Saturday, 25 June 2016

Kediri, Jayabaya, dan Mbah Wasil

Oleh IMAM PRIHADIYOKO
Kediri, Jawa Timur, dikenal sebagai kota santri. Ada cukup banyak pondok pesantren di kota tersebut. Salah satu di antaranya yang terkenal adalah Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiien atau lebih dikenal sebagai Pondok Pesantren Lirboyo. Di Kediri, terdapat pula Ponpes Lembaga Dakwah Islam Indonesia dan Ponpes Kedunglo al Munadhdharah yang menjadi pusat pengamal Sholawat Wahidiyah.
setonogedong.jpg
Makam Mbah Wasil Setonogedong (Disbudparpora Kediri Kota)
Selain pondok pesantren, Kediri juga memiliki tempat yang banyak dikunjungi peziarah. Lokasi wisata religi ini berada di Jalan Dhoho, berupa kompleks makam Syech Sulaiman Samsuddin al-Wasil atau Syech Ali Samsuddin al-Wasil. Warga setempat sering menyebutnya sebagai kompleks makam Mbah Wasil. Di kompleks ini berdiri Masjid Auliya Setonogedong.
Mbah Wasil, menurut Mansyur (43), juru kunci makam, diperkirakan merupakan salah satu guru spiritual Raja Kediri Sri Aji Jayabaya. Bukti sejarah yang menguatkan hubungan kedua orang itu adalah batu nisan di dalam kompleks yang bertarik 1184. Selain itu, ada prasasti berbahasa Kawi Kuno yang diperkirakan ditulis sendiri oleh Jayabaya.
“Berdasarkan terjemahan yang dilakukan oleh Khatib Mustopa, Dosen Universitas Negeri Malang, prasasti lebih kurang menyebutkan bahwa Jayabaya menemukan buku yang isinya tidak dipahami olehnya,” ujar Mansyur. Lantas, Jayabaya meminta Mbah Wasil menerjemahkan dan mengajarkan isi buku itu.
Lokasi makam Mbah Wasil menjadi salah satu tempat yang dikunjungi oleh Tim Ekspedisi Islam Nusantara. Tim yang dipimpin Imam Pituduh ini memulai perjalanan pada 27 Maret di Kota Cirebon, Jawa Barat, dan mengakhiri ekspedisi di Raja Ampat, Papua Barat, sehari sebelum Ramadhan 2016.
Menurut Mansyur, di lokasi yang sekarang ditempati Masjid Auliya Setonogedong, pernah berdiri sebuah pura. Fondasinya masih bisa dilihat hingga hari ini.
Muhammad Yusuf (47) dari Badan Pemeliharaan Cagar Budaya Trowulan mengakui ada hubungan yang dekat antara Mbah Wasil dan Jayabaya. “Jayabaya yang menganut Hindu memang dipercaya mundur dan mengalami moksa. Namun, ada pula yang menyebutkan bahwa sebagai murid Mbah Wasil, Jayabaya menyendiri sebagai sufi,” ujarnya.
Mengingat minimnya dokumentasi sejarah yang tersedia, Yusuf dan Mansyur tidak mengetahui dengan pasti riwayat serta sosok Mbah Wasil. Menurut Yusuf, paling tidak ada dua versi tentang sejarah dan asal-usul Mbah Wasil.
Versi pertama menyebutkan Mbah Wasil hidup pada akhir abad X. Artinya, ia hidup sebelum era Wali Sanga. Sebaliknya, versi kedua menyebutkan Mbah Wasil hidup satu masa dengan keberadaan Wali Sanga, yakni pada abad XIV.
Bantu Wali Sanga
Yusuf menceritakan, Mbah Wasil, Syech Sulaiman al-Wasil, adalah utusan dari Istambul, Turki, pada abad XIV. Ia diutus pergi ke Pulau Jawa untuk bertemu dengan Wali Sanga guna membantu penyebaran Islam di masyarakat.
Dalam versi ini, Mbah Wasil dan para sunan memiliki rencana besar untuk membangun masjid yang akan dijadikan sebagai pusat penyebaran agama Islam di Kediri. Pembangunan masjid dimulai dengan membuat fondasi di atas susunan batu yang berada di kompleks makan Setonogedong.
Namun, sejumlah sumber lain menyebutkan bahwa susunan batu tersebut merupakan fondasi sebuah candi dari zaman Kerajaan Kediri. Adapun susunan batu di bagian atasnya adalah bagian yang belum selesai dikerjakan karena pembangunan terhenti.
Sejumlah bahan bangunan itu kemudian dipergunakan oleh para wali untuk membangun Masjid Demak dan Masjid Cirebon. Bagian atas fondasi yang tersisa dijadikan tempat berzikir dan pertemuan para wali di Kediri.
Fondasi ini sempat rusak parah, tetapi dibangun kembali oleh masyarakat. Sampai akhirnya dibangun sebuah masjid yang masih berdiri hingga saat ini.
Persia
Persoalannya, kalau versi Yusuf ini betul, Mbah Wasil tidak mungkin menjadi guru Jayabaya yang hidup sekitar awal abad XII. Sejumlah catatan sejarah menyebutkan Syech Sulaiman Samsuddin berasal dari Persia yang datang ke Tanah Jawa untuk menyebarkan agama Islam. Versi ini didasarkan pada serat Jangka Jayabaya yang menyebutkan bahwa Mbah Wasil merupakan guru spiritualnya.
Yusuf tidak menutup kemungkinan cerita yang menyebutkan Mbah Wasil datang dari Persia adalah versi yang benar. Terlepas dari kontroversi ini, Kediri kini berkembang menjadi kota santri dengan tradisi ponpes yang cukup kuat.
Sekarang, Kediri juga mempunyai ikon berupa Monumen Simpang Lima Gumul yang pembangunannya mungkin terinspirasi dari L’Arch de Triomphe, Paris, Perancis. Berada di Desa Tugu Rejo, Kecamatan Ngasem, Monumen Gumul mulai dibangun pada 2003.
Warga setempat mengenalnya dengan nama Kabbah Kediri karena saat melintasi simpang lima ini, warga harus memutar ke kanan, seperti orang yang tawaf di Mekkah. Namun, ada pula yang menyebutkan, pembangunan monumen terinspirasi oleh Jayabaya yang berhasil menyatukan lima wilayah Kediri.
Apa pun itu, satu hal yang jelas, Kediri membuktikan diri telah berkembang menjadi kota yang menghargai peninggalan peradaban di Nusantara.
Kompas, Minggu, 26 Juni 2016