Tuesday, 31 July 2018

Asal-usul Petani Padi Indonesia

Oleh AHMAD ARIF
Penyebaran padi di Asia Tenggara menjadi titik awal berkembangnya teknologi budidaya tanaman di kawasan ini dan perlahan menggeser budaya berburu-meramu ("hunter-gatherer") yang lebih dulu berkembang. Dengan melacak migrasi manusia di masa lalu, kita bisa merekonstruksi penyebaran budaya bercocok tanam padi hingga ke Indonesia.
Populasi manusia di Asia Tenggara termasuk paling beragam di dunia. Namun, sejarah penghunian manusia modern (Homo sapiens) di kawasan ini masih jadi perdebatan.
Teori arus utama menyebut, penghunian manusia di Asia Tenggara terjadi melalui dua gelombang migrasi. Gelombang pertama penghunian Asia Tenggara ditandai datangnya manusia Australo-Melanesian dari Afrika 50.000-60.000 tahun lalu. Mereka jadi nenek moyang sejumlah populasi berciri Australoid di Asia Tenggara, seperti di Negrito (Filipina), Papua, New Guinea, dan Aborigin Australia. Seperti leluhur di Afrika, mereka ialah pemburu dan peramu.
Tinggalan arkeologis kelompok manusia awal ini tersebar luas di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Mereka dipercaya pernah menghuni kawasan yang kini dihuni kelompok migran kedua, para petani yang datang ke kawasan ini 4.000 tahun lalu.Kedatangan gelombang migrasi kedua dari Taiwan (teorinya disebut Out of Taiwan) membawa teknik bercocok tanam padi dan jewawut (millet), menggantikan pemburu-peramu awal di Asia Tenggara dan mendesak mereka dari kawasan barat hingga bertahan di Papua dan Australia. Pengusung teori ini terutama ialah arkeolog dari Australia National University, Peter Bellwood, penulis buku berpengaruh Prehistory of Indo-Malaysian Archipelago (1985).
Bellwood mendasari teorinya berdasarkan sebaran bahasa Austronesia, yang jadi akar bahasa mayoritas penduduk di Asia Tenggara, termasuk Filipina dan Indonesia; Kepulauan Pasifik; serta sebagian pesisir Papua. Bahasa Austronesia banyak diserap dalam bahasa berbagai etnis di negeri ini dan bahasa Indonesia modern. Contohnya kata "mata" ada di hampir semua bahasa daerah di Indonesia dan jika dirunut asalnya, kata ini dipakai penduduk Aborigin Taiwan.
Namun, sejumlah kajian, terutama dari disiplin ilmu genetika, membantah penyederhanaan jalur migrasi para petani ini hanya dari jalur Taiwan. Ahli genetika dari Portugal, Pedro A Soares dan tim dalam papernya di jurnal Human Genetic (2016), menyebut, migrasi petani ke Kepulauan Asia Tenggara melalui dua jalur, yakni jalur barat dan jalur timur.
Jalur migrasi barat ini terjadi saat para petani dari China Selatan bergerak ke Vietnam. Dari sana, sebagian petani menuju Semenanjung Malaysia hingga Sumatera dan sebagian bertolak langsung dari Vietnam. Itu terjadi 4.500 tahun lalu. Secara tipologi, mereka kerap disebut pra-Austronesia, terdiri dari penutur Austroasiatik, Hmong-Mieng, dan populasi lain yang hingga kini dijumpai di daratan Asia. 
Jejak migrasi petani ini terlihat dari penyebaran haplogrup atau kelompok motif genetika mitrokondria B5al dan F1ala di area barat Indonesia, meliputi Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Mereka dipercaya menyebar sampai Nusa Tenggara melalui jalur selatan hingga Papua.
Sementara migrasi petani melalui jalur timur terjadi 4.000 tahun lalu dari Taiwan. Mereka dikenal sebagai penutur Austronesia dan motif genetika dominan di Filipina. Meski Austronesia kini menjadi akar bahasa hampir di semua suku di Indonesia, kecuali mayoritas Papua, dari aspek genetika tak dominan.
