Monday, 19 December 2016

Benih Perlawanan dari Akar Rumput

Oleh AGNES THEODORA dan ANTONY LEE
“Di tengah malam kompeni mengepung Kapahaha
Bunyi tembakan bertubi-tubi, gempar penduduk Kapahaha
Pertempuran berlangsung hingga fajar menyingsing.”
Kapata (nyanyian rakyat) berbahasa Morella yang sudah dialihbahasakan, 1646
Kesunyian menyambut kami di Gunung Kapahaha, Desa Morella, Pulau Ambon, akhir November lalu. Di lereng pegunungan terjal, batu karang Leasusu berdiri kokoh di bawah sinar matahari yang menyusup di sela pepohonan. Tiga setengah abad lalu, letusan senapan dan teriakan perang bergaung di gunung batu itu. Pasukan Serikat Dagang Hindia Timur atau VOC berupaya keras menghancurkan pertahanan terakhir perlawanan rakyat Hitu.
pukul sapu.jpg
Atraksi Pukul Sapu Lidi digelar di Desa Morela, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, atau sekitar 25 kilometer sebelah utara Ambon, Rabu (13/7). Kegiatan tahunan yang berlangsung setiap 7 Syawal itu dilakukan untuk mengenang perjuangan pahlawan Kapitan Telukabessy dalam perang melawan penjajah. (Kompas/Fransiskus Pati Herin)
Suatu malam pada bulan Juli 1646, rakyat Desa Hitu, Wawani, dan Hoamual yang bermukim di Gunung Kapahaha tengah tertidur lelap. Begitu pula pemimpin mereka, yaitu Kapitan Ahmad Leakawa alias Telukabessy dan Rijali. Sementara itu, di bawah temaram sinar bulan, Laksamana Verhijden dan pasukan VOC mendaki gunung yang terjal dan sempit dengan susah payah.
Di masa kini pun, Benteng Kapahaha, begitu bekas kampung pejuang itu dinamai, masih sulit didatangi. Jalan setapak yang terjal di sisi jurang membuat orang sulit untuk menuju area yang kini tidak lagi dihuni penduduk itu.
Sudah empat kali dalam tiga tahun, Verhijden gagal menyerbu Kapahaha karena tak pernah berhasil menemukan benteng alam perlawanan rakyat Hitu itu. Benteng Kapahaha, yang artinya ‘tempat yang tinggi dan curam’, ada di pegunungan dan tersembunyi di balik hutan tropis. Malam itu, Verhijden dan pasukannya berhasil mendaki cukup jauh setelah mengelabui seorang penduduk.
Peluh menetes di dahi Verhijden. Di depan mereka, tampak tebing tinggi dengan kemiringan nyaris mencapai 90 derajat. Tebing itu ternyata merupakan gerbang Benteng Kapahaha. Dengan tekad menaklukkan rakyat Hitu, satu per satu prajurit Belanda itu mengerek diri dengan berpegangan pada batang rotan yang tumbuh di sekitar tebing.
Malam itu, pertempuran pecah. Penduduk melarikan diri ke segala penjuru arah. Beberapa pendekar ditawan. Namun, Telukabessy dan Rijali berhasil meloloskan diri.
Setelah mengasingkan diri ke Pulau Haruku, Telukabessy mendengar kabar bahwa Belanda mau memusnahkan rakyat Kapahaha jika ia tak segera menyerah. Telukabessy pun kembali dan menyerahkan diri di depan Gubernur Jenderal Belanda di Ambon. Di sana, ia ditembak mati.
“Semenjak Telukabessy wafat, rakyat kehilangan figur pemimpin. Perlawanan sempat dilanjutkan oleh turunannya, tetapi pemberontakan tidak pernah sama lagi,” tutur Raja Hitu Salhana Pelu, di Desa Hitu, Ambon, akhir November lalu.
benteng kapahaha.png
Gunung Kapahaha yang menjadi benteng pertahanan terakhir melawan VOC. Setelah VOC berhasil membunuh pemimpin rakyat Hitu yang bernama Kakiali dan jatuhnya benteng Wawane pada tahun 1643, para pejuang memindahkan pertahanannya ke Kapahaha.  (Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya)
Paling gigih
Maryam Lestaluhu dalam Sejarah Perlawanan Masyarakat Islam terhadap Imperialisme di Maluku mencatat, perlawanan rakyat Hitu di bawah kepemimpinan Telukabessy adalah salah satu perjuangan rakyat Maluku paling gigih yang berhasil merepotkan penjajah. Perlawanan itu muncul karena ketidakpuasan akibat kebijakan monopoli perdagangan rempah-rempah oleh VOC yang leluasa diterapkan dengan seizin penguasa lokal.
Dalam literatur lama lain yang ditulis sejarawan Belanda J Keuning, sebagaimana dialihbahasakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia bekerja sama dengan Koninklijk Instituut Voor Taal, Land-en Volkenkunde, raja-raja Hitu dan Morella pada saat itu terkesan ada di belakang kolonial dan mendukung kebijakan monopoli perdagangan mereka. Namun, secara diam-diam, para elite lokal ini menyokong rakyat pemberontak yang bersembunyi di gunung dengan memberikan makanan dan keperluan lain.
