Monday, 14 March 2016

Tinggi Tsunami Bisa 178 Meter

Sejarah Dampak Letusan di Indonesia Dahsyat
JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah ilmuwan menemukan bukti keruntuhan Gunung Fogo di Afrika Barat, sekitar 73.000 tahun silam, memicu tsunami hingga setinggi 170 meter di lautan. Indonesia dengan banyak pulau gunung api perlu belajar, apalagi punya pengalaman letusan Krakatau tahun 1883 yang juga diikuti tsunami.
pico-do-fogo-fogo-cape-verde-africa1.jpg
Pemandangan dari udara Gunung Fogo di Tanjung Verde. (Wikimedia Commons/Aldo Bien)
Temuan megatsunami letusan Gunung Fogo di Cape (Tanjung) Verde, Afrika Barat, itu dilaporkan dalam jurnal Science Advances edisi 2 Oktober sebagai salah satu peristiwa geologi terdahsyat. Jejak letusan itu awalnya ditemukan Ricardo Ramalho, peneliti dari University of Bristol, Inggris.
Dalam studi sejak 2007, Ricardo menemukan banyak batuan raksasa di dataran setinggi 270 meter dari permukaan laut di Pulau Santiago. Batuan raksasa ada yang seberat 770 ton. Di dataran tinggi Pulau Santiago juga ditemukan pasir pantai.
Studi lebih lanjut menemukan bahwa batuan itu ternyata dari pantai yang terangkat naik oleh dorongan tsunami raksasa yang disebabkan runtuhnya Gunung Fogo, sekitar 48 kilometer dari Pulau Santiago. Dengan menghitung daya air yang mampu memindahkan batuan raksasa hingga ke dataran tinggi itu, Ricardo menyimpulkan, tsunami yang diakibatkan runtuhnya gunung api itu bisa mencapai 170 meter di lautan dan bertambah tinggi saat mencapai daratan.
1996.jpg
Batu besar yang ditemukan di Pulau Santiago diduga terbawa hingga lebih dari 48 kilometer oleh dorongan tsunami (Columbia University/Ricardo Ramalho)
Penanggalan oleh kolaborasi Columbia University's Lamont-Doherty Earth Observatory in Palisades, New York, menggunakan isotop helium menunjukkan, peristiwa itu terjadi sekitar 73.000 tahun lalu. Temuan itu kian menguatkan bahwa runtuhnya gunung api bisa memicu tsunami raksasa. Peristiwa serupa, kata Ricardo, bisa terjadi lagi pada masa mendatang.
"Saat ini banyak pulau gunung api yang masih muda-seperti Pulau Azores, Pulau Canary, dan Hawaii yang tumbuh tinggi. Jika gunung-gunung ini runtuh, energinya sangat besar dan peristiwa serupa bisa terjadi lagi," katanya.
Kondisi Indonesia
Menanggapi temuan itu, ahli tsunami dari Balai Pengkajian Dinamika Pantai-Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPDP-BPPT), Widjo Kongko, Minggu (4/10) mengatakan, tsunami raksasa akibat runtuhnya gunung api sangat mungkin terjadi di Indonesia. Indonesia memiliki banyak pulau gunung api yang masih muda dan aktif.
Pemicu tsunami yang disebabkan gunung api, kata Widjo Kongko, umumnya karena ada runtuhan atau longsoran material tiba-tiba. Dimensi sumbernya kecil, hanya beberapa kilometer, dibandingkan dengan gempa tektonik yang mencapai ratusan kilometer. "Karena dimensinya kecil, efek tsunaminya bisa sangat tinggi, tetapi jangkauannya sangat lokal," ujarnya.
Ahli gunung api, Surono, mengatakan, Indonesia punya Gunung Krakatau di Selat Sunda yang letusan tahun 1883 menimbulkan tsunami terbesar yang tercatat dalam sejarah. Selain itu, di Indonesia juga banyak gunung api bawah laut lainnya, tetapi studi tentang itu masih sangat minim sehingga data tentang potensi ancamannya belum terpetakan dengan baik.
