Sunday, 8 January 2017

Palapa dan Gajah Mada

Oleh JOHNNY TG
Tepat pukul 19.31 Kamis (8/7) waktu timur Amerika atau pukul 06.31 WIB Jumat (9/7), satelit domestik Palapa meluncur meninggalkan Cape Canaveral, AS. Roket NASA “Delta 2941” yang terbagi atas tiga tingkatan dan didorong oleh sembilan roket tambahan menjadi kendaraannya. Acara ini disiarkan langsung oleh TVRI yang telah mengudara sejak pukul 05.55 WIB. Siaran ini direlai oleh Palembang dan stasiun Medan. Wartawan Kompas dan 10 wartawan Indonesia lainnya sudah berada di AS untuk ikut mengabadikan peristiwa tersebut. Satelit ini nantinya akan mempersatukan seluruh Nusantara dengan jaringan telepon, telegram, telex dan televisi. Proyek senilai Rp 561 milyar ini telah mempertimbangkan teknologi yang dalam jangka waktu 20 sampai 30 tahun ke depan belum akan ketinggalan. Indonesia pun menjadi negara keempat setelah Rusia, Kanada, dan Amerika Serikat yang telah memiliki satelit sendiri.
soeharto palapa.jpg
Presiden Soeharto menyaksikan peluncuran satelit Palapa yang disiarkan TVRI langsung dari Cape Canaveral, AS, Jumat (9/7/1976). (Kompas/Dudy Sudibyo)
Kontak pertama satelit Palapa dengan Stasiun Pengendali Utama Cibinong terjadi pada pukul 07.10 WIB atau sekitar 40 menit setelah diluncurkan. Sebagai pengendali satelit, Stasiun Cibinong harus mempertahankan posisi satelit pada kedudukan yang telah ditentukan, yaitu 83 derajat Bujur Timur, kira-kira di atas Sri Lanka, di ketinggian 36.000 kilometer. Akan ada 40 stasiun yang tersebar dari barat ke timur Indonesia yang akan memanfaatkan Palapa. Hanya dua stasiun bumi, Jakarta atau Surabaya, yang bisa memancarkan siaran televisi dan diterima di stasiun-stasiun lainnya melalui alat monitor TV. baru kemudian dipancarkan ke televisi di rumah-rumah melalui pemancar TVRI setempat.
“Semua berjalan dengan sempurna,” kata System Engineer GM Welschadle, seorang ahli dari Hughes Aircraft (pembuat satelit Palapa) yang menangani pengendalian peluncuran Palapa dan ditempatkan di Stasium Pengendali Utama Cibinong, Jumat (9/7). Ia didampingi Menteri Perhubungan saat itu, Emil Salim, dan Kepala Stasiun Cibinong Ir Saleh Gunawan.
Sebagai konsekuensi dari penggunaan Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD), Perum Telekomunikasi mendidik 379 operator telepon lokal dan internasional di Bandung selama empat bulan. Hingga 15 Agustus dilakukan uji coba antarstasiun bumi. Presiden Soeharto akan meresmikan pemakaian SKSD pada 16 Agustus bersamaan dengan pidato kenegaraan. Saat itu, masyarakat dapat memanfaatkan hubungan telepon, telegram, telex, dan televisi di Indonesia. Pada Maret 1977, sistem otomatis telepon berfungsi penuh sehingga seseorang di Sabang dengan hanya memutar nomor telepon, bisa langsung kontak dengan orang yang dikehendaki di Merauke atau tempat-tempat lainnya di seluruh Indonesia (Kompas, Selasa, 13 Juli 1976, halaman 1).
Disebut satelit Palapa, karena satelit komunikasi ini menyatukan Nusantara. Seperti makna simbolis sumpah Palapa Gajah Mada pada tahun 1336, yakni mempersatukan Nusantara.
Riset foto dan naskah: Johnny TG, Chris Pudjiastuti dan Eristo S/Pusat Informasi “Kompas”
Sumber: 1. Kompas, Kamis, 8 Juli 1976, halaman 1, 2. Kompas, Jumat, 9 Juli 1976, halaman 4, 3. Kompas, Sabtu, 10 Juli 1976, halaman 1, 4. Kompas, Rabu, 14 Juli 1976, halaman 1, 5. Kompas, Jumat, 16 Juli 1976, halaman 2.
Kompas, Minggu, 8 Januari 2017