Saturday, 6 May 2017

Cocopeat (Coconut Coir) Perlu Dibilas?

Cocopeat, terutama saat masih segar memiliki kandungan polifenol yang tinggi. Kandungan polifenol dengan kadar di atas 2 mg per liter tersebut bersifat toksik terhadap akar selada (Ma dan Nichols, 2004). Namun, tumbuhan dengan habitat rawa gambut seharusnya tahan terhadap bahan-bahan tersebut. Air rawa gambut mengandung senyawa polifenol, seperti tanin, dalam kadar tinggi. Tanin tersebut yang memberikan warna gelap pada air (Yule dan Gomez, 2009; Yule et al, 2016).

coconut-coir.jpg
Cocopeat juga memiliki salinitas atau kadar garam yang tinggi. Kondisi ini dapat disebabkan proses pembuatan yang melibatkan perendaman buah kelapa dalam larutan garam untuk memudahkan mendapatkan serabutnya (Evans et al, 1996). Selain itu, kelapa bersifat semi-halofit dan menyerap garam, yang kemudian mengirimkan garam tersebut untuk mengembangkan buah (Jeganathan, 1992). Untuk mendapatkan pertumbuhan yang optimal, pekebun biasanya memberikan NaCl dan KCl di sekitar pohon kelapa (Konduru et al, 1999).
Ada variasi kadar garam dalam cocopeat dari lokasi asal yang berbeda. Evan et al (1996) memberikan contoh, sampel cocopeat yang mereka ambil dari Rangkasbitung dan Lampung menunjukkan kadar Cl sekitar 500 ppm. Namun, kadar Cl sampel dari Tasikmalaya bisa mencapai 1.600 ppm.
Pengujian kadar Cl seperti itu tentu kurang praktis bagi hobiis. Pendekatan yang lebih aplikatif adalah dengan menggunakan pengukuran padatan terlarut total (TDS). Muhammad Hasan mengingatkan, TDS tidak spesifik menunjukkan kadar garam tertentu. “TDS itu umum. Karena di dalamnya banyak logam, oksida atau pun ion-ion yang ikut terhitung dalam satuan ppm,” ujarnya.  
Kadar garam yang tinggi ini berpotensi menimbulkan masalah keracunan pada tanaman (Hewitt-Cooper, 2016, p. 45). Yuping memiliki pengalaman buruk dengan kadar garam yang tinggi dalam air siraman. Dia menceritakan, waktu musim kemarau, debit air Sungai Kapuas menurun sehingga air laut masuk ke sungai. TDS dapat mencapai 2.000 ppm, bahkan di tahun 2015 mengukir rekor TDS 5.000 ppm. Akibatnya, sebagian nepenthes mati. Spesies seperti N. treubiana dan N. mirabilis menunjukkan gejala keracunan tetapi bisa pulih. Gejala keracunan, yang disebut salt-burn, diawali dengan tepi daun menguning dan kemudian mengering, meskipun tulang daun masih terlihat baik.
Yuping merekomendasikan TDS air di bawah 100 ppm. “Nepe 200 ppm masih bisa tahan tapi kurang bagus aja,” katanya.
Kita tidak mengetahui atau memeriksa kadar garam dalam cocopeat yang dibeli. Demikian juga dengan proses produksi, lokasi asal, dan cara penanganan pohon kelapa yang menjadi sumber cocopeat. Chandra Prayitno mengatakan, untuk amannya cocopeat sebaiknya dicuci atau dibilas menggunakan air hujan sampai TDS air bilasannya tidak lebih dari 50 ppm. “Karunge ae ujan-ujano, meringankan cuci-cuci kita,” papar Chandra.
Gejala awal salt-burn pada N. campanulata dengan media 100 persen cocopeat dalam wadah gelas tanpa drainase. Gejala muncul setelah sekitar satu bulan. (Foto: Hadi Susilo)
Referensi:
Evans MR, Konduru S, Stamps RH (1996) Source variation in physical and chemical properties of coconut coir dust. Hortscience 31(6): 965-967
Hewitt-Cooper N (2016) Carnivorous Plants: Gardening with Extraordinary Botanicals. Portland: Timber Press
Jaganathan M (1993) Nut water analysis as a diagnostic tool in coconut nutrition studies.  Commun. Soil Sci. Plan. 23(17-20): 2667-2686
Konduru S, Evans MR, Stamps RH (1999) Coconut husk and processing effects on chemical and physical properties of coconut coir dusk. Hortscience 34(1): 88-90
Ma YB, Nichols DG (2004) Phytotoxicity and detoxification of fresh coir dust and coconut shell. Commun. Soil Sci. Plan. 35(1-2): 205-2018
Yule CM, Gomez LN (2009) Leaf litter decomposition in a tropical peat swamp forest in Peninsular Malaysia. Wetlands Ecol. Manage. 17(3): 231-241
Yule CM, Lim YY, Lim TY (2016) Degradation of tropical Malaysian peatlands decreases levels of phenolics in soil and in leaves of Macaranga pruinosa. Front. Earth Sci. 4:45. doi: 10.3389/feart.2016.00045