Sunday, 22 February 2015

Cermin Bening Singkawang

Oleh MOHAMMAD HILMI FAIQ
Etnis Tionghoa di Singkawang, Kalimantan Barat, menjadi bagian dari keluarga besar Nusantara. Kedekatan piring, kelenturan dalam menerima nilai-nilai baru, dan kawin-mawin antaretnis menempatkan Tionghoa sebagai saudara etnis Dayak dan Melayu, dua etnis yang hidup di Kalimantan.
Sejumlah persiapan  dilakukan petugas di Wihara Tri Dharma Bumi Raya, Kota Singkawang, Kalimantan Barat, menyambut perayaan Imlek 2015.
Sejumlah persiapan dilakukan petugas di Wihara Tri Dharma Bumi Raya, Kota Singkawang, Kalimantan Barat, menyambut perayaan Imlek 2015. (Kompas/Emanuel Edi Saputra)
Setelah dua hari dilanda hujan lebat, siang itu Kota Singkawang cerah. Bong Miong Min (34) bermain bersama anak-anaknya, yakni Aliung (11), Ciliung (10), dan A Kim (8). Istrinya, Sabina (32), tengah menyuapi anak bungsu mereka, Sansan (3), di dapur.
Bong adalah keturunan Tionghoa yang dibesarkan Tomik, seorang pemain tatung beretnis Dayak. Bong kini mendalami tatung, sejenis debus, yang merupakan hasil akulturasi budaya Dayak dan Tionghoa. Dalam prosesinya, tatung mirip dengan kamang tariu milik etnis Dayak. ”Saya belajar dari orangtua angkat saya,” kata Bong.
Ia menikahi Sabina, gadis berdarah Dayak kelahiran Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Keduanya dikaruniai empat anak yang beberapa di antaranya selalu ikut dalam penampilan tatung. Hari-hari ini, mereka mempersiapkan diri untuk tampil dalam perayaan Imlek dan Cap Go Meh.
Kota Singkawang yang berpenduduk 194.902 jiwa ini berada sekitar 145 kilometer dari Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Banyak warga Singkawang berdarah campuran. Meski secara fisik dan kultur mereka dibesarkan dalam lingkungan Tionghoa, mereka campuran antara Tionghoa dan Dayak atau Tionghoa dan Melayu. ”Nenek buyut saya orang Dayak dan kakek saya Tionghoa, tetapi keluarga kami tak bisa berbahasa Dayak karena besar di lingkungan Tionghoa,” kata Bong Su Khiong (35), warga.
Pertalian darah
Jejak pernikahan antaretnis di Singkawang telah terjadi sejak awal kedatangan etnis Tionghoa. Pada awal abad ke-18, Sultan Sambas Umar Akkamaddin mendatangkan puluhan warga Tionghoa untuk melihat potensi tambang emas di daerah Duri dan Montrado. Sebagaimana dijelaskan Any Rahmayani dalam buku Permukiman Tionghoa di Singkawang (2014), etnis Tionghoa berbondong-bondong datang sebagai pekerja tambang emas.
Nenek moyang etnis Tionghoa di Singkawang diduga berasal dari Kia Ying (pedalaman Guangdong), Tingzhou, dan Loeng Yen. Hal ini dilihat dari bahasa yang mereka gunakan, yakni bahasa Hakka atau Khek (Rahmayani, 2014). Ini yang mendasari etnis Tionghoa di Singkawang disebut China Khek.
Di Tiongkok terdapat larangan bagi perempuan untuk bepergian jauh, apalagi menjadi imigran. Akhirnya banyak pria imigran Tionghoa menikah dengan gadis Dayak. Belakangan, ada juga yang menikah dengan gadis Melayu atau sebaliknya. Namun, warga Tionghoa lebih dekat dengan Dayak, baik karena irisan agama maupun kuliner. ”Kami sama-sama makan babi. Kalau orang Melayu, kan, dilarang,” kata Sabina.
Walaupun ada batasan yang tegas karena perbedaan agama, sekat itu luntur dalam relasi sosial. Mereka tak mempersoalkan, bahkan kerap lupa bahwa rekan atau tetangganya berbeda etnis. Seperti terlihat di Pasar Beringin atau Turi yang diramaikan oleh pedagang Tionghoa, Melayu, dan Dayak. Begitu pula di sekolah-sekolah, para siswa dari berbagai etnis menyatu.
