan lain dari Mesir, berasal dari bahasa Yunani itu.
Sumber lain dari literatur bahasa Ibrani menyebut, nama Koptik berasal dari nama Qibtim, salah satu cucu Nabi Nuh AS. Qibtim dipercaya sebagai orang yang pertama kali mendiami wilayah lembah Sungai Nil.
Menurut buku Coptic Egypt karangan Mourad Kamel dan A History of Eastern Christianity karya AS Atiya, bangsa Koptik adalah keturunan langsung bangsa Mesir Kuno yang sudah menghuni kawasan lembah Nil sejak ribuan tahun sebelum Masehi. Bangsa Mesir Kuno adalah salah satu bangsa tertua dengan peradaban yang paling tua pula. Sejumlah literatur menyebut, bangsa Mesir Kuno diyakini sudah hidup sejak 6000 SM. Bangunan Piramida yang menjadi ikon wisata Mesir dan sekaligus simbol peradaban negara itu dibangun antara 2000 SM dan 2500 SM.
Tradisi pekerjaan bangsa Koptik, seperti halnya bangsa Mesir kuno, adalah bercocok tanam atau bertani karena suburnya lahan di lembah sepanjang Sungai Nil.
Kaum Koptik dipercaya memeluk agama Kristen secara luas pada abad pertama Masehi, yakni pada masa kekuasaan Romawi di Mesir. Nama Koptik hanya diperuntukkan pada warga Kristen di lembah Nil, yakni Mesir dan Sudan, serta sebagian di Libya. Nama Koptik tidak berlaku untuk kaum Kristen di Palestina, Lebanon, Suriah, dan Irak.
Kaum Koptik tetap mempertahankan agama Kristen ketika bangsa Arab Muslim dari Jazirah Arab dengan panglima Amr bin Ash menaklukkan Mesir pada 640 M. hanya segelintir yang beralih memeluk Islam.
Naik turun
Hubungan kaum Kristen Koptik dengan negara Mesir sejak masa kekuasaan Arab Islam pada abad ke-7 hingga saat ini tidak selalu mulus. Tidak bisa dimungkiri, kaum Kristen Koptik dalam sejarahnya kerap mengalami perlakuan diskriminatif dari penguasa, sejak era Romawi, Yunani, hingga Arab Muslim.
Kisah kaum Kristen Koptik adalah cerita panjang yang berakhir dengan keberhasilan bangsa itu berintegrasi secara bahasa dan budaya dengan bangsa baru, yakni Arab, yang menjadi penguasa dan mayoritas di Mesir.
Para sejarawan menyebut, proses asimilias dengan budaya Arab dilakukan kaum Kristen Koptik secara efektif mulai abad ke-10. Sebelum itu, yakni pada abad ke-7, kaum Koptik masih menggunakan bahasa dan budayanya sendiri di tengah penguasa Arab Muslim.
Mulai abad ke-10, secara perlahan kaum Koptik beradaptasi dengan budaya Arab akibat lingkungan politik, ekonomi, dan budaya yang menuju terjadinya hegemoni bangsa Arab di Mesir. Proses integrasi kaum Koptik dengan bangsa Arab terus bergulir dan semakin kuat di era khilafah awal, Ottoman, hingga Mesir modern.
Sejumlah sejarawan menyebut, proses integrasi itu sesungguhnya mencapai puncak kesempurnaan pada era kekuasaan Said dari Dinasti Ottoman tahun 1855. Saat itu, Said menghapus kewajiban pajak kaum minoritas kepada kaum Kristen Koptik.
Sejak itu, kaum Kristen Koptik merasa ada kesetaraan hak dan kewajiban antara kaum minoritas dan mayoritas di Mesir. Mereka kemudian terlibat aktif dalam berbagai gerakan nasionalis di Mesir. Tokoh-tokoh Kristen Koptik sejak abad ke-19 banyak aktif dalam politik dengan mengusung misi mengembangkan paham dan gerakan nasionalisme di Mesir.
Mereka, misalnya, ikut mendukung revolusi Mesir tahun 1919 yang dipimpin Ahmed Orabi untuk menentang penjajahan Inggris. Kaum Kristen Koptik tertarik mendukung revolusi Mesir 1919 karena revolusi tersebut mengusung slogan “Mesir untuk rakyat Mesir”, misi yang sangat nasionalis.
Tokoh-tokoh Koptik kemudian terus berusaha menunjukkan afiliasi kepada bangsa Arab. Catatan penting dalam usaha tersebut adalah ketika tokoh politik Koptik yang juga Sekretaris Jenderal Partai Wafd yang berkuasa di Mesir tahun 1940-an, Makram Ebeid Pasha, mengunjungi Suriah, Lebanon, dan Palestina.
Kepada publik di Damaskus, Beirut, Haifa, dan Jerusalem, Pasha menegaskan afiliasi kaum Kristen Koptik kepada bangsa Arab. Disebutkan, warga Kristen Koptik adalah bagian integral dari bangsa Arab.
Dengan segala suka dan duka perjalanan sejarah kaum Kristen Koptik itu, peran dan sumbangsih mereka membangun negara Mesir, baik secara politik, budaya, maupun ekonomi, sangat besar. Selain Pasha, tokoh lain yang menonjol adalah Boutros Boutros-Ghali, mantan Menteri Luar Negeri Mesir (1977-1979) yang kemudian menjadi Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (1992-1996).
Ada juga Yousef Boutros Ghali yang pernah menjabat Menteri Keuangan Mesir pada era Presiden Hosni Mubarak. Selain itu, ada Magdi Yacoub, seorang ahli bedah kelas internasional. Perlu dicatat juga, pengusaha besar dan sekaligus orang terkaya di Mesir saat ini adalah Naguib Sawiris, pemeluk Kristen Koptik dan pemilik perusahaan konglomerasi Orascom. Menurut majalah Forbes, kekayaan Naguib Sawiris mencapai Rp 110 triliun. Dan banyak lagi orang Koptik yang mengukir kesuksesan baik di dalam maupun di luar Mesir.
coptic.jpg
Beberapa tokoh Kristen Koptik (dari kiri ke kanan): Makram Ebeid Pasha, Boutros Boutros-Ghali, Youssef Boutros Ghali, Magdi Yacoub, Naguib Sawiris.
Kompas, Minggu, 30 April 2017