Pemberontakan dari rakyat terhadap penjajah juga muncul di daerah lain di Maluku. Diceritakan dalam Gerakan Pandan Kasutri di Ambon Tahun 1829 oleh SH Maelissa dan F Sahusilawane dari Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Maluku, di Hoamual, Pulau Seram, pada 1615, rakyat Hoamual dan VOC bersitegang. Rakyat menolak VOC membangun benteng di Hoamual untuk dijadikan pusat pertahanan. Saat itu, Hoamual merupakan salah satu pulau produsen cengkeh utama di Maluku.
Saat itu rakyat melihat pendirian benteng di kawasan mereka hanya strategi VOC untuk melanggengkan cengkeraman kekuasaannya di Hoamual. Ketegangan itu, ditambah dengan berbagai kebijakan lain yang memberatkan rakyat, seperti penurunan harga pembelian cengkeh, mendorong rakyat untuk angkat senjata menentang VOC.
Kritik elite
Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Pattimura John Pattikayhatu mengatakan, sepanjang abad ke-16 sampai abad ke-19, perlawanan rakyat tidak hanya ditujukan terhadap kolonial, tetapi juga elite lokal yang makin pragmatis. Rakyat merasa tidak mendapat dukungan dari pemimpinnya, yang seharusnya bisa menyalurkan suara dan kegelisahan mereka.
Kepulauan Rempah-rempah oleh Adnan Amal mencatat rangkaian perlawanan di Ternate dan Tidore yang tidak hanya ditujukan terhadap kekuasaan Belanda, tetapi juga kesultanan yang tunduk di bawah penjajah dan abai terhadap rakyat. Adnan mencatat, pada 1783, rakyat Tidore memakzulkan Patra Alam dari singgasananya. Kejadian serupa terjadi pada 1797 ketika rakyat Tidore menurunkan Sultan Kamaluddin dari takhtanya. Sebelumnya, di Ternate, gejolak politik serupa muncul ketika sejumlah bobato (pegawai kerajaan) membangkang terhadap Sultan Mandarsjah pada 1683.
John menuturkan, elite dan penguasa lokal pada saat itu sebenarnya juga ikut angkat senjata melawan penjajah. Namun, sifat perlawanannya sedikit berbeda dari masyarakat akar rumput. Beberapa sultan dan raja akhirnya memberontak karena merasa kekuasaan mereka dibatasi oleh penjajah. “Raja merasa tidak lagi bebas, tidak berkuasa, keuntungan mereka menurun. Motif perlawanan mereka lebih banyak karena itu,” kata John.
Perlawanan yang muncul dari ketidakpuasan rakyat pada abad ke-16 sampai awal abad ke-19 membuat pemerintah kolonial khawatir. Dalam beberapa kasus, pemberontakan tersebut bahkan menyadarkan penjajah atas praktik semena-mena yang mereka lakukan. Hal itu terlihat dari laporan yang ditulis Gubernur Jenderal Belanda di Jawa, JC Baud, Criticism of van den Bosch and the Culture System in the Netherlands and Indies. Laporan pada 1832 itu menggambarkan kepanikan kolonial terhadap pemberontakan dari rakyat yang mulai muncul di sekitar Jawa, seperti Priangan, Cirebon, dan Bantam (kini Banten).
Dalam laporannya, Baud menyertakan sejumlah surat yang ia tulis pada 1831-1832. Isi surat itu tentang sistem tanam paksa gula di masyarakat Jawa yang tidak efektif dan represif, bisa memantik api perlawanan dari para buruh. Dalam salah satu suratnya, Baud minta Pemerintah Belanda mempertimbangkan kebijakan kolonialismenya yang semena-mena.
Dalam surat pada 17 Mei 1832, Baud menulis, “Pada akhirnya, situasi di Cirebon tetap tenang. Namun, saya mempelajari, tanam paksa tidak cocok untuk bangsa ini. Cara-cara kompeni yang lama tidak relevan lagi. Rakyat Jawa sudah semakin cerdas dan tercerahkan, mereka kini tidak mau tinggal diam ketika ditindas.”
Kekuatan rakyat
Perjalanan bangsa ini menunjukkan, gerakan rakyat tidak pernah meredup. Pengajar Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Pattimura Josep Ufi, mengatakan, dalam sistem demokrasi, kekuatan akar rumput memainkan peran penting untuk melawan ketidakadilan.
Tidak jarang, gerakan-gerakan itu jadi penentu titik balik suatu rezim. Pada awal abad ke-20, kalangan terdidik menyebarkan pemikiran akan rasa persatuan dan nasionalisme yang pada akhirnya mengusir penjajah dari bumi Indonesia. Di Indonesia modern, gerakan mahasiswa pada 1998-1999 menandai jatuhnya pemerintahan Orde Baru.
“Rakyat akan selalu berperan sebagai pengingat, yang menyadarkan elite ketika mulai keluar dari jalur. Gerakan kekinian tidak selalu harus bersifat revolutif. Gerakan anak muda dan kalangan terdidik yang saat ini masif melalui dunia maya dan gerakan sosial di berbagai bidang merupakan simbol dari kekuatan rakyat itu,” tutur Josep.

Kompas, Minggu, 18 November 2016