Di SMK Pertiwi, misalnya, mayoritas siswanya beretnis Tionghoa, tetapi mayoritas gurunya beretnis Melayu. Di luar kelas, mereka biasa bercanda atau berbincang dalam bahasa Indonesia. Siang itu, kami menyaksikan Asmayanti, yang beretnis Melayu, mengajar 40 siswa Tionghoa. Dia sesekali melontarkan guyonan-guyonan dan tampak akrab.
466eb7ff087c45aea20af31751319083.jpg
Proses belajar- mengajar di Sekolah Menengah Kejuruan Pratiwi di Kota Singkawang, Kalimantan Barat. (Kompas/Lucky Pransiska)
Nama antaretnis
Mereka lebur dalam konsep ”kita” sehingga tidak ada liyan atau the others dalam jalinan sosial itu. Pemilik warung padang, Posin (46), menceritakan, dia berdarah murni Melayu. Kakeknya adalah seorang tabib yang berkawan baik dengan seorang Tionghoa. Mereka kerap jalan-jalan bersama. Saat sahabatnya sakit, kakek Posin mengobatinya. ”Kakek saya terkesan dengan kebaikan orang Tionghoa itu sehingga memberi nama saya Posin. Posin itu nama sahabat kakek saya, he-he-he,” ujarnya.
Ini juga terjadi pada Thomas Sungkar (33), Direktur Operasional Radio Mustika FM Singkawang. Dia berdarah Tionghoa. Ketika lahir, ayahnya, yang tidak dapat berbahasa Indonesia, kesulitan memberinya nama. Dia lantas mendatangi Kepala Kampung Turi, Dusun Durian, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas. Kepala kampung lalu memberinya nama Thomas Sungkar.
3b8fc509f7614cbe80370e2037d6c5c3.jpg
Remaja putri di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, mementaskan tarian Tionghoa berjudul Hetang Yue Seu pada acara pembukaan ruang serbaguna sekolah bahasa Mandarin. (Kompas/Lucky Pransiska)
Di kalangan anak muda terkenal produk budaya tari tiga etnis. Tari ini biasa dimainkan oleh muda-mudi Tionghoa, Dayak, dan Melayu. ”Gerakan dan kostumnya menyimbolkan persatuan antaretnis,” kata Yoris (26), pekerja seni yang aktif di sanggar tari.
Tampaknya akulturasi tari itu babak lanjutan dari akulturasi fase awal sebagaimana yang dijelaskan oleh Mely G Tan dalam Golongan Etnis Tionghoa di Indonesia (1979). Dia menjelaskan, irama hidup etnis Tionghoa di Kalimantan Barat, termasuk Singkawang, sangat Indonesia. Bahkan, mereka mengganti alat-alat pertanian dari yang semula sangat Hakka (daerah asal mereka) menjadi sangat Indonesia, seperti tongkat penggali Dayak dan pisau penunai Melayu.
Etnis Tionghoa di sana sepenuh hati mengakui Indonesia sebagai Tanah Air. Nama Kota Singkawang diambil dari bahasa Khek, San Kew Jong, yang berarti kota di kaki gunung dekat muara dan laut. Etnis Tionghoa merasa memiliki Tanah Air ini sehingga di masa pra-kemerdekaan mereka turut berjuang. Beberapa di antara mereka menjadi pahlawan dan namanya terukir sebagai nama jalan di Singkawang.
”Kami ini di sana (Tiongkok) sudah tidak tahu asal-usul kami. Karena lahir dan besar di sini. Kami ini Indonesia,” kata Lie Li Fat (69), salah satu tetua etnis Tionghoa Singkawang.
Keterbukaan dan kelenturan etnis Tionghoa menyerap nilai-nilai lokal membuat mereka diterima sebagai saudara sendiri. Ini yang kemudian menjadi pilar penting dalam menjaga keutuhan sosial.
Tatkala suhu politik memanas diikuti dengan mencuatnya sentimen etnis, seperti menjelang pilkada, Singkawang selalu aman. Tak pernah ada konflik terbuka.
Bong Su Kiong merasakan setiap menjelang pemilihan kepala daerah ada kecenderungan warga Singkawang memilih calon berdasarkan etnisnya. Ini kemudian memunculkan gesekan-gesekan kecil. ”Wajar ada provokasi-provokasi. Namun, sebagian besar warga lebih melihat kemampuan calon, bukan etnisnya,” kata pria yang aktif di beberapa lembaga sosial ini.
Ibarat karet, kelenturan dan kohesi antaretnis di Singkawang begitu kuat. Singkawang adalah cermin bening persaudaraan.

Kompas, Minggu, 22 Februari 2015