Saturday, 29 July 2017

Jalan Panjang Cari Kerabat Korban VT-CLA

Oleh IWAN SANTOSA
Peristiwa penembakan pesawat Dakota VT-CLA oleh Belanda pada 29 Juli 1947 tidak hanya melengkapi pengorbanan para perintis Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara, Ignatius Adisutjipto, Abdulrachman Saleh, dan Adi Soemarmo, tetapi juga memiliki sisi lain sejarah, yakni dukungan bangsa-bangsa asing bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia.

kdS8s-xDc3vtAO3gOzTrWufsuj8YKDh8Z_ti3ldRdAMN3corJ5AYPSnBuABkAGZAU5LHP8dR1fYsBXGiW80c12Qo4WzYonHrWKJy7Va3pwRF6pBnlEAx_PPvtRI2smKD_5c6x9k8
Dari kiri ke kanan: Alexander Noel Constantine, Adi Sucipto, Adi Sumarmo, dan Abdurachman Saleh
Saat ziarah Hari Bhakti TNI AU di Monumen Ngoto di Dusun Ngoto, Desa Bangunharjo, Kecamatan Sewon, Bantul, Yogyakarta, yang jadi lokasi jatuhnya Dakota VT-CLA, Jumat (28/7), Kepala Staf TNI AU Marsekal Hadi Tjahjanto mengatakan, kerelaan dan keberanian menjadi kunci menjaga eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang pada 21 Juli 1947 diserbu agresi militer Belanda I.
Saat itu, Indonesia baru sepekan lebih diserbu Belanda dalam agresi militer I yang melanggar perjanjian Linggarjati antara perwakilan RI dan Belanda. Para sesepuh TNI membalas dan menunjukkan eksistensinya dengan mengebom dari udara kedudukan Belanda di Salatiga dan Semarang pagi 29 Juli. Petang harinya, misi kemanusiaan para pelopor TNI AU diserang Belanda dengan menembak jatuh pesawat Dakota VT-CLA,” kata Hadi.
Di luar sosok Adisutjipto, Abdulrachman Saleh, Adi Soemarmo, dan para pejuang Indonesia yang ikut gugur, terdapat kisah orang-orang asing dan masyarakat internasional yang mendukung operasi kemanusiaan lewat Dakota VT-CLA. Ketua Bagian Pendidikan Asosiasi Persahabatan New South Wales dan Indonesia Michael Kramer menceritakan betapa dukungan internasional saat itu sangat kuat di sisi Indonesia.
”Pesawat Dakota dimiliki Biju Patnaik, seorang nasionalis asal India, mantan militer, dan pemilik Kalingga Airlines. Pilotnya orang Australia, veteran Royal Air Force, yakni Noel Constantine; kopilot juga veteran perang, Roy Lance C Hazelhurst asal Selandia Baru; dan teknisi Bida Rham warga negara India. Biju juga sahabat Presiden Soekarno yang mengusulkan kepada Soekarno memberi nama Megawati (Megawati Soekarnoputri) saat putrinya lahir,” kata Kramer yang menikahi perempuan Sumatera Utara.
Biju, tambah Kramer, mengerahkan armada Kalingga untuk membantu Indonesia. Dalam berbagai kesempatan, armada Kalingga terbang dari Indonesia ke Asia Tenggara menembus blokade udara Belanda. Jalur penerbangan dari Jawa atau Singapura ke Manila, Singapura, dan Malaya adalah rute rutin yang diterbangi pilot-pilot dari sejumlah kebangsaan.
Operasi kemanusiaan
Ketika agresi berlangsung, keunggulan militer Belanda yang modern menyebabkan posisi RI tersudut. Ibu kota RI yang pindah ke Yogyakarta sejak Januari 1946 terjepit akibat Operasi Produk–sandi Belanda atas operasi militernya–untuk menguasai obyek ekonomi yang dikuasai negeri baru merdeka itu.
Berbagai upaya menghimpun bantuan militer dan kemanusiaan dilakukan pemerintahan Soekarno-Hatta. Koernianingrat dari Palang Merah Indonesia memohon bantuan masyarakat Malaya dengan surat resmi ditujukan ke Nyonya MacDonald, istri Gubernur Jenderal Malaya (ketika itu masih jajahan Inggris) yang mendapat sambutan baik.
Dalam dokumen resmi insiden penembakan VT-CLA yang dibuat Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin pada 11 Agustus 1947 dituliskan, Nyonya MacDonald sebelumnya membentuk komite resmi Palang Merah Malaya di Semenanjung Malaya dan Singapura. Mereka mengumpulkan bantuan kemanusiaan dari berbagai kelompok etnis di Malaya. Kegiatan itu ditulis di Straits Times dan Belanda saat itu menyatakan tak keberatan upaya kemanusiaan itu. Bantuan medis yang terkumpul sampai 1.800 kilogram yang diberangkatkan dari Bandara Kallang siang hari 29 Juli. Keberangkatan pesawat disetujui otoritas Inggris dan diketahui pihak Belanda.
