Saturday, 23 September 2017

Saatnya Gunung Agung Memberi Jeda

Oleh AHMAD ARIF
Letusan Gunung Agung di Bali tahun 1963 merupakan yang paling mematikan pada era setelah Indonesia merdeka. Letusan gunung api ini juga dikenal sebagai salah satu yang terkuat di abad ke-20. Namun, yang membuat letusan Gunung Agung dikenal secara global terutama karena dampaknya telah memicu pendinginan Bumi.
gunung agung 1963.jpg
Laporan Kepala Bagian Vulkanologi Direktorat Geologi Djajadi Hadikusumo ke UNESCO pada 1964 menyebutkan, letusan Gunung Agung saat itu menewaskan 1.549 orang. Sekitar 1.700 rumah hancur, sekitar 225.000 jiwa kehilangan mata pencarian, dan sekitar 100.000 jiwa harus mengungsi.
Dampak susulan berupa banjir lahar kemudian menghancurkan perkampungan di lereng selatan Gunung Agung dan menewaskan 200 orang. Delapan jembatan hancur. Karangasem terisolasi total. Pasokan bahan pangan dan obat-obatan terpaksa lewat laut.
Bencana itu juga bahkan memukul seluruh Pulau Bali. Sebanyak 316.518 ton produksi pangan hancur. Kondisi itu diperparah dengan gempa bumi yang melanda Bali pada 18 Mei 1963, lalu Gunung Batur pun meletus pada September 1963 hingga Mei 1964.
Letusan Gunung Agung ini memang masih lebih kecil dibandingkan dengan letusan gunung api di Indonesia yang terjadi pada abad sebelumnya, yaitu Tambora tahun 1815 dan Krakatau tahun 1883. Namun, untuk letusan abad ke-20, letusan Gunung Agung hanya bisa disaingi letusan Gunung Pinatubo di Filipina tahun 1991 yang menewaskan 840 jiwa.
Stephen Self dan Michael R Rampino dalam Bulletin of Vulcanology (2012) menyebutkan, letusan Gunung Agung pada Februari 1963 hingga Januari 1964 merupakan yang paling menghancurkan. Kolom letusannya saat itu mencapai ketinggian 20 kilometer dengan total material batuan yang dikeluarkan mencapai 0,4 kilometer kubik (km3).
ash column agung 1963 eruption - K. Kusumadinata.png
Kolom abu letusan Gunung Agung pada tahun 1963 (K. Kusumadinata)
Material vulkanik berupa aerosol sulfat terbang tinggi dan kemudian melapisi atmosfer Bumi hingga sejauh 14.400 kilometer. Dampaknya, suhu Bumi mengalami pendinginan dengan rata-rata 0,4 derajat celsius karena sinar matahari terhalang lapisan aerosol sulfat (Hansen dalam Jurnal Science, 1978).
Rampino (1982) membandingkan tiga letusan gunung di Indonesia, yaitu Tambora (1815), Krakatau (1883), dan Agung (1963). Disimpulkan, ketiga letusan itu menyebabkan pendinginan suhu Bumi dalam rentang besaran yang hampir sama.
Fenomena menjadi menarik karena jumlah material yang dimuntahkan ketiga gunung tersebut jauh berbeda. Perbandingan volume material letusan Tambora, Krakatau, dan Agung adalah 150:20:1. Namun, letusan Gunung Agung lebih kaya gas oksida belerang (SO2) dibandingkan letusan Tambora dan Krakatau.
Letusan Gunung Agung pada 1963 yang disebut sangat kaya belerang, membuka pemahaman baru dalam ilmu pengetahuan modern, yaitu pendinginan suhu Bumi akibat letusan gunung api lebih dipengaruhi konsentrasi aerosol sulfat dibandingkan debu silikat. ”Letusan Gunung Agung 1963 terjadi ketika dunia penerbangan belum seramai sekarang. Kalau letusan yang sama terjadi saat ini, dampaknya akan sangat serius terhadap dunia penerbangan,” sebut Indyo Pratomo, geolog dari Museum Geologi-Badan Geologi.
Andi Eka Sakya, mantan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan, bagi dunia penerbangan, debu vulknik sangat berbahaya. Selain dipengaruhi besaran material erupsi, ini juga sangat dipengaruhi pergerakan angin. Karena itu, peranan BMKG penting. ”Krisis Gunung Agung ini sungguh menjadi ujian para stakeholder kebencanaan lintas bidang,” katanya.
Ujian mitigasi
Banyak geolog dan vulkanolog di Indonesia yang khawatir begitu mengetahui Gunung Agung yang telah 54 tahun tertidur ini kembali bangun pada pertengahan September 2017. Salah satunya adalah ahli gunung api yang juga mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Gunung Api (PVMBG) Surono.
gunung-agung_20170923_100556.jpg
”Di antara banyak gunung api lain di Indonesia, Gunung Agung merupakan yang paling saya takutkan jika meletus lagi. Ini gunung besar dengan letusan besar, dengan sejarah letusan tahun 1963 yang lebih besar dibandingkan letusan Merapi tahun 2010,” kata Surono.
Tingginya risiko bencana dari letusan Gunung Agung ini, menurut Surono, tidak hanya karena sejarah kekuatan letusannya. Namun, juga karena banyaknya penduduk yang tinggal di zona bahaya. ”Banyaknya korban letusan 1963 saat itu salah satunya juga karena sebagian warga menolak diungsikan,” katanya.
Kama Kusumadinata, vulkanolog Direktorat Geologi Bandung yang datang ke Bali pada saat periode letusan 1963 melaporkan, arahan pemerintah untuk menjauh dari zona bahaya Gunung Agung dalam radius 5 kilometer dari puncak saat itu diabaikan.
Sepanjang masa tenangnya, Gunung Agung telah memberi banyak hal bagi warga Pulau Dewata. Mulai dari keberlimpahan sumber air, kesuburan tanah, mengukir lanskap surgawi yang mendatangkan banyak wisatawan, hingga memberi orientasi atau arah kaja-kelod dalam kebudayaan Bali. Kini saatnya, Gunung Agung meminta jeda, dan seperti disampaikan Surono, warga sebaiknya mengalah dulu dengan menjauhi zona bahaya.
Kompas, Minggu, 24 September 2017