Saturday, 16 December 2017

Kerentanan Jawa Terhadap Gempa

Dalam peta gempa termutakhir diidentifikasi sumber gempa baru di Jawa. Jika pada peta gempa nasional 2010 jumlah sesar di Jawa hanya 4, kini jadi 34. Sesar baru antara lain sesar Kendeng memanjang di kawasan utara Jawa Timur sampai Jateng. Di Jabar, dipastikan keaktifan sesar Lembang dan Baribis. “Kami paling khawatir gempa dari zona subduksi di Samudra Hindia selatan Jawa berkekuatan bisa lebih dari M 8,7. Ini berpotensi tsunami,” kata Irwan Meilano, ahli gempa dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Irwan adalah Ketua Kelompok Kerja Geodesi Tim Revisi Peta Gempa Bumi Nasional 2017.

Kajian peneliti ITB, Rahma Hanifa, menyebut, jika segmen gempa di selatan Jawa runtuh bersamaan seperti Aceh 2004, potensi gempa M 9,2. Sumber gempa di Jawa dan bawah laut di selatan pulau ini jadi ancaman serius yang harus dimitigasi.
Tahun 2016, Irwan dan tim memublikasikan temuannya di jurnal internasional tentang dampak gempa M 7,8 yang memicu tsunami di Pangandaran tahun 2006 mengubah tatanan tektonik di selatan Jawa. “Setelah gempa Pangandaran, ada serangkaian gempa, termasuk di Tasikmalaya tahun 2009. Kini gempa kembali di Tasikmalaya. Ini diduga satu rangkaian. Kita belum tahu ujungnya, semoga tak jadi penanda awal akan terjadi gempa lebih besar,” ujarnya.
Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono memaparkan, menurut catatan sejarah, di zona gempa selatan Jawa terjadi beberapa kali gempa kuat, merusak, dan memicu tsunami. Contohnya, gempa Banten M 8,1 pada 27 Februari 1903 dan gempa Tasikmalaya M 7 pada 2 September 2009. “Pusat gempa kali ini berjarak 50 km utara dari pusat gempa pada 2009,” katanya. Hingga Sabtu pagi (16/12), gempa susulan terjadi 13 kali berkekuatan kurang dari M 5. Magnitudo gempa susulan yang mengecil menunjukan tektonik di zona gempa kian stabil.
Sejauh ini, gempa belum bisa diprediksi waktu dan kekuatannya secara presisi. Karena itu harus ada mitigasi. Menurut Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, gempa kali ini jadi pelajaran untuk menghadapi ancaman yang lebih besar.
Dikutip dari: “Mitigasi Bencana: Gempa Tasikmalaya Alarm bagi Pulau Jawa”. Kompas, Minggu, 17 Desember 2017