Saturday, 12 May 2018

Sicarii - Assassin

Oleh TRIAS KUNCAHYONO
Terorisme adalah wajah gelap perilaku manusia, sejak pertama sejarah mencatat tindakan mereka. Dalam History of the Jewish War (Jewish Antiquities)–buku tujuh jilid karya sejarawan kuno Yahudi, Joseph Ben Matthias atau Flavius Josephus (37/37-100)–diceritakan bagaimana faksi pemberontak, sicarii (nama ini diambil dari senjata yang mereka gunakan, yakni pisa pendek atau belati), menyerang orang-orang Romawi dan juga kelompok mapan orang-orang Yahudi. Mereka menjadi kelompok yang dikenal sebagai kaum Zealot–dari bahasa Yunani, zelos, yang berarti semangat atau semangat yang kuat (Gus Martin: 2011).

Belati sicarii yang digunakan kaum Zealot dalam melancarkan aksi terornya
Josephus menyebut mereka kaum Zealot atau sicarii yang didirikan Yudah dari Galilea ini, sebagai bandit. Tindakan mereka untuk memperjuangkan tujuan politik dan agama. Tujuan mereka, sebagai organisasi agama, memaksakan kehendak, kalau perlu dengan kekerasan, dalam menjalankan agama. Misalnya, mereka menyerang orang-orang Yahudi lain yang dianggap tidak menjalankan agama tidak seperti mereka. Mereka menggunakan teror sebagai alat pemaksaannnya. Dan, sebagai organisasi politik, mereka berjuang untuk melepaskan diri dari penjajahan Roma. Tujuan agama partai tidak dapat dipisahkan dari tujuan politiknya (Gerard Chaliand dan Arnaud Blin, ed: 2007). Dari sini, tercatat bahwa sejak semula gagasan kemurnian–agama dan politik–muncul.
Gerard Chaliand dan Arnaud Blin mengategorikan sicarii sebagai salah satu dari dua contoh klasik organisasi terorisme dalam masa prasejarah terorisme. Satunya lagi adalah assassin. Kelompok Assassin, yang aslinya bernama Hashshashin, mula-mula muncul di Persia, Suriah, dan Turki, dan akhirnya menyebar ke seluruh wilayah Timur Tengah.
Kallie Szczepanski (2017) mencatat tidak seorang pun tahu secara pasti dari mana kata Hashshashin dan Assassin berasal. Namun, menurut pemahaman umum, termasuk yang dikemukakan oleh Nazeer Ahmed (An encyclopedia of Islamic history), hashshashin berasal dari kata dalam bahasa Arab yang berarti orang yang mengonsumsi hashish atau ganja. Gerakan assassin ini juga disebut gerakan fidayee yang pengikutnya disebut fidayeen. Gerakan fidayee di Turki disebut gerakan Nisari. Orang-orang Arab menyebutnya sebagai fidayeenmulahida, tidak berima, tidak bertuhan.
Memang, ada rentang waktu yang panjang antara kemunculan sicarii dan assassin. Sicarii muncul pada abad pertama, sedangkan assassin pada sekitar abad kesebelas. Meski demikian, keduanya selalu disebut sebagai dua contoh klasik organisasi teroris
Yang pertama kali memasukkan kata “terrorist” (teroris) dalam bahasa Inggris adalah negarawan dan filsuf Inggris, Edmund Burke (1729-1797). Ia menyebutnya dalam Letters on a Regicide Peace, yang diterbitkan antara tahun 1795 dan 1796. Edmund Burke menggunakan kata itu, teroris, untuk menjelaskan rĂ©gime de la terreur, atau yang sering disebut sebagai Pemerintahan Teror (Juni 1793-Juli 1794). Pemerintahan Teror di Perancis didominasi oleh kaum Jacobin radikal. Selama mereka berkuasa, ribuan orang yang dianggap sebagai lawan-lawan atau penentangnya ditangkap dan dipenjara tanpa melalui proses peradilan. Mereka yang dianggap sebagai musuh dihukum mati dengan cara dipenggal kepalanya dengan guillotine (ada yang menyebut yang dihukum mati 17.000 hingga 40.000 orang; dan sekitar 200.000 tahanan politik mati dalam penjara karena penyakit dan kekurangan makan).
Dalam konteks ini, aksi teror lebih untuk tujuan politik kekuasaan, yang nantinya akan terus berkembang hingga zaman modern. Sebagai misal, setelah Perang Dunia II, Israel yang baru saja memerdekakan diri sebagai negara menggunakan taktik teroris untuk melawan orang-orang Arab. Cara Israel pun digunakan Palestina dalam menghadapi Israel. Sebenarnya selama berabad-abad, Asia Tengah dan Timur Tengah menjadi sasaran terorisme dari berbagai tentara nomad, termasuk Genghis Khan dan Tamerlane (Timurleng). Eropa juga mengalami masa-masa penuh teror ketika pecah Perang Tiga Puluh Tahun (1618-1648). Perang pecah karena berbagai alasan, mulai dari masalah agama, dinasti, teritorial, hingga persaingan perdagangan dan baru berakhir setelah ditandatangani Perjanjian Westphalia pada tahun 1648.
Sejak abad ke-19, Rusia menjadi panggung sejumlah tindak terorisme, termasuk teror negara. Di zaman modern, Eropa juga disapu berbagai macam gelombang aksi terorisme: anarkisme, terorisme Irlandia, aktivitas berbagai kelompok ideologi seperti Brigade Merah di Italia atau Brigate Rosse (organisasi sayap kiri militan yang menculik, membunuh, dan menyabotase; tujuan mereka adalah meruntuhkan negara Italia lewat revolusi proletariat), Fraksi Tentara Merah Jerman atau Baader-Meinhof Gang (kelompok kiri radikal di Jerman yang dibentuk pada tahun 1968 dan dikenal seturut nama dua pemimpin awalnya, yakni Andreas Baader, 1943-1977, dan Ulrike Meinhof, 1934-1976), serta gerakan Basque.
Pendek kata, terorisme–wajah gelap perilaku manusia–sudah berjalan melintasi zaman dan waktu. Bukan barang baru! Hanya, di zaman modern sekarang ini, dampak dari tindakan mereka tak seperti dulu–terbatas hanya pada tempat di mana terorisme dilakukan, atau wilayah terbatas–tetapi telah mengglobal. Dalam abad televisi, internet, komunikasi satelit, dan liputan berita global, aksi terorisme dalam segala wajahnya menyebar ke seluruh dunia, masuk ke rumah-rumah, masuk ke telepon-telepon pintar, disaksikan jutaan orang pada saat yang bersamaan atau dalam waktu singkat.
Para teroris, kelompok teroris–termasuk yang terjadi di Mako Brimob, Depok, kemarin dulu–memahami kekuatan teknologi komunikasi dan telekomunikasi modern itu. Dengan teknologi modern, mereka menyebarkan, memamerkan aksi mereka. Tujuannya satu: membuat orang takut, gentar, cemas. Terorisme adalah politik kematian. Bukan kematian yang menjadi tujuan, tetapi ketakutan akan mati. Bila takut, maka mudah ditaklukkan, untuk memenuhi keinginan mereka. Itu yang mereka sebarkan.
Kompas, Minggu, 13 Mei 2018