Studi Gegar Prasetya, ahli tsunami dari Amalgamated Solution and Research (ASR), menyebutkan, tsunami karena runtuhnya Gunung Krakatau tahun 1883 mencapai tinggi 30-40 meter di pesisir. "Tsunami di Cape Verde karakternya lebih mirip di Pulau Banda Api, Maluku," katanya.
Menurut Gegar, ada 18 gunung api di Indonesia yang berpotensi menimbulkan tsunami jika meletus. Dari 18 gunung api itu, hanya tiga gunung api yang punya data rinci dan terpantau perkembangannya saat ini. Ketiga gunung itu adalah Anak Krakatau, Tambora di Sumbawa saat meletus tahun 1815, dan Banda Api di Laut Banda.
antarafoto-anak-gunung-krakatau-210415-bal-1.jpg
Gunung Anak Krakatau, di Selat Sunda. (Antara/Muhammad Iqbal)
samalas.jpg
Danau Segara Anak dilhat dari puncak Gunung Rinjani di ketinggian 3.726 m. Rinjani merupakan bagian dari Gunung Samalas yang meletus hingga melumpuhkan dunia pada tahun 1257. Superletusan mengakibatkan terbentuknya kaldera dan Danau Segara Anak. (Kompas/Fikria Hidayat)
banda api.jpg
Pulau Gunung Api di Banda Neira, Maluku (Kompas/I Made Asdhiana)
1136517-sem-gunung-api-rokatenda-780x390.jpg
Gunung Api Rokatenda, di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. (Kompas/Samuel Oktora)
0544449Gunung-Ruang780x390.jpg
Gunung Api Ruang, di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara.(Kompas/Ronny Adolof Buol)
1532162Gunung-Awu780x390.jpg
Gunung Awu, di Kabupaten Sangihe, Sulawesi Utara. (Kompas/Ronny Adolof Buol)
1324234GA-Karangetang780x390.jpg
Gunung Api Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara sewaktu meletus pada tahun 2010. (Kompas/Ronny Adolof Buol)
pulau gunung api ternate gamalama.jpg
Kota Ternate, Maluku Utara, yang padat penduduknya tampak mengelilingi tubuh Gunung Gamalama, yang merupakan salah satu gunung aktif di Indonesia. (Kompas/Heru Sri Kumoro)
Pemandangan Pulau Ternate dari udara, Selasa (2/6). Terlihat puncak Gunung Gamalama sebelum terjadi letusan. Gunung Gamalama terletak   di pusat pulau dengan Danau Tolire Besar di latar depan dan Pulau Tidore di latar belakang.
Pemandangan Pulau Ternate dari udara, Selasa (2/6/2015). Terlihat puncak Gunung Gamalama sebelum terjadi letusan. Gunung Gamalama terletak di pusat pulau dengan Danau Tolire Besar di latar depan dan Pulau Tidore di latar belakang. (Kompas/Dahono Fitrianto)
erupsi-gunung-colo 1983.jpg
Erupsi Gunung Colo di Pulau Una-Una, Teluk Tomini, pada 22 Agustus 1983 (volcano.si.edu)
Selain tiga gunung itu, beberapa gunung api yang juga pernah menyebabkan tsunami pada masa lalu adalah Rokatenda di Pulau Flores (1928), Pulau Ruang (1889), Pulau Awu (1856 dan 1892), Pulau Gamkonora (1673), dan Pulau Gamalama (1871). Gunung Api Makian di Halmahera, Karangetang di Sangihe, dan Una-Una di Teluk Tomini juga diduga kuat pernah menyebabkan tsunami.
Selain itu, gunung api bawah laut di sekitar Pulau Weh juga diduga pernah mengirim tsunami hingga ke Banda Aceh.
( WWW.NATURE.COM/AIK)
Kompas, Senin, 5 Oktober 2015