Thursday, 19 January 2017

Media Asosial

Rezim digital itu memang ambigu. Satu sisi pertanda revolusi teknologi informasi yang menghubungkan umat manusia di Bumi, tanpa batas waktu dan teritori. Di sisi lain, senyampang revolusi teknologi itu, publik bukan semakin tercerahkan di titik puncak peradaban, melainkan justru melahirkan generasi yang semakin tak memiliki karakter berkeadaban.
Demokrasi digital dengan media sosialnya justru melahirkan anomali. Agresivitas dan kekasaran di dunia maya, ujar psikolog internet Graham Jones, antara lain karena anonimitas, yang bersuara keras tanpa ada risiko langsung. Kalau dunia nyata, ketika Anda ngomong seenaknya dan membuat jengkel lawan bicara, mungkin langsung disambut bogem mentah oleh lawan bicara Anda. Di dunia maya tidak ada mekanisme umpan balik adaptasi aksi-reaksi perilaku seperti itu.
Lebih lanjut, psikolog John Suller (Martin, 2013) menyebut enam hal yang mengubah perilaku pengguna internet, yaitu dissociative anonimity (Anda tidak tahu saya), invisibility (Anda tidak bisa lihat saya), asynchronicity (urusan nanti saja), solipsistic introjection (semua ada di kepala, tak ada orang lain), dissociative imagination (bukan dunia nyata, cuma permainan), minimizing authority (tak ada otoritas lebih, semua setara).
Media sosial pun semakin disesaki dengan komunikasi negatif, meniadakan kepedulian sesama. Interaksi sosial tidak terbangun positif. Ah, media sosial pun menjelma menjadi media asosial….
M SUBHAN SD, Media Asosial, Kompas, Kamis, 19 Januari 2017