Namun, dari dokumen yang dibuat Perwira Operasi AURI Halim Perdanakusuma untuk tim pencari fakta pada 2 Agustus 1947 disebutkan, saat terbang di atas Pulau Bangka di ketinggian 12.000 kaki, sepasang pesawat tempur Belanda mencegat Dakota. Tanpa memberi pesan atau peringatan, pesawat tersebut meninggalkan Dakota. Penerbangan dilanjutkan hingga mendekati Yogyakarta pada petang hari pukul 17.45. Tiba-tiba, di ketinggian 4.000 kaki (1.200 meter) muncul sepasang pesawat tempur Belanda P-40 yang diawaki Letnan Reusink dan Sersan Mayor WE Erkelens. Keduanya melepas dua tembakan senapan mesin tanpa peringatan. Pada tembakan kedua, peluru melubangi sayap kiri dan badan pesawat serta memicu kobaran api.
Pesawat oleng dan sayap kiri pesawat menghantam pepohonan di dekat Ngoto, Maguwo. Baling-baling mesin nomor 1 terlepas. Pesawat tak tertolong. Dakota pun jatuh di sawah dekat Lanud Maguwo (kini Adisutjipto). Bagian ekor pesawat terlepas dalam keadaan utuh. Sementara bagian kokpit dan badan serta sayap kiri pesawat hancur. Para awak dan penumpang terlempar.
Menurut Kramer, ironi sejarah terjadi. Pilot Belanda Reusink yang dilatih sebagai penerbang oleh Royal Australian Air Force menembak jatuh VT-CLA yang diterbangkan Constantine, mantan pilot kawakan Royal Air Force (RAF). Seperti Constantine yang dimakamkan di Yogyakarta, Reusink pun gugur semasa perang kemerdekaan RI dan dimakamkan di Menteng Pulo.
Halim Perdanakusuma menyampaikan laporan otopsi korban VT-CLA dalam keadaan menyedihkan. Istri pilot Constantine, Berryl Constantine, disebutkan terkena luka tembak di pipi. Operator radio Wirjokoesoemo terluka tembak menembus perut dan kaki kanan. Konsul Arifin tertembus peluru di punggung. Satu penumpang, Abdul Gani, selamat.
Kantor berita ANETA, mengutip keterangan para pilot Belanda, menyebut Dakota pesawat bomber Jepang yang terbang cepat. Ledakan dari pesawat disebutnya membuktikan pesawat membawa amunisi sehingga dikategorikan pesawat bersenjata. Pilot juga mengklaim hanya memberi peringatan. Proses forensik terhadap korban Dakota dilakukan di bawah pimpinan Profesor Soetomo Tjokronegoro dibantu antara lain oleh Dokter Soehardi Hardjoloekito dari RS Yogyakarta.
Keluarga pilot
Saat ziarah, ada tamu istimewa, yakni Geoff Constantine (75), keponakan pilot Constantine, yang datang dari Australia. ”Paman saya tak sempat diberi keturunan. Ayah saya, Ross Constantine, dan tante Daphne Constantine menyimpan cerita sedih tentang saudaranya yang menerbangkan VT-CLA ditembak jatuh Belanda. Saya berusaha mengenal paman saya dari surat-surat yang dikirim semasa Perang Dunia II. Ada sekitar 100 surat,” kata Geoff Constantine yang juga pernah menjadi pilot.
Rasa penasaran terhadap nasib pamannya dimulai tahun 1960-an ketika berkenalan dengan staf lokal KJRI Sydney, Purwanto Danusugondo asal Yogyakarta. Dia mengaku berumur sembilan tahun saat menyaksikan jatuhnya Dakota. Geoff Constantine pun mencari tahu lebih dalam dan merencanakan perjalanan udara dengan pesawat dari Australia ke Indonesia dan Malaysia-Singapura tahun 1966 bersama Purwanto dan warga Australia lain.
Saat pulang ke Australia, Geoff Constantine mendapat kabar dari Purwanto mereka mendapat izin terbang ke Yogyakarta. Mereka pun ke Yogyakarta dan menemukan makam Constantine dan istri berderet bersebelahan dengan Bida Rham. Di Ngoto, Geoff Constantine yang berdiri di sebelah putra Adisutjipto dan keluarga Rahman Saleh dan sanak-keluarga pahlawan Indonesia lainnya akhirnya bertemu.
Hingga kini, kerabat Roy Hazelhurst dan Bida Rham masih belum diketahui keberadaannya. Meski demikian, Geoff Constantine lega, mereka bisa bertemu sanak keluarga orang-orang yang gugur dalam satu pesawat dengan pamannya.

Kompas, Minggu, 30 Juli 2017