Saturday, 8 April 2017

Loyang Mendale, Peneguhan Kebinekaan

Oleh ZULKARNAINI
Penemuan artefak dan kerangka manusia prasejarah di Loyang (Goa) Mendale, Kebayakan, Aceh Tengah, Aceh, memiliki makna besar. Ternyata, tiga kelompok manusia pernah hidup di goa tiu pada rentang waktu 8.800 tahun hingga 3.500 tahun lalu. Meski berbeda budaya dan bahasa, mereka hidup secara harmonis.
loyang mendale.jpg
Pengunjung mengamati benda prasejarah yang diduga berusia 8.800 tahun hingga 3.500 tahun yang lalu di Loyang (Goa) Mendale, Kebayakan, Aceh Tengah, Aceh, Senin (20/3). Loyang Mendale merupakan tempat hidup manusia prasejarah ras Melanesia dan Mongoloid yang diduga leluhur suku Gayo. (Kompas/Zulkarnaini)
“Inilah bibit-bibit kebinekaan kita. Hal seperti ini terjadi di sini dan di daerah-daerah lain di Nusantara, kemudian berkembang dan menjadi nilai kehidupan. Artinya, nilai kebinekaan ini sudah tumbuh sejak nenek moyang kita dulu,” ujar ahli arkeologi Indonesia, Harry Truman Simanjuntak.
Truman bersama para arkeolog lainnya menghadiri peresmian Rumah Peradaban Gayo, Senin (20/3). Deklarasi Rumah Peradaban Gayo bertempat di Loyang Mendale, lokasi penemuan artefak dan kerangka manusia prasejarah.
Rumah Peradaban Gayo dibentuk untuk menyebarluaskan penemuan benda bersejarah di Mendale.
“Yang terpenting adalah memaknai penemuan ini,” kata Truman, yang merupakan profesor riset dari Pusat Arkeologi Nasional.
Penemuan artefak dan kerangka manusia prasejarah di Loyang Mendale berawal dari temuan gerabah oleh tim arkeologi Balai Arkeologi Medan pada tahun 2007. Saat itu, mereka menyurvei Danau Laut Tawar. Mereka memang menduga ada kehidupan di sekitar danau itu pada ribuan tahun lalu. Apalagi, danau itu cocok dijadikan tempat tinggal. Ekologi danau dengan segala sumber daya alam di sana mendukung kehidupan.
Danau Laut Tawar terletak sekitar 10 kilometer dari Takengon, ibu kota Aceh Tengah, atau 325 kilometer dari Banda Aceh. Danau luas 5.000 hektar itu merupakan penyedia air bagi pertanian dan menjadi obyek wisata unggulan daerah itu.
Pada tahun 2009, para arkeolog mulai melakukan ekskavasi untuk mengetahui kandungan arkeologis di dalam tanah di “mulut” Loyang Mendale. Loyang itu pun jaraknya hanya 30 meter dari tepi danau. Pada kedalaman 20 sentimeter hingga 2 meter ternyata ditemukan artefak berupa gerabah, kapak batu, tulang hewan, cangkang kerang, dan 13 kerangka manusia. Hingga tahun 2017 ini, penelitian masih terus dilanjutkan.
Tiga lapisan
Truman menuturkan, di Loyang Mendale ternyata terdapat tiga lapisan penghuni. Periode pertama sekitar 8.800 tahun lalu, periode kedua sekitar 4.400 tahun lalu, dan terakhir sekitar 3.500 tahun lalu.
Pada periode pertama, penghuninya bercirikan ras Austro-Melanesia dengan babakan peradaban mesolitik. Mereka menetap di goa, berburu, dan menggunakan alat dari batu lebih bervariasi seperti serpih batu, serut, mata panah, dan mata pancing. Orang-orang Melanesia, kata Truman, memiliki ciri kulit hitam dan rambut keriting. “Seperti saudrara kita di bagian timur Indonesia,” ujar Truman.
Pada 4.400 tahun lalu, lanjut Truman, datang penghuni baru dari ras Mongoloid. Mereka datang dari Asia Tenggara daratan. Budayanya disebut neolitik. Mereka sudah bercocok tanam, tinggal menetap, dan memiliki pranata sosial atau aturan dalam komunitasnya. Mereka berbahasa Austro Asiatik.
Imigrasi ketiga terjadi sekitar 3.500 tahun lalu saat kedatangan ras Mongoloid penutur Austronesia. Mereka memiliki budaya yang hampir sama dengan migrasi yang kedua itu, yaitu neolitik. Namun, kelompok ini lebih maju. Mereka punya inovasi di bidang pertenunan, teknologi, dan pelayaran.
“Inilah nenek moyang Nusantara yang dalam nyanyian disebut ‘nenek moyangku seorang pelaut’,” kata Truman.
Akulturasi budaya
Ketiga kelompok ini hidup di Loyang Mendale. Mereka tumbuh harmonis. Terjadi interaksi biologis atau perkawinan silang dan akulturasi budaya dengan baik. Kematian mereka bukan karena peperangan antarkelompok. Ini dibuktikan dengan posisi kerangka saat ditemukan telah diatur sedemikian rupa. Jasad terlentang dengan kaki dilipat, ditindih dengan batu sebagai bekal kubur, dan sebagian dihadapkan ke matahari terbit.
“Inilah bibit-bibik kebinekaan kita. Di Indonesia ada campuran ras, kelompok, dan etnis sehingga membentuk keindonesiaan. Nilai ini yang perlu kita teruskan kepada generasi muda bahwa kita bersaudara sejak leluhur,” tutur Truman.
Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas) I Made Geria menegaskan, sejarah panjang yang terkubur di Loyang Mendale merupakan bagian dari perjalanan bangsa. Nilai-nilai luhur yang dipraktikkan nenek moyang pun harus menginspirasi generasi muda.
Arkenas menjadikan Loyang Mendale sebagai situs pendidikan. Selain itu, situs ini juga berpotensi menjadi obyek wisata sejarah. “Gayo punya kekayaan sejarah, keindahan alam, budaya, dan kopi. Jika ini dipadukan, daerah ini akan lebih cepat berkembang,” ujar Made.
Wakil Bupati Aceh Tengah, Khairul Asmara mengatakan, hasil pengujian DNA kerangka manusia dan orang Gayo ada kesamaan. Artinya, diduga kuat leluhur orang Gayo merupakan manusia di Loyang Mendale.
Kehidupan masa lalu menjadi pijakan menata kehidupan sekarang dan masa depan. Loyang Mendale adalah pula kepingan sejarah untuk melengkapi jejak kehidupan di Nusantara.
danau laut tawar.jpg
Obyek wisata alam Danau Laut Tawar di Takengon, Aceh Tengah. (Kompas.com/Fikria Hidayat)
Kompas, Sabtu, 1 April 2017