Saturday, 16 December 2017

Komuni(s)

Oleh SAMSUDIN BERLIAN
Pada peralihan abad, di suatu desa di Maluku yang telah ditinggalkan penghuninya akibat perang-saudara agam, graffito tebal hitam mencemong tembok rumah setengah runtuh: Yesus PKI. Penulisnya mungkin sekali tidak menyadari betapa dekat ia pada kebenaran walaupun bukan seperti yang ia harapkan. Bahkan Yesus bisa dianggap tokoh proto-komunis bukanlah hal baru, sudah lama dan biasa dibahas dan direnungi para pelajar teologi Kristen segala mazhab. Justru itulah satu daya tarik besar Komunitas Yesus 2.000 tahun berselang yang kemudian berkembang menjadi gereja Kristen.

Banyak orang pada abad pertama itu tertarik pada ajaran Almasih bukan karena tradisi belanja hadiah Natal–yang baru mulai dirayakan sebagai hari raya pada abad ke-4–melainkan karena pola kehidupan di dalam suatu persekutuan atau komuni yang saling berbagi milik dan harta secara sukarela. Gaya hidup komunitas gereja mula-mula yang anti-kemapanan itu (suatu bentuk penolakan terhadap gaya hidup penjajah Romawi) oleh sebagian pakar teologi dan sosio-politik dianggap model yang ikut memengaruhi Marx dalam merumuskan konsep masyarakat komunis yang diidamkannya. Orangtua Marx pindah dari Yahudi ke Kristen. Jadi, Karl lahir dan dibesarkan dalam tradisi Kristen.
Cita-cita komunistik memang tidak lahir dari Marx. Banyak masyarakat kuno bersifat komunistik. Komunitas Kristen mula-mula itu digambarkan oleh salah satu pencatat tradisi mereka sendiri dengan kalimat begini: “Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.” Karl Marx sendiri berpandangan bahwa masyarakat pemburu/peramu di zaman prapertanian, misalnya komunitas-komunitas Indian di Amerika, adalah komunistik. Bahkan Marx juga, setelah membaca karya Thomas Stamford Raffles, History of Java, menyimpulkan bahwa perdesaan Jawa pra-Belanda bersifat komunistik.
Gaya hidup komunistik seperti itu sekarang tidak lagi meluas di gereja, tetapi prinsipnya masih menjadi intisari ajaran tentang kehidupan bersama, dalam hubungan dan interaksi dengan baik sesama, di dalam masyarakat umum, maupun Tuhan, di dalam ibadah umum dan personal. Perayaan Natal biasanya disertai pesan komunistik, yakni solidaritas Tuhan dengan orang-orang miskin dan susah, dengan masyarakat jajahan Romawi yang menderita, dengan ibu yang jauh dari perlindungan keluarga-besar dan terpaksa melahirkan di kandang hewan, dengan para gembala, dan seterusnya. Doktrin gereja pun mengagungkan istilah “komuni”, yang juga diterjemahkan persekutuan. Bahkan, dalam bentuk yang terdistorsi dan banyak dikritik pun, banjir hadiah Natal komersial masih berakar pada prinsip berbagi ini.
Dari Latin communio dan Yunani koinonia, komuni berarti berbagi di dalam kebersamaan, kemudian mendapatkan konsep teologis dalam beberapa arti khusus. Komuni Kudus, disebut juga Perjamuan Kudus, adalah ritual persekutuan dengan Tuhan dengan makan sepecah roti dan minum seteguk anggur, yang masing-masing adalah lambang atau wujud tubuh dan darah Yesus. Ada Komuni Orang Kudus, yakni persekutuan atau persaudaraan Kristen di dalam suatu gereja ideal yang bersifat umum atau universal.
Berangkat dari konsep bahwa Tuhan yang kudus datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia berdosa, komuni pun sarat dengan muatan makna solidaritas dengan sesama manusia yang susah, orang miskin, masyarakat tertinggal, rakyat tertindas, bangsa terjajah.
SAMSUDIN BERLIAN
Penggelut Makna Kata
Kompas, Sabtu, 16 Desember 2017