Orang Jawa, misalnya, menurut Kajian Pan-Asian SNP Consortium (2009), memiliki komposisi Austroasiatik lebih dari 50 persen, selain unsur Austronesia datang belakangan, dan unsur lain dengan porsi lebih kecil, seperti Hmong-Mien, Tai-Kadai, dan India. Selain mendominasi motif genetika orang Jawa dan Sunda kini, Austroasiatik atau disebut pra-Austronesia ada di populasi Dayak, Melayu, Batak, Karo, Toraja, dan Manggarai.
Soares menduga, penyebaran luas bahasa Austronesia dari Taiwan tak menandai penyebaran orangnya. Itu menunjukkan bahasa ialah produk kebudayaan yang bisa dipinjam.
Menjadi petani
Meski migrasi petani ke Asia Tenggara mengerucut datang dari dua jalur, prosesnya jadi perdebatan. Dari mana asal budaya bertani populasi yang bermigrasi ke Indonesia lewat jalur barat atau timur itu? Lalu, apakah kedatangan para petani ini memunahkan pemburu-peramu yang lebih awal tiba?
Riset terbaru tulang belulang berusia ribuan tahun dari berbagai situs arkeologi di Asia Tenggara dipimpin ahli genetika dari St John's College, University of Cambridge, Eske Willerslev, mengungkap ini. Ada 25 fosil manusia dari Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, Indonesia, dan Laos, diurutkan genomnya. Susunan DNA mereka dibandingkan genom manusia kuno dari Jepang. Hasil riset ini dipublikasikan di jurnal internasional Science, 6 Juli 2018.
"Sampel dari Indonesia diambil dari fosil manusia di situs Loyang Ujung Karang, Aceh Tengah. Usia sampel ini sekitar 2.000 tahun," kata Kepala Balai Arkeologi Medan Ketut Wiradnyana, satu-satunya peneliti Indonesia dalam publikasi ini.
Dalam penelitian ini, sampel tertua yang dapat dianalisis DNA-nya berasal dari manusia Hoabinhian di Laos berusia 7.795 tahun lalu. Populasi Hoabinhian ialah pemburu-peramu tinggal di daratan Asia Tenggara sejak 44.000 tahun lalu. Mereka ialah leluhur orang Onge di Andaman, Jehai di Malaysia, dan Ikawazu Jomon di Jepang. Tiga populasi tertua ini jadi cabang dari kelompok migran awal dari Afrika (out of Africa), nenek moyang Papua dan Aborigin Australia.
Hasil pengurutan DNA fosil manusia kuno ini menunjukkan, populasi di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia, berasal dari pembauran genetika antara pemburu-peramu dan petani, bukan saling menggantikan. Petani padi di Asia Tenggara bermigrasi dari China selatan, tepatnya lembah Sungai Yangtze dan Sungai Kuning, tempat awal domestikasi padi dan jewawut, 9.000-5.500 tahun lalu, lalu budidaya padi sawah sekitar 4.500 tahun lalu.
Sebagian petani ini bermigrasi ke Taiwan dan jadi leluhur Austronesia. Sebagian lain bermigrasi ke  selatan dan berbaur dengan para pemburu-peramu Hoabinhian yang lebih awal menghuni area ini dan mengenalkan budaya bercocok tanam padi–kemungkinan fase awal ialah budidaya padi lalang. Selain migrasi awal 4.000-4.500 tahun lalu, gelombang migrasi petani padi dari utara ke selatan terjadi 2.000 tahun lalu, membawa teknologi dan teknik budidaya padi lebih maju, termasuk budidaya padi sawah. Jejak pembauran ini memicu keberagaman motif genetik populasi manusia di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, saat ini.
Sebagai contoh, orang Kalimantan disebut memiliki komposisi genetika 38 persen Austronesia, 59 persen Austroasiatik, dan 3 persen pemburu-peramu awal. Secara modern, transisi budaya berburu-meramu ke budaya bercocok tanam padi bisa dilihat pada masyarakat Punan.Para pemburu-peramu terakhir di Pulau Kalimantan yang semula selalu berpindah tempat di hutan mulai menetap dan membudidayakan padi ladang sejak 1960-an. Mereka belajar bercocok tanam dan mendapat benih padi dari tetangga mereka, orang Dayak lain, terutama dari Kenyah.
Kompas, Minggu, 22 Juli 2018